My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
Thirty Six



Selesai bermain bom bom car mereka pun keluar dari wahana itu,


Alvaro melipat kedua tangannya bangga, "Aku sudah menabrak mu 20 kali sedangkan kau hanya 5 kali, aku menang!"


Clara mengangguk, Alvaro memang sangat brutal melawan Clara tadi. Untung saja mobil Clara tidak terbalik di buatnya. "Iya... Tuan memang hebat."


Alvaro tersenyum kecil, "Tentu saja."


Clara melihat Alvaro dan tersenyum, "Tuan tau, kalau Tuan tersenyum wajah Tuan terlihat lebih tampan." Kata Clara dengan polos.


Alvaro membalas tatapan Clara. "Aku memang tampan, mau bagaimanapun."


Clara terkekeh, "Memang benar. Tapi kali ini berbeda. Anda sangat tampan."


Alvaro mengalihkan pandangannya. Ntah kenapa kalimat Clara membuatnya merasa aneh, seperti ada semburan panas di wajahnya dan dadanya bergemuruh. Ck. Apakah ini karena efek kutukan itu?


Clara menarik tangan Alvaro, "Ayo kita main putar putar itu!" Clara menunjuk wahana permainan lainnya. Dan mulai membayar permainan itu dan memasuki wahana permainan itu dengan sangat excited.


"Pegangan yang kuat Tuan! Ini akan berputar dengan kencang!" Ucap Clara heboh.


Alvaro mengangguk dan menegang kursi dengan kuat.


Dan, syuu....


Kursi melingkar yang di tempatkan seperti mangkuk itu berputar kencang. Semua orang menjerit termaksud Clara.


Clara tertawa kencang. "Seru sekali!"


Tanpa di sadari tawa Clara menular ke Alvaro, Alvaro tersenyum miring, bagaimana permainan bodoh ini terasa menyenangkan coba? Dasar manusia aneh. Alvaro tertawa singkat dan kembali menghadap depan.


Beberapa permainan pun mereka masuki, dan semuanya terasa sangat menyenangkan hati Clara yang merindukan suasana seperti ini.


Kini mereka berada di kincir angin. Kali ini lebih tenang sambil melihat tenangnya malam saat mereka berada di puncak tertinggi ketinggian kincir itu.


Clara memperhatikan wajah Alvaro, wajah lelaki itu tampak lebih berseri. Tak ada pikiran apapun, Clara hanya memandangi wajahnya.


Alvaro yang merasa risih di pandang menoleh ke arah Clara, "Apa."


Clara menggeleng dan tersenyum, "Bukan apa apa. Apakah Tuan senang malam ini?"


Alvaro tak langsung menjawab pertanyaan Clara dam tersenyum miring, "Lumayan."


Clara senang sekali mendengar jawaban itu, "Syukurlah Tuan!"


Clara baru mengingat sesuatu, "Ah, lupa!"


Clara kembali merogoh tasnya dan mengeluarkan kotak bekal, "Tuan. Ini saya buat bontot tadi. Pasti Tuan lapar kan? Nah, ini pengganjal lapar kita sebelum sampai di rumah!"


Alvaro melihat dua kotak makan itu dengan malas, "Bisa tidak gak usah malu maluin."


Clara terkekeh, "Masakan sendiri itu lebih sehat kalau di bandingkan sama jajan di luar Tuan."


Alvaro tak habis pikir melihat kelakuan Clara. "Simpan itu, nanti saja dimakan."


Clara mengangguk, "Baiklah Tuan."


Alvaro kembali melihat ke arah luar dan memperhatikan lampu kelap kelip disana. Tak di sangka tempat murahan ini lumayan menghibur lelaki dingin seperti Alvaro.


Alvaro tersenyum kecil mengingat dulu pun dia pernah di bawa ke wahana hiburan seperti ini, namun tidak pernah lagi dia lakukan karena rasa bencinya pada Viandro dulu. Kedua orang tuanya selalu memanjakan Viandro, sangking sayangnya membuat Viandro tumbuh menjadi seseorang yang sangat manja dan juga egois. Bahkan dulu kedua orang tuanya mengharuskan Alvaro untuk menjaga adiknya dan menuruti segala keinginannya, hal itu membuat Viandro keras kepala.


Semenjak saat itu Alvaro berusaha untuk mendapatkan lebih dari Viandro, dengan cara bersih maupun dengan kelicikan. Itu yang membuat Alvaro jauh lebih maju di bandingkan Viandro. Dan dari hal itu perhatian yang seharusnya di tujukan pada Viandro kini beralih padanya. Pembalasan dendam yang sangat manis.


Namun mulai dari malam ini sepertinya dia akan kembali menyukai wahana hiburan.


***


Setelah selesai bermain, Alvaro dan Clara pulang masih menggunakan bus yang sama. Kalau tadi berangkat terjadi kehebohan di dalam sini, namun pulang ini terjadi keheningan. Semuanya kelelahan bermain.


Begitu pun Clara. Clara bahkan menutup matanya untuk beristirahat, namun tidak dengan Alvaro.


Mata Alvaro tertuju pada tas Clara, dia ingat di dalam sana ada bekal buatan Clara bukan? Tentu saja itu dapat mengurangi rasa laparnya ini.


Alvaro menarik tas Clara membuat wanita itu terbangun, "Ada apa?" Tanya Clara panik dengan wajah yang masih sempoyongan ngantuk.


"Bukan urusanmu."


Alvaro kembali merogoh tas dan mengambil bekal itu lalu memakannya. Clara tersenyum, ternyata lapar toh.


Alvaro menatap sinis Clara dengan ekor matanya, "Apa kau menghinaku?"


Clara menggeleng, "Tentu tidak Tuan. Saya bahkan bersyukur Tuan mau makan bekal itu."


Alvaro memutar bola matanya malas, dia tak perduli dan kembali pada makanannya.


Lumayanlah makannya ini.


Saat satu bekal Alvaro sudah habis Alvaro kembali mengambil bekal lainnya dan kemudian melahapnya.


"Eh, Tuan, itu punya saya." Clara mengingatkan.


Alvaro mengedikkan bahunya, "Memangnya kenapa? Kau tak terima?"


Clara menunduk, ya sudahlah.


***


Alvaro kembali ke meja kerjanya dan menyandarkan dirinya di sana, badannya sedikit merasa lelah juga karena bermain tadi. Alvaro tersenyum singkat, "Dia tak terlalu buruk."


Alvaro menutup matanya dan tertidur di kursi itu karena lelahnya.


Alvaro terbangun di pagi hari. Badannya terasa pegal karena tidur semalaman di kursi. Kebiasaan Alvaro memang tertidur di atas kursi kerjanya.


Alvaro bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi Alvaro berjalan menuju dapur, dia ingin sarapan pagi. Semoga hari ini tidak ada drama dari Clara yang membuat emosinya meledak.


Alvaro turun dari tangga dan melihat ke arah dapur. Alvaro menyerngitkan dahinya, biasanya Clara sudah di sana bukan?


'Ck, lelaki ini sangat keras kepala. Sudah di bilang Alvaro masih istirahat dia terus saja memaksa ingin berjumpa.' terdengar suara batin Clara yang sangat dongkol dengan seseorang.


Clara bicara dengan siapa?


"Dengar ya, aku tak perduli, aku mau jumpa dengan Alvaro! Pergi dan kerjakan urusanmu!" Kesal lelaki itu yang tak kunjung di perbolehkan masuk oleh Clara.


Jelas saja tak boleh, lelaki ini saja sudah sangat mencurigakan di mata Clara, dia bahkan tak memberitahukan namanya siapa dan main mau masuk saja. Siapa yang tak kesal coba?


"Penjaga! Tolong amankan lelaki ini! Dia ingin menerobos masuk!" Jerit Clara pada bapak satpam.


Sang satpam bingung kenapa dia tiba-tiba di panggil, perasaan tadi tak ada orang asing yang datang. Hanya Tuan yang merupakan teman kerja Alvaro yang datang dengan sopan tadi. Kenapa sampai panggil keamanan?


Sang satpam datang dan melihat ke arah lelaki itu lalu menunduk hormat kemudian kembali melihat ke arah Clara, "Apa yang kau lakukan di sini Clara? Dia-"


"Dia ini sangat mencurigakan Pak, dia bahkan tak memberitahukan namanya. Dia pasti punya maksud buruk dengan kedatangannya!" Tuduh Clara dengan menunjuk lelaki itu.


Lelaki itu menunjuk dirinya. "Aku? Berniat buruk?" Kemudian lelaki biru tertawa dan mengusap rambut Clara, "Dasar pekerja baru, kau tak tau apa apa. Panggilkan saja Tuanmu itu. Tak perlu banyak bicara."


Clara menepis tangan lelaki itu, "Tidak akan."


Lelaki itu menggelengkan kepalanya, wanita ini sangat keras kepala.


"Baiklah, aku perkenalkan diri saja. Namaku- Hei Alvaro!" Perkenalan itu terputus saat lelaki itu melihat sahabatnya datang  menghampirinya.


"Masuklah," sambung Alvaro.


Lelaki itu melihat Clara dan menjulurkan lidahnya mengejek, "Sudah ku katakan biarkan aku masuk."


Lelaki itu meninggalkan Clara seorang diri.


Clara merepet dalam hati, memangnya siapa sih dia?!