
***Alana dengan segera mengunci pintu kamar,.. Pikiran, hati, bahkan dunianya sudah benar benar kacau...
Dia menangis sesenggukan terduduk di lantai, tepat di tepi ranjang.
" Jika arlan tidak lagi bersama gue, buat apa lagi gue hidup " Lirihnya sesenggukan. Ia menjambak rambutnya sendiri dengan kencang , tapi, tak ia rasakan sakit sedikitpun pada bagian kepalanya itu. Hatinya hancur sekarang
" Tuhan... Kenapa?? Kenapa kau buat aku bahagia kalau kebahagiaan itu cuma sesaat.? " Gumam alana pelan.
" Salah? Jika aku menginginkannya ?? Aku tau.. Aku terlalu kotor untuk meminta..kesalahan ku terlalu banyak.. Aku tau itu..hukumlah aku sesuka mu, tapi jangan hukum aku dengan mengambil arlan dari ku Tuhan... Hukum aku..hukum..tapi jangan buat aku kehilangan arlan.. Jangan Tuhan jangan " Lirih gadis itu lagi. Dunianya hancur sekarang...
" Arlan.. Apa kau terlalu bahagia meninggalkanku??? Sedangkan aku... Aku bahagia saat bersamamu dulu " Katanya lagi,, gadis itu langsung beranjak dari duduknya, melangkah pelan menuju tempat rias.
Alana menatap wajahnya sendiri di depan cermin berukuran besar itu..
" Aku benci diriku sendiri, aku benci hidup ku... Aku benci " Kata Alana menatap sendu wajah acak acakan nya itu. Matanya sekilas melirik ke ponsel yang ada di meja rias nya itu.. Seketika dia tertegun, teringat akan sesuatu..
" Kenapa gue **** gini sih " Gerutunya yang langsung mengambil ponsel itu dan dengan segera menghubungi seseorang...
Panggilan pertama tidak aktif,. Kedua juga tidak aktif, dan begitu seterusnya.
Alana kembali mengecek no itu.. Dan seketika, gadis itu kembali emosi, ponsel yang ia genggam langsung ia lempar asal ke lantai.
" Kenapa Zain?? Kenapa loe ganti nomor? " Marahnya makin sesenggukan..." Jelasin semuanya sama arlan Zain..jelasin " Tangannya mengepal karna begitu emosi..
" Tidak ada pilihan lain al " Katanya yang tanpa aba aba, ia Menggumpal kan tangannya kemudian menerkam dengan kuat cermin besar di hadapannya itu ...
CETAARRRRRRR.....
Suara pecahan keras dari kamar Alana membuat semua orang yang dari tadi sama sama diam, menoleh ke pintu kamar Alana dengan tatapan cemas nya masing masing .
" Alana " Aldi panik dan dengan segera berlari cepat menaiki tangga menuju kamar adiknya itu...
Begitu pun dengan Linda, Leonard, nita, dan joon, mereka juga tergesa gesa mengikuti aldi dari belakang.
Setelah tiba di depan pintu kamar alana, Aldi tanpa aba aba langsung memutar knop pintu kamar itu.. Tapi tidak bisa, karna alana mengunci pintu kamarnya dari dalam.
" Dek... Ini gue.. Loe gak papa kan? Biarin abang masuk al " Teriak aldi mengedor pintu kamar milik adiknya itu.
Tak ada jawaban dari dalam.. Dan itu malah makin membuat semua khawatir.
" Bagaimana ini pa? " Linda sudah menangis sesenggukan.
" Tenang ma, kita ambil kunci cadangan aja " Kata Leonard menenangkan.
" Terlalu lama dad, perasaan aldi udah nggak enak " Kata aldi yang langsung mendobrak pintu itu dengan tubuhnya.
Tapi tidak bisa, ia kembali mendobrak pintu itu, hasilnya tetap sama,. Tidak bisa...
" Ini kunci cadangannya " Ujar nita dengan nafas tak beraturan yang sepertinya baru menemukan kunci cadangan yang tadi ia cari bersama para pelayan.
Dengan segera aldi mengambil kunci itu dan berusaha membuka pintu nya .
Hanya butuh beberapa detik untuk membuka pintu kamar itu, dan akhirnya pintu terbuka.. Aldi menerobos masuk ke dalam di susul yang lain.
" Alana " Kaget aldi yang sudah melihat tubuh mungil Alana yang tergeletak tak sadarkan diri. Dengan busa yang keluar dari mulutnya dan mengalir di sudut bibir mungil itu.. Jangan lupakan, punggung tangan Alana yang sudah terluka dengan darah yang mengalir tanpa henti dari tangan gadis itu..
" Alana " Linda sudah histeris dan dengan segera membawa kepala Alana ke dalam dekapannya.
" Apa yang terjadi pa? " Lirih nita memeluk lengan joon begitu eratnya.
Dia juga melihat beberapa botol obat yang berserakan di mana mana, dan nita tidak tau itu obat apaa..
" Alana bangun. . Jangan kaya gini sayang.. Jangan " Lirih Linda tersedu sedu.
" Kita harus bawa alana ke rumah sakit sekarang " Titah Leonard serak..
Dan aldi.. Dia langsung mengambil alih tubuh alana yang di dekap oleh Linda setelah itu menggendong tubuh lemas itu ke dalam dekapan nya..
Pria itu berlari dengan tergesa-gesa, hendak membawa tubuh alana ke rumah sakit...
😌😌😌😌
2 jam sudah alana di tangani oleh dokter... Dan selama itu semua menunggu di depan ruangan ICU tempat alana di tangani..
" Apakah arlan sudah kau beritahu joon?" Tanya Leonard kemudian.
Pria itu ingin marah pada arlan, bahkan sangat ingin marah pada menantunya itu,.apalagi aldi.. Karna memang menurut mereka,alana begini karna arlan...Tapi mereka tidak se egois itu , mereka tau kalau yang alana butuhkan hanya lah arlan seorang.
" Sudah.. Tapi masih belum aktif " Jawab joon lesuh " Maafkan aku Lee, semua salah ku, andai aku tidak memberi tau kabar ini padamu, semua pasti baik baik saja " Pinta joon lagi.
" Sudahlah.. Tidak ada yang salah dalam hal ini, semua sudah terjadi.. " Ujar Leonard tersenyum tipis.
" Biar ku cari arlan sekarang " Ucap joon kemudian yang ingin langsung pergi.
" Tidak usah om,, saya akan tanya lebih dulu ke temen2 arlan, mungkin arlan lagi sama mereka " Cegah aldi.
" Baiklah." Jawab joon ". Akan segera aku urus anak itu " Gumam joon pada dirinya sendiri.
_._._._._._._._._._.
Di tempat lain , di sebuah kamar ber dominan spider man itu,. Seorang cowok menatap kosong ke arah jendela. Yang di lakukan nya hanya merokok, rokok, dan rokok..
" Loe gak bosen rokok mulu " Sembur Rafa pada arlan.
Yaa arlan menginap di rumah sahabat nya itu.
Tak ada jawaban dari arlan...
" Gue akan pindah sekolah " Ujar arlan tiba tiba.. Dan itu membuat Rafa tersentak.
" Jangan becanda deh " Kata Rafa terkekeh.
" Gue serius, dan gue akan menetap di Korea " Cetus arlan sama sekali tak menoleh ke Rafa yang juga berdiri di sampingnya itu .
" Lalu gimana dengan geng kita? Gimana dengan persahabat an kita,? gimana dengan alana..? " Tanya Rafa beruntun..
Arlan tak bergeming.
" Loe gilak apa gimana sih?? Alana butuh loe? Gue tau loe emang manusia dingin , tapi setidaknya loe bisa peka dikit kan kalau gadis itu benar2 sayang sama loe.. Dia sepertinya gak bisa hidup tanpa loe lan.. Loe jangan yang aneh aneh.. Sebelum loe nyesel lebih tepatnya " Ujar Rafa juga berbicara dingin.
" Gue emang gilak.. Gue gilak karna Alana.. Tapi gue juga udah benci sama dia.. Ciuman dengan Zain waktu itu malah bikin gue tambah yakin kalau Alana masih sayang Zain.. Gue ngelakuin ini juga karna dia . Gue mau dia bahagia dengan cinta pertamanya " Gumam arlan tersenyum kecut .
" Terserah loe deh.. Tapi inget.. Jangan nyesel yaa lan, kalau suatu saat loe tau yang sebenarnya " Titah Rafa memperingati.. Ia hendak berucap lagi, tapi deringan ponselnya membuat matanya beralih menatap layar ponsel yang memang dari tadi di pegangnya.
" Alana ? " Gumam Rafa saat melihat si penelepon..
" Gue louch speaker yaa " Katanya yang langsung memencet tombol hijau.
" Hallo al ada apa? " Tanya Rafa setelah mengangkat telponnya. Panggilan sudah di louch speaker olehnya sehingga arlan dengan jelas bisa mendengar.
" Ini gue abang nya Alana.. Arlan nya sama loe gak ? " Tanya suara berat di sebrang.
Sekilas Rafa menoleh ke arlan, dan arlan balas menatap dia tajam, memberi isarat agar tak memberitau keberadaan nya.
" Gak ada bang.. Gue juga gak tau dia dimana " Gumam Rafa pelan. Dia terpaksa harus berbohong.
" Oooh Oke.. Loe temennya arlan kan yaa,? Kalau udah ketemu dia, tolong bilang ke dia, kalau Alana ada di rumah sakit, " Jelas aldi dingin.
Arlan juga Rafa sama sama kaget.
" Alana kenapa bang? " Tanya Rafa langsung, dia tau kalau arlan butuh jawaban itu.. Terlihat dari raut wajahnya yang mulai khawatir.
" Alana mencoba bunuh diri, dengan ngelukai tangannya sendiri, juga meminum beberapa botol pil obat hingga sepertinya membuat dia over dosis " Jelas aldi pelan. Terdengar dari suaranya yang serak.
" Di rumah sakit mana bang? " Tanya Rafa langsung.
" Sejahtera " Jawab aldi.
" Oke " Rafa langsung memutuskan sambungan telepon nya..
Nafas arlan naik turun tak beraturan. Tatapannya kosong,,. Air matanya menetes begitu saja.. Ia dengan geram meremas rambutnya yang makin membuatnya acak acakan.
" Kita ke sana sekarang " Kata arlan yang langsung berlari keluar di ikuti oleh Adit***.