MY DREAM

MY DREAM
19



Tiba-tiba masuk Mike ke ruangan aku, dia bingung melihat bosnya yang masih tertawa. Sudah lama Mike tidak melihat bosnya tertawa seperti itu.


Ken masih tersenyum-senyum setelah kepergian aku. Dia tidak marah sama aku karena pergi tidak pamit. Biasanya kalau ada orang seperti itu pasti Ken langsung marah.


“Bos...” panggil Mike.


“Ah iya, ada apa?”


“Nona  Laili mengajak kita untuk makan siang di penginapan. Mereka sudah menunggu kita disana”.


“Oh baiklah” Ken berdiri sambil tersenyum mengingat tingkah Laili.


Ken dan Mike sudah sampai di ruang makan yang ada di penginapan tersebut. Semua orang sudah ada disana, hanya Laili yang tidak terlihat.


“Tuan, sebelah sini” Bagas menunjukkan tempat duduk Ken.


“Iya, terimakasih” jawab Ken.


Semua sudah duduk, datang Jihan berbisik sama Bagas untuk mengatakan untuk lanjut saja makan duluan.


“Kepada bapak ibu semua dan tuan Johsnon untuk memulai makan siangnya” ucap Bagas.


Ken mendekati Mike “Laili mana?”.


Mike hanya mengangkat bahunya dengan maksud tidak tahu.


“Maaf pak Bagas, nona Laili tidak ikut makan sama kita?” tanya Ken.


“Maaf tuan, nona Laili sedang bersih-bersih di kamarnya. Setelah selesai sholat dia akan bergabung sama kita” jawab Jihan.


“Oh baiklah” ucap Ken sambil tersenyum.


“Kamar! Apa dia tinggal disini?” gumam Ken dalam hatinya.


Beberapa menit kemudian aku datang dan bergabung sama semua orang “maaf semuanya aku telat”.


Aku duduk di sebelah Ken, lalu datang mang Ujang membawa makanan aku yang berbeda dengan yang lainnya. Aku hanya memakan masakan kampung yang khusus dibuat oleh mbok Ijah.


“Terimakasih mang” ucap aku sama mang Ujang.


“Sama-sama non” mang Ujang kembali lagi ke dapur.


Ken hanya melihat aku yang sedang makan, aku semakin salah tingkah “kenapa melihat aku seperti itu, tuan?”.


“Kenapa makanan kamu berbeda dengan kita?” ucap Ken dengan pelan.


“Karena aku gak suka dan gak makan semua itu” jawab aku jutek.


“Cewek aneh”


Aku melihatnya dengan tatapan kesal “biarin”.


Setelah makan siang Ken dan Mike pamit pada aku dan semua orang. Dia akan langsung pulang ke pusat kota sebab dia akan berangkat ke luar negeri.


Sebelum pulang Ken mendekati aku dan berbisik “coba kita lihat nanti, apa benar saya akan jatuh cinta sama kamu”.


“Nyebelin” ucap aku.


Ken kembali tersenyum melihat tingkah aku. Kemudian dia lanjut jalan menuju mobilnya yang dikendarai oleh Mike.


Jihan melihat perubahan wajah aku “kamu kenapa, Ly?”


“Nggak kenapa-napa, bilang sama mas Bagas, mbak Luna, dan mas Tejo untuk masuk ruang rapat. Ada yang mau aku bicarakan mengenai pembicaraan aku sama tuan Johnson tadi” ucap aku.


“Baik bos, kamu hutang penjelasan sama aku” Jihan pergi.


“Bodoh amat” aku juga pergi.


***


Didalam mobil “Mike, apa lo tahu mengenai Laili?” tanya Ken.


“Tentang identitasnya gitu, gue melihat banyak kesedihan dimatanya. Tapi dia selalu menutupi dengan sifat ceria ketika bersama keponakan dan orang terdekatnya. Kadang dia juga fokus apabila membahas pekerjaan, tapi akan sedih ketika membahas keluarga”.


“Lo yakin ingin dengar, nanti lo iba sama dia. Dia tidak suka orang yang iba dengannya”.


“Cerita saja”


“Oke. Setahu gue dari pak Bagas dan Tejo, dia memang ada masalah keluaga gitu. Orang tuanya meninggal ketika dia kuliah karena sakit. Dia merasa bersalah sama bundanya yang tidak bisa menjaganya karena dia kuliah...”


“Berjarak hampir dua tahun, dia kehilangan ayahnya di pangkuannya sendiri. Kamudian dia down selama satu tahun dan tidak melanjutkan kuliahnya. Katanya ada seorang cowok sih yang memberinya semangat membuatnya untuk melanjutkan kuliahnya....” cerita Mike.


Masih lanjutan cerita Mike “tapi hubungan dia tidak diestui oleh keluarganya. Sehingga cowok itu pergi meninggalkannya tanpa kabar selama setahun ini...”.


“Dia sudah kehilangan mimpi-mimpinya semenjak dia masih sekolah menengah. Hanya karena ornag tua dan keluarga dia mengikuti keputusan mereka semua. Sehingga sampai saat dia terpaksa melanjutkan bisnis orang tuanya dan pergi meninggalkan rumah utama....”


“Sekarang dia tinggal dimana?” tanya Ken.


“Di penginapan bersama Jihan, sekretaris serta sahabatnya itu. Bapak-bapak yang hadir di pembukaan tadi itu adalah rekan bisnis orang tuanya. Hanya karena merasa hutang budi saja mereka ingin membantunya”.


“Maksudnya?” tanya Ken.


“Yang gue dengar dari pak Bagas begitu, mereka tidak akan bantu kalau tidak merasa hutang budi karena kebaikan almarhum orang tua nona Laili yang sudah membantu mereka dulu”.


“Oh begitu..”


“Kenapa lo tiba-tiba ingin tahu mengenai nona Laili. Apa ini alasan lo yang tiba-tiba meminta gue untuk membantunya dulu?” Mike kepo.


“Bukan, gue hanya mengikuti permintaan dari teman gue saja” Ken tidak mau menjelaskan pada Mike.


“Apakah orang itu William?”


Ken kaget “bagaimana lo tahu?”


Mike tersenyum “karena cerita Laili dengan William di kampungnya sudah menjadi omongan setiap orang bos. Apalagi semenjak dia menghilang tanpa kabar bersama keluarganya. Jadi sedikit demi sedikit gue tahu mengenai ceritanya”.


“Gue kira lo tahu dari Dave”


“Dari dia gue juga tahu tapi gue hanya pura-pura gak tahu saja. Tapi apakah tidak masalah nantinya bos, kalau nona Laili tahu semuanya?”


“Itulah yang gue takutkan, tapi setelah gue mendengar penjelasan dari lo dan melihatnya secara langsung aku tidak menyesal untuk bekerja sama dengannya. Lo harus siap-siap minggu besok” Ken memukul bahu Mike.


“Siap-siap ngapain?” Mike tidak paham.


“Kita akan membuat bisnis yang besar nanti bersama Laili di perkampungannya”.


Mike langsung paham dengan perkataan Ken “seperti yang gue duga. Setelah lo melihat tempat itu, pasti lo akan membuat sesuatu yang menakjubkan nantinya”.


“Lo memang saudara terbaik gue, sudah tahu apa yang ada dalam pikiran gue” ledek Ken.


“Terserah lo. Apa lo yakin ingin menemui Thania setelah lo mengetahui semuanya?” tanya Mike.


“Sebenarnya gue belum yakin, gue mau ketemu sama paman. Lo bisa kan bilang paman untuk datang ke mansion malam ini!” perintah Ken.


“Oke, nanti gue bilang papa” ucap Mike.


***


Malam harinya Mike dan papanya datang ke mansion Ken. Kepala pelayan yang berada di mansion tersebut memanggil Ken yang sedang ada di dalam kamarnya.


Pembantu mengetuk pintu dan Ken langsung membukanya “ada apa oma?”.


Oma yang dipanggil Ken adalah oma Lela, kepala pelayan di mansion tempat tinggal Ken. Dia adalah orang yang sudah menjaga Ken dari bayi dan juga menjaga orang tuanya ketika sakit. Ken memanggilnya oma karena memang lebih tua dari almarhum orang tuanya.


“Tuan Jaya datang bersama den Mike” ucap oma.


“Baik oma, sebentar lagi Ken turun” jawab Ken.


Beberapa menit kemudian Ken turun menemui tuan Jaya dan Mike yang sedang duduk di ruang tamu.