My Fiance

My Fiance
alana khawatir



" ***Aku takut nanti lukanya makin parah , lagian, kalau ngupas buah itu hati hati, pisaunya tajem loh, apa sih yang di liat


Sampek ceroboh gini " Omel alana lagi, tangannya masih sibuk membersihkan luka arlan.


Sedangkan yang lain, hanya menatap dengan tatapan haru saat melihat raut wajah alana yang begitu khawatir.


" Itu cuma luka dikit al, jadi loe gak usah khawatir.. Oke " Ucap Adit


" Gak khawatir gimana sih.. Kalian gak liat apa, luka tunangan gue itu parah, kalau gak di bawa ke dokter, gimana kalau nanti infeksi.. Loe gak akan tau rasanya kan, karna memang bukan loe yang luka " Sembur alana merasa jengkel dengan ucapan Adit.


Dan Adit, cowok itu lebih memilih diam. Karna takut akan amukan alana.


" Sakit yaa..? Ke rumah sakit aja yaa.. Aku mohon... " Ajak alana menatap arlan dengan tatapan nanar.


" Sayang... Dengerin aku.. Aku gak papa,.. Ini udah biasa kok, lukanya kecil, dan ini cuma goresan pisau, kamu tenang yaa " Ujar arlan lembut, berusaha menenangkan gadis di sampingnya itu.


" Aku gak bisa tenang kalau liat luka kamu ini, kamu gimana sih, lukanya dalem tapi malah bilang luka kecil,.


Pokoknya kita harus ke dokter, aku gak mau yaa kamu kenapa napa " Kata alana lagi.


" Obatin pake ini aja,. " Usul seseorang memberikan kotak P3K pada alana, siapa lagi kalau bukan Zain.


Alana menoleh, dan dengan ragu, gadis itu mengambil kotak tersebut dari tangan Zain . Sekilas, tatapan mata mereka beradu.


" Lain kali hati hati, kamu nyuruh aku mulu buat gak ceroboh, tapi kamu sendiri juga ceroboh,,. " Celetuk alana yang mulai mengobati luka arlan dengan pelan pelan.


" Makan apel gak di kupas juga bisa kan.. Lagian buahnya juga bersih kok, lebay amat sampek harus di kupas " Oceh alana lagi, tangan nya masih asik berkutat mengobati, serta memasang plaster pada telunjuk arlan.


" Udah kebiasaan kali yank " Ujar arlan asal.


" Ooohh, berarti kena pisau juga udah biasa gitu?? " Tanya alana ketus.


" Yaa bukan itu.. Emang tadi aja aku yang gak fokus. " Jawab arlan yang merasa bingung.


" Liatin siapa sih, sampek gagal fokus gitu!? Bela?? Atau sasa??, awas aja yaa kalau macem macem " Celoteh alana lagi.


" Kok jadi kita sih al yang di bawa bawa " Sasa merasa tak Terima.


" Diem " Tekan alana kesal...


Sasa juga akhirnya memilih diam.


" Loe sihh " Sembur bela yang juga merasa takut akan omelan alana.


" Selesai... " Kata alana yang sudah memasang plaster di telunjuk arlan.


" Lain kali hati hati " Lanjutnya lagi pada arlan..


" Iya.. Iya.. Lagian aku juga udah bilang sayang, ini gak papa kok, kamu aja yang terlalu berlebihan. " Ujar arlan terkekeh.


" Berlebihan apanya sih.. Aku tuh khawatir tauk, takut kamu kenapa napa, kalau infeksi gimana? Kan aku juga yang akhirnya kerepotan.. " Ucap alana yang mulai meninggikan suaranya.


" Kamu berharga buat aku " Lanjut nya melemah,, dia menunduk.. Mungkin sudah menangis...


Yang lain memilih bungkam melihat gadis yang sepertinya begitu menyayangi benda.. Eittsss... Salah... Cowok di sampingnya itu..


" Heyy.. Sayang... " Panggil arlan lembut, menarik dengan pelan dagu alana agar menatap ke arahnya... Hingga akhirnya tatapan mereka beradu.. Mata biru itu bertemu dengan mata hazel yang begitu teduh dan menghangatkan hati.


" Kok nangis sih? " Tanya arlan lagi, kedua tangannya sudah menangkup pipi alana.


" Aku... Gak mau kamu kenapa napa " Ujar alana pelan.


" Aku gak papa sayang.. Air mata kamu, jauh lebih berharga buat aku, jadi, aku akan lebih sakit kalau liat kamu nangis," Kata arlan lembut , ibu jarinya dengan pelan mengusap air mata yang jatuh di pipi putih gadisnya itu..


Cup...


Arlan mencium bibir alana sekilas, kemudian membawa tubuh gadis itu ke dalam dekapannya.


" Gak nyangka , sahabat gue ternyata selemah ini dalam hal cinta " Celetuk bela pelan.


" Alana.. She is perfect " Puji Rafa juga.


Sementara di antara mereka, ada hati yang retak, hancur secara perlahan, tanpa ada obat dari penjelasan..


Dialah Zain, yang dari tadi hanya menatap nanar kemesraan sahabat dengan kekasih nya itu.


Air matanya ia tahan, dengan tangan yang terus mengepal.


🙃🙃🙃🙃🙃


Jam sudah menunjukkan pukul 13.10 siang...


Kali ini, ANGEL WINS, EXO, juga Zain, sudah berada di kedai makanan untuk mengisi perut mereka masing masing, karna setelah puas bermain di pantai, ber selfie, atau bahkan main pasir, mereka semua merasa kelaparan.


" Kalau gue pulang duluan, kalian gak papa kan? " Ujar alana tiba tiba,..


Sasa yang awalnya begitu lahap dengan makanannya kini sudah beralih menatap alana dengan dahi yang berkerut, begitu pun dengan yang lain, termasuk arlan.


" Kenapa? Loe gak betah yaa di sini, loe gak merasa terganggu yaa karna gak bisa berduaan dengan Arlan.? " Cerca sasa bertanya.


" Heyy.. Bukan gitu,. Gue cuma kangen orang orang rumah aja " Jawab alana berasan.


" Tumben ... " Gumam bela lirih


" Al.. Liburan ini cuma dua minggu kok, bukan sebulan juga kan.. Ini baru enam hari loh kita di sini " Ujar Rafa menimpali..


Alana diam, gadis itu juga tidak tau harus bagaimana, yang dia mau, dia ingin segera pulang, dengan arlan.


Karna memang belakangan ini, ada nomor tak di kenal nge chat, serta kadang menelfon gadis itu, dan alana tau, pemilik nomor itu adalah Zain.


" Kamu ada masalah yaa sayang? " Tanya arlan tiba tiba.


" Heh.. Ng.. Nggak kok " Jawab alana kikuk.


" Ada yang kamu sembunyiin yaa dari aku? " Tanya arlan lagi.


" Nggak sayang.. Udah ah.. Aku ke toilet dulu, mules " Pamit alana beralasan yang langsung beranjak dari duduknya, berlalu begitu saja.


_._._._._._._._._.


Alana bersikap acuh tak acuh dan hendak ingin melewati Zain.


Tapi tiba tiba, tangannya sudah di genggam erat oleh Zain.


Sentuhan itu, membuat alana kembali mengingat semuanya, hangat, juga begitu nyaman.


" Al .. Gue mau ngomong " Gumam Zain serak.. Jarak mereka begitu dekat.


" Zain. Sepertinya udah gak ada yang bisa di omongin.. Lepasin gue " Pinta alana pelan.


" Al.. Gue butuh penjelasan untuk semua ini . "


" Apa lagi? Apa yang harus di jelasin, bukannya semua udah jelas, jangan ganggu gue, gue udah bahagia sama arlan "


" Yakin loe cinta sama arlan. ? "


" Loe apaan sih.. Lepasin gue Zain "


" Al.. "


" Zain.. Gue mohon " Pinta alana melemah, Zain mengalah, dia langsung melepas genggaman nya dari alana.


Alana langsung bergegas pergi dari toilet itu, menuju ke tempat semula.


" Sayang.. Balik hotel yuk " Ajak alana setelah berada di antara teman temannya.


" Kenapa? " Tanya arlan bingung.


" Aku pusing " Rengek alana berbohong.


" Ya ampunn.. Kita ke dokter aja yuk " Ajak arlan yang sudah terlihat panik.


" Nggak.. Gak usah, aku pengen istirahat aja, tapi di temenin kamu " Kata alana manja.


" Ya udah iya " Arlan beranjak dari duduknya.


" Kalau Zain udah balik, bilang yaa gue duluan " Ucap arlan sebelum pergi.


Di jawab anggukan oleh Andra.


" Eh.. Iya... Zain kemana? Kok gue gak tau " Tanya sasa tiba tiba, dan itu kembali membuat alana tegang,.


" Gue juga tau, tiba tiba aja dia udah pergi, mungkin setelah ini dia balik " Jawab arlan santai.


" Sayang ayo " Ajak alana lagi


" Kita duluan " Pamit arlan dingin yang langsung menggandeng alana melangkah balik ke hotel.


_._._._._._._._._.


" Kamu erat banget meluknya " Ujar arlan terkekeh..


Saat ini mereka sudah berbaring di ranjang, dengan alana yang terus memeluk tubuh arlan dengan begitu eratnya.


" Biarin " Dengus alana yang makin memper erat pelukannya.


" Kamu gak akan batalin pertunangan kita kan? " Tanya alana lagi .


" Kenapa nanya gitu? "


" Yaa gak papa sih.. Kan cuma nanya "


" Emmm.. Kita kan gak tau takdir kita ini gimana "


" Jadi kamu bakalan ninggalin aku gitu?"


" Yang bilang kek gitu siapa? " Tanya arlan yang selalu merasa bingung dengan sikap alana belakangan ini.


" Kamu "


" Kapan? "


" Tadi itu "


" Aku kan ngomong takdir "


" Yaa sama aja, kamu ngomong gitu kek gak yakin aja sama takdir kita "


" Emang kamu yakin? "


" Yaa iyaa lah. "


" Udah ah, tidur aja gih, katanya pusing " Titah arlan lembut. Alana tak bergeming, dia memilih menuruti kemauan arlan. Dan memejamkan matanya dengan terpaksa...


Tiba-tiba, ponsel arlan berdering tanda panggilan masuk..


Saat melihat siapa si penelepon arlan langsung memencet tombol biru.


" Hallo bang " Sapa arlan pelan, dia takut alana terganggu, karna gadis itu sudah mendengkur kecil, yang artinya dia sudah tertidur.


" Liburannya gimana? " Tanya aldi di sebrang.


" Seru kok bang, "


" Alana mana? , anak itu, jarang banget yang mau ngubungin gue, sama nyokap juga " Celetuk aldi geram.


" Dia udah tidur bang,. Tapi.. Alana sempet minta pulang duluan ke gue, katanya kangen sama keluarga sana " Jelas arlan.


" Dan loe percaya? " Aldi tertawa kecil di sebrang . " Lan denger, gue tau watak tuh anak.. Mana pernah dia kalau udah liburan inget ke kita, gadis itu kan pecicilan, mana peduli dia sama kita kalau udah liburan bareng temen nya " Lanjut aldi lagi.


" Gue boleh nanya gak bang? " Tanya arlan langsung, raut wajahnya berubah menjadi serius.


" Nanya aja*** "