
***3 hari sudah berlalu, dan Linda, juga belum sadar dari koma ringannya,,,
setiap saat sehabis pulang sekolah, Alana dan arlan selalu berkunjung ke rumah sakit,
berharap sang mama bisa segera sadar,
Dan selama 3 hari belakangan itu, Alana benar2 tidak semangat, saat di sekolah pun, dia tidak ceria seperti biasanya , dia lebih memilih diam, kadang kala hanya tersenyum tipis saat sasa berceloteh lucu di hadapannya.
Argash benar2 tidak menyukai Alana yg sekarang, dia sangat tidak suka, dia juga sangat merindukan kemanjaan Alana terhadap dirinya, tapi, rasa bersalah yg menghantui gadis nya itu, membuatnya hilang akan semangatnya, hilang kecentilannya, hilang kemanjaan nya, dan semua orang terdekat Alana sangat tidak suka dengan sikap Alana yg sekarang.
" Loe kok jadi berubah gini sih al? " Tanya sasa pelan, menatap sedih ke arah Alana yg hanya mengaduk minuman yg di pesannya di kantin, pasalnya, kali ini mereka sedang di kelas walau bel istirahat sudah berdering, tapi mereka bertiga memilih makan di kelas, lebih tepatnya sih, Alana yg meminta, dia sangat tidak bergairah untuk menghadapi citra, karna memang belakangan ini, citra selalu bersikap judes padanya, bahkan kadang citra sering menyindir nya di tempat umum, tapi Alana tidak peduli, dia hanya menganggap itu sebagai angin lalu saja, lebih tepatnya sih arlan yg memintanya untuk membiarkan ocehan citra dan tidak mendengarkannya. Alana hanya menuruti perintah tunangannya itu.
" Kalian gak ngerti gue " Jawab Alana pelan.
" Kita ngerti al, ngerti gimana perasaan loe sekarang, tapi jujur deh, gue gak suka loe yg kaya gini, banyak diemnya loe, biasanya juga cerewet bareng sasa, atau nggak suka gangguin adek kelas, tapi selama tiga hari ini, loe bukan Alana yg gue kenal " Ujar bela menatap Alana dalam. Dan di jawab anggukan setuju oleh sasa.
" Please al, kembali ke awal yaa, gue mohon, gue rindu loe tau gak? " Pinta sasa memohon
" Gue akan kembali seperti semula kalau mama gue sadar dan bisa sembuh secepatnya " Kata Alana dingin yg setelah itu beranjak dari duduk nya.
" Mau kemana? " Tanya bela heran.
" Gue mau ke toilet " Jawab Alana
" Kita temenin yaa " Tawar sasa hati hati
" Gak usah lah, cuma sebentar doang kok" Ujar Alana tersenyum tipis. "Mungkin sekalian gue mau mastiin arlan udah selesai apa belum rapatnya di ruang OSIS " Lanjut Alana lagi melangkahkan kakinya ke luar dari kelas .
" Oke " Jawab sasa pelan yg tak akan di dengar oleh Alana, karna tubuh Alana sudah menghilang dari balik tembok kelas..
. _._._..._._._._._._._
Se keluarnya Alana dari toilet, dia bertemu dengan citra di toilet wanita, Alana yg baru saja keluar dari toilet, spontan kaget ketika citra sudah berdiri di hadapannya.
"Hai " Sapa citra dengan senyum miring nya.
Tentu saja Alana tak menjawab dan ingin langsung beranjak pergi dari toilet ,
tapi kakinya seketika terhenti ketika ia merasa kerah baju belakangnya di tarik dengan kasar hingga membuat badannya terbentur dengan keras ke wastafel toilet...
" Shittt... " Umpat Alana merasakan sakit di pinggangnya " Mau loe apa sih? " Sentak Alana yg sudah kehilangan kesabarannya.
" Loe pikir loe siapa hah!? Bisa bisanya loe ngambil arlan dari gue ! Dia itu milik gue ,milik gue " Bentak citra menggelegar.
" Gue gak pernah ngambil arlan dari siapapun, karna pada dasarnya loe sama dia gak ada ikatan sama sekali kan sebatas sahabat doang kan " Ujar Alana sinis. Dia se berusaha mungkin menahan rasa sakit di pinggangnya akibat benturan keras tadi .
" Kami hampir saja pacaran yaa al, tapi ntah dari mana, loe datang dalam kehidupan kami, menjadi benalu dalam hubungan kami, dan belum puas juga loe ngambil arlan dari gue., loe juga buat dia ngejauh dari gue, dia membuat jarak antara kita.. Dan ini semua karna loe " Sentak citra begitu marah.
" Loe nanya arlan nya aja deh, gue lagi males debat " Ucap Alana datar yg kembali melangkah kan kakinya hendak meninggalkan citra.
Tapi citra tidak menyerah, dia dengan begitu kasarnya kembali menarik baju Alana hingga membuat seragam alana sebagian robek di bagian atasnya.
" Loe gilak yaa " Emosi Alana benar2 meluap, beruntung dia memakai tangtop hingga membuat dadanya tidak terekspos langsung. Alana marah, dengan cepat tangannya terangkat hendak menampar citra, tapi citra tak mau kalah, dia menahan tangan Alana dengan begitu kuatnya, kemudian menarik kedua tangan Alana kebelakang, Alana hendak berontak, tapi dengan begitu cepat nya kedua tangan Alana sudah di ikat dari belakang oleh citra menggunakan dasinya, ikatannya begitu kuat, hingga membuat Alana tidak bisa melepas ikatan itu..
"Loe apa apaan sih " Gertak Alana berusaha melepas ikatan itu, tapi hasilnya tetap tidak bisa. " Lepas gak " Lanjut Alana lagi, menatap citra tajam.
" Gue gak suka milik gue di milikin orang lain, dan loee, akan menerima semua akibatnya " Kata citra tersenyum licik.
Setelah itu dengan sangat kerasnya citra menghempaskan tubuh Alana hingga membuat Alana tersungkur jatuh , tubuhnya terbentur dengan keras ke tembok toilet, citra dengan segera menduduki tubuh Alana yg masih terduduk di lantai, dan untuk pertama kalinya seorang Alana tidak bisa membalas karna tangannya di ikat dengan kuat.
" Cara loe kok rendahan gini sih, katanya jago silat " Desis Alana tersenyum miring, dia sama sekali tidak merasa takut kepada citra yg sudah menatap bengis ke arahnya.
" Gue gak peduli " Tekan citra kembali menarik kerah baju Alana dan langsung membenturkan tubuh Alana ke dinding berkali kali , hingga membuat Alana meringis kesakitan , tapi nyatanya citra tak memperdulikan itu.
" Gue benci loe al, gue benci " Hardik citra menghimpit kedua pipi Alana dengan satu tangannya , dengan penuh penekanan, kuku tangannya yg tajam menekan dalam pipi Alana hingga meninggalkan bekas goresan di pipi Alana.
" L*j*ng " Hina Alana di sela2 citra menghimpit pipinya.
Wajah citra merah padam, dia langsung melepas tangannya dari pipi alana, setelah itu tangannya kembali menampar wajah alana dengan keras, alana berusaha melawan, tapi masih tak bisa melepas ikatan di tangannya itu.
" Loe gak akan pernah bisa milikin apa yg ngga bisa gue milikin " Pekik citra , lalu menarik rambut alana hingga membuat kepalanya terhempas ke dinding, Dan sekarang, keadaan alana benar2 acak acakan, alana sudah lemas akibat benturan itu.
Dia memilih pasrah atas yg citra perbuat selanjutnya. Dan sekarang, toilet itu begitu sepi, tidak ada yg bisa menolong alana sekarang.
" Murah*n! " Sentak citra yg kembali lagi mengangkat tangannya untuk menampar alana, tapi kali ini tangannya sudah tertahan, dia mendongak dan ternyata yg menahannya adalah arlan yg sudah menatap begitu emosi ke arahnya, mata arlan sudah memerah karna begitu marah,
" psikopat ! Loe gilak yaa" Arlan langsung menarik citra menjauh dari tubuh alana , kemudian dengan sekuat tenaga menampar wajah citra dan menghempaskan tubuh citra dengan kasar ke sembarang arah. Cowok itu sudah melanggar prinsipnya sendiri untuk tidak menampar seorang perempuan, tapi karna kelakuan citra, membuat nya terpaksa melakukan itu.
" Loe nampar gue? " Ujar citra tak percaya memegangi pipinya akibat tamparan arlan, karna untuk yg pertama kalinya arlan menampar seorang perempuan, dan itu citra, Sahabat nya sendiri.
Arlan tidak peduli, nafasnya sudah naik turun tak beraturan karna begitu emosi juga hawatir dengan alana,..
"Gue bisa berbuat lebih dari ini, kalau loe berani nyakitin alana lagi " Tekan arlan menatap tajam ke citra dan setelah itu segera menghampiri alana yg masih terduduk di lantai ,melepas dasi yg mengikat tangan alana, dan langsung membawa alana ke dekapannya.
Arlan kemudian melepas seragamnya sendiri, dan menutup tubuh alana yg terekspos dengan seragam nya itu. Kini yg tersisa di tubuh cowok atletis itu hanya lah kaos pendek hitam se siku.
" Kamu sabar yaa, kita ke rumah sakit sekarang " Kata arlan panik yg langsung membawa tubuh alana ke dalam gendongannya .
" Sayang.. Aku mohon... Aku gak mau ke rumah sakit, aku mohon, aku mohon, kita ke UKS aja " Pinta alana lirih.
" Tapi sayang... "
" Please.. " Pinta alana lagi menyandarkan kepalanya ke dada arlan. Arlan menghembuskan nafasnya dengan kasar,
" Baiklah " Katanya menuruti. Dan arlan ingin segera melangkah pergi keluar dari toilet itu, meninggalkan citra yg menangis karna tamparan arlan Dia sakit hati karna arlan menampar nya.
Tapi tiba tiba Rafa, Andra, dan Adit masuk tergesa gesa ke dalam toilet.
" Ada apa ini? " Tanya Rafa panik melihat keadaan alana yg sudah berada dalam gendongan arlan, dengan kepala alana yg bersandar lemas di dada arlan. Alana masih memiliki kesadaran, tapi dia memilih diam.
" Citra udah gilak tau gak . Dia dengan kejam bikin alana kek gini, dan inget satu hal, gue gak mau liat dia berada di geng kita lagi " Tekan arlan emosi.
" Kok loe gitu sih cit? " Ujar Adit tak menyangka saat melihat beberapa luka memar di wajah alana.
Arlan sudah tak menghiraukan Adit, dia ingin segera membawa alana ke UKS agar tunangannya itu segera di tangani,
" Gue duluan " Katanya yg langsung keluar dari toilet.
" Jangan pernah salahin gue.. Ini semua salah arlan " Ujar citra meninggikan suaranya.
" Gilak emang loe yaa, cinta loe salah tau gak " Ketus Andra yg sudah begitu emosi karna kelakuan citra.
" Gue emang gila, gue gilak karna arlan" Teriak citra histeris..
" Setelah ini loe siap siap buat dapet hukuman dari kepala sekolah " Kata Adit sinis.
" Dan yaa, inget satu hal, untuk perbuatan loe kali ini, loe bukan hanya kehilangan arlan. Tapi juga gue, Adit, dan Andra " Sambung Rafa juga.
Citra diam. Pikirannya tidak bisa di cerna.
" Kita nyusul arlan aja ke UKS sekarang" Titah Rafa kemudian berlalu keluar dari toilet di ikuti oleh Adit dan Andra.
" Arrgaaahhh " Teriak citra frustasi***..