My Fiance

My Fiance
menceritakan



" ***Sayang.. Malem ini aku tidur sama bela gak papa kan? " Izin alana pada arlan, arlan yang sedang menyisir rambut pirang nya dengan menghadap ke cermin, sekilas menoleh ke alana.


" Oke " Singkat arlan tersenyum tipis.


" Ya udah, aku langsung ke sana aja ya, mungkin bela udah nunggu " Pamit alana, tapi sebelum itu, gadis itu menghampiri arlan, kemudian mencium pipi arlan dengan lembut, walau ia harus kesusahan menjinjit, karna arlan lebih tinggi darinya.


" Night " Katanya setelah selesai mencium pipi cowok itu.


Arlan mengangguk dengan senyuman manis,.tapi Tak membalas ciuman alana, biasanya cowok itu juga balas mencium jika alana yang menciumnya duluan, entah itu pipi, kening, atau bahkan bibir. Tapi kali ini tidak.


Alana membiarkannya, setelah itu, gadis itu bergegas keluar dari kamar, menuju ke kamar bela, karna dia juga sudah mengirimi pesan pada sasa untuk tidur di kamar bela.


Setelah tiba di depan kamar bela, alana langsung masuk tanpa permisi, dan dia sudah mendapati sasa juga bela yang sepertinya sudah menunggunya dengan posisi mereka sama sama tengkurap.


" Hai " Sapa alana ber basa basi.


" Tumben amat loe ngajakin kita tidur bareng " Celetuk bela bingung.


" Lagi pengen aja " Jawab alana santai, dan langsung masuk ke tengah tengah sasa dan bela. Dia juga ikut tengkurap sama seperti kedua sahabatnya.


" Ya udah yuk ah, langsung tidur aja , gue udah ngantuk " Ajak sasa langsung.


" Gue ngajak tidur bareng ada alasannya b*go, gue pengen cerita " Sembur alana yang langsung menoyor kepala sasa.


" Eeemm.. Ya udah iya.. Loe mau cerita apa? Ada masalah sama arlan? " Tanya sasa langsung.


" Bukan arlan, tapi orang lain " Jelas alana pelan.


" Siapa? " Tanya bela yang mulai kepo.


" Kalian inget gak, dulu gue pernah cerita, alasan gue pindah ke SMA Darma bangsa karna apa? " Tanya alana memulai.


Sasa masih berpikir.


" Kabur dari nenek loe kan? " Tanya bela langsung.


" Iyaa. . Tapi waktu itu gue bohong , gue gak kabur dari nenek gue, melainkan mantan gue, lebih tepatnya sih pacar , karna gak ada kata putus di antara kita." Ujar alana menjelaskan.


" Jadi loe pernah punya pacar? " Tanya sasa kemudian.


" Berapa? " Timpal bela bertanya.


" Apanya yang berapa? " Tanya alana bingung.


" Udah berapa orang yang loe pacarin b*go " Tanya bela jengah.


" Satu.. Dan itu cinta pertama, pacar pertama juga pacar terakhir gue. Dia yang mengajari gue banyak hal tentang cinta, dia yang cuma ngerti perasaan gue, juga teman satu satunya saat gue di London. Dia adalah orang yang paling berarti dalam hidup gue waktu itu,, bahkan cita cita gue dulu itu cuma pengen nikah sama dia, bukan yang lain, dia hidup gue, kekuatan gue, serta hati gue " Jelas alana panjang lebar, matanya sudah ber kaca kaca, nafasnya ia hembuskan dengan pelan.


Sementara sasa juga bela, kedua gadis itu dengan setia mendengarkan.


" Gue sama dia, pacaran hampir satu tahun, bahkan, dia udah janji mau ngenalin gue ke orang tuanya, dan juga berjanji akan nikahin gue setelah dia lulus sekolah,.. Hah.. Gue udah bener bener naruh harapan besar ke dia, dia bikin gue terbang, tanpa menjatuhkan gue sedikitpun. Dia beri gue cinta, kasih sayang, ketulusan, kebahagiaan, sampai gue bener bener lupa gimana rasanya sedih atau apa itu patah hati, dia sama sekali gak ngeberi gue kesempatan buat ngenal kata itu.. Gue sayang banget sama dia, sangat,. Gue butuh dia sama hal nya seperti jantung yang butuh detak...


Tapi.. Semua hancur tiba tiba, saat malam di mana kita dinner, waktu itu gue datengnya agak telat, dan setelah itu , gue liat dia berpelukan mesra dengan cewek lain, bahkan gue liat sendiri cewek itu memperlihatkan sebuah cincin ke dia, dan dia tersenyum dengan begitu puasnya.


Itulah awal pertama kali gue baru ngerasain yang namanya patah hati, hidup gue hancur.. Dan hanya grand ma, dan bang aldi yang tau hal itu, hingga akhirnya, grand ma ngizinin gue buat pulang ke Indonesia dan pergi dari negara itu, tanpa memberi tau apapun ke cowok gue.


Dan setelah gue pindah ke Indonesia, gue udah bener2 kehilangan dia , gue udah gak pernah ketemu dia lagi. Walau ujung2 nya gue juga yang harus ngerasain rindu.


Prinsip gue waktu itu, emang gak mau pacaran, maunya gue emang langsung tunangan aja, tapi setelah waktu nya tepat.


Ternyata Tuhan ngabulin permintaan gue, Tuhan hadirkan arlan buat gue, walau waktunya terlalu cepat,. Tapi gue bersukur, . Gue tau gue jahat, gue udah gunain arlan buat ngelupain dia, " Kata alana lagi panjang lebar.


" Kenapa loe tiba tiba ceritain dia ke kita?? Jangan bilang loe belum bisa move on Al " Tanya sasa memicingkan matanya begitu kepo.


" Demi apapun, gue udah bener bener ngelupain dia,, tapi... " Alana sengaja memotong kalimatnya.


" Tapi apa Al? " Tanya bela


" Tapi kenapa,? Kenapa Tuhan harus mempertemukan gue sama dia lagi. Kenapa? " Ucap alana pelan. Air matanya sudah menetes satu persatu.


" Loe ketemu dia lagi? " Tanya sasa kelu


" Iyaa.."


" Emang siapa sih cowoknya? Pengen tau banget gue? " Tanya sasa lagi.


" Zain " Jawab alana pelan.


Sasa juga bela sama sama membulatkan bola matanya tak percaya.


" Siapa? " Tanya bela memastikan.


" Zain teman arlan itu kan? " Tanya sasa yang masih tak percaya.


" Iyaa.. Makanya gue ngajak pulang duluan ke arlan, gue gak mau Sa, bel, gue gak mau, arlan tau semuanya, gue gak mau, gue takut " Kata alana yang sudah sesenggukan.


" Al, loe salah, nyembunyiin semuanya dari arlan, dia berhak tau, lagian itu kan cuma masa lalu loe doang, dan gue yakin arlan bisa ngerti " Saran bela


" Gue gak bisa.. Gue udah terlanjur pernah bilang , kalau arlan adalah cinta pertama gue, dan gue gak mau arlan marah, kalau gue ngomong yang sebenarnya, gue nyesel udah pernah bohong sama dia, gue nyesel " Lirih alana pelan.


" Kalian percaya kan, kalau gue sayang sama arlan, kalian percaya kan? " Tanya alana menatap kedua sahabatnya bergantian dengan tatapan sedih.


" Kita percaya,, kita tau kalau loe sayangnya sama arlan " Ujar bela yakin, tangannya dengan lembut mengusap punggung alana, memberikan ketenangan pada gadis itu.


😚😚😚😚


Saat alana terbangun, dia mendapati sasa dan juga bela yang masih tertidur lelap...


Alana beranjak dari tidurnya dan langsung bergegas melangkah ke luar menuju ke kamarnya . Saat sudah memasuki kamar arlan, gadis itu sudah tidak mendapati tunangannya di sana,


" Apa gue kesiangan yaa bangunnya " Gumam alana yang beralih menatap ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07.01 ..


" Gue mandi aja dulu deh, setelah itu nyariin arlan " Lanjutnya yang langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


_._._._._._._._._._.


Alana sudah memakai baju santainya setelah membersihkan diri hampir 30 menit di kamar mandi..


Gadis itu hanya memakai kaos se siku yang agak kebesaran dengan warna pink, juga celana jeans pendek se paha.


Saat alana sedang menyisir rambut pirang nya itu, tiba tiba saja, dia di kejutkan dengan ketokan pintu tanda ada yang datang...


Gadis itu bergegas membukakan pintu, dan setelahnya, dia kaget saat melihat Zain di hadapannya. Alana kembali ingin menutup pintu nya, tapi di tahan kuat oleh Zain.


" Arlan gak ada " Ujar alana yang masih berusaha menutup pintunya, tapi Zain masih terus menahannya.


" Gue mau ngomong sama loe Al "


" Gue gak ada waktu " Cetus alana yang masih berkutat menutup pintu, tapi tenaganya terlalu lemah untuk Zain yang jelas lebih kuat.


" Arlan berhak tau soal hubungan kita Al" Kata Zain tiba tiba.


" Jangan pernah loe sakitin arlan yaa " Tekan alana marah.


" Izinin gue masuk dulu "


" Gak mau "


" Oke.. Kalau loe gak ngizinin gue masuk, biar gue yang ceritain semuanya sama arlan sekarang juga " Ancam Zain, dan itu berhasil, alana kembali membukakan pintu untuk Zain, dan dengan segera Zain langsung masuk.


" Al.. Arlan berhak tau semuanya " Kata Zain lagi


" Gak perlu, dia gak perlu tau Zain, buat apa? " Suara alana mulai melemah.


" Gue gak mau nyakitin arlan " Lanjutnya lagi.


" Justru dengan loe gak bilang semuanya, loe bakal nyakitin dia Al "


" Biarin Zain, biarin semua hanya kita yang tau, jangan arlan, jangan libatin arlan, gue udah bahagia sama dia, jangan ganggu gue lagi " Ucap alana pelan.


" Oke.. Oke.. Gue gak akan ganggu loe lagi, tapi gue mohon, temuin gue besok siang di cafe tempat kita ngumpul sama yang lain, "


" Gue gak bisa, gue sibuk Zain " Tolak alana mentah mentah.


" Ya udah , kalau loe gak mau, gue ngajak arlan aja "


" Oke gue mau.. Tapi Jangan di cafe itu , "


" Baiklah, biar gue yang nentuin cafe nya" Kata Zain yang setelah itu dengan cepat mengambil ponsel alana dari tangan gadis itu , dan dengan secepat kilat, ponsel itu sudah berada di tangan zain.


" Loe apa apaan sih Zain, balikin gak " Sentak alana berusaha mengambil ponselnya, tapi tidak bisa. Zain dengan cepat mengutak atik ponsel miliknya, karna memang tidak di kunci oleh gadis itu.


" Nomor yang kemaren nge chat loe itu nomor gue , loe bisa ngubungin gue kalau butuh apapun " Kata Zain menyerahkan ponselnya kembali pada pemiliknya .


" Gue pergi... Inget besok, jam 09.00 pagi " Ujar Zain memperingati, setelah itu, cowok itu berlalu pergi keluar dari kamar alana.


Setelah kepergian Zain, alana menghembuskan nafasnya dengan begitu kasar.


" Hanya besok Al, dan semuanya akan selesai " Gumamnya pada dirinya sendiri, matanya terpejam erat. Entah apa yang di pikirkan oleh gadis itu***..