MY DREAM

MY DREAM
40



Ken sudah selesai sholat, dia langsung menghampiri aku. Ternyata selama dia sholat aku belum memesan makanan. Aku hanya memesan minum sambil main ponsel.


“Maaf ya lama nunggu” kata Ken sambil duduk.


“Iya tidak apa-apa. Apa sudah bisa pesan makanan, aku lapar” ucapku.


“Kenapa gak dari tadi aja pesan”


“Mana enak kita pesan dulu. Sedangkan yang owner saja belum datang”.


“Iya sih”


Ketika kita ngobrol baru datang rekan bisnis Ken. Dia juga yang akan menjadi investor proyek aku dan Ken.


“Maaf ya, kita telat” ucap rekan bisnis tersebut.


“Tuan, kenalkan ini Laili. Ly kenalkan ini tuan Frans dan istrinya nyonya Angel” Ken memperkenalkan aku pada rekan bisnis.


“Laili..”


“Frans..”


“Angel..”


Kita saling berjabat tangan.


“Silakan duduk” ucap Frans.


Kita langsung duduk, kemudian kita langsung memesan makanan. Kita akan makan malam dulu baru setelah itu kita akan membicarakan bisnis.


Akhirnya kita selesai membicarakan pekerjaan. Tuan Frans bersedia menjadi investor dalam proyek kita. Setelah semua pembangunan sudah selesai, mereka akan datang untuk ke Indonesia untuk tandatangan kontrak serta membawa kuda-kuda pilihan kita.


“Ken, lo yakin hanya rekan kerja dengan Laili” kata Frans dengan bahasa Prancis.


Sebenarnya Ken dengan Frans adalah teman ketika Ken kuliah di luar negeri. Mereka sudah kenal lama makanya mereka bisa menjalin kerja sama.


Aku bukannya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi aku hanya pura-pura tidak mengetahuinya ketika mereka melihat aku. Angel yang mendengar hanya senyum-senyum.


“Iya, emang kenapa?” jawab Ken dengan bahasa perancis juga.


“Cara kalian melihat dan perhatian lo itu bukan seperti rekan kerja. Apa jangan-jangan lo suka kan pada dia” ejek Frans.


“Jangan gosip” bantah Ken.


“Benar kan sayang” Frans bertanya pada Angel.


“Iya” Angel tersenyum.


Aku melihat Ken “kenapa?” dalam bahasa Indonesia.


“Tidak apa-apa (bahasa Indonesia). Sudah Frans, lo tunggu sajalah (bahasa Prancis)”.


“Oke..” Frans tersenyum.


Setelah selesai pembicaraan kita, kita langsung pamit. Di mobil Ken masih mengingat perkataan Frans sambil melirik aku.


Aku melihat Ken “kamu kenapa?”


“Tidak kenapa-napa. Oya pekerjaaan aku sudah hampir selesai dan kerjasama kita sudah selesai. Untuk beberapa hari ini kamu mau kemana. Aku sudah free dan bisa menemani kamu” kata Ken.


“Kemana saja, aku ikut aja” jawabku.


“Oke, aku akan ajak kamu ke suatu tempat yang spesial disini” ucap Ken.


Tidak lama kita sampai di rumah. Kita langsung masuk kamar masing-masing dan istirahat.


***


Pagi harinya aku sudah bangun dan langsung menyiapkan sarapan. Setelah semua sudah terhidang di meja makan aku masuk kamar dan bersih-bersih.


Ken turun dari kamarnya dan langsung menuju ruang makan. Disana sudah ada Dave yang sedang duduk makan. Ken kaget melihat sarapan yang berbeda dari biasanya.


Dave melihat Ken “apa yang lo lihat?”


“Makanan ini, siapa yang masak ya?” Ken duduk di depan Dave.


“Tadi gue juga heran seperti lo, kata pelayan Laili yang masak dari subuh. Katanya dia kangen masakan rumahan” penjelasan Dave.


“Oh.. baguslah, ganti-ganti menu sekali-kali” Ken duduk.


Tidak lama aku pun turun dan menghampiri mereka berdua “pagi...” sapaku.


“Pagi...” jawab mereka berdua.


“Kita pasti suka Ly, lihat Dave yang duluan makan sudah menghabiskan banyak makanannya” ucap Ken.


“Beneran Ly, ini enak sekali” sambung Dave.


Ketika selesai makan Ken dan Dave masuk ke ruang kerja Ken. Mereka ada yang mau mereka bicarakan soal pekerjaan. Setelah itu Ken baru mengajak aku jalan-jalan.


Aku dan Ken jalan-jalan mengitari kota. Dia mengajak aku ke tempat yang belum pernah aku datangi bersama Galu. Ketika kita sedang makan siang datang Thania menghampiri kita.


“Hai...” sapa Thania.


Kita sama-sama kaget “hai..” jawabku.


Ken kaget melihat aku kenal dengan Thania “ngapain disini?” tanyaku lagi.


“Aku baru saja siap makan siang, lo darimana?” tanya Thania.


“Jalan-jalan doang. Kenalin ini Ken dan Ken ini Thania” aku memperkenalkan mereka.


Ken sedang berusaha menahan emosinya, dia mencoba rileks. Ken berjabat tangan dengan Thania begitu juga sebaliknya.


“Kalau gitu silakan lanjut makan siangnya, gue pamit ya” Thania langsung meninggalkan kita.


Sebelum Thania pergi dia memberi kode pada Ken. Ken menatap Thania dengan marah.


“Ly, tunggu bentar ya. Aku mau ke toilet dulu” Ken pergi menemui Thania.


Thania sudah menunggu Ken di depan toilet “kenapa lo berani menemui Laili?” tanya Ken langsung.


Thania tersenyum “karena gue ingin membuktikan apa kata anak buah lo itu benar. Tapi nyatanya dia hanya rekan kerja kamu” ledek Thania.


“Kalau untuk saat ini benar. Apapun yang terjadi lo juga tidak akan bisa balik lagi sama gue. Ingat ya, kalau lo sampai berani lagi menemui Laili ingat apa yang akan terjadi nantinya sama lo dan James” ancaman Ken.


“Lo hanya mengancam gue kan” ledek Thania.


“Oke, akan gue buktikan. Awas lo datang memohon sama gue” Ken meninggalkan Thania dan masuk menemui aku.


Aku sudah selesai makan, aku sedang main ponsel “maaf ya nunggu lama” ucap Ken.


Aku melihat Ken “tidak masalah kok. Ada yang mau kamu katakan sama aku” aku masih fokus dengan ponsel.


“Maksudnya?” tanya Ken yang tidak paham sama perkataan ku.


“Kamu udah selesai makan, kalau belum silakan dilanjutkan dan setelah itu sholat” ucap aku yang masih fokus dengan ponsel aku.


“Aku udah selesai, aku sholat dulu” Ken minum dan setelah itu dia langsung pergi ke mushallah sholat.


Aku melihat Ken yang pergi. Sebenarnya aku melihat Ken bicara dengan Thania. Sebab aku tadi pergi ke toilet untuk berwudhu mau sholat. Disana aku juga mendengar sedikit pembicaraan mereka.


Setelah Ken selesai sholat dia langsung membayar makanan kita. Aku sudah jalan duluan ke mobil. Ken menyusul aku dan langsung menekan kunci mobil supaya aku bisa masuk dalam mobil.


Aku langsung masuk mobil, tidak lama Ken menyusul aku masuk. Ken langsung melihat aku yang hanya diam tidak seperti biasanya.


“Kita kemana lagi?” tanya Ken.


“Pulang saja, aku sudah capek” jawabku,


“Kenapa gak lanjut saja jalan-jalannya, kan kamu ingin ketempat kamu sukai itu” ucap Ken.


“Nggak usah kapan-kapan saja, aku udah capek” jawabku.


“Baiklah” Ken melanjutkan pulang.


Hampir setengah jam kita sampai di rumah. Aku langsung keluar dari dalam mobil. Dave yang keluar dari dalam rumah menyapa aku.


“Ly, kok udah pulang?” tanya Dave.


“Lagi gak mood” aku langsung masuk rumah.


Ken juga keluar dari dalam mobil dan menghampiri Dave yang berdiri.


“Kenapa?” tanya Dave.


“Nggak tahu. Gue belum sempat nanya. Sepertinya dia tahu hubungan gue sama Thania”.


“Thania?” Dave bingung.


“Gue gak tahu mereka kenal dimana, tapi tadi kita sempat ketemu sama Thania”.


“Lebih baik lo tanya dan jelaskan. Sebab beberapa hari lagi kita harus terbang ke Paris” saran Dave.


“Oke, baiklah” Ken menepuk pundak Dave dan langsung masuk rumah.