My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
Twenty nine



Alvaro menggeleng. Kejadian abnormal yang dia rasakan mungkin karena pengaruh kelelahan atau mungkin dia mulai sakit. Tapi mengenai tulisan di tangan dan juga tanda angka 12 ini tak bisa di pungkiri kalau ini merupakan hal yang biasa saja.


Alvaro menatap tajam Clara yang masih dia peluk. Ini pasti merujuk pada satu hal, "Kau mengguna guna aku kan?" Tuduh Alvaro.


Pasalnya setiap hal aneh yang terjadi padanya selalu merujuk pada Clara, ini sangat mencurigakan. Di tambah lagi wanita ini menyukainya bukan? Pasti dia akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya.


Clara menyerngitkan dahinya mendengar penuturan Alvaro yang di luar nalar, guna guna katanya? Apa dia gila?!


"Apa maksud Tuan?! Jangan mengada ngada!" Clara tak terima di tuduh tanpa bukti seperti itu. Lagi pula dia tak mungkin melakukan hal seperti pesugihan seperti itu.


Alvaro yang membaca pikiran Clara sedikit bingung, wanita ini bahkan terkejut dan terkesan tak pernah melakukan hal seperti itu. Tapi tidak, bisa saja dia mengkamuflase pikirannya agar tak ketahuan bukan? Alvaro yakin di balik tampang kampung dan tak berdosanya tersimpan sifat durjana dan kelicikan yang keji.


"Aku tak percaya padamu! Kau yang membuat ku seperti kerasukan tadi kan?! Lihat lah tanganku, tanda apa ini?! Kau yang membuatnya bukan?!" Tekan Alvaro, dia sungguh tak menyukai tindak kriminal ilegal yang di lakukan Clara. Lelaki itu terus menunjukkan tangannya tanpa melihatnya terlebih dahulu.


Clara melihat ke arah tangan Alvaro yang di tunjukkannya. "Gak ada apa apa, gak ada tulisannya!" Kesal Clara, dia bahkan tak melihat apa-apa.


Alvaro membesarkan matanya menatap Clara, bagaimana dia tak bisa melihat tanda ini?! "Apa kau mencoba membodohi ku huh?! Apa kau pikir aku buta?!"


Alvaro melihat ke arah tangannya, jelas jelas masih ada tandannya.


Angka 12 ini sungguh nampak jelas!


"Saya tak membodohi Tuan! Tidak ada apapun memang!" Clara sungguh sudah memastikan tangan Alvaro. Tak ada apapun di sana.


Alvaro menggeleng, sudah ketahuan salah malah mencoba membohongi diri.


Alvaro bangkit berdiri sambil menarik tangan Clara dengan kencang ke atas agar segera Clara berdiri juga. Clara meringis kesakitan, "Sakit Tuan!"


"Lebih sakit lagi otak mu! Kau pikir kau hebat dengan perdukunanmu huh?!"


Clara menepis tangan Alvaro. "Saya tidak pernah berdukun atau hal yang menyembah setan seperti itu! Jangan pernah menuduh yang tidak tidak Tuan!"


"Kau.." Alvaro membelalakkan matanya berapi api hendak menghukum mati wanita yang di hadapannya ini.


Clara yang melihat ketidakaman keadaan dirinya sekarang segera berlari ke luar kamar Alvaro. Namun tangan lelaki itu lebih dulu menariknya dan mencampakkan dia ke atas tempat tidur.


Tep!


Lelaki itu menindih dan mencekik Clara, "Aku takkan segan segan membunuh siapapun yang mencoba membuat suatu hal yang buruk padaku Clara. Kau tau itu."


Lelaki itu menindih Clara dan menatap wanita itu dengan wajah penuh kegeraman.


Dalam hati Clara hanya dapat berdoa dan memasrahkan dirinya pada Tuhan. Jika dia selamat dari Alvaro dia akan pergi jauh dari lelaki gila ini. Clara terus menerus berusaha melepaskan diri.


"T-tuan lepaskan!"


Alvaro tak menjawab. Dia juga cukup trauma dengan kejadian pembunuhan yang di lakukan kembarnya itu terhadapnya. Tidak ada lagi yang boleh membunuhnya, dia tak mau melepaskan semuanya dan mati konyol seperti dulu.


Seketika tangan Alvaro serasa terbakar.


"Ah!" Alvaro menarik tangannya yang terasa terbakar itu. "Apa kau gila?!" Jerit Alvaro.


"Tuan yang gila! Tuan hampir saja membunuh ku!" Jerit Clara.


Alvaro menatap tajam Clara, "Lagi lagi kau menggunakan ilmu hitam mu bukan?! Kau membakar tanganku!"


Clara menggeleng tak percaya, "Sepertinya anda memang sudah sangat gila Tuan. Sejak kapan saya membakar tangan Tuan? Tuan sadar kan Tuan mencekik saya sampai megap, kapan saya membakar tangan Tuan?!" Dada Clara naik turun emosi karena tuduhan Alvaro.


Tapi Alvaro tak percaya begitu saja. "Kau yang gila! Pergi dari kamar ku sekarang!" Usir Alvaro.


Clara hanya menggeleng melihat tingkah laku Alvaro yang semakin lama semakin tak waras. Ini sudah tak benar, Clara akan kabur saat keluar dari kamar ini!


Alvaro membelalakkan matanya, kabur katanya?


"HEH! Kau mau kabur?!! Jangan macam macam denganku!!" Alvaro bangkit dari tempat tidur dan menarik tangan Clara hingga dia menabrak dada lelaki itu keras.


Kepala Clara sangat sakit mendapatkan pukulan dada bidang lelaki itu. Tapi rasa sakitnya menghilangkan saat kebingungan melandanya, "Dari mana Tuan tau apa yang saya pikirkan?"


Alvaro terkekeh singkat, "Tak usah pura pura bodoh. Kau yang membuat aku dapat membaca pikiran mu kan? Kau melakukan pesugihan sampai sehebat ini agar aku tak dapat lepas darimu heh? Luar biasa."


Clara makin bingung. Sungguh lelaki ini sangat gila, dia apa tidak punya otak apa? Sedari tadi dia bicara seperti orang tak normal? Apakah dia sungguh sudah sakit jiwa? Apakah Clara harus menelpon RSJ saja? Sepertinya memang iya Clara harus menelpon mereka!


Alvaro mengerutkan keningnya dengan mata melotot, "Siapa yang gila?!"


Clara membelalakkan matanya, 'Sial, selain gila ternyata Alvaro bisa baca pikiran juga!' batin Clara kagum.


Damn! Kenapa malah jadi begini coba?!


Alvaro memijati kepalanya. Harinya sungguh semakin berat saja, di tambah lagi hidup bersama orang seperti Clara.


Fine. Alvaro kini memutuskan satu hal. Dia lebih baik melepaskan Clara saja, untuk membalaskan dendamnya dengan Viandro cukup dia seorang saja yang turun tangan, tak perlu Clara. Lagi pun wanita ini juga tak berguna bukan?


"Sudah begini saja. Aku melepaskanmu dan akan menggajimu untuk terakhir kalinya. Kau bisa pergi. Aku udah bodo amat, dan gak mau tau. Pergilah." Alvaro mengusir Clara. Dari pada otaknya semakin panas dan berantakan. Lebih baik begini bukan.


Clara seketika sangat senang. Senyumannya mengembang, "Serius Tuan?"


Alvaro mengangguk. "Iya, kau boleh pergi. Sana sana."


Clara mengangguk dengan sangat riang, bahkan beberapa kali melompat kecil. Akhirnya dia bisa lepas juga!


Alvaro menyerngitkan dahinya. Kenapa Clara malah senang? Bukannya dia seharusnya sedih karena praktik pesugihannya tidak akan berjalan lancar terhadap Alvaro?


Ah, terserahlah. Alvaro tak mau tau. Dia tak mau ambil pusing.


Clara dengan polosnya menyalam Alvaro seperti berpamitan pada orang tua, "Baik pak, eh Tuan. Saya pergi dulu!"


Clara membalikkan badannya dan pergi keluar kamar Alvaro. Clara segera merapikan pakaiannya dan segera menjumpai Alvaro, "Tuan, saya sudah selesai."


Alvaro kaget. Kenapa cepat amat selesai berbenahnya?


Alvaro menggeleng. Lupakan saja Alvaro, biarlah dia pergi, lebih cepat lebih baik.


Alvaro mengeluarkan cek sebesar 500 juta. "Pergi sejauh jauhnya dari hadapan ku, aku sudah memberikan uang lebih dari yang ku janjikan!"


Clara mengangguk dan memberi hormat, "Shiap sekali Tuan!"


Clara pun segera cabut dari rumah itu.


Alvaro kini bisa bernafas lega. Dia akan mencari cara langsung membunuh Viandro saja sekarang. Dan pastinya melakukan itu dengan cara yang bersih.


"Aku akan membalas dendamku."