MY DREAM

MY DREAM
22



Tidak lama setelah Ken selesai bicara aku mulai membuka mataku. Ken melihat tangan aku yang bergerak dan mata ku yang mulai kebuka.


“Kamu sudah sadar?” tanya Ken.


“Hmz...haus..” aku merasa haus.


Ken langsung mengambil minum dan membantu aku minum.


Jihan masuk dan melihat aku sudah sadar “Ly, kamu sudah sadar. Aku akan pergi memanggil dokter” Jihan keluar lagi.


“Terimakasih” ucap aku setelah selesai minum.


Dokter masuk dan langsung memeriksa aku “bagaimana dok?” tanya Ken.


“Sudah lebih baik dari sebelumnya, tapi nona Laili harus dirawat dulu untuk beberapa hari” jawab dokter.


“Terimakasih dok” ucap Ken.


Dokter keluar dari ruang rawat, Mike masuk dengan membawa makan siang. Ternyata dibelakang Mike juga ada mbak Raisa dan mas Rian yang baru datang.


“Bagaimana keadaan kamu, Ly?” tanya mbak Raisa.


“Sudah mendingan mbak” jawab ku.


“Kenapa kamu bisa drop?” tanya mas Rian.


“Kecapekan mas” Jihan yang menjawabnya.


Ketika mereka bicara datang Doni dan Della bersama beberapa keluarga yang lainnya. Jadi Ken dan Mike keluar sebentar, mereka pergi makan siang dan memberikan waktu untuk keluarganya aku.


***


Thania sudah di usir oleh Ken dari apartemennnya. Kemudian datang ke James untuk memberikan tempat tinggal. Berbagai cara dilakukannya untuk membuat James menuruti keinginannya.


“James, gue tinggal di tempat kamu ya” Thania bergelayut manja sama James yang sedang berada di kantornya.


“Apartemen kamu?” James sibuk dengan pekerjaannya.


“Aku udah malas tinggal disana, sebab kamu jarang menemui ku. Apalagi semenjak terakhir kita melakukan sebulan yang lalu di hotelmu” rengek Thania.


“Ok.. Albert kesini...” James memanggil tangan kanannya yang selalu stanby di kantornya.


“Terimakasih sayang” Thania mencium James.


Alberto masuk ke ruangan James “ada apa bos?”


“Antar Thania ke villa” perintah James.


“Kok kek villa sayang, kenapa gak ke mansion?” tanya Thania.


“Villa lebih dekat dengan markas, jadi lebih mudah aku kesana dari pada di mansion. Mansion banyak orang mengganggu, sedangkan di villa tidak akan ada yang berani” bisik James.


“Oke kalau begitu” ucap Thania.


“Sampai ketemu” James mencium bibir Thania dan langsung pergi.


Alberto yang berada disana kesal melihat James yang mesra dengan Thania “ayo!” ajak Thania.


Alberto dan Thania sudah berada didalam mobil berdua “sayang, aku kangen” ucap Thania memeluk Alberto.


Alberto hanya diam tidak membalasnya, Thania sebal “kok diam?”


“Gue kesal lihat lo dicium sama James” Alberto cemburu.


“Kalau tidak seperti itu kita tidak akan bisa bersama. Apalagi kalau dia tahu hubungan kita, kita berdua akan mampus. Jadi kita akan tetap berpura-pura ya” bujuk Thania.


“Oke” Alberto setuju. Dia langsung mengendarai mobil menuju villa.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di villa “ayo masuk” Alberto membawanya masuk dengan mendorong koper Thania.


“Kok sepi?” tanya Thania ketika jalan masuk.


“Disini memang sepi, pembantu akan datang pagi untuk bersih-bersih dan menyiapkan makan siang sampai malam kalau bos disini. Kalau tidak hanya bersih-bersih saja, seperti yang lo lihat” jelas Alberto.


Mereka jalan menuju kamar paling besar yang berada di lantai dua. Alberto membuka pintu dan masuk, lalu Thania mengikutinya.


Thania memegang tangannya “kenapa?” tanya Alberto.


“Jangan pergi..” rengek Thania.


Alberto langsung memeluk Thania “kita akan sering melakukannya. Bos entah bodoh atau bagaimana menyuruh kamu disini”.


“Kenapa?” Thania tidak paham.


Alberto tersenyum “ini adalah daerah kekuasaan gue. Jadi kita bisa melakukannya dengan sepuasnya” Alberto langsung mencium Thania dan melakukannya sampai puas.


Sore harinya dia baru kembali ke kantor menjemput James. Kemudian dia mengantar James ke villa dan dia langsung pergi ke markas.


***


Ken masuk ke ruang rawat aku, disana hanya tinggal aku sendiri sebab semua orang sudah pamit pulang.


“Kok sendiri?” tanya Ken.


“Iya, semua sudah pulang. Jihan keluar pergi makan, tuan belum pulang juga?” tanya ku.


“Belum, sebab rencana saya satang kesini jadi gagal karena kamu sakit. Jadi kapan kita bisa lanjutkan meeting kita?”


“Nanti saya kabari lagi. Tuan bisa kembali dulu” aku menyuruh Ken pergi.


Aku melakukan itu semua sebab aku masih memikirkan perkataan Ken sebelumnya. Kenapa Ken bisa kenal dengan William, itulah pertanyaan yang masih menjanggal dalam pikiranku.


“Saya tunggu Jihan datang dulu, setelah itu saya akan langsung pergi” Ken duduk disebelah aku.


“Terserah tuan” aku langsung pura-pura tidur.


“Aku tahu kamu menyembunyikan kesedihan kamu itu. Semuanya terlihat dimata kamu, aku hanya berharap kamu bisa mendapatkan kebahagiaan kamu sendiri” kata Ken dalam hatinya.


Beberapa hari aku dirawat di rumah sakit, Ken selalu datang setiap hari melihat aku. Aku tidak tahu kenapa dia begitu peduli sama aku. Lagian aku selalu jutek padanya tapi dia tidak menghiraukan perkataan aku.


Hari ini aku sudah diizinkan pulang, dia datang lagi ke rumah sakit. Tapi dia datang hanya sendiri sebab Mike aku tidak tahu kemana.


“Tuan Johnson, datang lagi?” ucap Jihan.


Ken hanya tersenyum, aku melihatnya “apa tuan gak ada kerjaan selalu datang setiap hari?”.


“Ada”


“Kalau ada, ngapain sibuk-sibuk kesini?”


“Kerjaan saya hari ini mengantar kamu pulang. Sebab mas Angga dan Tejo sedang ada kerjaan bersama Mike” Ken berdiri tidak jauh dari aku.


“Kerjaan? Kerjaan apa?” tanya ku.


“Maaf sebelumnya Ly, aku lupa beritahu kamu. Mengenai bisnis yang pernah kamu bicarakan dengan tuan Johnson waktu itu sudah selesai kontraknya diurus sama mas Angga. Hari ini mereka sedang survey wilayah untuk membangunnya” penjelasan Jihan.


“Kok bisa sih, kenapa gak tunggu aku sehat baru di bicarakan lagi” aku sedikit sebal.


“Ly, kamu lupa. Beberapa hari mas Bagas datang membicarakan itu, kamu bilang terserah mas Bagas saja. Jadi mas Bagas menyetujui saja" lanjut Jihan.


Aku kembali mengingat waktu mas Bagas dan mbak Luna datang mengenai proyek baru. Ternyata proyek yang dibicarakan mas Bagas itu adalah proyek bersama Ken.


“Kenapa setiap aku fokus menonton pasti aku seperti itu” aku kesal dalam hati.


“Pasti kamu fokus nonton drama terbaru kan, sampai kamu gak fokus waktu mas Bagas bicara” ucap Jihan.


Aku hanya tersenyum sambil mengaruk kepala ku yang tidak gatal.


“Kebiasaan” ucap Jihan sambil merapikan peralatan aku.


Ken hanya melihat mereka dengan bingung, kemudian dia keluar membayar administrasi dan mengambil obat aku. Sedangkan aku mengganti baju bersama Jihan.


“Kemana sih pria gila itu” ucap aku.


“Pria gila mana?” Jihan tidak paham.


“Tuan Johnson” aku sedang merapikan penampilan ku.


“Orang gila kata kamu, tahu gak dia yang menggendong kamu ketika pinsan sampai rumah sakit. Dia yang khawatir dengan kondisi kamu, mana kesayangan William kamu itu. Malahan dia yang buat kamu seperti ini” omel Jihan.