MY DREAM

MY DREAM
23



“Iya aku tahu, kamu sudah bilang ini ratusan kali sama aku. Udah dong, ngomel itu saja terus” aku bete.


Kemudian Ken masuk dengan mendorong kursi roda “ayo, sudah siapkan?”.


“Sudah..” jawab Jihan.


“Tunggu!” aku menghentikannya “obat sama bayar administrasi belum”.


“Sudah, ini obatnya” Ken memberikan obat pada ku.


“Terimakasih tuan” Jihan mengambil obat dan memasukan kedalam paper bag. Kemudian Jihan langsung mendorong koper aku dan beberapa barang yang lainnya. Dia meninggalkan aku sendirian tanpa pamit.


“Jihan... Jihan...” panggil ku.


Jihan berhenti di depan pintu “kenapa?”


“Aku gimana?” tanyaku.


“Itu tuan Johnson yang akan bantu” Jihan langsung pergi.


Ken mengambil sendal aku dan meletakan dibawah tempat tidur “ayo, saya bantu”.


“Tidak usah, aku bisa sendiri” aku menolaknya.


“Ya sudah” Ken menjauh dari aku.


Ketika aku turun dari tempat tidur, aku tidak kenapa-napa. Kemudian aku memakai sendal, aku mencoba melangkah. Belum beberapa langkah kepalaku sudah pusing dan hampir jatuh. Untungnya Ken cepat memegang aku.


“Makanya jangan keras kepala, orang sudah mau bantu malah nolak. Ayo naik ini” Ken memapa aku duduk di kursi roda.


“Terimakasih” ucap aku setelah duduk.


Ken langsung mendorong aku keluar dari kamar dan keluar rumah sakit. Jihan sudah menunggu di mobil dan memasukan barang-barang. Ken membantu aku masuk mobil yang berada disebelahnya.


Didalam mobil Ken bertanya pada ku “kita terus ke perkebunan kan?”.


“Iya...” ucap aku.


“Tidak tuan, kita ke rumah utama” jawab Jihan.


“Kok ke rumah sih Han, aku gak mau. Aku mau ke perkebunan, kita ke perkebunan” perintah ku.


“Tidak boleh Ly, kita harus ke rumah. Semua ini atas perintah mas Doni, mas Doni sudah bilang tadi dan sudah menunggu di rumah” ucap Jihan.


“Kenapa sih, mereka selalu membuat keputusan bukan bilang dulu sama aku” aku langsung cemberut.


“Jadi kita kemana nih?” tanya Ken.


“Terserah” jawabku kesal.


“Kesini tuan” Jihan melihatkan ponselnya yang berisi alamat rumah ku.


Ken melihatnya dengan sekilas “baiklah”.


Ken melihat aku yang cemberut sambil melihat keluar jendela “kasihan kamu, Ly. Aku hanya bisa berdoa yang terbaik buat kamu. Kalau aku bisa membantu kamu, aku akan membantu kamu. Tapi apa yang harus aku lakukan untuk membantu kamu” kata Ken dalam hatinya.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah. Semua orang sudah menunggu kepulangan aku. Tapi aku merasa tidak senang kembali lagi kerumah.


Aku turun dari dalam mobil dibantu sama Ken sampai masuk dalam rumah. Sedangkan Jihan mengeluarkan barang-barang aku dari dalam mobil.


Qori melihat aku datang “unty...” dia berlari menghampiri aku.


“Eh sayang, unty-nya lagi sakit” cegah Raisa.


Aku langsung duduk di sofa “sini sayang” panggil aku pada Qori.


Qori berlari menghampiri aku “unty sakit?”.


“Tidak sayang, unty kecapekan doang” jawab ku sambil tersenyum.


“Mas, mbak, saya permisi pulang dulu. Mungkin Laili butuh istirahat” pamit Ken pada semua orang.


“Terimakasih ya Ken sudah susah-susah ngantar Ily” ucap mas Doni.


“Sejak kapan dia akrab gitu sama semua orang disini” gumam ku dalam hati.


Setelah pamit pada semua orang Ken langsung pergi. Sebelum pergi Ken menghampiri aku, dia mengelus kepalaku kemudian kepala Qori.


“Apa-apaan nih cowok sih” aku semakin bete.


Sedangkan Jihan melihat raut wajah aku yang tegang. Dia tahu kalau aku sedang mengutuk Ken dalam hati. Begitu juga dengan Ken yang senyum-senyum.


***


William pulang dari kerjaannya, dia masuk kamar dan melihat istri dan anaknya yang sedang tertidur. Dia menghampiri mereka dan menciumnya masing-masing.


“Sampai kapan kamu akan terus mendiamkan aku. Menjadikan aku patung dan nggak di anggap seperti ini. Aku sudah melepaskan semuanya dan berusaha menjadi yang terbaik buat kamu sama keluarga kamu....”


“.... Aku ingin menjalankan semua ini seperti orang-orang. Kamu tidak usah merasa bersalah sama aku sebab memang bukan kamu yang salah” gumam William sambil mengelus kepala Qasha.


William pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Qasha membuka matanya, dia mendengar apa yang dikatakan sama William.


“Maafin saya Wil, saya akan seperti ini sampai kamu melepaskan saya. Meskipn kamu tidak mau melepaskan saya, setidaknya temukan saya dengan pacar kamu. Biar saya sendiri yang minta maaf secara langsung” kata Qasha sambil meneteskan air matanya.


Qasha mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Ken. Dia ingin meminta Ken membantunya untuk mempertemukannya dengan pacar William yaitu aku. Tapi Ken selalu membalasnya, kalau belum saatnya.


“Maafin aku Sha, aku belum bisa bantu kamu. Sebab Laili baru saja keluar dari rumah sakit. Itu semua karena dia baru tahu kalau William sudah menikah dengan kamu. Kalau sudah saatnya nanti aku katakan sama kamu” isi pesan dari Ken.


Beberapa hari kemudian aku sudah lebih baik, aku akan pamit pada mbak Raisa untuk melanjutkan pekerjaan aku lagi. Kita sedang sarapan di meja makan, seperti biasa kita sarapan bersama.


“Mas, mbak, aku balik ke perkebunan ya. Soalnya aku masih banyak kerjaan dan proyek akan segera berjalan” kataku.


“Emang kamu udah baikan, Ly?” tanya mbak Raisa.


“Sudah mbak” jawabku.


“Kalau begitu biar mas Rian yang antar kamu” ucap mbak Raisa.


“Nggak usah mbak, bentar lagi Jihan datang. Sebab kita ada meeting di kantor dulu. Kasihan tuan Johson yang sudah lama disini untuk membicarakan proyek tersebut” tolakku.


“Kalau itu kata kamu ya sudah” mbak Raisa melanjutkan makannya.


Setelah makan aku mengganti baju dan aku sudah di tunggu. Aku turun menuju lantai satu dengan membawa koper. Sampai dibawah aku tidak melihat Jihan tapi Ken yang sedang main dengan Qori.


“Tuan, ngapain Tuan disini?” tanya ku.


“Jemput kamu” Ken sibuk dengan Qori.


“Jemput aku, bukannya Jihan” aku masih berdiri melihatnya.


“Jihan sedang pergi survey tempat sama Mike. Makanya saya yang jemput, kita akan rapat setengah jam lagi” Ken melihatku.


“Sayang, mama sama papa mana?” aku bertanya pada Qori.


Qori dan Ken melihat aku “bukan tuan, tapi Qori”.


“Kirain saya. Mas sama mbak sudah berangkat” jawab Ken.


“Bik.. bik...” aku memanggil bik Jum.


Bik Jum datang “bik, Ily berangkat ya. Jagain Qori ya” kataku sama bik Jum.


“Iya non” jawab bik Jum.


“Qori sini” aku memanggil Qori. Qori menghampiri aku “sayang, sama bik Jum ya. Unty pamit pulang dan mau kerja sama om, nanti main lagi ya”.


“Iya unty, om” jawab Qori.


Qori ikut bik Jum untuk mandi dan sarapan. Sedangkan aku langsung menarik koper keluar dari rumah.


“Eh tuan, betah aja berdiri disana” teriak ku yang berhenti di depan pintu.


Ken tersenyum dan menyusul aku “saya heran kenapa kamu jutek bangat sih?”.


“Biasa aja” ucap ku.