
Qasya datang ke hotel tempat kerjanya William, dia langsung masuk ke ruangan William.
“Saya mau ke Indonesia” ucap Qasya ketika sampai di ruangan William.
William kaget dan melihat Qasya “maksudnya?”
“Iya, saya mau ke Indonesia”
William berdiri dan membawa Qasya duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
“Saya mau ke Indonesia, kenapa sih!” Qasya kesal.
“Iya saya tahu. Kita tidak boleh kesana, saya sudah janji sama daddy untuk tidak balik kesana lagi” ucap William.
“Sampai kapan kamu akan mengikuti daddy, apa kamu gak kangen dengan keluarga kamu”.
“Kalau kangen mereka kan bisa datang kesini. Beberapa bulan lalu ketika anak kita lahir mereka kan sudah datang. Untuk apa lagi kita kesana?” William berusaha tetap tidak emosi pada Qasya.
“Ketemu Laili..” William terdiam.
“Kalau kamu gak mau saya akan datang sendiri. Sebab Laili sudah tahu semuanya tentang kamu. Ken sudah jelaskan semuanya dan dia akan membantu saya untuk ketemu Laili” lanjut Qasya.
“Cukup Sya. Sampai kamu akan membahas dia terus. Kalau kamu tidak bisa menerima saya, tidak masalah. Setidaknya fikirkan daddy kamu dan anak kamu di rumah yang butuh kasih sayang kamu. Saya capek disalahin terus sama daddy kamu” William kesal dan pergi meninggalkan Qasya.
Qasya kaget melihat William marah padanya. Sebab selama mereka menikah dia tidak pernah memarahi Qasya. Meskipun Qasya tidak pernah menganggapnya tapi William berusaha menjadi seorang suami yang terbaik untuknya.
***
Aku dan Ken sudah sampai di restoran yang sudah di pesan sebelumya oleh Ken. Kita sedang menunggu pesanan yang sudah dipesan.
“Ly, boleh aku ngomong sesuatu?” Ken melihat aku.
Aku sibuk dengan ponsel “ya ngomong saja”.
“Proyek kita kan sudah jalan, apa kamu sudah bisa ketemu dengan istrinya William?”
Aku melihat Ken “bagaimana?” Lanjut Ken.
“Baiklah kita ke Malaysia, tapi setelah selesai pembukaan cabang minimarket sama supermarket tiga bulan lagi” jawabku.
“Apa, lama kali. Kamu yakin?” Ken kaget.
“Ya harus bagaimana lagi, aku gak sibuk ya lepas tiga bulan lagi. Kalau gak mau ya udah, gak usah saja”.
“Baiklah, tapi kamu harus ikut aku ke Amerika dulu sebelum kita kesana”.
“Nggak mau, ngapain kesana?” aku menolaknya.
“Kita akan ketemu dengan orang yang akan mengimpor kuda dari sana. Sekalian kamu liburan disana dan aku ada kerjaan disana beberapa hari. Setelah itu kita ke Paris dan ketemu dengan Qasya sama William disana”.
“Bukannya ke Malaysia kenapa harus di Paris?”
“Sebab aku ada kerjaan sama Qasya di Paris dan lagian tuan Ismail akan marah kalau tahu kamu ketemu sama mereka. Aku gak mau terjadi sesuatu nantinya sama kamu” ucap Ken sambil melihat aku.
“Aku gak mau, aku gak pernah pergi ke luar negeri” aku langsung memulai makan dan membaca doa.
Ken masih melihat aku “kata kamu aku bodoh. Masa iya mahasiswa terbaik tidak pernah ke luar negeri dan sempat juga kan kamu tukar pelajar di Jepang”.
“Gak pernah, kamu salah orang” aku fokus makan.
Ken juga mulai makan “Ly, selain pernah menjadi mahasiswa tukar pelajar. Aku mendapatkan informasi kalau kamu pernah bergabung dengan kelompok mahasiswa relawan gitu. Tapi kenapa aku tidak mendapatkan infomasinya secara detil, data kamu seperti disembunyikan gitu”.
“Karena ada seseorang yang ingin balas budi sama aku. Aku gak mau dia membalas budi sama aku, sebab karena aku istrinya meninggal. Karena aku tidak bisa datang memenuhi permintaannya saat itu. Makanya aku menghapus data diri aku disana” aku langsung murung.
“Oh.. maaf. Aku gak tahu kalau reaksi kamu akan seperti itu setelah menceritakan semuanya” Ken merasa bersalah dan minta maaf.
Satu jam kemudian kita sudah jalan menuju pulang “antar kemana, Ly?” tanya Ken.
“Ke kantor saja, kamu mau langsung balik kan?”
“Nggak juga, kalau mau antar ke perkebunan juga tidak masalah”.
“Bukannya kamu ada kerjaan dan langsung kembali ke pusat kota?”
“Iya nanti malam”
“Terserah kamu saja, kalau mau antar ke perkebunan juga tidak masalah. Kalau sudah sampai bangunkan aku, aku mau tidur sebentar” aku langsung mengatur duduk dan memejamkan mata.
***
Ken sedang berada di perusahaannya, datang Dave membawa amplop cokelat “tuan Ken ada didalam?” tanya Dave pada sekretaris Ken.
“Tuan Dave, ada. Silakan masuk” jawab Dea sekretaris Ken.
“Makasih ya” Dave langsung masuk.
Dave mengetuk pintu sebelum masuk, Ken melihat Dave “Dave..”.
Dave duduk di depan Ken “ada apa?”.
“Ini data yang gue temukan beberapa bulan ini mengenai wanita yang lo cari itu” Dave memberikan amplop pada Ken.
Ken langsung membuka dan membacanya “menurut lo bagaimana?” tanya Ken sambil melihatnya.
“Sebenarnya dia sendiri ketua yang membentuk kelompok relawan itu. Dia juga pintar dalam ilmu komputer, makanya dia sendiri yang bisa menghapus semua datanya”.
“Bukannya dia jurusan bisnis?” tanya Ken.
“Iya, lo benar. Gue rasa dia mahasiswa jenius, sebab dia pintar dimanapun”.
“Bagaimana dengan alamatnya, lo sudah dapat?”
Dave menggeleng “belum. Menurut cerita lo dan paman lo, dia seharusnya sudah lulus dari kampus tersebut tiga setengah tahun yang lalu. Tapi dari data yang gue dapat, tidak ada mahasiswa bisnis yang lulus dengan nama tersebut dan bekerja secara relawan”.
“Oh baiklah. Setidaknya dia benar-benar ada, tidak hanya halu dari paman dan orang tua gue saja. Ada lagi yang mau lo katakan?” Ken menyimpan data aku kedalam amplop.
“Thania...”
“Ada apa lagi dengannya?”
“Dia kembali bisa menarik perhatian tuan James untuk menjadikannya model bisnisnya dan jadi simpanan James di villa dekat markasnya”.
Ken tersenyum “dia bodoh atau bagaimana? Bukannya tempat itu kekuasaan Alberto. Apa dia masih belum tahu kebusukan mereka?”.
“Gue rasa belum tahu sama sekali, sebab anak buahnya lebih tunduk pada Alberto dari padanya”.
“Biarin saja dia ingin melakukan seenaknya, asal dia tidak kembali kesini dan buat ulah lagi”.
“Terus bagaimana dengan bisnsi lo dengan tuan James tersebut?”
“Biar saja, kalau tidak membuat kita rugi, kita diam saja dulu. Apabila dia berani menipu kita nantinya, baru kita jalankan rencana kita”
“Baiklah. So, bagaimana bisnis lo sama mantannya William. Gue lihat lo sudah jarang berada di kota ini?”
“Lancar, sekarang Mike yang akan mengurusnya. Beberapa bulan ini gue akan stay lagi disini dan akan kembali kesana sekali dalam sebulan. Oh ya tiga bulan lagi lo siapkan perjalanan gue ya”
“Oke siap, kalau gitu gue pamit” Dave pamit untuk kembali ke kantornya.
Setelah kepergian Dave, Ken masih memikirkan tentang wanita yang telah membantu orang tuanya. Sampai kapan pun Ken harus menemukan wanita tersebut, sesuai permintaan terakhir daddynya.