MY DREAM

MY DREAM
49



Aku sudah bosan tiduran terus, kalau keluar kamar pasti Ken akan marah. Jadi setelah oma keluar, aku jalan ke balkon. Aku ingin menghirup pemandangan di luar rumah sambil melihat pemandangan taman bunga di mansion.


Ken akan menemui aku setelah selesai sarapan sama Mike. Sedangkan Mike pergi ke kantor karena dia yang akan mengurus pekerjaan Ken selama aku sakit.


Ken mengetuk pintu dan langsung masuk, dia langsung menghampiri aku yang sedang berdiri di tepi balkon.


“Kenapa disini, gak istirahat?” tanya Ken.


Aku melihat Ken dan kembali melihat keluar “bosan, keluar kamarpun tidak boleh”.


“Emang siapa yang larang?”.


“Kamulah, siapa lagi yang over pada ku” aku bete.


“Iya aku minta maaf, ayo duduk disini dulu” Ken mengajak aku duduk di kursi yang ada disana. “Apa yang mau kamu katakan?” tanya Ken.


Aku duduk “aku akan mengambil keputusan tapi kamu harus janji akan mengabulkannya?”.


“Apa dulu, baru aku janji” Ken tidak mau ketipu sama perkataan aku.


“Janji dulu” aku juga tidak mau kalah dengan Ken.


“Iya, aku janji” jawab Ken.


“Terimakasih. Aku mau menjalani pengobatan tapi aku tidak mau dirawat di rumah sakit. Aku akan menjalani pengobatan setelah acara pernikahan Jihan. Kemudian mengenai keluarga aku nanti saja katakan ketika mereka datang kesini. Mereka pasti akan datang menghadiri pernikahan Jihan” kataku.


“Oh.. jadi itu keputusan kamu. Baiklah aku setuju, tapi kamu tidak boleh keluar sendiri dari mansion ini” ucap Ken.


“Kalau itu aku tidak setuju, aku gak mau dikurung disini” bantah aku.


“Siapa yang mengurung kamu?”


“Kamu..” aku menunjuk Ken.


“Aku tidak mengurung kamu, aku gak ada larang kamu keluar. Tapi kalau kamu ingin keluar kamu hanya tidak boleh sendiri seperti biasa. Kamu harus ada pengawal dan ada seseorang yang menemani kamu” ucap Ken.


“Oke...” aku tersenyum.


“Makanya jangan marah dulu, dengarin baik-baik apa yang orang katakan” Ken juga ikut sebal.


“Iya, aku minta maaf” aku minta maaf.


“Ya sudah, kamu lanjut melihat pemandangannya jangan sampai capek. Aku keluar dulu” Ken berdiri.


“Tunggu, kamu gak kerja?” tanya aku.


“Kerja, dari rumah. Emang kenapa?”


“Tidak apa-apa, sana keluar” aku mengusir Ken.


Ken langsung pergi meninggalkan kamar aku. Ken masuk ke ruangan kerjanya, dia akan bekerja dari rumah.


***


Ken sedang memeriksa beberapa file, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata Mike yang menghubunginya.


“Iya, kenapa?” jawab Ken.


“Gue sudah bicara sama dokter Agus. Katanya dia sedang tidak ada di Indonesia. Dia sedang di luar negeri bersama istrinya”.


“Kapan dia pulang?”


“Paling lama satu bulan lagi. Kata dokter Agus kalau kita memang butuh secepatnya lebih baik hubungi Anggika. Dia sudah bekerja di rumah sakit orang tua lo”.


“Sejak kapan, kenapa gue gak tahu kalau dia bekerja di rumah sakit Anugrah?” Ken kaget.


“Sudah enam bulan. Lo kan memang gak mau ikut campur mengenai rumah sakit. Sebab rumah sakit itu yang akan menjadi hak milik wanita itu. Kalau lo mau tahu lebih baik lo tanya Beni”.


“Baiklah. Apa lo sudah dapat jadwal gue ketemu dengan Anggika?”.


“Besok siang, dia ada di rumah sakit”.


“Baiklah..” Ken menutup panggilannya.


Setelah selesai panggilan dengan Mike, Ken langsung menghubungi Beni. Beni adalah sahabat Ken sendiri yang ditugaskannya untuk bertanggung jawab dengan rumah sakit orang tuanya.


“Hai bro, tumben nelvon” jawab Beni yang sedang di rumah sakit.


“Di rumah sakit, dimana lagi. Why?”


“Gue mau bicara sama lo, kapan lo ada waktu ketemu gue?”


“Anytime. Kalau pak bos yang minta sesibuk apapun akan gue jabanin”.


“Lo banyak gaya, nanti lo datang ke rumah. Gue ada di rumah” ucap Ken.


“Rumah? Tumben lo di rumah sekarang. Biasanya di kantor, di markas, luar kota, atau gak luar negeri” Beni heran.


“Lo ledek gue. Lo datang ke rumah gue nanti malam, awas kalau lo gak datang” Ken langsung mematikan panggilannya.


Beni yang mendapatkan panggilan yang tiba-tiba mati sangat kesal. Sebab memang kebiasaan Ken yang mematikan panggilan kalau telvonan dengannya.


Ken kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia juga mengerjakan proyek yang sedang berjalan bersama aku. Sedangkan aku di dalam kamar juga bekerja tanpa sepengetahuan Ken.


***


Dave selesai foto prewedding dengan Jihan “sayang, ada apa dengan Laili selama pergi?” tanya Jihan pada Dave.


“Nggak kenapa-napa, emang apa yang sudah terjadi?” Dave masih menyembunyikannya.


“Jangan bohong, kenapa Laili minta kirim email pekerjaan sama aku. Katanya dia belum bisa kembali ke perkebunan sebab Ken belum mengizinkannya keluar dari mansion”.


“Kalau itu aku gak tahu, kenapa gak kamu tanya sama dia” Dave masih tidak menjawab.


“Katanya sakit, sebab dia sakit makanya kalian kembali kesini di undur beberapa hari. Pasti sudah terjadi sesuatu, jangan bohong” Jihan menatap Dave.


Jihan tahu kalau Dave menyembunyikan sesuatu padanya. Jihan juga tahu kalau Dave terpaksa melakukan semua itu karena perintah Ken.


“Sayang, kamu gak usah bohong sama aku. Lebih baik jujur sama aku sebelum aku marah” ancam Jihan.


“Baiklah, Laili kecelakaan disana. Dia ditabrak oleh seorang pengendara bermotor antar makanan. Dia terpaksa di operasi disana sebab banyak kekurangan darah. Setelah operasi bukannya semakin membaik tapi malah penyakitnya semakin parah” cerita Dave.


“Apa!” Jihan kaget.


“Iya, kata dokter efek dia sering mendonorkan darah dulu. Emang iya dia pernah jadi pendonor besar-besaran dulunya?” tanya Dave.


“Iya, dulu dia pernah jadi relawan dan pendonor untuk seorang ibu yang sakit anemia. Setiap hari dia merawat ibu itu dan mendonorkan darahnya sekali sebulan untuk ibu itu” jawab Jihan.


“Kenapa dia melakukan itu?” kepo Dave.


“Sebab darah dia langkah sama dengan darah ibu itu. Dia juga trauma sebab kehilangan bundanya di rumah sakit. Dia juga tidak sempat merawat bundanya karena kuliah disini” lanjut cerita Jihan.


“Tunggu, berarti Laili satu kampus dengan Jihan dan di kampus yang sama. Tapi kenapa dia telat wisudah? Apa Laili perempuan itu, sebab ceritanya hampir sama sih”gumam Dave sambil bertanya-tanya dalam hatinya.


Jihan melihat Dave melamun “sayang.. sayang...”.


“Iya..”


“Apa sih yang difikirkan?”


“Sayang, apa kamu pernah ketemu sama ibu-ibu itu atau tahu namanya?” Dave semakin penasaran.


“Ada apa?” Jihan tanya balik.


“Jawab saja, pengen tahu saja” Dave mengalihkannya.


“Aku pernah ketemu waktu kita jalan di mall tapi aku tidak tahu namanya. Setahu aku orang kaya, aku juga gak terlalu kepo juga” jawab Jihan.


“Oh.. tapi kenapa Laili telat wisudah?”


“Sebab dia harus menjaga ayahnya yang juga sakit setelah bundanya meninggal. Makanya setelah pelatihan dia balik kampus dan meninggalkan skripsinya”.


“Oh.. pantasan dia telat” kata Dave dalam hati.


“Sayang, kita ke rumah tuan Ken yuk” ajak Jihan.


“Ngapain?”


“Aku pengen ketemu Laili”.


“Baiklah, nanti malam kita kesana” ucap Dave.