
***ππππ
Di apartemen, arlan begitu malas untuk bangun dari tidurnya karna begitu lelah, dan juga karna ketidakhadiran Alana, membuatnya malas bergerak dan tetap memilih melanjutkan tidur panjangnya padahal jam sudah menunjukkan pukul 12.17 .
Tak lama setelah itu, telinganya mendengar bel penanda ada yg datang, berbunyi begitu nyaring nya,
awalnya arlan memilih mengabaikan bunyi bel itu, tapi bel itu terus berbunyi memekakan telinganya.arlan terpaksa beringsut dari ranjang, melangkah menuju pintu dan langsung membuka pintu dengan mata yg masih agak terpejam.
" Ada apa sih? Ganggu tidur orang, masih pagi juga " Racau arlan menguap tanpa mempedulikan orang yg sudah berada di hadapannya sekarang.
Arlan tak menyangka, karna tiba tiba saja, pipi kanannya sudah di tampar dengan begitu kerasnya, hingga ia kembali ke alam sadarnya,
matanya terbelalak kaget saat mendapati Alana di hadapannya dengan wajah yg terlihat begitu emosi, dan juga penampilan Alana yg masiih acak acakan.
Tapi tetap terlihat cantik.
" Alana? " Kaget arlan memegangi pipi kanannya yg masih terasa nyeri.
" Jahat loe yaa. Gue benci sama loe. Kalau emang loe gak betah tinggal sama gue, bilang, bukan malah ngembaliin gue ke rumah itu, gue bisa pergi secara baik-baik " Sentak Alana meluapkan semua emosinya.
" Al.. Aku minta maaf. Aku terpaksa ngelakuin itu agar kamu bisa kembali dengan keluarga kamu. Aku gak tega, kalau ngeliat mama Linda yg sedih, juga papa Leonard yg terus memohon untuk membujuk kamu agar mau pulang, kamu tau sendiri kan, papa Leonard tidak pernah memohon, aku ngerasa ada beban berat kalau liat mereka begitu al. Kamu harus percaya, mereka semua itu sayang sama kamu, termasuk aku. " Kata arlan lembut, memegangi kedua pundak Alana, tapi langsung di tepis kuat oleh gadis itu.
" Dan gue..Jadi loe tega liat gue sedih kalau harus pulang ke rumah itu. Loe emang gak pernah ngerti yaa." Sengit Alana lagi.
" Bilang sama aku.Apa yg nggak aku gak ngerti. Bilang al " Ucap arlan yg masih menatap Alana lembut.
" Gak guna juga " Ketus Alana yg langsung bergegas ingin pergi, tapi tangannya di cekal kuat oleh arlan.
" Al.. " Cegah arlan berusaha meminta pengertian . Tangannya masih erat memegang pergelangan tangan Alana.
" Apa yg ngga aku ngerti dari kamu Al? Ngomong sama aku " Pinta arlan mengulang kalimatnya.
" Gue gak mau pisah juga jauh dari loe , puas " Sentak Alana yg sudah menangis dia kembali berusaha melepas genggaman tangan arlan dan kali ini berhasil.
Dia dengan segera berlari kecil hendak ingin pergi, tapi arlan kembali mengejarnya dan kembali memegang pergelangan tangan nya dengan begitu kuatnya hingga Alana tidak bisa melepaskan nya karna tenaga arlan begitu kuat.
" Dengerin aku Al. Aku pun begitu, aku lebih sangat2 ingin lebih bisa bersama kamu seterusnya, tapi aku gak se egois itu Al, aku gak bisa biarin keluarga kamu terus memohon sama aku " Kilah arlan dengan suara serak, yaa....kelemahan arlan adalah ketika melihat Alana menangis. .
" Sekarang bilang, mau kamu apa? " Tanya arlan kemudian.
" Aku mau kita nikah " Jawab Alana langsung, tapi pandangannya ia buang ke segala arah karna tak berani menatap tunangan nya itu.
arlan tersenyum manis mendengar pengakuan Alana.
" Pasti Al, kita pasti menikah, setelah aku lulus kuliah maka aku akan segera nikahin kamu " Katanya lembut.
" Tapi aku mau kita nikah secepatnya, secepatnya.aku gak mau jauh2 dari kamu, kita nikah aja yuk " Ajak Alana tanpa merasa malu, nada suaranya mulai melemah karna menangis.
" Kamu ngomong apa sih Al. Usia kita masih begitu muda, dan aku bisa ngerusak masa depan ,juga masa muda kamu kalau kita nikah dini " Kata arlan berusaha memberi pengertian.
" Oke .gue tau sekarang, loe sebenernya gak siap kan ngadepin sikap manja gue kalau kita nikah muda " Sangka Alana langsung .
" Gak gitu Alana. " Elak arlan mengusap wajahnya frustasi.
" Lalu? " Tanya alana menatap mata arlan
. Arlan diam.
" Kita nikah aja lan, aku mohon , aku gak mau jauh dari kamu, aku mohon " Pinta Alana memelas.
" Gak bisa Al " Tolak arlan pelan. Dia menunduk
" Oke " Gumam Alana pelan langsung melepas genggamannya dari arlan. Setelah itu kembali melangkahkan kakinya dengan keras,
tapi lagi2 arlan mencegahnya dan langsung memakaikan jaketnya dengan paksa ke tubuh Alana..Menarik tangan kanan Alana dan memasukkan nya ke sela ruang jaketnya
Begitu pun juga tangan kirinya, tapi Alana menolak, dia menarik kembali jaketnya, dan arlan menahan tangan alana yg hendak membuka jaket nya itu. Dia tidak mau Alana di lihat oleh para mata pria julid karna lekukan tubuh sexi gadis itu.
"Kali ini aja Al, jangan lepas jaketnya, aku mohon " Pinta arlan pelan, " Kamu tau kan jakarta ini keras " Lanjutnya lagi membujuk,
Alana tak bergeming, dia menuruti titah tunangan nya itu, kemudian ia kembali melangkah hendak pergi. Lagi lagi, arlan kembali memegang kedua tangan nya dengan erat.
" Maafin aku Al ..aku mohon maafin aku, jangan marah yaa " Kata arlan merasa begitu bersalah.
" Lepasin lan,gue mau pergi " Pinta alana berusaha melepaskan diri. Tapi tenaga arlan lebih kuat dari nya.
" Maafin aku dulu " Ujar arlan masih erat menggenggam tangan Alana.
" Biarin gue pergi lan" Sentak Alana emosi .
" Aku gak akan lepasin tangan kamu sebelum kamu maafin aku " Paksa arlan lagi.
" Lepasin aku " Ujar Alana menekankan kalimatnya.
" Nggak "
" Lepasin gue, atau kita gak akan pernah ketemu selamanya " Ancam Alana kemudian.
Ancamannya berhasil, perlahan arlan melepas genggamannya, Alana dengan cepat langsung berlari kecil meninggalkan arlan yg masih termenung di tempat dengan terus menatap punggung Alana yg mulai menjauh .
Arlan mengusap wajahnya kasar, dia begitu frustasi. tangannya mengepal, sontak tangan itu langsung menerkam tembok di hadapannya, air matanya menetes dengan sendiri.
ππππππ
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 16.05 , dan alana masih memilih untuk tetap di kamar dan hanya rebahan saja tanpa menutup matanya , dia begitu enggan keluar dari kamar karna dia tau, mama sama aldi sudah pulang, terdengar dari percakapan mereka yg agak nyaring di ruang keluarga.
Tak lama kemudian ponsel alana yg berada di nakas bergetar singkat tanda ada pesan yg masuk.
Dengan keadaan yg masih malas, dia mengambil benda pipih itu dan melihat siapa yg mengiriminya pesan..
Ternyata dari tunangannya.. Ia bimbang memilih membuka pesan itu atau malah mengabaikannya . Tapi dia kalah dengan rasa keponya dan menyampingkan egonya sendiri. Gadis itu memilih membuka pesan dari arlan
My fianceπππ
Sayang... Aku tau aku salah.. Aku minta maaf, aku bener2 minta maaf..
Kamu harusnya ngerti al, aku bener2 ingin banget terus sama kamu tanpa ada pembatas sekalipun di antara kita..
Tapi aku juga tau, aku mikir, gimana kalau nikah, masalah nafkah aku sangat bisa nafkahin kamu.. Tapi satu yg gak aku bisa kalau kita nikah, yaitu aku gak bisa ngerebut masa muda kamu. Aku gak bisa al... Aku harap kamu bisa ngerti.
Kamu segalanya buat aku.Tujuan aku itu cuma ngejaga serta buat kamu bahagia.
Satu lagi... Aku mau kita ketemu. Kamu jelas tau kan, besok aku udah pergi ke Bandung.. Aku gak mau kalau aku pergi dengan keadaan kamu yg masih marah.
Aku mohon al, kali ini aja, temuin aku, dan kalaupun kamu masih marah, aku Terima, tapi satu aja, aku mau kita ketemu sebelum aku ke Bandung. Aku mohon...
Itulah pesan dari cowok Korea itu. Alana masih sangat kesal dan tak bisa berfikir. Dia kemudian mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan dari tunangannya itu.
Anda :
Gue gc bisa. Di larang keluar sama bocap.. Apapun alasannya.
Balas alana kemudian memencet tombol kirim dan saat itu juga chat itu langsung membiru yg artinya arlan sudah membacanya.
Alana langsung menonaktifkan ponsel nya itu. Dia kembali merebahkan dirinya di kasur.
Tak lama setelah itu, ketokan pintu terdengar memekakan telinganya,
" Siapa sih " Teriak Alana kesal
" Ini gue dek " Saut seseorang, siapa lagi kalau bukan aldi.
" Mau apa " Ketus Alana tak bergairah
" Boleh abang masuk? " Tanya aldi lagi.
" Gue capek, mau istirahat, dan gak bisa di ganggu, titik " Kata Alana yg langsung memejamkan matanya berusaha menghindari abangnya itu.
Aldi menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia mengalah, dan memilih pergi menuju kamarnya dengan keadaan yg masih frustasi karna memikirkan adek kesayangannya itu.
πππ
Pukul 19.00
Alana menuruni anak tangga dengan begitu santainya, dia tau kalau saat ini keluarganya sedang makan malam, dan Alana santai2 aja karna sasa juga bela sudah menunggunya untuk pergi ke club , jadi, mau tidak mau gadis itu harus keluar dari kamar,
" Mau kemana sayang? " Tanya Linda saat melihat Alana sudah rapi dengan tanktop putih berbalut jaket jeans, juga rok jeans selutut, senada dengan warna jaket itu yaitu abu abu, rambut nya ia biarkan terurai indah dengan warna yg sudah berbeda yaitu hijau, tak lupa pula sepatu sneakers putih, pink, di kaki jenjangnya itu
" Mau keluar sebentar " Cetus Alana berlalu tanpa aba aba
" Mau abang anterin gak? " Tawar aldi kemudian.
" Nggak usah, udah di jemput sama sasa juga bela " Jawab Alana datar.
" Uang nya masih ada kan al? " Tanya Leonard menimpali.
" Banyak. Tapi uang yg arlan kasih, selama daddy ngusir Alana, nana gak pernah pake uang yg daddy kasih, karna arlan yg biayiayain kebutuhan Alana " Sinis Alana yg langsung cepat cepat berlalu menuju teras rumah.
πππ
Di sebuah club malam itu, tiga gadis sedang asik meminum minumannya , ralat, hanya dua gadis, satu gadis lagi tak berselera dengan minuman itu, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Mereka adalah sasa, Alana, dan bela. Bela juga sasa sudah dalam pengaruh alkohol, sedang Alana, dia memilih untuk tidak minum, ntahlah, padahal dia yg bersih keras mengajak sahabatnya itu ke club, walau esok mereka harus sekolah, dan langsung mendapat persetujuan dari sahabatnya itu.
Alana memilih memainkan benda pipihnya itu, selintas, dia memilih untuk melihat ke sekitar, tatapannya berubah jijik saat melihat seorang wanita penghibur yg terus menggoda seorang pria muda dengan terus duduk di pangkuan pemuda tersebut, ..Alana langsung membuang muka,
dia beralih menatap para makhluk yg sedang asik menari nari di bawah lampu kerlap kerlip itu.. Tatapannya terhenti ketika melihat dua sosok di paling pojok ruangan.. Dia kembali mengucek matanya, dan penglihatan nya tidak salah, dia melihat arlan yg sudah menatapnya begitu tajam ke arahnya,,
arlan sedang bersama Adit yg sepertinya sudah mabuk berat, tapi arlan tidak, awalnya dia ingin minum, tapi saat melihat kehadiran Alana, dia mengurungkan niatnya itu dan terus memerhatikan gerak gerik gadis yang sangat di cintainya itu..
Alana langsung menggigit bibir bawahnya dan berusaha sok acuh dengan kembali memainkan ponselnya.
" Kenapa arlan bisa ada di sini " Gerutu Alana dalam hati , matanya masih terfokus pada ponselnya itu, tapi yg dia lakukan hanyalah menggeser menu***..