MY DREAM

MY DREAM
25



“Kalau itu sudah menjadi keputusannya, biarkan saja. Aku juga sudah tidak butuh lagi penjelasan darinya. Sebab sudah tuan ceritakan semuanya, aku hanya menunggu penjelasan itu dari dulu” aku menghapus air mataku.


“Aku pernah diceritain juga tentang kamu sama dia. Awalnya aku tidak percaya tapi setelah kita ketemu pertama kali aku baru percaya. Apa yang dikatakannya benar, tapi aku tidak akan mengasihanimu sebab kamu tidak suka”.


“Terimakasih sudah menjelaskan pada ku” aku melihat Ken.


“Sama-sama. Oh ya, mengenai proyek baru kita itu, tidak ada hubungannya dengan William. Aku benar-benar tertarik dari pertama aku datang kesini”.


“Aku tahu. Tuan Mike sudah pernah juga bicara sama aku. Aku tidak menyangka pemikiran dia sama dengan tuan” aku tersenyum.


“Kamu tidak marah kan sama aku?”


Aku menggeleng “tidak, aku hanya kaget waktu itu. Orang pertama kali ketemu dengan ku sudah tahu mengenai aku dan William. Makanya akau berfikir kalau tuan mengenal William”.


“Syukur kamu tidak marah. Jadi tidak ada lagi orang yang aku gombalin nanti” ejek Ken.


Aku tersenyum “tuan jangan sering gombalin aku, nanti aku baper”.


Mereka tertawa “bercanda tuan” sambungku.


“Tidak masalah, melihat kamu tersenyum aku happy” jawab Ken.


Kemudian aku dan Ken membicarakan mengenai proyek yang akan kita bangun. Kita jalan-jalan mengitari perkebunan dan peternakan sambil merencankan. Sehingga tidak tahu waktu dan hari sudah siang.


Ketika sedang makan siang bersama, Ken ingat dengan keinginan Qasha yang ingin bertemu dengan ku.


“Ly, kalau istrinya William ingin bertemu dengan kamu, apakah kamu bisa?” Ken bertanya sama ku.


“Untuk apa dia ingin bertemu dengan aku?” aku terus menunduk mengaduk-aduk makanan.


“Sebenarnya dari setahun yang lalu dia ingin bertemu dengan kamu. Dia ingin minta maaf secara langsung sama kamu. Makanya sampai sekarang hubungan mereka tidak seharmonis yang orang-orang lihat. Karena Qasha masih merasa bersalah sama kamu” penjelasan Ken.


“Nantilah, setelah proyek kita ini sudah berjalan beberapa persen baru ajak aku menemui dia. Sekalian aku mau ketemu dengan William” ucap ku.


“Baiklah, terimakasih ya” Ken melihatku.


Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan kembali melanjutkan makan. Meskipun aku saat itu tidak ada nafsu untuk makan. Tapi aku tetap berusaha untuk menerima semua kenyataannya.


Beberapa hari kemudian aku berusaha untuk melupakan semua yang telah terjadi. Mungkin memang benar kalau kalau William bukan jodoh aku. Emang benar kata orang, kalau cinta tidak mendapatkan restu belum tentu akan lama bertahan.


Satu lagi mimpi aku hilang sudah, aku kehilangan orang yang membuat aku semangat. Mimpi yang pernah aku impikan dengannya sudah pupus. Aku mengumpulkan semua barang-barang kenangan aku ke dalam kardus.


Jihan masuk dalam kamar dan melihat aku “kenapa kamu menyimpan barang-barang itu, Ly?”.


“Mau aku buang” aku terus memasukkan kedalam kardus.


“Kamu yakin?”


“Yakin” aku jalan keluar penginapan.


Aku meletakan kardus di ruangan terbuka dan mulai membakarnya. Setelah aku membakar semuanya, berarti hubungan aku dengan William sudah berakhir.


Aku dan Jihan duduk di bawah pohon “Ly, sebenarnya ada apa?” tanya Jihan.


“Seperti yang kamu lihat” jawabku cuek.


“Kita sudah berteman lama, Ly. Aku tahu kamu dan pasti sudah ada yang terjadi sebelumnya” lanjut Jihan yang semakin penasaran.


Aku menatap Jihan dan menceritakan padanya apa yang sudah diceritakan oleh Ken beberapa hari yang lalu mengenai William.


“Apa! Tuan Johnson kenal William?” Jihan kaget.


“Iya. Karena William juga dia membantu kita” lanjut aku.


“So, keputusan kamu bagaimana?”


Jihan langsung memeluk ku “aku salut sama kamu. Kamu memang perempuan yang terbaik dan sangat kuat”.


“Terimakasih, kamu selalu ada di sampingku dan selalu mendukungku” aku juga membalas pelukannya.


***


Proyek yang aku bangun bersama Ken sudah selesai pada tahap pembelian tanah. Sekarang kita akan mendesaign tempat wisata seperti apa yang akan kita bangun. Yang akan mendesaignnya adalah Ken sendiri dan aku akan membantunya.


Karena Ken terusan bolak balik pusat kota, ibu kota dan perkebunan, jadi aku sudah menyiapkan kamar untuknya di penginapan. Dia juga sudah membeli sebuah rumah di ibu kota untuk dia tinggali sementara.


Satu bulan kemudian desaign sudah selesai. Kita akan mengadakan meeting untuk proses selanjutnya. Kita akan memulai pembangunan yang akan memakan waktu yang sangat lama.


Diselang kesibukan aku mengurus semua proyek membuat aku melupakan Qori dan Kayla. Ternyata tidak lama lagi Qori akan ulang tahun ke-3 dan Kayla akan ulang tahun ke-1. Ulang tahun mereka hanya berjarak satu bulan, duluan Kayla yang ulang tahun baru Qori.


Aku lagi mengukur tanah yang akan dibangun bersama Mike, Jihan, dan beberapa karyawan Ken lainnya. Ken sedang tidak ada, sebab dia harus kembali ke pusat kota. Karena ada rapat yang mengharuskannya datang


disana.


Ponsel aku berdering “Ly, mas Doni panggil” Jihan memberikan ponsel ku.


“Assalamualaikum mas” jawab ku.


“Waalaikumsalam, dimana Ly?”


“Di lapangan, mas. Ada apa?”


“Beberapa hari lagi jangan lupa balik ke kota, kita akan merayakan ulang tahun Kayla yang pertama. Apa kamu luapa?”


“Nggak mas, makanya aku ingin semua ini cepat selesai. Sebab Ken sedang tidak ada disini”.


“Ya sudah, jangan lupa istirahat” mas Doni mengucapkan salam dan menutup panggilan.


Aku kembali fokus mengurus pekerjaan ku. Kemudian aku istirahat sebentar dan sampai tertidur di kamar.


***


Hari ulang tahun Kayla adalah hari ini, aku langsung siap-siap akan pergi bersama Jihan. Jihan mengendarai mobil ke toko mainan anak-anak untuk membeli hadiah untuk Kayla.


Ketika aku sedang keliling-keliling aku ketemu dengan Ken yang sedang memilih mainan anak-anak juga.


“Tuan Ken” sapa ku.


Ken menoleh pada ku “Laili..”.


“Tuan ngapain disini?”


“Aku lagi cari hadiah untuk Kayla, bukannya hari ini ulang tahunnya” ucap Ken.


“Iya. Tuan di undang juga?”


“Kemarin mas Doni menelvon aku dan mengundangnya”.


Aku, Jihan, dan Ken langsung memilih hadiah bersama-sama. Kemudian kita berangkat bersama menggunakan mobil masing-masing.


Tidak lama kita sudah sampai di rumah mas Doni. Semua keluarga dan beberapa tetangga sudah berdatangan disana. Acara memang dihadiri oleh orang-orang terdekat saja.


“Unty...” Qori mengejar aku kemudian disusul oleh Kayla.


Kayla memang belum bisa berlari secepat Qori sebab dia baru bisa jalan beberapa langkah saja. Aku langsung memeluk mereka berdua dan menciumnya.


Acara langsung dimulai setelah kedatangan ku. Sebab memang hanya aku yang di tunggu mereka sebelumnya. Selesai acara kita makan bersama dan aku sibuk bersama Qori dan Kayla membuka kado.