MY DREAM

MY DREAM
42



Pagi harinya aku sudah menunggu Ken di ruang tamu yang ada di ruangan tersebut. Ken entah masih tidur atau sedang siap-siap aku tidak tahu. Beberapa menit kemudian Ken bangun dan keluar dengan memakai handuk.


“Ken...” teriak aku.


“Maaf-maaf, aku lupa kalau ada kamu” Ken langsung masuk kamarnya lagi untuk siap-siap.


“Awas ya kalau diulangi lagi, aku gak mau tinggal disini” teriak aku.


Tidak lama Ken keluar kamar dengan pakaian yang sudah lengkap “maaf ya” kata Ken.


“Iya, tapi jangan di ulangi lagi ya” kataku.


“Iya. Dave mana?” tanya Ken.


“Sudah sarapan duluan, ayo. Aku sudah lapar nunggu kamu yang lama bangunnya” aku berdiri.


“Iya ayo” ajak Ken.


Aku dan Ken keluar, kita langsung jalan menuju restoran hotel. Sampai disana kita melihat Dave dan gabung dengannya makan.


Setelah sarapan Ken mengganti bajunya dan pergi meeting dengan William sama Qasya. Dave juga ikut sebab aku tidak ingin kemana-mana. Karena aku akan meeting virtual sama para pekerja aku.


“Ly, kita berangkat kalau butuh sesuatu hubungi aku ya” kata Ken sebelum pergi.


“Iya, hati-hati” ucap ku.


Ken dan Dave berangkat ke tempat meeting yaitu sebuah ruangan private di restoran. Ken membawa hadiah untuk anak William dan Qasya.


William dan Qasya sudah datang “asslamualaikum” ucap Ken.


“Waalaikumsalam” jawab William dan Qasya.


William langsung bersalaman dan berpelukan dengan Ken. Sedangkan Ken hanya salaman dengan Qasya.


“Ini untuk anak kalian” Ken memberikan hadiah.


“Makasih bos” William mengambilnya.


Ken duduk “dia dimana?”


“Di rumah bersama babby siter” jawab William.


“Kamu sendiri saja?” tanya Qasya.


“Nggak, sama Dave. Dia ada diluar” jawab Ken.


“Oh..” Qasya berfikir kalau aku ikut dengan Ken.


Kemudian Ken langsung memulai meeting, mereka akan membicarakan mengenai proyek hotel yang akan mereka bangun di kota tersebut. Hotel baru yang akan mereka bangun dengan cabang dari hotelnya di Indonesia sama Malaysia.


Pembicaraan terjadi hampir dua jam sampai mereka makan siang. Mereka lanjut untuk makan siang bersama.


“Besok malam kita makan malam bersama ya” ajak Ken.


“Boleh, bagaimana di rumah kita saja” ucap Qasya melihat William.


“Iya, tidak masalah kok” ucap William.


“Oke baiklah” jawab Ken.


Kemudian mereka semua keluar di restoran. Aku datang ke restoran tersebut menjemput Dave. Sebab aku ingin pergi ke sesuatu tempat ada yang mau dibeli titipan dari mbak Raisa.


Aku keluar dari mobil yang dikendarai oleh bodygurth utusan Ken. Ternyata ketika aku keluar dari mobil mereka semua keluar dari ruangan private.


Ketika aku masuk dalam mobil bersama Dave ternyata William melihat aku dengan sekilas. Ken melihat William yang memandang ke mobil yang aku dan Dave naiki tapi tidak lama mobil kita pergi.


“Ada apa?” tanya Ken.


“Bukannya itu Laili tapi ngapain dia disini dan tidak mungkin juga” gumam William dalam hatinya.


“Tidak apa-apa kok bos” jawab William.


Lalu datang Qasya “ada apa?”


“Tidak apa-apa. Ayo pergi” ajak Ken.


Mereka sudah jalan ke parkiran “Ken, Dave mana?” tanya Qasya.


“Dia sudah pergi, sebab ada yang harus di urus sebentar” jawab Ken.


“Ya sudah, saya duluan” Ken pamit pulang duluan.


***


“Sudah pulang?” tanya Ken.


“Iya, kamu sudah dari tadi pulang?” aku duduk di depannya.


“Ya..”


Dave masuk membawa paperbag bersama satu orang bodygurth. Ken kaget melihat banyak belanja aku.


“Ini semua belanja kamu?” tanya Ken.


“Iya, emang kenapa?” tanya aku.


“Sepertinya kita harus nambah beli koper lagi. Tidak muat ini semua nantinya, lagian koper yang di rumah Amerika juga sudah diisi dengan belanja kamu disana”.


“Terserah kamu saja”


“Kamu aneh deh, sekali belanja pasti seperti ini. Kamu ada kebiasaan baru ya?”


“Nggak juga, lagi bete saja makanya belanja. Makanya jangan kasih aku kartu debit dong, makanya terima saja” aku kabur masuk kamar.


Ken tersenyum “besok kita pergi beli koper lagi sebelum makan malam bersama Qasya dan William” teriak Ken.


“Oke..” balas aku yang sudah dalam kamar.


“Dave..” Ken manggil Dave yang ada di dapur.


“Iya, gue disini” sahut Dave di dapur.


Ken mengampiri Dave “lo tahu gak, tadi sepertinya William melihat Laili loh”.


“Biarin saja, besok malam akan ketemu juga” ucap Dave cuek.


“Iya sih, gue takut saja” Ken cemas.


“Apa yang lo takutkan, dia gak akan berpaling kok sama William. Sepertinya dia juga tidak akan mau ganggu suami orang. Lo kalau sudah suka dengannya bilang saja lagi dari pada keduluan sama orang lain” ucap Dave.


“Kalau untuk saat ini gue belum bisa mengatakan perasaan gue. Sebelum gue menemukan perempuan tersebut gue belum bisa”.


“Sampai kapan? Lo ingin Laili di ambil duluan sama orang lain”


“Berati kalau terjadi dia bukan jodoh gue. Gue gak mau menyakiti perempuan, biarkan dia apa yang mau dia lakukan”.


“Gue akan mendukung lo dan gue juga akan berusaha mencari perempuan itu” ucap Ken.


***


Esokan harinya sebelum acara makan malam bersama William dan Qasya, kita akan pergi ke mall. Kita akan pergi membeli koper untuk menaru oleh-oleh yang aku beli.


Kita sudah sampai di mall, kita langsung mengitari mall menuju tempat penjualan koper. Sampai disana kita langsung memilih koper. Disana memang terajadi beberapa perdebatan kecil antara kita.


“Silakan dipilih, aku gak akan ikut lagi milih” Ken menjauh.


Aku langsung memilih dua buah koper atas kesepakatan awal antara aku dan Ken. Setelah selesai memilih kita kembali ke hotel. Sebab kita akan pergi makan malam, sebelum pulang aku mengajak Ken membeli hadiah untuk keluarga William.


Sampai di rumah kita langsung siap-siap untuk pergi makan malam. Ken sudah siap, dia sudah menunggu aku di ruang depan kamar.


Aku keluar dari kamar “ayo..” ajak aku.


“Ayo” Ken berdiri.


Kita jalan menuju lobi hotel. Disana sudah ada sopir yang akan mengantar kita ke rumah William. Kita akan pergi berdua tanpa Dave, sebab kita akan membahas sesuatu yang serius nantinya.


Aku sedikit gugup jadi aku hanya diam didalam mobil. Ken melihat aku yang melamun sambil melihat keluar jendela.


“Kamu kenapa?” tanya Ken.


Aku melihat Ken sambil tersenyum “tidak apa-apa kok”.


“Kamu jangan bohong, aku melihat kamu sepertinya gugup”.


Aku hanya tersenyum “gak usah gugup. Apapun yang terjadi nantinya aku akan bersama kamu” Ken berusaha menenangkan aku.


“Makasih” jawab aku sambil tersenyum pada Ken.


Tidak lama kita sudah sampai di rumah William. Ken sudah langsung turun tapi aku masih diam. Kemudian Ken membuka pintu dan mengajak aku keluar mobil.