MY DREAM

MY DREAM
53



Anggika sudah sampai di lantai 10, dia langsung jalan menuju ruang direktur. Semua perawat dan pegawai tersenyum pada Anggika.


“Dokter sudah ditunggu” penanggung jawab lantai itu menghampiri Anggika.


“Iya makasih” Anggika lanjut jalan.


Sampai di depan pintu Anggika mengetuk pintu, Beni yang membuka pintu “akhirnya lo datang juga”.


“Maaf, gue ada kerja mendadak” ucap Anggika.


“Kalau gue sih gak masalah, tapi noh yang didalam. Lo tahu kan, Ken gak bisa menunggu” kata Beni pelan.


“Lo bawel, mana dia”


Beni langsung menyuruh Anggika masuk. Mereka masuk dan langsung menghampiri aku dan Ken yang sedang duduk.


“Ken...” ucap Beni.


“Gue minta maaf, sudah buat lo menunggu lama” kata Anggika.


“Lo memang kebiasaan, Beni sudah bilang untuk tidak menerima pekerjaan sebelum kita datang” Ken kesal.


“Sudah dong” ucap aku.


Ken langsung diam “maafin saya ya mbak” Anggika minta maaf pada ku.


“Tidak masalah mbak, silakan duduk saja. Mas Beni langsung saja deh, kalau lama lagi gak tahu apa yang akan terjadi sama bos mas ini” kataku.


“Baiklah. Seperti yang sudah gue caritakan tadi pagi, ini dia Laili rekan bisnis Ken yang sakit tersebut. Ly, ini dokter Anggika yang akan menangani penyakit lo itu” ucap Beni.


“Laili mbak...” aku langsung mengulurkan tangan kenalan.


“Dr. Anggika mbak..” balas Anggika dengan senyum.


“Salam kenal ya, mulai dari sekarang kita akan sering ketemu” lanjut aku.


Anggika hanya tersenyum “so, apa yang harus gue lakukan. Gue sudah baca rekap medis mengenai mbak Laili?”.


“Menurut lo sebagai seorang dokter bagaimana?” tanya Ken dengan tajamnya.


Beni melihat kaget mendengar perkataan Ken terhadap Anggika begitu juga dengan aku menatap Ken.


“Maaf, menurut gue mbak Laili memang harus dirawat intesif di rumah sakit. Mengenai penyakit ini gue tidak tahu betul, sebab biasanya papa gue yang ambil ahli. Jadi gue sudah bicarakan sama papa, sebelum papa


kembali aku yang akan bertanggung jawab. Kalau mengenai pengobatan sudah dikatakan oleh papa” kata Anggika.


“Bagaimana Ken?” aku melihat Ken.


“Baiklah, tapi Laili tidak akan dirawat di rumah sakit. Dia akan dirawat di rumah seperti almarhum mommy” jawab Ken.


“Tapi Ken...” Anggika menolak semua itu. Sebab dia memikirkan resiko yang akan terjadi dengan kesehatan aku. Kemudian mengenai pekerjaannya di rumah sakit dan pasien-pasien dia.


“Tapi kenapa?” Ken menatap Anggika.


“Resikonya? Lo pasti tahu kan, sebab lo sudah paham dengan orang sakit darah”.


“Iya, makanya gue sudah menyiapkan semuanya lebih baik di mansion. Lagian papa kamu juga sudah setuju itu semua, asal memang orang kesehatan yang menangani semuanya” jawab Ken.


“Oke. Pekerjaan gue dan pasien-pasien gue, bagaimana?” lanjut Anggika.


“Kan bukan lo saja yang dokter disini?”


“Iya benar, tapi gue tidak bisa memberikan pasien gue pada orang lain. Mereka juga punya tugas masing-masing. Come on Ken, gue bukan lo yang hanya mementingkan perasaan lo saja” Anggika sedikit sebal pada Ken.


Ken jadi ikut kesal sama Anggika karena sudah membanding-bandingkan dia dengannya. Ken ingin menjawab tapi langsung dibantah oleh Beni.


“Begini saja. Lo bisa bekerja menangani pasien lo tapi lo sebagai dokter kan bisa membagi tugas lo. Lo boleh memilih atau menunjuk orang kepercayaan lo untuk membantu orang kepercayaan Ken di mansion nanti. Lo hanya harus datang ke mansion satu kali dalam sehari untuk mengontrol Laili. Lo tidak diwajibkan untuk tetap tinggal disana, bagaimana Ken?” Beni meminta saran Ken.


“Lo bagaimana?” Ken bertanya pada Anggika.


“Baiklah, gue setuju” ucap Anggika.


“Oke. Mulai besok lo sudah datang ke mansion untuk merawat Laili. Lo juga boleh memilih tenaga medis untuk membantu lo di mansion. Gaji lo akan gue naikan 3 kali lipat dari biasanya” Ken.


“Tidak perlu, gue bekerja bukan untu mencari uang tapi gue ikhlas untuk membantu semua orang” tolak Anggika.


Beni dan Ken kaget mendengar perkataan Anggika. Sejak kapan seorang Anggika tidak suka duit. Setahu mereka Anggika adalah orang yang memanfaatkan uangnya untuk memenuhi kebutuhannya, terutama kebutuhan pribadi, baju, tas, sepatu, dan sandal yang semuanya branded semunya.


Ken dan Beni menahan senyum mereka, sebab memang tidak biasanya Anggika berfikiran begitu.


“Oke kalau gitu. Lo boleh lanjutkan lagi pekerjaan lo” ucap Ken.


“Terimakasih ya mbak sudah mau mengobati penyakit aku” aku mengulurkan tangan pada Anggika.


“Iya, sama-sama. Kamu semoga cepat sembuh” balas Anggika.


Anggika langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tinggal aku, Ken dan Beni. Selepas Anggika pergi Ken dan Beni langsung tertawa lepas.


“Kalian kenapa?” tanya aku.


“Kamu pasti berfikiran kalau Anggika menolak uang yang aku tawarkan kan?” ucap Ken.


“Iya, dia punya fikiran yang bijak juga dan aku suka” jawab ku.


“Lo salah besar Ly. Orang seperti Anggika tidak akan pernah mau menolak uang. Sebab dia sudah terbiasa dengan kehidupan mewah dan branded” sambung Beni.


“Oh...”


“Kalau gitu kita pamit, sebab gue ada meeting di perusahaan. Lo harus siapkan keperluan pengobatan Ily di mansion” perintah Ken pada Beni.


“Siap bos” jawab Beni.


Mereka langsung keluar dari dalam ruangan. Beni mengantar kita sampai di lobi rumah sakit. Kita jalan menuju perusahaan Ken, tapi sebelum itu kita makan siang dulu.


***


Anggika sangat kesal setelah keluar dari ruangan direktur. Dia sangat bete melihat Ken yang sangat menurut dengan perkataan aku. Dia juga berfikiran kalau aku bukan hanya rekan kerja tapi mereka sangat dekat dengan aku tidak seperti rekan kerja.


“Memang cantik lebih cantik lagi dari pada gue. Tapi apa benar Ken jatuh hati pada perempuan seperti Laili. Apa benar dia melupakan super model demi Laili seorang perempuan kampung” gumam Anggika di ruangannya.


Ketika dia bergumam sendiri, dia mendengar suara orang mengetuk pintu “masuk..” perintah dia dari dalam.


Ternyata Beni yang datang “lo, masuk...” ucap Anggika.


Beni langsung duduk di depan Anggika “lo sengaja kan membuat Ken menunggu” ucap Beni langsung.


Anggika menatap Beni “menurut lo?”


“Perkataan gue benar kan. Lo masih kesal sama Ken, sampai kapan?” lanjut Beni.


“Bukan urusan lo” Anggika kesal.


“Lo sudah dewasa kali, lo bukan anak manja lagi. Kapan lo akan menyimpan dendam seperti itu. Lo tahu kalau Laili sedang sakit tapi lo masih membuat mereka menunggu. Lo seharusnya bersyukur disana ada Laili, coba lo fikirkan kalau hanya Ken” kata Beni.


“Biarin gue gak peduli” Anggika tidak peduli.


“Lo tahu resiko yang akan terjadi ketika lo keluar dari rumah sakit ini. Jangan harap lo bisa mendapatkan kerja di rumah sakit lain meskipun ada papa lo”.


“Maksud lo?” Anggika melihat Beni.


“Coba saja lo fikirkan. Gue pamit, gue tunggu hari ini juga siapa orang yang akan membantu lo di mansion nanti” Beni langsung pamit dan meninggalkan ruangan Anggika yang kelihatan masih bete mendengar perkataan Beni.