
Aku sedang mengontrol perkebunan dengan Tejo, tiba-tiba datang Jihan yang baru selesai mengontrol proyek bersama Mike.
“Mas, menurut mas apa aku harus nambah karyawan lagi untuk dipercaya disini?” tanya ku sama Tejo.
“Kalau mas sih terserah kamu saja, Ly. Tapi sebaiknya begitu, kalau mas memang kurang sanggup untuk mengerjakan keduanya” ucap Tejo.
“Benar Ly, sebaiknya kamu memang mencari tambah orang lagi untuk menjadi kepercayaan kamu disini. Kasihan mas Tejo yang mengurus semuanya” ucap Jihan.
“Apa mas dan kamu ada saran orang atau bagaimana?”.
“Kenapa tidak sepupu kamu saja Ly, si Joko” kata Tejo.
Aku sedikit ragu pada Joko, tapi selama ini aku hanya mendengar berita dari orang kampung saja mengenai dia yang ingin menghancurkan usaha ayah. Selama aku kenal dia dari kecil aku tidak merasa dia bersifat seperti itu.
“Bagaimana, Ly?” tanya Tejo yang melihat aku diam.
“Baiklah, nanti mas suruh dia datang menemui aku di kantor. Ayo Jihan” aku langsung pergi meninggalkan Tejo.
Jihan bertanya-tanya kenapa aku ragu menjawab permintaan dari Tejo “Ly, kenapa kamu sepertinya ragu pada Joko?”.
“Aku takut apa yang dikatakan orang-orang benar mengenai dia yang ingin menghancurkan usaha ayah dan bunda” jawabku sambil jalan ke kantor.
“Kalau ragu kenapa kamu harus terima?”
“Karena aku rasa dia tidak seperti itu, sebab aku sudah kenal dia dari kecil lagi. Dia juga dekat dengan aku selama ini”.
“Kalau kamu percaya ya lanjutkan saja, tapi kamu kan bisa memantaunya dari jauh. Masalah keungan bisa kita cari orang lain, seperti mas Tejo yang juga memiliki sekretaris mengurus semuanya” saran Jihan.
“Baiklah, nanti masalah sekretarisnya aku bisa minta bantuan mas Bagas atau gak mbak Luna yang memilihnya. Sebab dia yang lebih paham masalah itu dari pada kita” keputusan ku.
***
Pagi harinya aku sedang berada di kantor, masuk Jihan “Ly, aku mau membacakan jadwal kamu minggu ini”.
“Iya, silakan”
“Besok kita ada meeting bulanan dengan tuan Ken. Kemudian lanjut permbukaan mini market dan setelah pulang dari sana ada pesta ulang tahun Qori”.
“Kok cepat sekali meetingnya, bukannya minggu depan?”
“Iya, tuan Mike bilang harus cepat sebab akan membicarakan mengenai perekrutan karyawan yang akan bertanggung jawab di kantor, wisma, dan tempat wisata”.
“Cepat sekali” aku melihat Jihan.
“Iya, kata tuan Mike dua bulan lagi kamu sama tuan Ken akan keluar negeri. Makanya di percepat dari perkiraan kita kemarin”.
“Aku kan belum memutuskan untuk berangkat, kenapa dia sudah memutuskannya sendiri” aku kesal.
Jihan mengangkat bahunya dengan maksud tidak tahu sama sekali dengan rencana tersebut. Sebab dia hanya mengikuti hasil diskusi bersama Bagas dan Mike.
Aku mencari ponsel untuk menghubungi Ken untuk mengkonfirmasi semuanya. Ketika aku sedang kesal-kesal datang Tejo dengan Joko mengetuk pintu.
“Permisi Ly, Joko datang dan ingin bertemu sama kamu” kata Tejo.
“Iya mas” aku melihat Jihan “Han, mengenai keberangkatan aku itu nanti aku katakan. Aku mau bicara sama Joko dulu” ucap aku.
“Tidak bisa Ly, tuan Ken sudah on the way hari ini kesini” kata Jihan.
Aku kaget “apa! Baiklah, besok bisa aku bicarakan bersama Ken. Kamu bisa lanjutkan pekerjaan kamu lagi” aku menyuruh Jihan pergi.
Setelah Jihan pergi Tejo juga ikut pergi, Joko masuk dan menghampiri aku “silakan duduk” ucap aku pada Joko.
“Bagaimana kabar kamu dan anak istri kamu?” aku memulai percakapan sambil membereskan berkas-berkas.
“Alhamdulillah sehat mbak, ada apa mbak panggil aku kesini?” tanya Joko.
“Mula hari ini aku tugaskan kamu untuk bertanggung jawab menjadi kepala mengurus peternakan sama seperti mas Tejo. Nanti akan ada yang akan membantu kamu juga disana” kataku.
Joko kaget “mbak yakin ingin merekrut aku bekerja disini?”
“Iya, tapi kerjalah dengan jujur dan ikhlas. Ingat istri dan anak kamu di rumah membutuhkan kamu. Aku gak mau gosip yang sudah beredar itu menjadi benar. Aku juga gak mau paman semkain malu sama kamu”.
Joko tertunduk “baik mbak”.
“Nanti temui mas Tejo dan tanya sama dia apa pekerjaan kamu. Satu lagi jangan pernah merusak kepercayaan aku dan paman. Sekarang kamu boleh pergi” usir aku.
“Terimakasih mbak”
“Iya, sama-sama” jawab aku.
***
Aku sedang berada di kamar, kemudian aku teringat dengan pembicaraan aku dengan Jihan tadi. Aku langsung menghubungi Ken tapi tidak di angkatnya. Aku sangat kesal pada Ken karena seenaknya memutuskan apa yang belum aku putuskan.
Ketika aku mau tidur Ken menghubungi aku dan aku langsung menjawabnya “assalamualaikum” ucap Ken.
“Waalaikumsalam”
“Ada apa?” tanya Ken.
“Ada apa? Aku yang mau nanya sama kamu, kenapa kamu memutuskan apa yang belum aku putuskan ha” aku kesal.
Ken tersenyum “bisa tenang gak? Jadi malam-malam kamu menelpon aku hanya ingin berdebat ini. Besok saja kita bahas, aku capek mau istirahat. Assalamualaikum” Ken langsung menutup telepon dengan tersenyum.
“Halo... Halo... Ken... Keanuuu....” teriak aku dengan kesal.
Ken tahu saat itu aku sedang kesal dan marah padanya. Ken juga tahu kalau aku pasti tidak akan setuju dengan keputusannya. Makanya dia langsung mematikan panggilan tersebut.
“Iiiihhhh.... menyebalkan. Dasar orang gila, Keanu,,,, brengsek...” kesal aku.
Pagi harinya aku sudah bangun, setelah sholat subuh aku langsung lari pagi seperti biasa. Aku yang biasanya lari pagi sekitaran perkebunan dan peternakan, hari ini aku lari mengelilingi perkampungan.
Ken dan Mike sudah sampai di perkebunan, Jihan langsung menghampiri mereka “selamat pagi tuan Mike dan tuan Ken. Silakan masuk dan aku akan panggilkan Laili” ucap Jihan.
Ken dan Mike masuk ke ruang tamu, datang Tejo “kata mbok Laili tidak ada di kamar. Bapak melihatnya tadi pagi pergi joging seperti biasa tapi sampai sekarang belum juga kembali”.
Jihan kaget “apa! Biasanya kan sudah kembali jam segini, kenapa dia belum juga kembali” Jihan langsung mencoba menghubungi aku. Tapi aku memang tidak membawa ponsel, ponsel aku ada di kamar.
Ken dan Mike melihat Jihan sama Tejo yang khawatir “ada apa Jihan?” tanya Ken.
“Laili belum kembali joging dari pagi tuan, biasanya dia tidak selama ini perginya. Apalagi dia tahu kalau kita akan ada meetin” ucap Jihan.
“Apa sudah coba hubungi dia” saran Mike.
“Sudah tuan tapi gak di angkatnya” jawab Jihan.
Beberapa menit kemudian aku datang “itu dia” ucap Ken.
Aku melihat mereka dan menghampirinya “maaf menunggu lama. Aku lupa ada meeting bersama tuan” aku melihat Ken sambil meledek.
Ken tersenyum sedangkan semua orang pada cemas memikirkannya. Ken tahu bahwa aku sengaja membuat dia menunggu lama. Makanya aku pergi joging sangat jauh dari biasanya.