MY DREAM

MY DREAM
37



Aku sudah istirahat di kamar atas perintah Ken. Dia sangat posesif pada ku, aku bukannya tidak mau tapi aku tidak biasa. Aku juga tidak mau nantinya aku merasa ada perasaan lebih nantinya.


Ketika aku sedang membaca email dari pekerja aku, Ken datang bersama Mike dan seorang dokter perempuan masuk.


“Dok, ini Laili. Mohon diperiksa kakinya ya” kata Ken ketika sudah dalam kamar.


“Baik tuan” dokter tersebut langsung memperiksa.


Beberapa menit kemudian dokter selesai memperiksa “bagaimana dok?” tanya Ken.


“Tidak ada masalah yang serius kok. Ini sudah mulai sembuh” jelas dokter.


“Benar kan yang aku bilang, aku udah tidak apa-apa” kataku.


“Baiklah. Mike kita berangkat hari ini juga, bilang sama Dave dan siapkan semuanya” perintah Ken.


“Baik bos, saya permisi” Mike langsung pergi.


“Tuan ini resep sudah saya buat. Sekali lagi saya minta maaf sebab dokter keluarga tuan tidak bisa datang karena ada operasi mendadak” ucap dokter.


“Tidak apa-apa. Bik antar dokter keluar ya dan berikan ini pada sopir” kata Ken pada pelayan yang datang membawa minum untuk aku.


“Iya tuan. Mari dok” ucap pelayan tersebut.


Ternyata dokter yang datang bukanlah dokter keluarga Ken. Jadi belum juga Ken akan mengetahui kalau aku orang yang dia cari selama ini. Sebab aku sudah sering ketemu dengan dokter tersebut selama membatu orang tua Ken.


“Kamu istirahat saja, nanti akan ada pelayan yang akan membantu kamu. Kita akan berangkat setelah makan siang, aku keluar sebentar” kata Ken pada ku.


“Baiklah” jawab ku.


***


Kita sudah siap untuk berangkat ke bandara. Jihan dan Mike juga ikut mengantar kita. Aku dipaksa sama Ken menggunakan kursi roda yang di dorong oleh Ken sendiri.


“Mike lo antar tunangan gue sampai rumah ya” perintah Dave.


“Lo tenang saja, selama ini dia juga sama gue kalik” ucap Mike.


“Ly, kamu baik-baik disana ya. Jangan lupa hubungan aku terus, aku pasti kangen sama kamu” Jihan memeluk aku.


“Iya, aku juga bakalan kangen” ucap aku.


“Mike gue titip semuanya dan sering-sering ke perkebunan” kata Ken pada Mike.


“Siap bos” jawab Mike.


Kita langsung jalan menuju pesawat pribadi Ken, Ken mendorong aku. Aku bukannya tidak menolak menggunakan kursi roda. Tapi percuma saja sebab aku tidak akan menang kalau berdebat dengan Ken.


Masuk dalam pesawat saja Ken harus menggendong aku. Aku sudah menolaknya tapi Ken tetap menggendong aku.


Beberapa jam kita di dalam pesawat, akhirnya kita sampai juga di bandara Amerika. Seperti biasa Ken terus membantu aku. Dia tidak akan membiarkan aku untuk merasakan sakit sedikipun.


“Ken kita kemana, ke apartemen atau ke rumah?” tanya Dave ketika dalam mobil.


“Ke rumah saja, lagian gak mungkin juga kita di apartemen” ucap Ken.


“Baiklah, pak langsung ke rumah” kata Dave pada sopir.


“Dimana-mana kamu ada rumah ya” ucap ku pada Ken.


“Bukan punya ku, punya almarhum orang tuaku. Aku hanya menjalankan apa yang sudah seharusnya. Kalau keinginan aku, aku tidak ingin semua ini” jawab Ken.


“Sama aku juga” gumamku.


“Maksudnya?” Ken melihat aku.


Aku melihat Ken “tidak apa-apa kok” aku tersenyum.


Setengah jam kemudian kita sampai di rumah Ken. Kita turun dari mobil, aku jalan masuk dan sudah disambut sama pengurus rumah tersebut.


“Apakah semua sudah siap?” tanya Ken.


“Sudah tuan” jawab pelayan.


Datang Dave dengan beberapa bodygurth “ini barang-barang lo dan Laili”.


Dave menatap Ken “lo kenapa?” tanya Ken.


Dave memberikan kode pada Ken tapi Ken tidak paham dengan kode yang diberikan Dave. Aku melihat Dave yang jadi salah tingkah karena Ken tidak juga mengertinya.


“Kamu kenapa Dave?” tanyaku.


“Bos, lo yakin?” tanya Dave.


“Yakin apaan?” Ken tidak juga paham.


“Dasar bodoh” gumam Dave.


“Lo yakin nona Laili tidur di kamar sebelah lo. Bukannya itu...” ucap Dave.


Ken langsung paham dengan maksud perkataan Dave “tidak apa-apa. Sebab barang-barang wanita itu sudah dibuang sama pelayan”.


“Baiklah” jawab Dave.


“Ly, kamu istirahat dulu. Nanti aku bangunkan kalau sudah waktunya makan malam. Dave antar Laili ke kamarnya, setelah itu masuk ke ruang kerja gue” perintah Ken.


“Iya” Dave mengangguk.


“Kamu gak istirahat juga?” tanya aku pada Ken.


“Aku ada kerjaan sebentar, lagian aku udah biasa melakukan perjalanan jauh ini” jawab Ken.


“Ayo nona” ajak Dave.


Aku dan Dave langsung naik ke lantai dua. Kita masuk menggunakan lift sebab Ken pasti marah kalau aku jalan naik tangga. Dia masih menganggap kalau kaki aku masih sakit.


Sampai di depan kamar aku “ini kamar nona. Disebelahnya kamar bos” ucap Dave.


“Iya thanks”


“Kalau begitu gue langsung menemui bos, nona istirahat saja” Dave pamit.


Aku teringat dengan perkataan Dave “tunggu”.


Dave melihat aku “kenapa?”


“Boleh aku nanya maksud perkataan kamu sama Ken tadi?” tanyaku.


“Oh itu. Ini dulunya kamar mantan pacar bos. Tidak boleh siapa pun yang masuk dan tidur disini. Kalau dia tahu dia akan mengamuk pada semua isi rumah ini” jelas Dave.


“Kejam juga ya. Kalau gitu aku pindah kamar saja” kataku.


Dave tersenyum “gak usah. Dia sudah tidak bisa lagi menginjak rumah ini”.


“Kenapa?” aku semakin kepo.


“Lo tanya saja nanti sama si bos. Gue harus menemui bos dulu” kata Dave pamit meninggalkan aku.


Aku langsung masuk kamar dan melihat sekeliling. Memang benar kamar tersebut sangat besar dan sama mewahnya dengan kamar yang aku tinggali di mansion Ken di Jakarta.


***


Ken dan Dave sedang membicarakan pekerjaan yang akan mereka lakukan selama di Amerika. Kemudian rencana mereka akan pergi ke Paris selama seminggu. Tapi sebelum itu mereka akan menyelesaikan pekerjaan di Amerika.


Beberapa jam kemudian Ken kembali ke kamarnya untuk bersih-bersih. Tapi sebelum itu dia ingin memeriksa aku di kamar. Ketika dia akan menekan knop pintu, dia langsung menahannya. Sebab dia teringat dengan kejadian ketika di perkebunan. Dia tidak jadi masuk dan langsung jalan ke kamarnya.


Selesai maghrib Ken mengetuk kamar aku, tepat saat itu aku selesai sholat. Aku langsung membuka pintu kamar dan aku masih memakai mukenah.


“Kenapa?” tanyaku.


“Ayo makan malam, Dave sudah menungu” ajak Ken.


“Iya bentar aku pakai hijab dulu” aku kembali menutup pintu.


Setelah selesai kita langsung turun menuruni tangga. Kaki aku sudah tidak sakit lagi meskipun kaki aku masih sedikit pincang. Benar dimeja makan Dave sudah menunggu kita bersama seseorang.


“Itu siapa?” tanyaku pada Ken sambil jalan.


“Nanti kamu akan tahu juga” kata Ken.