MY DREAM

MY DREAM
47



Ken keluar dari kamar mandi “lo udah makan siang?” Dave melihat Ken.


“Lo fikir bagaimana?” Ken sebal.


Dave tersenyum “belum”.


“Itu lo tahu, kenapa?”


“Kita makan di luar bentar yuk. Ada yang mau gue bicarakan sama lo” Dave memberi kode pada Ken.


“Terus Laili bagaimana?” Ken melihat aku.


Aku mendengar mereka bicara “pergi saja, lagian aku sudah lebih baik kok. Kalau aku butuh sesuatu, nanti aku bisa panggil perawat”.


“Kamu yakin?” Ken mendekati aku.


“Iya. Sekalian urus kapan aku keluar dari sini, bosan tahu disini terus”.


“Baiklah. Setelah aku selesai bicara dengan Dave akan aku tanya sama dokter” ucap Ken.


Dave dan Ken keluar dari kamar aku. Sebelum itu Ken meminta Dave menyuruh beberapa anak buah untuk berjaga di depan pintu kamar aku. Sebab Ken trauma setelah apa yang sudah terjadi sama aku.


“Ayo kita pergi, sebentar lagi mereka datang” ajak Dave.


“Kita tunggu mereka datang” Ken tidak mau pergi.


“Dasar bucin” ledek Dave.


Tidak lama datang empat orang bodugurth. Lalu Ken meminta mereka untuk berjaga dan tidak boleh lalai lagi seperti kemarin-kemarin.


***


Ken dan Dave sudah sampai di restoran “apa yang mau lo katakan?” tanya Ken.


“Apakah masih lama kita disini, sebab gue harus pulang mengurus pernikahan gue yang tidak lama lagi” kata Dave.


“Sampai kita menemui dalang yang menabrak Laili”


“Kalau kita sudah dapat, apa yang mau lo lakukan?”


“Gue akan bunuh dia dan apa alasannya melakukan semua itu”


“Kalau gitu lebih baik kita balik ke Indonesia dulu. Setelah pernikahan gue selesai baru kita kembali kesini lagi dan mencari informasinya” saran Dave.


Sebenarnya Dave suda mengetahui siapa dalang dari penabrakan aku. Sesuai dengan jawaban dari Ken, dia pasti tidak akan melepaskan orang itu sampai kapanpun.


“Tidak bisa Dave, pokoknya kita harus temukan dulu” Ken tidak mau.


“Lo fikir Laili tidak akan kecewa sama lo. Kalau sampai dia tidak hadir di pernikahan sahabatnya sendiri. Kemudian apa bila dia tahu kalau pernikahan sahabatnya ditunda karena masalahnya. Coba lo fikirkan?” Dave masih berusaha membujuknya.


Ken terdiam mendengar perkataan Dave. Semua memang benar yang dikatakan oleh Dave. Tapi dia juga tidak mau egois mengenai semua itu.


“Baiklah, gue bicarakan dulu sama Laili. Tapi lo harus pilih beberapa anak buah lo untuk mencari orang itu sampai dapat” keputusan Ken.


“Semua itu sudah gue urus” jawab Dave.


Mereka langsung melanjutkan untuk makan siang. Setelah selesai makan Ken kembali ke rumah sakit. Sedangkan Dave kembali menemui anak buahnya.


***


Ken masuk kedalam ruang rawat aku “bagaimana kondisi kamu?” tanya Ken melihat aku sedang sibuk dengan tab.


“Sudah lebih baik kok” jawab aku.


“Alhamdulillah aku sudah bisa pulang. Terus bagaimana dengan orang yang menabrak aku itu, apakah sudah ketemu?” aku melihat Ken.


“Belum. Setelah pernikahan Dave dia yang akan mengurusnya. Lagian pekerjaan kita sudah menunggu di Indonesia. Sebab Mike bilang kalau pembangunan sudah hampir selesai”.


“Syukur deh. Akhirnya selesai juga” jawab aku.


Kemudian Ken mendapat telvonan dari Dave. Ken langsung menjauh menjawabnya. Dave mengatakan kalau dia tidak bisa kembali ke rumah sakit sebab banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Dua hari kemudian aku sudah lebih baik. Aku juga sudah diizinkan pulang oleh dokter. Tapi dokter masih memberikan banyak larangan pada aku. Larangan yang membuat aku semakin tidak bisa bergerak kemanapun.


Sampai di hotel aku hanya di suruh istirahat di dalam kamar aku. Sedangkan Ken dan Dave sedang berdiskusi di luar. Mereka membicarakan mengenai rencana mereka selanjutnya.


Sebenarnya aku belum dibolehkan untuk pulang. Sebab operasi yang aku lakukan waktu itu membuat pengaruh pada darah aku. Tidak hanya itu, efek dari aku selalu mendonorkan darah berapa tahun juga membuat kondisi aku lemah.


Karena Dave yang akan menikah dan aku yang selalu minta pulang, makanya Ken bicara pada dokter untuk minta aku pulang. Tapi dengan syarat aku harus melanjutkan pengobatan di rumah sakit setelah sampai di Indonesia.


Ken belum mengatakan pada aku mengenai kondisi aku. Dia takut kalau aku tidak mau berobat. Sebab dia tahu kalau aku sangat trauma rumah sakit. Karena kedua orang tua aku yang meninggal karena sakit. Dan juga aku kehilangan orang karena telat mendapatkan darah aku.


Jadi Ken dan Dave sedang mendiskusikan mengenai kesehatan aku. Makanya Ken meminta aku untuk istirahat di kamar.


“Menurut lo bagaimana Dave?” tanya Ken setelah menceritakan mengenai kondisi aku.


“Kok bisa tubuhnya semakin melemah, tapi gue lihat dia sudah lebih baik kok” Dave bingung.


“Gue juga gak tahu. Kata dokter dia sering mendonorkan darahnya dulu. Jadi karena sudah lama dia tidak mendonorkan darahnya makanya tubuhnya itu melemah. Dia akan sering merasa pusing atau gak pinsan tiba-tiba kata dokter”.


“Apa lo sudah ceritakan sama Laili?” tanya Dave.


Ken menggeleng “kenapa?” lanjut Dave.


“Gue gak tega, setahu gue dia sangat trauma dengan sakit” ucap Ken.


“Sekarang kita kembali dulu ke Indonesia. Nanti lo harus bicarakan sama dia, setidaknya keluarganya juga tahu dengan kondisinya” saran Dave.


“Baiklah, lo atur kita pulang besok pagi. Bilang sama Mike untuk mempersiapkan kebutuhannya di mansion” perintah Ken.


“Baik bos” jawab Dave.


Esokan paginya kita semua sudah meninggalkan kota Paris. Kita sudah berangkat untuk kembali ke Indonesia. Ken dan Dave sangat memperhatikan kondisi aku di dalam pesawat. Mereka rela terjaga dengan melihat kondisi aku.


Aku sendiri bingung dengan tingkah mereka. Aku sudah memintak mereka untuk tidur tapi mereka hanya sekejap memejamkan mata kembali bangun lagi. Aku juga bertanya tapi mereka selalu bilang tidak ada masalah apapun.


Sampai di bandara pun, Ken langsung mendorong aku menggunakan kursi roda. Aku juga langsung dibawa dengan mobil yang berbeda dari sebelumnya.


“Kenapa pakai mobil ini?” tanya aku ketika di dalam mobil.


“Supaya kamu lebih nyaman, pakai mobil ini kamu bisa tidur dengan rileks” jawab Ken.


“Baiklah” jawab aku.


Sampai di mansion semua orang sudah kumpul. Ada juga tenaga medis lengkap yang sudah dipersipakan oleh Mike. Aku bingung melihat semua itu tapi aku belum berani untuk bertanya.


Sampai dalam kamar baru aku bertanya “Ken, kenapa banyak tenaga medis?”.


“Kamu kemarin kan kecelakaan, jadi kondisi kamu harus dicek lagi. Seperti yang sudah dikatakan oleh dokter sebelumnya”.


“Tapi tidak harus seperti ini juga kali” ucap aku.


Ken tidak menjawab, dia langsung memerintahkan dokter untuk memperiksa aku. Setelah selesai aku di suruh istirahat dan makan obat yang dibantu sama oma. Lalu Ken keluar dan bicara sama dokter.