MY DREAM

MY DREAM
32



Siang menjelang sore Qori dan Kayla bangun dari tidurnya. Aku sedang membicarakan pekerjaan bersama Ken di depan penginapan. Kemudian aku mendengar suara bocah menangis.


“Sepertinya mereka sudah bangun” ucap aku pada Ken.


“Kamu lihat gih” ucap Ken.


Aku masuk kedalam kamar ku, kemudian aku sudah melihat Qori menangis “sayang, jangan nangis. Nanti adeknya kebangun dan nangis juga” kataku.


Setelah melihat aku Qori terdiam, tidak lama Kayla juga bangun “sayang, keluar ya cari uncle Ken. Unty mau menggendong dek Kayla” kataku pada Qori.


Qori mengangguk dan turun dari kasur. Qori sudah keluar duluan menemui Ken yang berada di gazebo depan penginapan. Aku langsung menggendong Kayla menyusul Qori.


“Uncle...” panggil Qori.


“Sini sayang” Ken membantu Qori naik gazebo.


“Uncle menonton youtube” ucap Qori ketika melihat laptop di depannya.


“Iya sebentar” Ken langsung mencari tontonan anak-anak untuk Qori.


Datang aku bersama Kayla “boleh aku minta tolong?”


Ken melihat aku “kenapa?”


“Aku mau ke dapur ambil susu dan makanan buat mereka. Tolong pegang Kayla dulu” ucap ku.


“Sini” Ken mengambil Kayla.


Aku langsung kedapur menemui mbok Ijah. Kemudian aku kedepan lagi membawa susu dan makanan bersama mbok Ijah.


“Makan sambil nonton ya. Qori makan sendiri atau disuap?” tanyaku.


“Disuap” jawab Qori.


“Minta tolong sama uncle, unty mau menyuapkan Kayla juga. Bilang uncel, uncle suapin Qori dong” ucap aku seperti anak kecil.


Ken bergidik ngeri melihat ku “gak cocok”.


Aku tersenyum “Kay, sama unty” aku mengambil Kayla pada Ken.


“Qori..” ucap ku pada Qori.


Qori melihat aku dan Ken mau mengatakan apa yang aku katakan “iya uncle suapkan. Tapi janji ya harus habis” kata Ken sambil mengambil piring makan Qori.


“Iya uncle” jawab Qori dengan senyum.


Aku dan Ken menyuapkan mereka makan. Setelah makan, kita istirahat sebentar. Kemudian aku memandikan mereka sebab sudah sore. Setelah aku memberikan mereka pada Ken yang juga sudah siap mandi.


Setelah itu aku siap-siap mandi, kita akan pergi jalan-jalan sore sambil mengantarkan mereka pulang. Karena orang tua mereka sudah menanyakan mereka dari tadi.


Satu jam kemudian kita naik mobil Ken yang dibawa oleh Ken. Qori dan Kayla duduk dibelakang menggunakan tempat duduk mereka yang sudah disiapkan.


***


Setelah mengantar Qori dan Kayla ke rumah masing-masing. Aku dan Ken kembali lagi ke perkebunan.


“Ly, makan malam dulu sebelum ke penginapan ya?” ajak Ken.


“Terserah kamu saja” jawabku.


“Mau makan apa dan dimana?”


“Apa ya, aku juga bingung mau makan apa. Kita makan di kafe teman aku yuk, tidak jauh dari sini”.


“Oke” Ken setuju.


Aku mengarahkan Ken membawa mobil ke kafe teman aku. Sebenarnya kafe itu adalah kafe hits anak muda zaman sekarang. Disana juga terdapa live musik, sehingga kafe tersebut menjadi tempat nongkrong anak muda.


Sampai di kafe Ken melihat aku “yakin mau makan disini?”


“Yakin dong. Kamu gak pernah nongkrong kan? Inilah tempat nongkrong anak muda zaman sekarang. Tidak hanya di bar bisa goyang-goyang, disini juga bisa tanpa alkohol lagi” ucap ku.


“Kamu jangan meremehkan aku, Ly. Aku gak suka kehidupan malam seperti itu. Tapi kalau ini gak masalah juga kok. Ayo turun” Ken menghentikan mobilnya.


Aku keluar dari mobil dan jalan masuk, owner kafe melihat aku datang langsung menghampiri aku.


“Terimakasih, maaf ya baru datang sekarang” ucapku.


Ken mengikuti ku dibelakang “tidak masalah, yang penting lo sudah datang. Ayo masuk, ini kan juga punya lo” ucap temanku.


Ken mendengar perkataan teman aku dan melihat aku. Tapi aku hanya tersenyum dan masuk mengikuti teman aku itu. Begitu juga dengan Ken yang mengikuti dari belakang.


Aku langsung diajak ke ruangan VIP dan bertemu dengan tiga orang teman aku yang lainnya. Benar ini adalah kafe aku juga, tapi aku hanya punya beberapa persen saham disini. Aku hanya membantu mendanai mereka, sebab mereka dulu memang kekurangan dana ketika membangunnya.


Sebenarnya aku hanya ingin membantu mereka untuk mendanai. Tapi mereka tetap memasukan beberapa persen saham untuk aku di kafe tersebut. Aku hanya ingin menerima beberapa persen keuntungan dari mereka.


Aku memperkenalkan Ken pada semua orang disana. Mereka langsung mengejek aku dan ken. Tapi aku langsung membantah apa yang mereka katakan.


Temanku memanggil seorang pelayan untuk memberikan menu “kamu pesan apa?” tanya ku pada Ken.


“Apa yang spesial disini?” tanya Ken.


“Mana aku tahu” bisik ku.


“Tapi kamu juga pemilikinya, masa kamu gak tahu sama sekali” balas Ken.


Aku bete “guys kita pesan makanan dan minuman yang spesial dari kafe ini ya” ucap aku pada teman-temanku.


“Lo yakin?” tanya salah satu temanku.


“Pesan aja lah” aku melihat temanku.


“Bawa saja kesini makanan dan minuman spesiap buat mereka ya” lanjut teman ku yang lain pada pelayan.


“Baik mbak” jawab pelayan.


Sambil menunggu makan kita mendengarkan live musik. Aku juga sambil cerita-cerita sama teman aku. Sedangkan Ken bicara dengan teman aku yang laki-laki. Aku tidak tahu entah apa yang dia bicarakan.


“Siapa dia Ly?” tanya temanku.


“Dia patner bisnis aku, kalian berdua pasti kaget kalau tahu dia siapa”


“Emang siapa?” kepo temanku.


“Dia itu direktur dari Johnson grup” jawabku pelan.


Teman-temanku langsung menutup mulutnya dengan kaget “lo yakin?” katanya pelan.


Aku mengangguk “pantasan gue merasa pernah lihat tadi, ternyata dia CEO Johnson grup” kata temanku satunya.


“Sstt.. dia melihat” kataku.


Tidak lama pesanan datang, aku melihat semua makanan yang datang. Makanan tersebut adalah makanan seafood dan minumannya adalah kopi.


Aku melihat pada teman-teman “jadi ini makanan spesial disini?”.


“Iya, makanya gue nanya tadi. Apa lo yakin?” ucap temanku.


“Emang kenapa?” Ken melihat aku dengan heran.


“Maaf tuan, Laili kan gak makan seafood dan kopi kalau malam-malam. Makanya tadi gue kurang yakin mengeluarkan ini semua” jawab temanku.


“Kalian ya” aku menatap semua temanku.


Ken melihat menu kembali dan langsung memesankan makanan yang bisa aku makan dan minuman jus yang biasa aku pesan. Semua teman aku disana tercengang mendengar pesanan yang di pesan oleh Ken.


“Tuan, kok bisa tahu makanan kesukaan Ily?” tanya salah satu teman aku.


Ken hanya tersenyum dan aku menjadi salah tingkah.


“Kata lo gak ada hubungan tapi dia tahu apa yang lo sukai” bisik temanku.


“Diamlah, ini juga salah kalian” aku kesal.


Terpaksa Ken yang menghabiskan semua makanan tersebut. Ken juga mengajak teman-teman aku untuk ikut makan. Sebab tidak akan mungkin dia yang menghabiskannya sendiri.


Hampir tengah malam teman aku meminta Ken untuk menyumbangkan lagu. Dengan terpaksa Ken mengikutinya, dia bernyanyi dihadapan penonton yang sangat banyak.