
Alvaro sedikit batuk untuk menetralkan ekspresinya, "Kita bukannya sudah pernah beli bakso bukan sebelumnya? Aku lihat kamu kuah kamu banyak yang bersisa, makanya aku pikir-"
"Kita sama sekali tak pernah makan bakso bersama Al."
Deg!
Clara menyoroti mata Alvaro tajam, "Kali ini kamu tak bisa mengelak Alvaro. Dan aku yakin ucapan mu yang di rollercoaster tadi pun aku tak salah dengar." Clara menjeda kalimatnya sebelum dia kembali bicara, "Katakan yang sebenarnya."
Alvaro tak bisa berbohong lagi. Lelaki itu menunduk dan menutup matanya, "Kalau aku mengatakan yang sesungguhnya jangan pernah anggab aku sebagai pembohong karena yang kukatakan adalah hal yang sesungguhnya."
Clara mengangguk, "Iya, baiklah."
"Kamu janji?" Tanya Alvaro lagi masih dengan menunduk.
"Iya aku janji."
Alvaro menghembuskan nafasnya dan mengangkat wajahnya melihat Clara, "Aku dari masa depan."kata Alvaro memulai penjelasannya.
Clara menaikkan salah satu sudut bibirnya, "Huh?"
Alvaro memutar bola matanya, sudah dia yakini Clara takkan percaya nanti. "Kamu takkan percaya, aku yakin itu. Makanya aku-"
"Okey okey. Katakanlah yang sesungguhnya." Clara ingin mendengarkan apa lagi sambungan cerita Alvaro.
"Dan kita sudah menikah." Lanjut Alvaro.
Srek
Clara segera bangkit dari kursinya, "Kamu pembohong. Aku mau pulang."
Alvaro menarik tangan Clara, "Tadi kamu sudah berjanji tidak akan menganggap ku berbohong kan. Sekarang lihatlah, aku sudah mengatakan-"
"Yang sesungguhnya?" Clara melepaskan tangan Alvaro, "Jangan coba membodohiku Al."
"Aku tidak membodohimu, ash!" Alvaro mengusap wajahnya gusar, "Aku sudah berusaha sebisa mungkin agar kamu tak menjauh dariku, aku selalu berusaha membuat kamu nyaman Clara selama ini. Kamu tau semenjak dimensi ini berubah dan melihatmu kembali hidup akan membuatku bahagia kembali. Tapi apa yang terjadi, ini semakin menyakitkan Clara, kamu menganggap ku sebagai seorang yang asing itu sangat menyakitkan." Kata Alvaro prustasi.
Alvaro kembali menarik Clara untuk duduk. "Jika kamu tak percaya aku bisa memberitahukan hal yang bahkan belum kamu beritahukan padaku."
"Itu mungkin saja karena kamu sering mengikutiku diam diam memantau keadaanku tanpa sepengetahuanku kan?" Jelas Clara menggunakan logika.
Alvaro menggeleng, "Tidak. Ini berbeda."
"Seperti?" Tantang Clara.
"Kamu suka mencintai seseorang dalam diam, termaksud sewaktu kamu mencintai Viandro. Kamu suka membalaskan dendam pada seseorang yang kamu benci dengan prestasi walaupun tak selalu berjalan mulus tapi kamu terus berusaha. Kamu mengingini keluarga kecil yang bahagia, tak perlu terlalu banyak makanya kamu ingin mempunyai 2 akan kan? Dan masih banyak lagi yang kalau aku katakan takkan ada habisnya Clara."
Ungkapan Alvaro membuat Clara terdiam. Bagaimana bisa dia mengetahuinya? Itu hal pribadi yang tak pernah dia ungkapkan pada siapapun.
Alvaro menggenggam tangan Clara, "Percayalah padaku Clara."
Clara melepaskan tangan Alvaro, ini sangat berbahaya menurutnya. "Kamu sangat menakutkan Al."
Clara yakin Alvaro sudah sangat lama memata-matainya hingga dia mengenal Clara sedalam ini.
Clara bangkit berdiri, "Jangan pernah mendekati aku lagi."
Clara segera pergi meninggalkan Alvaro.
"Clara!"
Alvaro mengejar Clara sampai wanita itu seketika berhenti dan berbalik membuat Alvaro berhenti, "Berhenti. Jangan pernah coba dekati aku lagi atau aku akan sangat membencimu." Tekan Clara dan kemudian pergi meninggalkan Alvaro.
Alvaro menutup matanya dan mengusap wajahnya. Sudah dia duga ini akan terjadi, cepat atau lambat.
***
Clara melihat setiap sudut rumahnya, dia yakin Alvaro pasti memiliki mata mata di dekat sini untuk memata matainya.
Lelaki itu sungguh menyeramkan, Clara tak sangka ternyata Alvaro mempunyai kepribadian yang menyeramkan, bahkan lebih dari pada apapun.
"Apakah dia mengetahui semua tentangku? Apa dia selalu mengintaiku? Bagaimana jika terjadi hal yang lebih berbahaya dari pada kejadian Viandro?" Clara terus bertanya ntah kepada dan untuk siapa. Tai sungguh ini sangat menyeramkan.
Clara sungguh tak selera makan hingga dia hanya memasak bubur sekarang untuk makan malamnya.
Sedangkan Alvaro yang masih berada di dalam kantornya hanya menatap layar laptopnya yang kosong, "Sepertinya dunia ini tak menginginkan kami untuk bersama. Itulah sebabnya kami selalu terpisah dalam segala waktu dan zaman."
Alvaro melihat ke arah hpnya, menghidupkan layar hpnya dan terpampang lah foto wajah Clara.
"Kamu membenciku huh? Apa aku terlalu buruk untukmu? Aku sudah berusaha semaksimal mungkin dan juga menggunakan berbagai cara. Tapi kenapa kamu tak mau mengerti?" Alvaro sangat sedih. Hatinya sangat perih membayangkan kehidupannya selalu tak bisa sebahagia dulu.
Alvaro mencoba menelpon Clara. Dan tak dapat terhubung sama sekali. Alvaro menghela nafas, "Dia memblokku?"
Alvaro memegang dadanya. Tubuhnya terasa lemas seketika, "Clara benar sangat membenciku ya?"
Tanpa dia sadari air matanya menetes.
Brak!
Alvaro melemparkan hpnya hingga hancur seketika, "Kenapa hari ini harus terjadi? Kenapa aku tidak diam saja huh? Kenapa aku tidak bisa menahan diri tadi?! Kenapa kalimat tadi bisa terucap?!"
"BRENGSEK!" umpat Alvaro melemparkan semua yang ada di hadapannya.
Dadanya naik turun menahan emosi.
"Tidak Clara. Kamu tak bisa lepas dariku. Kau milikku dan akan selamanya milikku."
Alvaro menatap tajam dinding dengan bayangan wajah Clara, "Jika aku tak dapat memilikimu dengan cara lembut, akan ku gunakan cara kasar."
Alvaro tersenyum miring, "Kamu milikku dan selamanya akan selalu begitu Clara."
***
Clara mulai beraktivitas seperti biasa, dengan menggunakan kereta Clara berangkat menuju toko kuenya yang berada di tengah kota. Tempat yang strategis bukan?
Setelah sampai senyuman yang sempat terlukis di wajahnya kini berubah menjadi kepanikan.
Toko itu hancur tak berbentuk lagi. Clara dengan langkah lunglai berjalan ke arah reruntuhan tokonya itu, air mata membanjiri pipinya berharap ini adalah sebuah mimpi buruk dan dia akan segera terbangun sebentar lagi.
Clara terduduk di hadapan reruntuhan itu. Kakinya tak sanggup lagi berdiri wanita itu menangis deras sedangkan orang lain yang ada di toko lain yang merupakan tetangganya bahkan tak berani keluar dari toko mereka dan hanya melihat dari jendela mereka saja.
Bukan karena mereka tak memiliki hati sama sekali, tapi karena mereka telah mendapatkan ancaman barang siapa yang coba menaruh belas kasihan pada Clara mereka akan tamat.
Sosok lelaki yang melakukan hal tersebut tersenyum miring dari tempatnya dan berjalan mendekati Clara. Lelaki itu membungkukkan tubuhnya dan berbisik pada Clara, "You like it?"
Clara segera menoleh dan mendapatkan Alvaro dengan wajahnya yang tersenyum jahat padanya.
Clara menunjuk toko kuenya dengan masih berlinang air mata, "Ini kenapa Al, kenapa? Apa kamu yang melakukannya?"
Alvaro mengusap pipi Clara dan tersenyum miring, "Aku bisa memberikan segalanya padamu jika kamu memberikan dirimu seutuhnya padaku."
Deg!
Clara terbelalak, "Apa kau sudah gila?!"
Alvaro terkekeh singkat dan kembali menyorot tajam Clara, "Sudah ku katakan, kamu adalah milikku dan selamanya begitu."