My Psychopath Roommate (Deep Sense)

My Psychopath Roommate (Deep Sense)
Thirty Three



Alvaro terdiam. Sedikit rasa kecewa dalam harinya karena harus berakhir seperti ini.


Gladis, wanita yang dulu pernah mengisi hari harinya dan juga menyakitinya kini malah semakin membuatnya merasa drop mood. Sedikit jengkel dengan keadaan, tapi ya sudahlah. Terserah, Alvaro harus belajar untuk move on seutuhnya dari wanita murahan itu.


Alvaro memasukkan undangan itu ke dalam tasnya.


Di sisi lain Gladis, wanita yang sedang membuat pikiran Alvaro kacau itu tengah menatap dirinya di kaca yang memantulkan dirinya sendiri. Dia sebenarnya tak memiliki pilihan lain selain menikah dengan Fransisco dari pada tak ada lelaki lain yang mau dengannya, lagi pula lumayan juga dia mendapatkan orang kaya seperti Fransisco.


Dalam benak Gladis tetap saja dia akan berusaha untuk tetap mengejar Alvaro, lelaki itu lebih untung jika di manfaatkan kekayaannya bukan?


Gladis menghembuskan nafas panjang dan kembali merias dirinya untuk berjumpa dengan calon suaminya itu.


Clara yang tengah berjalan ke kantor Alvaro, lelaki itu meninggalkan sesuatu, data tabulasi yang akan di presentasikan rapat siang nanti Alvaro tinggalkan. Bagaimana Clara tau, terlihat dari judul map dan juga tanggal dan juga proposal yang ada di dalamnya. Untungnya Clara sigap dan segera berinisiatif untuk mengantarkannya.


Alvaro yang membutuhkan data itu kecarian dan mulai gelisah, bagaimana mungkin dia bisa jadi pelupa, ck.


Pintu terketuk membuat Alvaro menoleh ke arah pintu, "Siapa?"


"Clara Tuan."


Alvaro menyerngitkan dahinya, kenapa wanita itu datang di pagi hari?


"Ya. Masuk."


Clara pun masuk dan segera memberikan map itu ke atas meja Alvaro, Alvaro melihat ke arah Clara, "Bagaimana kau tau aku mencari ini?"


Clara mengedikkan bahunya, "Tadi aku beresin kamar Tuan, seperti biasanya. Dan rupanya lihat ada data yang terbuka, dan ternyata tanggalnya tanggal sekarang. Jadi Saya pikir Tuan ketinggalan."


Alvaro merasa lega, untung saja ini berkasnya datang.


Alvaro melihat ke arah Clara, "Baiklah, sekarang apa maumu?" Tanya Alvaro sinis.


Clara mengerutkan bibirnya kesal, Alvaro bukannya berterima kasih padanya malah sinis melihatnya. Mengesalkan sekali.


"Ya, gak ada. Ini juga mau pulang." Jawab Clara. Tadi rencananya jam 11 nanti Clara mau beli bahan untuk membuat kue dengan varian baru, karena dari beberapa waktu Clara sudah menemukan hobi barunya yaitu memasak. Tapi karena Alvaro meninggalkan berkasnya membuat Clara harus ke kantor Alvaro dan menghabiskan waktu yang seharusnya di pakai untuk bersih bersih ruangan Alvaro dan sekarang sudah pukul 10 sepertinya rencananya tak akan bisa di lakukan.


Alvaro mengangguk, memang seharusnya dia berterimakasih pada Clara, tapi harga dirinya terlalu tinggi bukan? Tapi dia tau sekarang bagaimana membalas budi pada wanita ini secara tak langsung.


"Hari ini tak perlu membersihkan ruangan ku, biar pelayan lain yang ku suruh untuk melakukannya. Pulanglah," sambung Alvaro membuat Clara mengangkat kepalanya menatap Alvaro dengan berbinar.


"Sungguh Tuan?"


Alvaro mengangguk.


Clara tersenyum lebar, "Terimakasih Tuan. Anda sangat-"


"Stt, cuma hari ini saja. Tak usah berlebihan." Potong Alvaro.


Clara mengangguk cepat, tak masalah, yang terpenting adalah hari ini rencananya akan terlaksana. Pokoknya hari ini dia akan membuatkan Alvaro kue terbaiknya nanti.


Alvaro tersenyum tipis, walaupun menyebalkan setidaknya Clara punya sifat tau berterimakasih. Mungkin itu salah satu hal yang bisa Alvaro banggakan memelihara orang sepertinya.


"Hm," jawab Alvaro dan setelah itu Clara pun pergi meninggalkan Alvaro.


Alvaro berbalik badan dan berjalan ke arah kursinya untuk kembali duduk, Alvaro duduk di kursinya sambil membaca kembali laporannya.


Ting!


Terdengar bunyi dentingan gelas. Alvaro mengalihkan pandangannya dari laporan itu dan memperhatikan sekitarnya, bahkan di ruangan ini hanya dia yang ada di dalam. Dan juga sedari tadi tak ada gelas apapun di atas mejanya.


Ini apa?


Kenapa ada mawar yang muncul di sini? Di atas meja Alvaro terdapat mawar putih bercorakkan biru diujung kelopaknya.


Alvaro bingung, ini berasal dari mana? Padahal sejak dari tadi dia duduk di sini tak ada penampakan bunga ini. Kenapa tiba tiba ada?


Alvaro juga memperhatikan bunga mawar ini terlihat begitu asing.


Alvaro mengambil f.


Alvaro mengangguk menyatakan bahwa semuanya sudah baik. Alvaro meletakkan laporannya itu namun kembali di kejutkan dengan bunga mawar yang kembali ada di meja.


Alvaro menyerngitkan dahinya sesaat kemudian memijati pelipisnya. Ini pasti ada hubungannya dengan hal hal aneh lainnya.


Alvaro memegang bunga itu, "Apa lagi sekarang? Bunga?" Alvaro menghela nafas. Dia sepertinya harus terbiasa dengan hal hal aneh sekarang. Mungkin Alvaro menyebutnya dengan kutukan.


Alvaro meletakkan bunga itu sedikit jauh darinya, di biarkan saja bunga itu, dia tak mau ambil pusing dan kembali melakukan segala kegiatannya.


Jam tiap jam berlalu, Alvaro pun pulang ke rumah seperti biasa. Beberapa pegawai menunduk hormat kala mereka berpapasan, Alvaro tak membalas ekspresi apapun pada mereka, bukankah memang pantas dia di hormati seperti ini huh? Dia penguasanya bukan?


Alvaro menuju halaman parkir dan memasuki mobilnya. Mengendarai mobil itu pulang ke rumahnya dengan kecepatan sedang dan kemudian kembali memarkirkan mobilnya di halaman parkir rumahnya.


Alvaro keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya. Berjalan memasuki rumahnya tanpa menyadari Clara yang mengejarnya dengan sangat bersemangat sambil membawakan pancakes yang masih hangat dengan lumuran madu dan buter di atasnya.


Alvaro menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Clara, "Apa lagi?" Alvaro sedang malas untuk menghukum Clara. Moodnya sedang buruk.


"Ini Tuan-"


"Letakkan saja nanti di meja kerjaku, dan juga sekalian bawakan tas ku ini dan letakkan di sana juga." Potong Alvaro sambil mendorongkan tasnya tepat di wajah Clara.


Clara segera mengambil tas itu walaupun sebenarnya dia ingin menggosok hidungnya yang sakit karena menabarak tas kulit tebal itu.


Alvaro memutar bola matanya malas dan kemudian berjalan.


Tep


Ada yang terjatuh. Seperti amplop berwarna coklat dengan hiasan berwarna emas di tepi sisinya dan juga ada pita yang melingkarinya.


Clara menunduk dan meletakkan makanannya itu di atas meja yang tak jauh darinya, Clara mengangkat benda itu.


Ah, seperti undangan.


Clara yang terlanjur kepo pun mulai diam diam memperhatikan keadaan untuk mencuri kesempatan untuk membaca undangan ini, jarang jarang bukan Alvaro mendapatkan undangan sepertinya. Soalnya dari pandangan Clara Alvaro selalu di sibukkan dengan laporan dan ke kantor, sangat jarang Alvaro mendapatkan undangan sepertinya apa lagi menghadirinya.


Tertulis nama Fransisco dan Gladis.


Dari nanya saja sudah kerena dan cantik. Pasti good looking. Batin Clara.


Clara sedikit membuka undangan.


Hap!


Clara menutup mulutnya saat melihat foto prewedding di sana.


Gladis mantan Alvaro?!