MY DREAM

MY DREAM
26



Acara langsung dimulai setelah kedatangan ku. Sebab memang hanya aku yang di tunggu mereka sebelumnya. Selesai acara kita makan bersama dan aku sibuk bersama Qori dan Kayla membuka kado.


Datang kak Della “Ly, kamu ambilkan Ken makan tuh”.


Aku melihat Ken “dia kan bisa ambil sendiri kak”.


“Mana mau dia ambil sendiri, disana penuh dengan ibu-ibu. Kasihan dia belum makan siang hanya ngemil saja”  ucap Della.


“Baiklah” aku meninggalkan Qori dan Kayla bersama Jihan.


Aku pergi mengambilkan makanan buat Ken “buat Ken, Ly?” tanya mbak Raisa.


“Iya mbak” aku mengambil makanan.


Datang Cici mengagetkan aku “mbak!”.


“Cici, ada apa?” aku melihatnya.


“Itu cowok yang bicara sama mas Doni pacar mbak ya?”


“Nggak, dia rekan bisnis mbak. Kamu kenapa kepo sih?”


“Aku tahu mbak, kalau mbak sudah putus dengan mas William” Cici bicara pelan-pelan.


Aku melihat Cici “dimana kamu tahu?”


Cici tersenyum “hehe.. waktu itu aku datang ke penginapan mau ketemu sama mbak. Tapi aku malah melihat mbak membakar barang-barang dari mas William. Aku juga mendengar mbak dan Jihan sedang menceritainnya”.


“Oh.. awas” aku pergi meninggalkannya dan menghampiri Ken yang sedang main dengan Qori dan Kayla.


“Ini buat tuan” aku memberikan piring berisi makanan.


Ken mengambilnya “terimakasih”.


Aku meninggalkannya “eh, kemana?”


Aku tidak menghiraukannya dan langsung pergi mengambil minuman untuknya.


“Kok belum dimakan?” tanya ku setelah kembali dengan membawa minum.


“Aku gak suka makan sendiri, rasanya kesepian” kata Ken.


“Kesepian bagaimana, banyak orang disini. Silakan dimakan, ini minumnya” aku memberikan minuman dan duduk bersama mereka.


Ken tersenyum dan memulai makan, dia makan sambil melihat aku yang sedang bercanda dengan Qori dan Kayla.


***


Esokan paginya kita mengadakan meeting di perusahaan yang ada di kota. Karena akan ada jadwal meeting, aku dan Jihan memutuskan untuk tidur di rumah. Sebab kalau bolak balik akan lama nantinya sampai.


Pagi harinya seperti biasa aku menyiapkan sarapan dengan dibantu Jihan dan bik Jum. Tiba-tiba aku mendengar Qori menangis dan aku langsung masuk ke kamarnya. Ketika aku sudah berada di kamar Qori mbak Raisa juga masuk.


“Ly, kamu disini?”


“Iya mbak, tadi aku dengan Qori nangis makanya langsung masuk” aku melihat mbak Raisa.


“Kalau gitu berikan saja sama bik Jum biar dimandikan dulu”.


“Nggak usah mbak. Mbak siap-siap saja pergi dinas, biar Qori aku yang mandikan” aku menggendong Qori.


“Bukannya kamu ada meeting pagi ini?”


“Iya, nanti jam 9 kok mbak” aku masuk kamar mandi dan mbak Raisa kembali ke kamarnya.


Setelah selesai mengganti baju Qori, kita langsung keluar kamar menuju meja makan. Mbak Raisa dan mas Rian sudah selesai sarapan. Mereka akan berangkat ke rumah sakit, mereka langsung mencium Qori dan pamit.


“Non, biar Qori sama bibik. Non bisa sarapan, nanti non bisa telat pergi meetingnya” ucap bik Jum.


“Baik bik. Sayang, sama bik Jum” aku melihat Qori.


Qori sarapan dengan bik Jum, aku melanjutkan sarapan bersama Jihan. Kemudian aku masuk kamar dan mengganti baju untuk pergi ke kantor.


Aku pamit pada Qori dan bik Jum “bik.. aku pamit ya” bik Jum sedang menemani Qori main di ruangan tengah.


Aku dan Jihan mencium Qori dan salaman sama bik Jum. Kita langsung menuju kantor, sampai di kantor aku langsung masuk ke ruangan ku.


“Han, kamu temui mas Bagas ya. Coba tanya bagaimana persiapan meeting nanti. Setelah itu kalau tuan Johnson sudah datang panggil aku saja” kataku sebelum masuk ruanganku.


“Baik Ly” Jihan langsung mencari keberadaan Bagas.


Bagas tidak ada di ruangannya, ternyata dia sedang sarapan di kantin dengan beberapa karyawan lainnya.


“Mas dicariin ternyata disini” kata Jihan duduk di depan Bagas.


“Jihan, kalian sudah datang. Udah sarapan?” tanya Bagas.


“Sudah mas. Tumben sarapan di kantor, mas?”


“Mbak Luna gak masak, Han. Makanya mas Bagas makan di kantor, coba kalau udah sarapan. Kamu tidak akan susah payah mencari mas Bagas” ledek salah seorang karyawan yang sama makan dengan Bagas.


Semua orang tertawa “Ada apa Han cari mas?” Bagas mengalihkan pembicaraan.


“Ily nanya apa persiapan meeting sudah siap semua?” jawab Jihan.


“Sudah, kita tunggu kedatangan tuan Ken saja” ucap Bagas.


Lalu datang seorang karyawan bawahan Bagas di kantor dengan tergesa-gesa “mas..mas... tuan Johnson dan tuan Mike sudah datang”.


“Oh baiklah” Bagas langsung minum dan menemui Ken dan Mike diikuti oleh Jihan.


Mike dan Ken sedang duduk di ruang tamu yang ada di kantor tersebut “selamat datang tuan” Bagas mengulurkan tangan dan dibalas oleh Ken sama Mike.


“Ayo langsung ke ruang meeting saja” Bagas mengajak Mike dan Ken ke ruang meeting.


Sedangkan Jihan pergi memanggil aku ke ruangan ku.


Di ruang meeting semua orang sudah berkumpul hanya aku saja yang belum datang. Tidak lama aku datang bersama Jihan dan langsung duduk di kursi yang sudah tersedia disana.


Kemudian Bagas langsung memulai meeting dan membahas apa yang sudah di rencanakan sebelumnya.


Hasil dari meeting yang diadakan beberapa jam itu ialah bahwa akan memulai pembangunan. Pembangunan di rencanakan harus selesai lebih kurang selama satu tahun.


Selama pembangunan yang akan memantaunya adalah Jihan dan Mike. Karena aku akan disibukan dengan pembukaan cabang baru supermarket dan minimarket di beberapa kota yang dekat dengan kota tempat tinggal aku.


Sedangkan Ken akan disibukkan dengan bisnisnya yang ada di pusat kota dan di luar negeri. Meskipun dia akan tetap datang memantau dalam sekali sebulan. Selama itu mereka akan mengadakan meeting bersama di penginapan.


Selama pembangunan tempat wisata, akan dibangun juga wisma dan kantor yang lebih besar disana. Penginapan hanya akan dikhususkan untuk para pekerja perkebunan dan peternakan.


Setelah meeting aku bersiap-siap keluar dari ruang meeting dan Ken menghentikan ku “Ly, tunggu”.


“Ada apa?”


“Kita makan siang bareng yuk, ada yang mau aku bicarakan sama kamu”.


Aku melihat Jihan, Jihan mengangguk “baiklah, tuan tunggu di depan saja. Aku mau ke ruangan aku dulu, ada yang mau aku kerjakan sebentar”.


“Oke, baiklah”


Aku dan Jihan meninggalkan tempat tersebut.


Beberapa menit kemudian aku keluar dengan membawa tas aku dan menyusul Ken yang sedang menunggu aku di ruang tamu.


“Maaf sudah menunggu lama” kataku.


Ken berdiri “tidak masalah, sudah siap?”


“Sudah”


Kita langsung jalan menuju mobil Ken yang ada di parkiran. Ken membukakan pintu untuk aku dan aku kaget melihat tingkah Ken.


“Aku bisa sendiri kok” jawab ku sambil masuk.


Ken hanya tersenyum acuh pada ku.