MY DREAM

MY DREAM
30



Hari ini adalah hari ulang tahun Qori, sudah beberapa hari Qori menangis ingin ketemu dengan aku. Tapi aku memang disibukkan di luar kota untuk pembukaan beberapa mini market.


Dari luar kota aku langsung menuju ke rumah. Sebab ulang tahun Qori hanya beberapa menit kemudian. Mbak Raisa sudah beberapa kali menanyakan aku ada dimana. Karena Qori tidak mau memulai acara sebelum aku datang.


Jadi terpaksa aku melakukan video call dengan Qori. Kasihan sama para tamu yang sudah menunggu lama. Setelah Qori bicara dengan aku, jadi dia mau untuk memulai acaranya.


Mbak Raisa mematikan panggilan video call. Setelah aku melakukan video call ternyata Ken datang kesana. Dia membawa beberapa hiburan untuk Qori, jadi dia tidak bete karena aku belum datang.


Setelah acara inti selesai Ken pamit pada mas Doni untuk kembali. Karena dia memang ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Dia hanya mendapat laporan dari Mike yang ditugaskannya datang kesana menggantikannya kalau Qori menangis karena aku belum datang.


Beberapa tamu sudah pada pulang, aku baru datang “assalamualaikum”.


“Waalaikumsalam” jawab semua orang yang masih ada.


“Unty...” Qori berlari menghampiri aku.


“Sayang..” aku langsung memeluknya.


Aku sebenarnya kaget karena Qori tidak kesal sama aku karena telat datang. Dia malahan sanagt senang bukan seperti saat dia video call tadi yang cemeberut dan bete.


Setelah aku memberikan hadiah pada Qori aku menghampiri mbak Luna yang juga ada disana.


“Mbak, kok bisa Qori seperti itu?” tanya aku.


“Tadi tuan Ken datang dan membawa hadiah yang diinginkan oleh Qori. Mbak juga gak tahu apa yang sudah tuan Ken katakan pada Qori sehingga membuat Qori tidak bete lagi” cerita mbak Luna.


“Terus tuan Ken kemana?”


“Kamu lupa, dia kan ada meeting dengan beberapa investor tempat wisata di luar kota”.


“Iya aku tahu, tapi kok bisa dia datang kesini?”


“Sebenarnya tuan Mike yang ditugaskan tuan Ken untuk datang memberikan hadiah buat Qori. Mungkin dia yang menghubungi tuan Ken kalau Qori lagi bete dan tidak mau memulai acaranya”.


“Oh begitu mbak, makasih ya mbak” aku pergi menghampiri Qori yang sedang main dengan teman-temannya.


“Sayang, tadi om uncle Ken datang?”


“Iya” Qori mengangguk.


“Terus uncle kemana?”


“Kerja”


“Apa kata uncle pada kamu tadi?”


“Uncle kasih hadiah dan janji akan ajak Qori sama Kayla jalan-jalan weekend besok dengan unty juga”.


“Oh.. pantas saja dia tidak marah. Sebab sudah dijanjikan jalan-jalan sama aku lagi. Jelas ini bocah sudah lama ingin di ajak jalan” gumam aku dalam hati.


“Terus apa lagi kata uncle?”


“Uncle bilang kalau unty pasti datang, unty lagi di jalan sebab cari hadiah buat Ori yang paling bagus”.


“Bisa aja tuan gila itu bohong” kata ku lagi dalam hati.


“Tapi, mana hadiahnya unty?” ucap Qori melihat aku.


“Itu..” aku menunjuk Jihan yang mendorong sepeda keinginannya masuk.


Qori senang “ini untuk Ori?”


“Iya sayang” ucap aku sambil membelai rambut Qori.


Sebenarnya hadiah tersebut sudah lama aku mendapatkannya. Itu juga pilihan dari Ken yang menyarankan waktu itu ketika perjalanan aku keluar kota.


Mike menghampiri aku “nona, panggilan dari bos”.


Aku mengambil ponsel Mike dan pergi menjauh “assalamualaikum”.


“Waalaikumsalam”


“Maaf ya, aku sudah bohong sama Qori dan janji juga ajak dia jalan-jalan weekend besok”.


“Kalau masalah bohong sih tidak masalah tapi mengenai jalan-jalan besok aku takut tidak bisa menepatinya”.


“Emang kenapa?”


“Aku sudah sering tidak menepatinya, apalagi kita sedang banyak kerjaan sekarang”.


“Kamu tenang saja, aku akan datang dan menemani kamu nanti. Lagian itu juga janji aku sama Qori”.


“Thanks ya”


“Its oke. Aku lagi dijalan pulang ke Jakarta, sampai ketemu minggu besok” Ken menutup panggilan.


Aku kembali menghampiri Mike dan Jihan yang sedang menemani Qori main sepeda. Setelah itu aku jalan ke dapur untuk makan sebab dari pagi aku memang belum makan karena buru-buru.


***


Dave mendapatkan berita mengenai wanita yang dicari oleh Ken. Dave tahu kalau Ken ada di rumahnya sebab dia baru saja balik dari luar kota.


Pembantu yang membuka pintu untuk Dave menemui oma Lela di dapur “oma, di depan ada tuan Dave”.


“Baiklah, kamu buat minum biar oma panggil den Ken dulu” oma meninggalkan dapur menuju kamar Ken.


Beberapa menit kemudian Ken datang “Dave...”


“Bos, maaf mengganggu bos. Gue tahu kalau lo pasti capek sekarang, tapi...”


“Dave gak usah berbelit-belit deh, langsung saja apa yang mau lo katakan” ucap Ken.


“Lo ya, gak bisa basa basi dikit doang. Ini, gue menemukan infromasi tambahan lagi mengenai perempuan itu” ucap Dave memberikan amplop cokelat.


Ken langsung membukanya “foto, alamat lengkap, dan nama lengkap belum dapat juga?”.


“Belum. Gue hanya dapat kalau dia memang kuliah di kampus itu. Tapi dia baru tamat satu setengah tahun yang lalu. Hampir dua tahun dia menghilang dan telat menyelesaikan skripsi”.


“Alasannya?” Ken melihat Dave.


“Tidak ada yang tahu. Dosen pembimbingnya dan rektor tidak mau beritahu sebab sudah janjinya pada wanita itu. Tapi....”


“Tapi apa?”


“Gue dengar dari juniornya kalau dia ada masalah dengan keluarganya. Dia juga sempat datang ketika tante meninggal untuk mendonorkan darahnya. Tapi dia terlamabt karena tante sudah meninggal” lanjut Dave.


“Kalau itu gue tahu, daddy pernah juga cerita sama gue. Dia merasa bersalah dan pergi tanpa ada kabar sama daddy” ucap Ken.


“Sekarang apa yang mau lo lakukan?” tanya Dave.


“Tetap lo cari tahu mengenai wanita itu sampai jelas semuanya. Gue hanya berharap ketemu dengan dia sebelum gue memutuskan untuk fokus dengan kehidupan gue selanjutnya”.


“Maksud lo, lo mau maried?”


“Belum sih. Gue hanya tidak mau nanti calon istri gue ada masalah kalau gue masih memikirkan wanita lain. Apalagi gue akan banyak mengurus saham untuk dia”.


“Iya, lo benar juga. Mengenai saham wanita itu sudah lo bilang sama Eka?”


“Sudah, dia sudah mempersiapkan suratnya. Hanya menunggu siapa wanita itu sebenarnya”.


“Baiklah, gue akan usahakan lagi. Kalau gitu gue pamit sebab sudah malam juga” Dave pamit.


Dave berada di mobil menuju ke apartemennya, dia menghubungi anak buahnya untuk mencari tahu mengenai wanita yang sedang dicari Ken.


***


Aku sedang berada di kamar, malam ini aku memang tinggal di rumah utama. Tiba-tiba aku mendapatkan panggilan dari teman aku yang menjadi ketua dari kelompok relawan yang kita buat.


“Waalaikumsalam, Dik” jawab aku.


Nama orang yang menelpon aku itu adalah Dika. Dia adalah junior aku di kampus, dia yang aku tugaskan untuk mengurus kelompok relawan yang aku dirikan ketika kuliah.