
Dave mencoba bertanya pada Jihan “ada apa ?”
Aku langsung memegang tangan Jihan, Jihan melihat aku. Ken juga melihat aku yang mencegah Jihan untuk mengatakan.
Jihan menarik napas dan tersenyum “tidak kenapa-napa kok”.
“Apa yang terjadi sama mereka, pasti ada yang disembunyikan” gumam Ken dalam hati.
Ken berbisik pada Mike, dia meminta Mike untuk mencari penyebab aku dan Jihan bete. Mike langsung pergi meninggalkan meja untuk mencari tahu apa yang sudah terjadi.
Dea datang “maaf mengganggu bos”.
“Kenapa De?” tanya Ken.
Dea berbisik “di tunggu tuan Mike di ruang kontrol bos mengenai nona Laili”.
Ken mengangguk dan menyuruh Dea pergi “sebentar ya” Ken pamit pergi.
“Dave, siapa perempuan tadi itu?” tanya ku kepo.
“Itu Dea, sekretaris bos di Johsnon Grup” jawab Dave.
“Kelihatan muda dan cantik” ucap Jihan.
Aku melihat Jihan dan bertanya maksud perkataannya. Dave mengetahui kalau Jihan seperti menguji sesuatu dan seperti orang cemburu.
“Dia sudah menikah dan punya anak dua orang. Satu sekolah SMP dan satu lagi sekolah SD. Dia dulu sekretaris tuan besar, makanya Ken sangat dekat dengannya” jelas Dave.
“Awet muda” lanjut Jihan.
“Dea menikah mudah di umur 22 tahun. Setelah lulus kuliah dia langsung menikah dengan sepupu daddy Ken. Dia juga langsung mendapatkan pekerjaan di kantor Johnson Grup sampai dia di angkat menjadi sekretaris oleh tuan Johnson” kata paman Jaya.
Aku dan Jihan jadi malu sama paman Jaya. Sebab mereka seperti tahu apa yang kita fikirkan. Sehingga paman Jaya juga ikut menjelaskan pada kita mengenai sekretaris Ken.
***
Acara sudah selesai, kita sudah jalan menuju lobi hotel. Jihan pulang bersama Dave, Mike pulang bersama papanya, dan aku pulang bersama Ken.
Aku dan Ken sudah berada didalam mobil “kita besok pagi langsung berangkat ya” kata Ken.
“Terserah saja” kata ku.
Ken melihat aku “kamu kenapa, aku lihat ada yang berubah sama kamu semenjak kembali dari toilet bersama Jihan tadi”.
“Tidak ada apa-apa kok” aku masih bohong.
“Semua terserah pada kamu, apa kamu percaya sama aku atau sama perkataan orang yang baru pertama kali kamu dengar. Oya tadi Mike juga bilang kalau kamu tidak mau tinggal di mansion. Nanti sampai mansion akan aku suruh sopir mengantar kamu ke hotel. Satu lagi Dea sudah punya anak dan suami, kapan-kapan akan aku kenalkan sama kamu” kata Ken sambil melihat notebooknya.
Aku kaget mendengar Ken yang tahu semua apa yang terjadi sama aku “aku bingung sama kamu. Kamu setan atau bagaimana, tahu saja apa yang terjadi sama aku” ucapku.
Ken hanya diam tidak menjawab perkataanku. Aku jadi bete dan langsung melihat keluar jendela. Ken melihat aku sambil tersenyum.
Sampai di mansion kita keluar dari dalam mobil “pak, antar nona Laili ke hotel ya” kata Ken sebelum masuk mansion.
“Siapa yang mau ke hotel” aku melihat Ken.
Ken tidak menghiraukan aku, dia terus menaiki tangga dan masuk mansion.
“Ken... Ken..” aku memanggil Ken tapi dia terus jalan.
Terpaksa aku mengikutinya sambil berlari naik tangga dan sehingga aku tidak hati-hati. Aku menginjak gaun aku dan terjatuh di tangga mau masuk kedalam mansion.
“Aduh...” kataku.
“Nona..” teriak sopir.
Ken yang mau masuk langsung membalikkan badannya ketika mendengar suara aku dan suara pak sopir yang berteriak. Ken melihat aku yang terjatuh langsung menghampiri aku.
“Kamu kenapa, kok bisa terjatuh” Ken khawatir.
“Kamu sih, aku panggil-panggil terus saja jalan. Aku mengejar kamu dan gak lihat-lihat kalau aku menginjak gaun dan jatuh” aku bete.
“Maaf, bisa berdiri gak?”
Aku mencoba berdiri tapi kakiku sangat kesakitan “aw..aw...”.
Ken langsung mengendong aku masuk “oma..oma..” teriak Ken.
Oma datang “iya, ada apa?”
“Oma bawa es batu, kompres, dan obat ya. Kaki Lalili sepertinya keseleo” kata Ken yang masih menggendong aku.
Ken langsung menggendong aku ke kamar sedangkan oma mengambil apa yang diminta sama Ken.
Sampai di kamar Ken meletakan aku di tempat tidur. Dia langsung membuka high heel aku dan melihat kakiku. Ken sangat khawatir tapi aku hanya biasa saja.
Oma dan beberapa pelayan datang “Ken..”
“Masuk oma” ucap Ken.
Pelayan langsung memberikan apa yang diminta sama Ken. Kemudian pelayan keluar, tinggal aku, Ken dan oma saja.
“Kenapa bisa jatuh?” tanya oma.
“Ini oma karena Ken, dia ingin mengusir aku ke hotel” aduh aku.
“Ken..” ucap oma.
Ken melihat aku “kamu memang pintar bohongnya. Oma percaya Ken atau percaya dia sih oma” kata Ken sambil mengompres kaki aku.
“Aw,,,” kata ku.
Oma memukul Ken “Ken, hati-hati, pelan-pelan”.
“Oma, oma sudah berani ya memukul Ken” Ken melihat oma.
“Oma gak sengaja, makanya pelan-pelan, kasihan Laili” bela oma.
Ken melihat oma “oma sayang, lebih baik oma tidur dan istirahar sekarang. Ini jam sudah lewat dari waktu istirahat oma, ya” Ken mengantar oma keluar kamar aku.
“Tapi...” oma tidak mau pergi.
“Oma gak usah khawatir, Laili tidak akan apa-apa. Percaya sama Ken ya” Ken meyakinkan oma.
Dengan berat hati oma kembali ke kamarnya untuk istirahat. Ken kembali mengobati kaki aku yang keseleo.
“Kita lihat besok pagi. Kalau masih sakit kita ke rumah sakit. Jika tidak memungkinkan kita pergi, kita tunda dulu perginya” kata Ken sambil membereskan peralatan kompres dan obatan.
“Nggak masalah juga kita pergi besok, aku gak apa-apa” kataku.
“Kamu istirahat saja, biarkan semua ini pelayan yang bereskan besok. Kalau ada apa-apa, aku disebelah” Kata Ken.
“Iya” jawabku.
Ken keluar dari kamar aku dan menutup pintu. Sedangkan aku mencoba menggerakkan kaki aku. Aku akan bersih-bersih dan mengganti baju.
***
Pagi harinya aku melakukan aktivitas seperti biasa. Kaki aku memang sedikit pincang tapi tidak sesakit semalam. Aku keluar kamar dan jalan ke meja makan.
Ken keluar dari kamarnya dan melihat aku “Ly..”
Aku melihat Ken “iya”
“Bagaimana kaki kamu?” Ken jalan menghampiri aku.
“Sudah lebih baik dari semalam kok” kataku.
“Mau kemana?”
“Mau sarapan”
“Sini aku bantu” Ken membantu aku turun dari lantai dua.
Ken membantu aku jalan ke meja makan. Pelayan juga sudah menyiapkan makanan. Ketika kita makan datang Mike.
“Pagi..” ucapnya.
“Pagi” jawab kita bersama.
“Sarapan Mike” kataku.
“Sudah siap di rumah. Bos, bagaimana? Jadi berangkat hari ini juga?” tanya Mike.
“Periksa kaki Laili dulu, kalau masih sakit kita tunda dulu” jawab Mike.
“Kok ditunda, aku udah gak kenapa-napa kok” ucap aku.
“Makanya kita periksa dulu. Mike panggil dokter ke rumah” ucap Ken.
Mike pergi meninggalkan ruang makan dan pergi menghubungi dokter keluaga Ken. Apakah mereka akan tahu bahwa aku adalah orang yang dicari-cari Ken kalau ketemu dengan dokter tersebut, kita tidak akan tahu apa yang terjadi nantinya.