
“Aku tidak akan pernah memutuskan hubungan ini. Terserah dengan kamu, kalau kamu ingin pergi dari aku, aku tidak masalah. Aku hanya ingin memberitahu kamu, kalau aku dapat tawaran kerja di luar negeri” ucap William.
Aku melihatnya “so!”
“Aku akan berangkat seminggu lagi, aku besok harus pulang dan menyiapkan semuanya. Kalau kamu mau menunggu aku dan melaksanakan mimpi-mimpi kita, aku harap kamu bisa menunggu aku setahun saja” lanjut William.
“Kamu akan pergi kemana?” tanya aku.
“Aku akan pergi ke Malaysia, sebab aku harus mengawal bos teman aku yang bekerja disana selama setahun”.
“Malaysia? Kenapa Malaysia?”
“Sebab hanya negara itu aku yang paham bahasanya, kamu tahu aku bukan seorang sarjana dan tidak lulus sekolah menengah. Aku hanya punya keahlian bela diri, jadi aku akan bekerja sesuai dengan kemampuan ku, sesuai dengan keinginan kamu”.
“Tapi...”
“Tidak usah takut, sebenarnya aku sudah berlatih satu bulan ini. Aku sudah tahu bagaimana menggunakan senjata dan bela diri lainnya”.
Aku sebenarnya sangat takut dengan pekerjaan William, tapi dia hanya mengikuti apa yang aku inginkan. Dulu aku memang pernah mengatakan lebih baik jadi bodygurth dari pada preman di jalanan dan pasar. Bodygurth jelas ada perusahaannya dan jika terjadi masalah akan ada tanggung jawabnya.
Aku tidak menyangka dia mengikuti keinginan aku untuk menjadi bodygurth. Meskipun aku belum tentu sanggup untuk berpisah sejauh itu aku akan berusaha. Sebab aku berharap dia akan baik-baik saja nantinya.
“Baiklah jika itu pilihan kamu, aku akan mengantar kamu ke bandara” kata aku.
“Baiklah” William mengusap kepala aku dan pergi ke hotel untuk chek out.
Aku mengantar William ke bandara, sebab dia akan pulang ke rumahnya untuk mempersiapkan keperluannya. Selama di dalam mobil menuju bandara aku hanya melamun.
“Sayang.. sayang.. kenapa?” William membuyarkan lamunan aku.
“Tidak apa-apa, pesawat jam berapa?” aku mengalihkan pertanyaan.
William tersenyum “ini sudah sekian kali kamu bertanya. Aku tahu kamu khawatir sama aku, nggak usah takut. Aku akan selalu menghubungi kamu kok” William berusaha menenangkan aku.
“Iya. Nanti berangkat ke Malaysia dari mana?” tanya aku lagi.
“Dari sini lah sayang, kan tidak ada dari kota kita pesawat yang langsung kesana. Nanti setelah sampai disini lagi, kita akan ketemu lagi. Ayo turun” ajak William.
Sebelum berangkat William mengajak aku makan malam di bandara. Sebab peswatnya akan chek in jam 10 malam. Kita langsung menuju restoran yang ada di bandara.
Tidak lama kemudian pesawat William sudah lepas landas. William sudah kembali ke rumah, sedangkan aku langsung menuju parkiran dan kembali ke kontrakan. Ketika aku turun aku melihat kotak di kursi belakang.
Aku mengambil kotak tersebut, ternyata isinya adalah jam tangan yang pernah aku ceritain sama dia. Dia membelikan jam tangan itu sebagai hadiah wisudah aku.
“Selamat sayang dengan gelar yang barunya. Semoga manfaat ya ilmu yang di dapatkannya. Maaf mungkin aku belum bisa menjadi pacar yang terbaik buat kamu. Jangan pernah telat makan ya dan selalu semangat. I Love you sayang, milikmu dengan emoticon hati” isi kartu ucapan yang ada didalam kotak tersebut.
Seminggu kemudian William datang lagi ke pusat kota. Dia akan menginap di basecam perusaaan sebelum pergi. Jadi William minta izin sama bosnya untuk menemui aku sebelum berangkat.
William sudah mendapat izin, lalu dia menghubungi aku dan menanyakan aku dimana. Aku saat ini sedang ada di super market dekat dengan kontrakan. Aku sedang membeli kebutuhan aku yang sudah habis.
Ketika aku keluar dari super market, William sudah berdiri di depan super market. Aku kaget karena tiba-tiba dia datang disana.
“Sayang, kapan sampai?” aku menghampirinya.
“Tadi siang, setelah makan siang aku langsung minta izin sama bos untuk menemui kamu. Sini aku bantu” William mengambil barang bawaan aku.
Kita berjalan ke mobil aku, aku membukakan pintu belakang mobil dan William memasukan semua barang. Kemudian aku memberikan kunci mobil dan menyuruh William yang membawanya.
“Sayang jam berapa berangkatnya?” tanya aku di mobil.
“Besok, pesawat pagi”
“Kalau gitu kita ke kontrakan dulu, kemudian kita baru jalan-jalan ya” ucap aku dengan happynya.
“Iya sayang” William memagang tangan aku.
Sampai di rumah aku membawa semua barang belanjaan masuk dan meletakan di dapur. Sedangkan William seperti biasa menunggu aku yang sedang siap-siap di kursi yang ada di teras rumah.
Meskipun kita tinggal di kota besar, tapi William selalu menjaga aku. Dia memang memperlakukan aku berbeda dengan mantan-mantan pacarnya dulu. Dia tidak pernah memaksakan apa keinginannya pada aku.
Jika dia ingin sesuatu dan aku sudah bilang tidak, dia tidak akan memaksa aku. Aku bukannya tidak mau mewujudkan keinginannya tapi aku hanya menjaga trauma yang pernah aku alami sebelumnya. Setengah jam kemudian aku selesai bersiap-siap dan keluar menemuinya.
“Sayang, ayo!” kata ku.
“Oke” kita langsung naik mobil dan pergi jalan-jalan.
Kita akan pergi menonton sebelum makan malam setelah makan malam kita lanjut jalan mengitari kota. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Aku mengantar William kembali ke basecam dan langsung pamit untuk kembali ke kontrakan.
Esokan paginya aku bangun melaksanakan sholat subuh, setelah sholat aku melihat ponsel. Ternyata ada pesan dari William yang mengatakan kalau dia sudah jalan menuju bandara. Dia juga sudah naik pesawat menuju Malaysia.
Kemudian aku langsung membalas pesan dari William, sebab aku yakin pasti dia sedang dalam pesawat. Pagi harinya aku seperti biasa sarapan pagi dan beres-beres sebelum ke kampus.
Sampai di Malaysia William membalas chat dari aku, dia mengatakan kalau dia sudah sampai. Setelah itu dia langsung mulai tugasnya dengan menjadi seorang bodygurth. Aku akan turun dari mobil dan melihat pesan dari William, lalu aku balasnya dan langsung keluar mobil.
Seminggu kemudian ijazah aku sudah keluar, aku akan balik ke kota tempat aku. Tapi aku kehilangan kabar dari William, semenjak dia sampai dia tidak ada menghubungi aku. Sebulan beralalu, William masih belum memberi kabar tentangnya.
Sampai akhirnya aku ditanya-tanya sama mbak Raisa mengenai percintaan aku. Aku bilang tidak ada hubungan dengan William tapi aku juga tidak ingin dilarang tetap berhubungan dengan William. Sebab aku tidak ingin merusak silaturahmi dengan siapapun.
Hingga keputusan aku untuk mulai kerja mengurus bisnis ayah dan bunda. Aku juga memutuskan untuk pindah ke perkebunan sebab tidak mau lagi bertengkar dengan mbak Raisa. Waktunya pun tiba aku sudah tinggal di perkebunan dan menjalankan bisnis almarhum orang tua aku.