
Clara heran melihat Alvaro pagi ini. Clara ingat sekali Alvaro itu orangnya sangat tidak menyukai masakan Indonesia dan lebih suka makanan western, dan kenapa pagi ini dia malah memakan sarapannya?
Sepertinya ada yang salah di otak Alvaro sekarang.
Alvaro melihat Clara membuat Clara kaget, "Apa kamu akan kenyang hanya dengan melihatku huh? Cepat makan karena banyak pekerjaan yang akan ku berikan padamu nanti."
Baru saja Clara mau baper karena perhatian Alvaro dan karena Alvaro sudah mulai menyukai masakan rumahan yang dia buat kini Clara jadi lemas karena mendengar kalimat dari mulut Alvaro yang bilang kalau dia akan memiliki banyak pekerjaan setelah ini.
Clara pun mengambil sepotong sandwichnya dan memakannya dengan tak bersemangat. Clara sebenarnya bukan membenci sandwich hanya saja dia yakin kalau cuma makan roti begini manalah mungkin dia kenyang, sudah kebiasaan dari orok kalau makan ya pake nasi, kalau gak ya gak kenyang.
"Cepat makan dan setelah itu mandi sana. Kita akan pergi ke suatu tempat."
Ucapan Alvaro membuat Clara tersenyum girang, "Pergi? Kemana?"
Pikiran Clara segera terbayang untuk jalan jalan ke tempat yang indah, ke pantai, taman hiburan, bahkan ke taman saja sudah membuat Clara senang. Soalnya sudah beberapa hari ini dia tak keluar rumah.
"Ke perusahaanku. Kamu akan ku tugaskan membawa semua barang barang yang di perlukan. Jangan ada yang sampai terlewatkan dan semuanya harus berjalan dengan baik. Jangan teledor. Paham?"
Pantas saja Alvaro pagi ini baik padanya ternyata ada maunya. Sudah Clara duga.
"Iya Tuan," Clara segera menyelesaikan makanannya dan pergi untuk mempersiapkan dirinya dan kemudian kembali ke hadapan Alvaro.
"Sudah siap Tuan," Clara menghadap Alvaro. Alvaro menoleh lumayan terpukau, ntahlah, padahal Clara hanya menggunakan pakaian kemeja dan celana ceper biasa tapi kenapa terlihat manis?
Alvaro mengangguk, "Baiklah kita berangkat sekarang."
Clara pun mengikuti Alvaro berjalan menuju garasi, lelaki itu berhenti dan membuat Clara menabrak punggungnya. Alvaro membalikkan badan, "Di sana matamu jangan jelalatan. Awas saja."
"Leh? Saya? Jelalatan? Mana pernah saya gitu," sangkal Clara. Ya memang seingat Clara matanya tak seliar itu kok.
Alvaro menaikkan salah satu alisnya kesal, "Gak pernah? Gak salah dengar? Kemarin saja kamu kegenitan dengan salah satu rekan bisnisku."
"Huh? Yang mana?" Clara mencoba mengingat. "Oh... Yang itu. Ya kan cuma tegur sapa doang Tuan, lagi pula dia itu teman aku tau. Itu kan ngak jelalatan," jelas Clara santai.
Ctak!
Alvaro menyentil jidad Clara, "Itu namanya jelalatan."
Clara menggosok jidadnya yang terasa sakit dengan kesal.
"Tak usah banyak bicara. Intinya diam saja. Jangan membantahku," tekan Alvaro membuat Clara mau tidak mau harus mengikuti.
"Iya Tuan," jawab Clara dengan ekspresi tak minat.
Ctak!
"Aduh! Kok di sentil lagi Tuan?" Protes Clara.
"Kenapa dengan nada bicaramu?"
Clara mendumel dalam hati, 'Dasar bos bawel!'
Alvaro yang mengetahui apa pikiran Clara membolangkan matanya berapi-api.
Clara langsung ciut, "Iya Tuan. Maaf. Saya salah."
"Hm. Bagus. Sekarang cepat masuk ke dalam mobil," Perintah Alvaro.
Clara pun masuk ke dalam mobil bersama dengan Alvaro. Alvaro melajukan mobilnya menuju kantor.
Sesampainya di sana Clara mulai melakukan tugasnya. Benar saja Clara sudah terlihat seperti kuli sekarang, bawa barang ke sana kemari seperti orang gila dan lihatlah bosnya itu, dia malahan duduk santai sambil berkutat dengan laptopnya.
Setelah selesai Clara segera merebahkan dirinya di sofa sambil menarik nafas dalam dalam. Berasa jadi lakik dalam satu hari. Ckckck, kasihan.
Alvaro melihat Clara dan tersenyum miring, ini jelas hukuman Alvaro terhadap Clara karena membuatnya cemburu kemarin itu. Dia harus memberi Clara pelajaran bukan?
"Clara. Kemari!" Panggil Alvaro seketika membuat Clara menghembuskan nafas loyo, dia yakin pasti dia akan di suruh suruh lagi sama Alvaro.
Alvaro memberikan kotak pada Clara, "Ambillah."
Clara melihat ke arah barang tersebut dan terbelalak. Wih! Bukan Smartphone lagi iOS gak tu.
"Untuk saya Tuan?" Tanya Clara ulang.
"Ya iyalah. Jadi siapa lagi?"
Wajah lelah Clara berganti menjadi wajah berseri. "Makasih bany- eh, gak usah Tuan. Makasih." Tolak Clara.
Dia tau, kalau Alvaro bersikap baik pasti ada hal buruk yang akan terjadi lagi.
Alvaro memutar bola matanya mengetahui apa yang di pikirkan Clara, "Heh, siapa yang menyuruhmu menjawab? Aku tak menerima penolakan."
Clara menggeleng, "Gak Tuan, saya gak mau. Karena saya gak bisa pakai iPhone." Jelas Clara mencari alasan.
Alvaro menarik tangan Clara dan memberikan hpnya pada Clara, beserta sebuah kartu berwarna hitam, "Ini untukmu. Aku janji ngak akan menariknya lagi darimu sekalipun kalau kamu membuatku kesal."
Clara melihat Alvaro ragu.
"Janji. Aku akan pegang janjiku."
Alvaro bangkit berdiri dan menutup laptopnya, "Ayo pulang. Aku sudah lapar."
Alvaro menarik tangan Clara dan membuat Clara mengikuti jalan Alvaro.
Tanpa sadar Clara malah tersenyum. Lelaki ini memang sangat menyebalkan, tapi kadang berubah jadi sangat romantis.
Walaupun seperti itu Clara tak mau terlalu terhanyut dalam itu dan jatuh cinta padanya. Clara ingat betul bagaimana dia di sakiti oleh mantannya Viandro, dia tak mau luka itu terulang lagi.
Alvaro dan Clara masuk ke dalam mobil dan Alvaro pun mengendarai mobilnya.
"Kita langsung pulang ke rumah. Kamu yang masakin aku untuk makan siangnya," kata Alvaro di tengah perjalanan.
Clara menyerngitkan dahinya, tumben?
"Masakin aku rendang. Aku mau itu," sambung lelaki itu. Sebenarnya Alvaro tak terlalu terbiasa dengan masakan tradisional, tapi ntah kenapa dia ingin saja memakan masakan rumah Clara lagi, rasanya tak terlalu buruk.
"Beneran mau masakan Indonesia?" Tanya Clara memastikan.
Alvaro mengangguk tanpa menoleh ke arah Clara.
Clara tersenyum, "Baiklah."
Sesampainya di rumah segera Clara menyiapkan berbagai bahan bumbu dan mulai memasak. Setelah selesai memasak Clara menghidangkan makanan itu di hadapan Alvaro.
"Enak?" Tanya Clara pada Alvaro.
Alvaro melihat Clara singkat dan kembali melihat makanannya, tentu saja makanan ini enak. Tapi Alvaro tetaplah Alvaro, dia selalu saja menggunakan kata-kata pedas dan suka mengkritik, "Biasa aja. Dagingnya over cook."
Clara melihat Alvaro datar. Sungguh menjengkelkan sekali bukan?
Clara pun menarik sepiring daging rendang yang ada di hadapan Alvaro, "Ya udah kalau gak enak. Buat saya saja."
Tep!
Alvaro menahan piring rendang yang ada di hadapannya. "Siapa yang menyuruhmu mengambil ini? Kalau mau makan ya buat aja lagi sana."
"Lah, tadi Tuan sendiri yang bilang-"
"Over cook bukan berarti tak bisa di makan. Aku sudah lapar jadi jangan menggangguku." Alvaro kembali menarik piringnya itu.
Tuh kan, Alvaro selalu saja menyebalkan.