
Kelompok relawan aku dirikan ketika aku satu tahun kuliah. Sebab aku dirikan adalah untuk membantu orang-orang yang mengalami kesusahan. Tidak hanya itu, kelompok ini juga membantu tenaga medis yang ada di rumah sakit yang butuh bantuan.
Aku dari awal tidak ingin mengambil jurusan bisnis. Sebab aku lebih suka membantu orang banyak. Sehingga aku pernah mendapatkan beasiswa kuliah kedokteran di luar negeri.
Semua impian aku musnah ketika aku melihat ayah aku yang sakit-sakitan. Dia bekerja siang malam untuk aku dan kakak-kakak aku. Karena itu aku mendirikan kelompok relawan yang sudah berubah sekarang menjadi yayasan ‘My Dream’.
Yayasan ini di pimpin oleh junior aku yang bernama Dika. Aku menyerahkan semua itu ketika beberapa bulan setelah bunda meninggal. Aku hanya memantau dari jauh dan menjadi pemegang saham dan donatur.
Meskipun aku tidak aktif lagi dengan yayasan, aku masih sering datang. Tapi yang membuat aku menonaktifkan diri disana ketika seseorang meninggal. Aku tidak bisa memenuhi permintaan orang yang sudah aku temani dan bantu selama beberapa tahun.
Aku merasa gagal untuk membantu semua orang. Makanya aku menghapus data aku dari kelompok relawan yang sekarang sudah berganti dengan yayasan. Tapi Dika masih menginformasikan aku mengenai perkembangan yayasan.
Keluarga aku dan orang terdekat aku tidak tahu bahwa aku mendirikan yayasan. Makanya sangat susah mendapatkan informasi mengenai aku. Sedangkan Jihan hanya tahu bahwa aku hanya donatur di yayasan tersebut.
“Ada masalah, Dik?” tanya ku ketika telvonan dengan Dika.
“Beberapa bulan ini ada yang mencari tentang mbak. Ke kampus juga, sehingga dosen pembimbing dan pak rektor tidak tahu harus bohong sampai kapan”.
“Apa! Siapa?” aku kaget.
“Orang-orang yang mbak tolong beberapa tahun yang lalu. Kelurga dari ibu yang selalu mbak donorkan darah dulu”.
“Seperti dugaan aku, pasti mereka akan mencari tahu mengenai aku. Kenapa ibu pembimbing dan pak rektor tidak bisa menyumbunyikan lagi, Dik?”
“Mbak lupa, siapa yang menjadi donatur paling besar di kampus”.
“Johnson Grup. Emang apa hubungannya dengan dengan orang tua yang aku tolong itu?” aku bingung.
“Aku gak tahu mbak, kata pak rektor tidak akan bisa bohong lagi jika tuan Johnson sendiri yang datang”.
“Iya aku paham, tapi aku masih bingung. Apa hubungannya orang tua itu dengan tuan Johson”.
“Mbak, bukannya mbak ada projek bareng dengan Johnson Grup. Apa sebaiknya mbak tanya langsung sama dia atau bagaimana gitu” saran Dika.
“Nanti aku fikirkan. Sekarang kamu harus lebih pintar lagi dari mereka. Jangan sampai mereka tahu mengenai identitas aku, paham!”.
“Paham mbak. Nanti aku kirim email perkembangan yayasan. Kalau gitu aku minta maaf sudah mengganggu mbak, assalamualaikum” Dika menutup panggilan.
“Waalaikumsalam” jawab aku.
“Siapa sebenarnya orang tua yang aku tolong beberapa tahun lalu. Kenapa bapak itu masih mencaritahu mengenai aku sampai minta bantuan pada KJ Bodygurth” gumam aku setelah selesai telvonan.
Jihan mengetuk kamar aku, aku langsung membuka pintu yang aku kunci sebelumnya.
“Kenapa kamu kunci pintunya?” tanya Jihan.
“Maaf, aku lupa kamu tidur disini” aku jalan ke tempat tidur.
“Aku panggil dari tadi, kamu ngapain saja” Jihan kepo.
“Aku lagi sholat” bohong aku.
***
Hari weekend tiba, aku sedang berada di kamar penginapan. Aku siap-siap akan pergi bersama keponakan aku. Ketika aku siap-siap, aku mendengar orang mengetuk kamar aku.
Aku membukanya “unty...” teriak Qori dan Kayla.
Aku kaget “kok bisa ada kalian disini?”
Aku melihat Ken sedang menggendong Kayla dan membimbing Qori. Aku langsung mengambil Kayla di gendongan Ken.
“Unty, ayo kita jalan-jalan” Qori menarik-narik tangan aku.
“Iya sayang, ini masih pagi. Unty saja belum sarapan lagi” ucap aku.
“Sini Kayla, ayo sarapan dulu” Ken mengambil Kayla lagi.
Kita jalan ke dapur yang ada di penginapan. Aku mendudukan Qori di kursi yang ada disana. Kemudian aku duduk disebelah Qori, begitu juga dengan Ken yang masih menggendong Kayla.
“Iya non” jawab mbok Ijah.
“Aku masih butuh penjelasan kamu, kenapa mereka bisa sama kamu?” tanya ku sambil mengambil makanan.
“Semalam aku sampai kota dan tadi pagi aku langsung menjemput mereka” jawab Ken.
“Kok bisa mbak Raisa dan mas Doni mempercayakan mereka sama kamu?”
Ken mengangkat bahunya “mana aku tahu”.
Aku lanjut makan, kemudian datang Tejo “Ly, minta tanda tangan kamu. Sebab pupuk habis”.
Tejo memberikan berkas pada aku dan aku langsung tanda tangan. Kemudian Tejo pergi lagi melanjutkan pekerjaannya.
“Jihan kemana? Kenapa Tejo langsung minta tanda tangan kamu?” tanya Ken.
“Jihan pulang ke rumahnya, sebab sudah lama dia belum pulang. Katanya ada acara keluarga, aku juga gak tahu apa”.
“Emang Jihan tinggal dimana?”
“Sama dengan kamu di pusat kota, Jakarta”.
“Oh.. rasanya wajahnya tidak asing ketika melihatnya dari awal”.
“Dia kan pernah bekerja di perusahaan kamu. Tapi dia resaign karena harus membantu aku sesuai permintaan papanya”.
“Oh..” Ken manggut-manggut.
Setelah menemani aku sarapan, kita jalan-jalan di perkebunan. Kita mengitari perkebunan sambil memetik buah-buahan kesukan Qori dan Kayla.
Siang harinya kita istirahat di bawa pohon yang besar. Tempat istirahat aku ketika penat bekerja. Tidak lama disana, Qori dan Kayla ketiduran.
Aku melihat Ken “bagaimana ini?” tanya ku.
“Bawa ke penginapan saja, kasihan mereka tidur disini. Kamu gendong Kayla, biar aku yang gendong Qori” Ken memberikan Kayla padaku.
“Jangan!” aku menghentikan Ken.
“Kenapa?” Ken heran.
“Qori akan kebangun dan mengamuk jika merasa bukan aku yang menggendongnya. Kamu gendong Kayla saja” jelas aku.
Ken terpakasa mengikutinya. Aku menggendong Qori dan Ken menggendong Kayla. Selama perjalanan ke penginapan Ken melihat aku yang sudah lelah menggendong Qori.
“Yakin kuat?” tanya Ken.
“Tidak apa-apa, sebentar lagi sampai” jawab ku dengan suara ngos-ngosan.
Aku membawa Qori kedalam kamar ku “kenapa kesini?” tanya Ken.
“Nggak apa-apa disini saja, mereka sudah biasa disini” ucap ku setelah meletakan Qori di tempat tidur begitu juga dengan Ken yang meletakan Kayla.
“Ayo kita keluar” ajak Ken.
Ken keluar duluan dan aku menyusulnya. Di meja yang ada di depan kamar aku sudah ada jus jeruk yang dibuat oleh mbok Ijah.
“Minum dulu, kamu capek sepertinya” Ken memberikan padaku.
“Terimakasih” aku langsung minum dan duduk.
“Kamu sangat dekat ya sama Qori?” tanya Ken.
“Iya, aku lebih dekat dengan dia daripada Kayla. Mungkin dia keponakan pertama aku, aku juga sudah bersama dia dari pertama dia lahir. Makanya dia lebih nyaman dalam pelukan aku seperti mamanya”.
“Iya, aku melihatnya seperti itu juga” Ken tersenyum.