
Thania langsung takut melihat tatapan Ken yang menatapnya dengan begitu marah padanya. Jadi dia terpaksa diam dan tidak melanjutkan perkataannya.
“Dave...” panggil Ken.
Dave langsung masuk “berikan berkas pada wanita murahan ini” Ken duduk di sofa.
“Ini nona” Dave memberian amplop pada Thania.
Thania langsung mengambil dan membuka amplop tersebut. Amplop itu berisi semua bukti perselingkuhan Thania dan beberapa fotonya dengan berbagai laki-laki. Disana juga ada sebuah surat yang berisi mencabut semua harta yang diberikan Ken pada Thania.
Thania langsung marah “ini tidak bisa, gue gak mau. Ken, lo sudah janji sama gue gak akan mengambilnya lagi” Thania menghampiri Ken.
“Lepas!” Ken menghempaskan tangan Thania yang memegangnya.
Ken berdiri “Dave perintahkan orang untuk mengeluarkan semua barangnya dan usir dia dari sini” Ken langsung pergi.
“Ken.. Ken...” panggil Thania tapi Ken tidak menghiraukannya.
Ken dan Dave sudah berada di rumah Ken yang ada disana. Memang benar, Ken dimanapun ada bisnis dia selalu ada rumah disana.
“Kita pulang besok” ucap Ken sambil duduk.
“Bukannya masih ada tiga hari lagi. Terus bagaimana dengan James mengenai Alberto?” ucap Dave.
“Biarkan saja, semua urusan gue sudah selesai. Apapun yang terjadi sekarang bukan urusan gue. Lagian gue malas berurusan dengan mafia bajingan itu”.
“Bisnis lo bagaimana?”
“Biarkan saja, selagi dia tidak mengganggu kita, kita diam saja. Apabila dia sudah mengganggu kita, baru kita bergerak”.
“Baiklah, kalau itu keputusan lo”.
“Kita ke Malaysia dulu, gue mau ketemu sama William” Ken langsung masuk kamarnya.
***
Semenjak aku mengetahui kalau William sudah menikah dan pergi meninggalkan aku, aku jadi murung dan tidak mau keluar dari kamar. Semua pekerjaan di kerjakan di dalam kamar.
Apabila ada kerjaan yang mengharuskannya keluar kamar, aku memerintahkan Jihan dan tejo yang melakukannya. Semua orang masih bertanya-tanya ada masalah apa yang terjadi pada ku. Tapi aku hanya diam dan aku meminta Jihan untuk juga tidak mengatakan pada siapapun.
Hari ini adalah hari weekend, aku juga lupa ada janji sama Qori dan Kayla. Sampai-sampai ponsel aku terus berdering dari pagi, yang menghubunginya adalah mbak Raisa. Sebab ponsel memang aku buat dalam mode diam.
Esokan paginya aku ada janji meeting dengan Ken di kantor kota. Tapi aku juga melupakan itu, sampai Ken dan Mike lelah menunggu aku di kantor.
Ken menanyaiku pada mas Bagas “sebenarnya ada masalah apa, pak?”.
“Saya tidak tahu tuan, tapi kata Jihan sudah beberapa hari ini dia mengurung diri dikamar. Kemarin saja dia juga membatalkan janjinya dengan keponakannya. Ini pun tidak pernah dilakukannya tuan” jawab Bagas.
“Apa dia sakit?”
“Kami tidak tahu tuan, tidak ada seorangpun yang diizinkan masuk kamarnya selain Jihan, tuan”.
“Ada masalah apa sama dia, semua orang juga tidak ada yang tahu” kata hati Ken.
“Mike, kita ke perkebunan” Ken langsung pergi dan masuk mobil.
Mike langsung mengikuti Ken yang pergi, sedangkan Bagas bingung melihat Ken yang pergi tanpa pamit.
***
Jihan dan Tejo sedang mengetuk kamar aku, sebab sudah dari pagi aku tidak keluar dari kamar. Aku memang merasa kurang enak badan lepas subuh, jadi aku tidak tahu apa aku ketiduran atau pinsan.
“Masih belum dibuka?” tanya mang Ujang.
“Iya pak, Jihan dari tadi mencobanya tapi tidak ada sahutan” jawab Tejo.
“Apakah tidak ada kunci cadangannya?” tanya Ken.
Semua orang menggeleng “kunci cadangan Ily sendiri yang menyimpannya, tuan” ucap Jihan.
“Sudah berapa lama seperti ini?” tanya Mike.
“Dari tadi pagi dia belum keluar, biasanya kalau saya datang dia selalu membuka pintu” jawab Jihan.
“Sepertinya pintunya harus didobrak, mungkin sudah terjadi sesuatu didalam” saran Ken.
“Benar juga tuan” Jihan khawatir.
“Minggir” Ken langsung mendobrak pintu sendirian.
“Apa....” belum selesai Tejo bertanya perlu bantuan tapi Ken sudah selesai mendobrak pintu sampai terbuka.
Semua orang kaget dengan kekuatan Ken, hanya Mike yang senyum-senyum sendiri melihat semua orang bingung.
“Jihan... Jihan...” Ken memanggil Jihan untuk memeriksa aku tapi dia masih belum percaya dengan apa yang dia lihat tadi.
Tejo langsung memukul lengan Jihan “itu...” Tejo memberi kode kalau Ken memanggilnya.
“Iya, maaf tuan” Jihan langsung masuk kamar aku.
Jihan memperiksa aku, dia mencoba membangunkan aku. Tapi aku tidak juga bangun sebab aku memang sudah tidak sadarkan diri. Lalu Jihan memeriksa tubuh aku yang memang sednag demam tinggi.
“Tolong...” teriak Jihan yang khawatir sama aku.
Semua orang diluar langsung kaget dan masuk “ada apa?” Ken sedikit khawatir.
“Laili sepertinya demam dan tidak sadarkan diri tuan” jawab Jihan.
Ken langsung menggendongnya “Mike, siapkan mobil” teriak Ken.
Mike langsung berlari dan menyiapkan mobil. Ken sudah menggendong aku ke mobil yang sudah disiapkan oleh Mike. Jihan juga mengikuti aku dari belakang dan ikut masuk mobil menemani aku di kursi belakang. Sedangkan Ken duduk di depan bersama Mike.
Kecepatan mobil yang dibawa oleh Mike membuat mereka cepat sampai. Jarak rumah sakit memang sangat jauh dari perkebunan. Waktu tempuh yang harusnya dua jam menjadi satu jam.
Mereka sampai di rumah sakit, Mike langsung memanggil perawat untuk membawa bankar. Sedangkan Ken mengangkat aku dari dalam mobil menuju bankar. Jihan sangat heran pada Ken yang khawatir pada aku.
Aku langsung dibawa ke IGD untuk di periksa. Tidak lama kemudian dokter memperiksa aku. Aku memang mengalami demanm tinggi dan dehidrasi. Sehingga aku harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.
Aku dirawat bukan di rumah sakit tempat mas Rian dan mbak Raisa kerja. Jadi mereka belum tahu aku dirawat, begitu juga dengan mas Doni dan kak Della. Setelah aku dipindahkan ke ruang rawat, Jihan langsung memberitahu mereka.
“Tuan, bisa lihatkan Laili sebentar. Saya mau beritahu mas Doni dan mbak Raisa kalau Laili dirawat” ucap Jihan pada Ken dan Mike yang juga ada disana.
“Iya, tidak masalah” jawab Ken.
“Kalau gitu gue juga keluar cari makan sebentar” Mike juga pamit.
Setelah Jihan dan Mike keluar, Ken menghampiri bankar aku “sebenarnya kamu kenapa sehingga kamu harus dirawat seperti ini. Apa ini karena William, kalau benar, sungguh beruntung dia mendapatkan cinta dari kamu. Tapi jodoh memang tidak berpihak pada kalian” gumam Ken.
Ternyata apa yang dikatakan Ken itu terdengar oleh aku. Sebab ketika dia mulai bicara, aku sudah mulai sadar tapi masih belum mampu untuk membuka mataku.
Tidak lama setelah Ken selesai bicara aku mulai membuka mataku. Ken melihat tangan aku yang bergerak dan mata ku yang mulai kebuka.