
***Keadaan alana sudah semakin membaik, bahkan gadis itu sudah bisa berbicara panjang lebar setelah sebelumnya ia kesusahan dalam berbicara karna merasa lemah..
Arlan jangan di tanya, cowok itu dengan setia menemani gadisnya itu.
" Setelah ini, jangan ngelakuin hal yang nekat lagi.. Oke " Titah arlan lembut,. Tangan kirinya mengelus rambut alana dengan lembut, sedangkan tangan kanannya menggenggam erat tangan alana.
" Kamu juga.. Jangan lagi marah sama aku " Celetuk alana pelan.
" Aku udah kapok, kau sungguh membuatku gila, untung sayang " Arlan terkekeh pelan .
" Kamu kok beda dari sebelumnya? Rambut nya belum di cukur yaa " Tanya alana yang melihat perubahan pada wajah arlan .
" Aku gak peduli sama rambut atau penampilan aku.. Karna yang ada di pikiran serta hati aku saat itu cuma kamu " Arlan berucap begitu tulus.
" Kok saat itu? Jadi sekarang nggak? " Tanya alana cemberut.
" Sekarang lebih dari yang sebelumnya.. Aku bener2 bersukur tau gak, Tuhan ngeberi aku kesempatan buat jagain serta mencintai kamu lebih dari sebelumnya " Gumam arlan tersenyum manis.
" Aku sayang kamu,, aku gak pernah mau kamu ninggalin aku barang sebentar saja " Gumam alana menatap lekat wajah arlan..
" Aku juga begitu al..aku jauh lebih mencintai kamu dari apapun.. Aku rindu kamu al. Sepuluh hari kamu diemin aku, dan itu membuat aku hampir gila " Ujar arlan kemudian mencium tangan alana yang memang di genggam nya itu.
" Soal zain.. " Arlan langsung memotong kalimat alana.
" Sssttttt " Telunjuk arlan menyentuh bibir alana. " Aku sudah tidak peduli dengan itu lagi.. Gara gara kecerobohan ku, aku hampir kehilangan kamu.. I'm sorry al " Arlan kembali meneteskan air mata nya..
" Kau tau..? Aku gak pernah nyesel tuh ngelakuin hal bodoh ini " Kata alana mengangkat tangan kanannya yang sudah di perban, dan menatap nya dengan sebuah senyuman.
" Karna kalau harus dengan cara kaya gini kamu bisa maafin aku, maka akan aku lakukan dengan senang hati " Katanya berbinar..
" Aku mohon al.. Jangan ngomong kaya gitu lagi.. Setelah ini.. Aku janji, aku janji gak akan marah lagi sama kamu.. Aku akan berusaha untuk selalu percaya kamu..aku terlalu takut kehilangan kamu al.. "
" Arlan.. Aku.. " Ucapan alana tersendat sendat..
" Ada apa? Kamu mau apa? Hemm? " Tanya arlan lembut..
" Aku kangen di cium kamu " Lirih alana pelan..ia menggigit bibir bawahnya dengan pelan karna merasa malu.
Arlan tersenyum manis.. Setelah itu ia berdiri, membungkuk kan badannya, hingga membuat wajah alana juga wajah arlan sangat dekat..hingga deru nafas arlan pun menerpa wajah alana. Dan Alana memejamkan matanya, karna tau arlan akan menciumnya.
Alana merasa benda kenyal milik tunangannya itu sudah menyentuh kening nya dengan hangat dan lembut, yaa kening .. Arlan mencium kening alana terlebih dahulu... Setelah itu berpindah ke pipi kiri gadis itu..
Karna merasa arlan berhenti mencium nya setelah ciuman pipi, alana kembali membuka matanya perlahan..
Masih di dapati nya wajah arlan yang begitu dekat dengan wajahnya, dengan senyum manis mengembang di bibir cowok itu,.
Alana kemudian menyentuh bibirnya dengan kedua jarinya., dan menatap mata arlan dengan tatapan merengek yang menggemaskan.
" Sisanya setelah kamu sembuh... Oke.. Makanya cepet sembuh.. Aku rindu kamu " Lirih arlan tersenyum, sembari tangannya mengibas sebagian rambut alana yang menutupi wajahnya ke belakang telinga gadis itu.
" I miss you to " Balas alana pelan.
Arlan kembali menjauhkan dirinya dari alana, dan kembali duduk di kursi di samping ranjang gadis itu .
" Alana sayang " Sapa seseorang yang baru tiba,. Arlan menoleh, Linda, dan Leonard melangkah ke arah mereka.
Arlan hendak berdiri ingin mempersilahkan Linda duduk.
" Tidak usah arlan.. Duduklah, mama sama papa sebentar kok " Kata Linda tersenyum hangat. Ia dengan Leonard berdiri di samping kanan ranjang alana.
" Gimana keadaan alana sekarang? " Tanya Leonard lembut.
" Udah lebih baik kok dad " Jawab alana tersenyum.
" Alana Inget kan kata mama , jangan ngelakuin hal yang bikin kami semua khawatir.. Oke " Titah Linda memperingati.
" Heheh.. Iya. Iya " Alana nyengir.
" Kalau mau ngelakuin hal buruk lagi, alana seharusnya mikir dua kali, gimana khawatirnya kami, termasuk arlan.. Kau liat, penampilan tunangan mu sekarang gak se perfect sebelumnya " Ujar Leonard mencibir. Arlan hanya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
" Tapi alana tetep sayang kok sama arlan " Kata alana jujur.
" Kalian juga harus tau yaa, sebelum alana kejang kejang, mama sempet bisikin dia kalau mama akan batalin lagi pertunangan arlan juga alana, eeh mungkin nih anak denger kali yaa, dan akhirnya dia kejang2 pa " Ucap Linda menjelaskan dengan mimik wajah yang di buat buat.
" Sungguh? " Tanya Leonard tak percaya.
" Eem " Jawab Linda mengangguk.
" Untung alana gak sampek mati " Celetuk alana pelan.
Semua saling menoleh dengan tatapan yang tak bisa di artikan.. Karna memang pada dasarnya tidak ada yang memberitahu alana bahwa gadis itu sempat tak bernafas lagi.
" Ada apa? " Tanya alana bingung melihat ekspresi wajah yang lain.
" Nggak ada apa apa kok sayang.. " Elak arlan tersenyum manis.
" Ooh yaa, papa sama mama harus pergi,. Ada perjumpaan pers hari ini.. Alana gak papa kan kalau kami tinggal?" Izin Leonard pada alana.
" Iyaa alana gak marah kan? " Tanya Linda lagi.
" Gak papa kok, kan ada arlan " Jawab alana tersenyum manis, tangan kirinya makin erat menggenggam tangan arlan.
" Ya udah kami pamit yaa " Pamit Leonard kemudian.
" Arlan.. Jagain alana yaa " Titah Linda sebelum pergi.
" Pasti ma " Jawab arlan mengacungkan jempol nya dengan senyum manis melengkung di bibir cowok itu.
Linda dan Leonard pun berlalu pergi dari ruangan itu.
" Tante Linda " Sapa seseorang saat Linda juga Leonard baru keluar dari ruang rawat alana.
" Eeh sasa " Balas Linda tersenyum hangat saat melihat sasa, bela, dan tiga orang cowok yang agak asing bagi Linda.
" Bisa kok..silahkan " Ujar Leonard mempersilahkan.
" Kami duluan, " Lanjut leonard lagi yang langsung berlalu pergi dari tempat itu.
2 gadis, dan 3 cowok itu pun langsung masuk ke ruangan VIP tempat alana di rawat.
" Alana " Sembur sasa dengan suara cempreng nya.
Alana yang sedang asik bergurau itu, lantas menoleh ke arah suara, termasuk arlan..
" Gimana keadaan bidadari kita sekarang " Sapa Adit setelah mereka berada di antara alana dan arlan.
" Baik kok... Oleh oleh nya mana? " Tanya alana merengek.
" Loe tuh yaa, kalau sama makanan " Sembur bela jengah.
" Biarin.. " Cetus alana sok kesal.
" Kita cuma bawain loe parsel buah, gak papa kan? " Ucap Andra menaruh parsel buah itu pada nakas samping ranjang.
" Gak papa, gak papa, gue cuma becanda juga kok " Kata alana terkekeh.
" Loe tuh selalu emang yaa, bikin kita kita khawatir " Ucap Rafa kemudian.
" Iyaa tuh..gue panik banget pas denger kabar loe itu " Celetuk sasa juga.
" Lain kali jangan ngelakuin hal sejauh itu lah al.. Kita kan panik jadinya " Timpal Andra juga.
" Apalagi arlan.. Wahhh.. Dia yang gak ngerokok, jadi ngerokok gara gara frustasi " Kata Rafa tersenyum meledek pada arlan. Dan arlan hanya memutar bola matanya jengah .
" Eeh.. Iyaa.. Aku gak mau yaa yank kamu ngerokok lagi.. Aku gak suka bau rokok " Titah alana pada arlan.
" Iyaa udah nggak juga kok, maaf yah " Ucap arlan tersenyum manis. Alana mengangguk cepat...
" Gimana?? Masih mau ngelakuin hal bodoh kaya kemaren lagi?? Gue banyak kok obat di rumah " Celetuk bela pelan.
" Oooh yaa..??. Boleh dong, kalau loe kasih ke gue " Alana menaik turunkan alisnya.
" Husss.. Awas aja kalau nyoba nyoba lagi " Ucap arlan memperingati.. Dan Alana hanya nyengir..
" Hallo semua " Sapa seseorang..
Semua yang ada di tempat itu menoleh, .
Dan begitu kaget karna melihat citra yang melangkah menghampiri mereka.
Alana yang melihat kehadiran citra langsung mengeratkan genggaman nya pada arlan. Selama enam bulan belakangan ini, Alana sudah tidak lagi melihat kehadiran citra di sekolah setelah gadis itu di skors selama 7 hari, dan semuanya juga tidak tau citra di mana, lebih tepatnya mereka memilih untuk tidak peduli.
" Alana " Sapa citra tersenyum manis.
" Loe mau apa? " Sentak arlan terlihat emosi. Termasuk yang lain, mereka menatap bengis ke arah citra.
" Gue... Gue mau minta maaf sama loe al, gue tau gue salah, gue egois , gue emang jahat al.. Gue nyesel " Kata citra yang sudah mulai menangis.
" Gue mohon... Maafin gue al.. Maaf " Lirih citra lagi.
" It's oke " Ucap Alana tersenyum tipis.
" Gue akan pindah sekolah, " Ujar citra tiba tiba.
" Kenapa gitu? " Tanya bela tapi masih agak sinis..
" Gue mau move on dari arlan.." Kata nya yang semakin sesenggukan.
" Jadi loe belum bisa move on dari tunangan gue " Tanya Alana tak percaya.
" Sorry al.. Gue gak bisa bohongin perasaan gue, arlan segalanya buat gue,. Dia bayangan gue al, jadi gue sulit buat lupain arlan. " Kata citra lagi.
" Loe ngomong apa sih cit, mending pergi aja deh dari sini " Ketus Rafa menatap tajam pada citra.
" Gue mau minta maaf sama loe al. " Kata citra langsung , yang tanpa mereka duga, citra dengan sengaja menempelkan bibirnya ke bibir arlan.
Semua melotot tak percaya, termasuk Alana.. Gadis itu dengan segera berusaha bangun dari tidurnya mengubahnya menjadi posisi duduk. Alana sudah tidak peduli dengan keadaannya yang masih agak lemah.
Arlan yang mendapat serangan itu langsung mendorong tubuh citra dengan keras hingga membuat citra terpental jatuh agak jauh.
" L*j*ng " Sentak arlan emosi..tangan nya kembali di tarik oleh seseorang,. Ternyata Alana, gadis itu juga menempel kan bibirnya pada bibir arlan.
" Aku gak mau yaa, ada bekas bibir orang lain di bibir kamu " Kata gadis itu melepas ciuman nya..
" Loe emang gak waras sekarang cit " Gertak Adit yang langsung menyeret tubuh citra dengan paksa keluar dari ruangan Alana.
" Sinting emang " Gumam sasa pelan.
" Cinta buta mah gitu " Sambar bela masih tak percaya.
Semetara Alana,.. Gadis itu sudah memeluk tubuh arlan dengan erat.. Tak peduli dengan badannya yang masih lemah.. Intinya.. Dia tidak mau arlan di miliki oleh siapapun kecuali nya..
" Kamu gak boleh lagi yaa nyium citra gitu " Celetuk Alana menenggelamkan kepalanya ke dada arlan.. Sampai bau khas parfume cowok itu tercium oleh hidung Alana.. Wangi yang sangat Alana sukai.. Ia rindu bersandar seperti itu.
" Kan bukan aku yang nyium " Elak arlan mengelus pelan rambut Alana .
" Yaa intinya aku gak mau kamu ciuman sama cewek lain.. Kamu itu cuma punya aku, papa joon sama nita udah nyerahin kamu ke aku " Kata Alana mengeratkan pelukan nya.
" Iyaa.. Iyaa.. Aku tau.. Aku cuma milik kamu kok, dan selama nya akan tetap begitu " Bisik arlan lembut.
Semua yang menyaksikan hanya menggeleng pelan melihat tingkah ke posesifan Alana.
" Jomblo mah, diem aja " Celetuk bela pelan...
Semua tertawa***...