
Aku dan Ken pamit pada semua teman aku untuk pulang. Sebab waktu sudah hampir tengah malam. Kita juga harus kembali ke perkebunan.
Didalam mobil “Ly, sudah larut malam. Apa kita kembali ke penginapan juga?” tanya Ken.
“Iya juga ya” aku melihat jam.
“Mau aku antar ke rumah utama atau ke rumah mas Doni?”
“Sudah larut malam, pasti mereka sudah istirahat sekarang”.
“Kalau gak ke rumah aku aja?”
“Nggak” tolak aku langsung.
Aku tidak mau ke rumah Ken, sebab setahu aku disana hanya laki-laki semua. Tidak ada perempuan yang menjadi pembantu Ken.
“Ke hotel saja ya. Lagian besok kita juga ada meeting di kantor kan?”
“Lebih baik disana” jawabku.
Ken langsung menghubungi Mike untuk mempersiapkan kamar di hotelnya yang ada di kota kelahiran aku. Aku tidak tahu kalau Ken sudah membeli hotel yang ada di kota aku itu.
“Sejak kapan kamu beli hotel itu?” tanya ku.
“Bukan beli tapi aku memiliki saham paling besar disana”.
“Sama aja, kan sudah punya kamu juga”
“Iya sama. Semenjak aku memutuskan kerjasama dengan kamu dulu”.
“Oh..”
“Kamu juga. Semenjak kapan mempunyai kafe?” tanya Ken.
“Siapa yang punya. Kalau aku yang punya pasti aku tahu makanan dan minuman disana. Nyatanya aku tidak tahu sama sekali” elak aku.
“Tapi kamu ada saham disana kan?”
“Iya. Sebenarnya aku gak mau, tapi mereka tetap membuat nama aku sebagai pemegang saham beberapa persen disana. Lagian aku hanya berapa persen saja dari keuntungan mereka” ucap ku.
“Aku kagum sama kamu” Ken melihat aku.
“Terimakasih” jawab aku.
Sebelum sampai di hotel aku mengirim pesan pada mas Doni dan mbak Raisa kalau aku tidak jadi kembali ke perkebunan. Aku akan menginap di hotelnya Ken, sebab aku tadi mampir ke kafe teman aku. Karena sudah malam dan kita sudah lelah makanya menginap di hotel.
Tujuan aku mengirim pesan tersebut adalah agar nanti kalau mereka tahu dari orang lain tidak akan salah paham. Lagian mereka sangat percaya pada Ken, aku tidak tahu apa penyebab mereka begitu.
Sampai di hotel Mike sudah menunggu kita di lobi hotel.
“Bagaimana?” tanya Ken.
“Ini kunci kamar bos sama nona” Mike memberikan kunci pada Ken dan aku.
“Makasih Mike” ucap ku.
“Sama-sama nona” jawab Mike.
“Baju ganti gue bagaimana?” tanya Ken lagi.
“Sudah ada disana bos. Kemarin aku sudah memerintahkan orang untuk mengisi perlengkapan bos disana”.
“Baiklah. Lo kembali ke rumah. Besok pagi ketemu disini lagi” kata Ken pada Mike.
“Baik bos, saya permisi” Mike pergi meninggalkan aku dan Ken.
Aku dan Ken jalan menuju lift “kenapa kamu juga ikut nginap disini?” tanya ku.
“Tidak mungkin kamu aku tinggalkan sendiri disini. Nanti kalau terjadi sesuatu sama kamu, aku yang akan disalahkan oleh mas Doni” jawab Ken.
Kita sudah sampai di lantai privet room. Disana hanya terdiri 10 kamar, kamar aku berhadapan dengan kamar Ken.
***
Pagi harinya aku sudah bangun dan sholat, kemudian aku ganti baju dan ingin lari pagi sekitar hotel. Aku keluar dari kamar dan Ken juga keluar dari kamarnya.
“Kamu mau kemana?” tanyaku.
“Temani kamu lari pagi”
“Darimana kamu tahu aku akan lari pagi”
“Kan emang sudah menjadi kebiasaan kamu setiap pagi lari pagi”
“Whatever” aku langsung jalan duluan dan Ken mengikuti aku.
Ketika kita makan datang Jihan “Ly..”.
“Han, sarapan dulu?” ucap ku.
“Aku udah sarapan, ini baju kamu” Jihan membawa ganti baju buat aku.
“Makasih. Kamu duluan ke kantor aja ya. Aku akan ke kantor dengan tuan Ken” kataku.
“Baik, Ly” jawab Jihan.
Aku melihat sesuatu yang melingkar dijari manis tangan kiri Jihan “tunggu!”.
“Apa?” Jihan melihat aku dan Ken.
Aku memegang tangan Jihan “ini apa? Kamu gak bilang sama aku ya”.
Jihan jadi malu-malu “maaf Ly”.
“Oh,, jadi karena kamu tunangan disuruh pulang sama paman dan bibi kemarin” ledek aku.
“Lo sudah tunangan, Han?” tanya Ken.
“Iya tuan” jawab Jihan.
“Selamat ya” ucap Ken.
“Makasih tuan” Jihan tersenyum.
Aku berdiri dan memeluk Jihan “selamat ya. Aku senang mendengarnya, tapi jangan lupa kenalin calon suami kamu sama aku”.
“Pasti, sebelum kamu dan tuan Ken berangkat ke luar negeri akan aku kenalkan” ucap Jihan.
“Ya sudah kamu boleh pergi” usir ku.
Setelah Jihan pergi Ken melihat aku “kenapa melihat aku seperti itu?”
“Darimana kamu tahu kalau Jihan tunangan?”
“Aku tahu dong sahabat aku. Dia tidak biasa memakai cincin makanya dengan terpasang cincin di jarinya akan membuatnya menonjol” ucap ku.
“Oh..” Ken manggut-manggut.
***
Ken dan Mike sudah menunggu aku di lobi hotel. Aku masih di kamar sedang bersiap-siap sebab setelah sarapan aku mendapatkan telvon dari mas Doni dan mbak Raisa. Makanya aku jadi lama untuk bersiap-siap.
Setelah selesai aku langsung turun dengan membawa paper bag. Aku melihat Ken dan Mike yang duduk menunggu aku.
“Nona Laili datang, bos” ucap Mike.
Mike berdiri dan Ken melihat aku “sudah siap?” tanya Ken.
“Sudah. Maaf ya aku lama, tadi mas Doni dan mbak Raisa telvon makanya jadi lama” ucap ku.
“Tidak masalah kok” jawab Ken.
“Nona, sini tasnya saya bawa” Mike meminta paperbag yang aku bawa.
Aku memberikan pada Mike, Mike jalan duluan menuju mobil yang sudah disiapkan di depan hotel.
Kita langsung jalan menuju kantor. Di kantor semua orang sudah menunggu aku dan Ken. Tidak lama kemudian kita langsung memulai meetin seperti biasanya.
***
Satu minggu menjelang keberangkatan aku dan Mike keluar negeri. Tiba-tiba mbak Raisa dilarikan ke rumah sakit sebab akan lahiran. Aku sedang meeting di kantor perkebunan bersama Ken.
Jihan datang “Ly, mbak Raisa dibawa ke rumah sakit. Katanya mau lahiran” ucap Jihan.
“Baiklah, aku akan kesana. Kamu lanjutkan pekerjaan disini” kataku pada Jihan.
Aku ke kamar mengambil tas dan menuju mobil. Lalu Ken menghampiri aku “sini aku antar” Ken mengambil kunci mobil aku.
“Tapi...” aku memikirkan pekerjaan.
“Ada Mike dan Jihan, lagian mas Bagas dan Tejo bentar lagi kembali dari peternakan” kata Ken.
“Baiklah” aku memberikan kunci sama Ken.
Aku dan Ken langsung ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit mbak Raisa sudah berada di ruang bersalin. Mas Rian menyuruh aku untuk pulang menjaga Qori. Sebab bisa bik Jum yang datang ke rumah sakit menemani mbak Raisa dan mas Rian.
Ken mengantar aku ke rumah. Di rumah juga sudah ada kak Della, Kayla, sepupu aku, dan bibi aku. Kemudian aku meminta bik Jum dan bibi aku untuk pegi ke rumah sakit.