MY DREAM

MY DREAM
58



Sore hari aku keluar dari kamar, setelah aku melaksanakan sholat ashar. Aku melihat Dea sedang bekerja dan didepannya ada beberapa orang karyawan yang membantunya.


“Mbak Dea, kok sepi?” tanyaku.


“Bos sama Mike sedang bicara sama keluarga nona. Tadi keluarga nona ingin bicara dengan bos mengenai pengobatan nona” jawab Dea.


“Oh...”


“Ada apa nona, ada yang bisa saya bantu?” tanya Dea.


“Tidak ada mbak, aku bisa kerjakan sendiri. Mbak lanjut saja kerjanya, aku ke dapur” aku langsung jalan menuju dapur yang ada di ruangan itu.


“Itu calon bos, buk?” tanya karyawan yang ada disana.


“Husff... jangan gosip, nanti orangnya dengar gak enak” kata Dea.


“Cantik buk, cocok sama bos” lanjut karyawan yang satunya lagi.


“Dia memang cantik, baik lagi, tidak seperti mantan bos yang dulu yang seorang model internasional itu sombong” Dea malah ikut gosip sama mereka.


“Oh iya buk, apa ceritanya dengan mantan bos yang itu?” lanjut karyawan.


“Pokoknya sudah dicampakan bos. Sudahlah kita lanjut kerja, sebentar lagi acaranya akan dimulai lagi” Dea langsung menghentikan pembicaraan mereka.


***


Maghrib baru saja selesai, Ken dan Mike baru kembali “Dea, Laili mana?” tanya Ken.


“Ada didalam bos sedang siap-siap, sebab nona baru siap sholat maghrib bos” jawab Dea yang sedang duduk dengan karyawan lainnya.


“Bagus deh, kita siap-siap dulu” Ken pamit masuk ke kamarnya dan juga Mike.


Setengah jam kemudian aku sudah selesai siap-siap. Aku menunggu Ken di sofa yang ada di depan kamar. Semua orang yang sudah membantu aku siap-siap juga sudah keluar dan pulang sesuai permintaan Dea.


“Apa acaranya sudah mulai mbak?” tanya aku sama Dea yang menemani aku duduk disana.


“Sudah nona, baru saja dimulai” jawab Dea.


“Lalu kenapa Ken tidak mengizinkan aku untuk pergi dulu, mbak?”


“Saya gak tahu nona, barusan Mike yang bilang suruh tunggu bos dulu baru nona dan saya bisa pergi”.


“Jam berapa Ken kembali, mbak?”


“Satu jam yang lalu sudah kembali bersama Mike, nona. Tapi tadi bos dipanggil sama tuan Dave setelah tuan Dave siap-siap. Jadi mereka bicara sebentar dan baru 10 menit yang lalu kembali lagi” penjelasan Dea.


“Ada apa Dave memanggilnya?”


“Saya gak tahu nona, saya tidak berani bertanya sama bos kalau sudah bicara dengan Dave. Selain mengenai perusahaan atau tidak perintah bos saya tidak boleh ikut campur. Mungkin Mike tahu nona, sebab Mike tahu semua tentang bos. Apalagi mereka tidak hanya rekan kerja, mereka sahabat dan sepupu lagi”.


“Oh gitu, tidak apa-apa kok” aku tersenyum.


“Anak-anak mbak tadi mana?” aku mengalihkan pembicaraan.


“Mereka ada dibawa sama papanya”.


“Beta mbak kerja sama Ken?”


Dea tersenyum “alhamdulillah nona. Bos sama baiknya dengan tuan besar sama nyonya. Asal kita tidak terlalu ikut campur masalah pribadinya, sebab bos sangat membenci semua itu”.


“Nggak ada niat mbak untuk berhenti mengurus keluarga gitu mbak?”


Dea menggeleng “nggak nona. Lagian saya menikah dengan keluarga bos juga. Suami saya juga tidak mengizinkan saya keluar sebelum bos menikah. Sebab kita berdua sudah janji sama tuan dan nyonya bosar dulu untuk mendampingi bos sampai menikah”.


“Tapi kenapa mbak jarang ke mansion?”


“Suatu saat kamu akan tahu” Dea tidak mau cerita.


“Aku juga belum pernah ketemu sama suami mbak. Apa dia juga kerja di perusahaan Ken juga, mbak?”


“Arsitek? Bukannya Johnson group tidak ada punya perusahaan arsitek mbak?” aku sedikit kaget mendengar perkataan Dea.


“Dulu emang bukan bagian dari Johnson Group nona. Tapi semenjak bos mengambil alih perusahaan makanya anak perusahaan itu diresmikan. Emang nona tidak tahu kalau bos punya perusahaan sendiri di bidang arsitek?”.


Aku menggeleng “nggak mbak”.


“Sebenarnya itu adalah perusahaan bos sendiri yang didirikannya setelah lulus kuliah dengan jurusan arsitek nona. Setelah perusahaan itu terbentuk baru bos melanjutkan kuliah bisnis sampai S2. Sebab tuan besar dulu tidak mengizinkan bos mengambil jurusan tersebut”.


“Kenapa?”


“Tuan takut bos tidak akan bisa melanjutkan bisnis keluarga yang sudah lama ada. Bos juga tidak ingin melanjutkan bisnis keluarganya, makanya dia selalu bertengkar dengan tuan besar. Tapi tuan besar tidak tahu kalau bos adalah seorang yang jenius. Dia bisa menyelesaikan kuliah S1 sampai S2 dengan waktu 4 tahun”.


Aku terkejut mendengarnya “waw... hebat sekali. Kalau boleh tahu apa nama perusahaan tersebut mbak?”.


“K Architect, masa nona tidak tahu mengenai itu?” Dea tidak percaya kalau aku tidak mengetahui itu semua.


“Berarti desain tempat wisata itu Ken sendiri yang buat”kata hati ku.


“Iya mbak, aku gak tahu. Berarti desain tempat wisata itu Ken sendiri yang mendesain dong mbak?” tanya aku lagi.


“Iya. Bos mendesain hanya mengandalkan cerita dari perkataan nona. Makanya desain kemarin itu tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bos membuatnya”.


“Pantasan..” jawab ku.


“Terus sekarang suami mbak yang bertanggung jawab di perusahaan tersebut?” tanya ku lagi.


“Hanya membantu nona sesuai dengan keinginan bos. Dulu suami saya bekerja di Johnson Group asisten tuan besar. Karena tuan besar sudah meninggal makanya bos memintanya untuk pindah ke K Architect”.


Ketika aku sedang asyik bicara dengan Dea, datang Ken yang sudah selesai siap-siap “maaf ya sudah menunggu lama?” ucap Ken.


Dea berdiri “tidak masalah bos”.


“Dea, setelah kamu ketemu dengan Dave. Kamu boleh pulang dengan kelurga kamu, semua pekerjaan kamu berikan pada Mike. Nanti biar Mike yang mengurus semuanya dengan asisten kamu” kata Ken.


“Baik bos, saya keluar dulu. Mari nona...” Dea langsung pergi duluan meninggalkan aku dan Ken.


Aku masih tetap duduk di sofa “gak turun?” tanya Ken.


“Kamu lama sekali, lama lagi dari pada aku” aku bete.


“Nggak usah cemberut gitu, kamu semakin jelek. Ayo, semua orang sudah pada nunggu dibawah” Ken berusaha menghibur aku agar tidak bete.


“Untuk apa menunggu kita, pengantinnya bukan kita” ucap aku.


Ken tersenyum “iya benar bukan kita. Tapi keluarga kamu yang sudah menunggu lama. Sebab setelah ini mereka pasti akan sulit ketemu kamu, sebab kamu akan melakukan pengobatan dua hari lagi”.


Aku kaget “apa! Kok cepat sekali?”.


“Itu sudah sesuai dengan saran dokter Agus. Dia akan datang satu minggu lagi, sebelum ketemu dia kamu akan banyak melakukan pengobatan dulu bersama Anggika”.


“Baiklah, tapi ada syarat?” aku melihat Ken.


Ken juga menatap aku “syarat? Apa?”


“Kamu harus mengizinkan Dave sama Jihan untuk pergi honeymoon. Kalau tidak aku tidak mau melakukan pengobatan”.


“Itu bukan keputusan aku, Ly. Itu sudah jadi keputusan mereka berdua. Aku sudah memberikan mereka tiket honeymoon selama sebulan. Tapi mereka menolaknya dan langsung membatalkan sendiri”.


“Pokoknya kamu harus lakukan, titik” aku ngambek.


“Baiklah, nanti akan aku bicarakan lagi sama mereka” keputusan Ken.


“Oke. Ayo kita berangkat” aku senang dan langsung berdiri.


“Maafin aku Ly, mungkin aku akan berbohong sama kamu untuk terakhir ini. Jika kamu marah sama aku setelah ini, tidak apa-apa. Sebab aku melakukan semua ini demi kesehatan kamu” kata Ken dalam hati sambil melihat aku yang begitu senang.