MY DREAM

MY DREAM
11



Waktu sudah menunjukkan hampir siang, semua calon hampir selesai di panggil “masih banyak mbak?” aku bertanya pada Luna.


“Satu lagi Ly” jawab Luna.


“Ya sudah mbak langsung panggil saja” ucap aku.


Luna langsung memanggil calon yang terakhir, kemudian calon tersebut langsung masuk dan menghadap aku.


“Assalamualaikum mbak” ucap calon tersebut.


“Waalaikummussalam” jawab aku sambil melihat calon tersebut.


Aku langsung kaget dengan calon tersebut, sedangkan calon tersebut hanya tersenyum pada ku. Aku sangat kenal dengan calon tersebut, dia adalah orang yang sangat mengenal aku dan sangat peduli pada aku. Dia juga orang yang selalu mendengarkan curhat aku, apalagi mengenai William.


“Jihan...” aku langsung berdiri dan memeluknya.


“Apa kabar Ly?” Jihan juga memeluk aku.


“Alhamdulillah sehat, kamu?”


“Seperti yang kamu lihat” jawab Jihan sambil tersenyum.


“By the way kenapa kamu disini dan tadi di ruang pertemuan aku gak lihat kamu”.


“Aku tadi ke toilet”


“Duduk dulu” aku mengajak Jihan duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. “Kamu belum jawab pertanyaan aku, ngapain disini?” tanya aku sekali lagi.


“Melamar jadi sekretaris kamu lah” jawab Jihan.


“Jangan bercanda deh Han, kamu gak pantas bekerja di perkampungan seperti ini. Apalagi kamu seorang sarjana lulusan terbaik loh” aku tidak percaya.


Jihan tersenyum “apa masalahnya, kan halal”.


“Iya benar, pekerjaan kamu kemarin bagaimana?”


“Aku sudah resaign”


“Jihan... jawab jujur deh, kenapa?” aku menatap Jihan tajam.


“Oke deh, aku memang tidak bisa bohong sama kamu. Aku akan jujur, sebenarnya....” Jihan langsung menceritakan kenapa dia memilih jadi sekretaris aku.


Jihan rela melepaskan pekerjaannya di kota besar demi untuk bekerja di perusahaan kecil di perkampungan. Sebab dia sudah janji sama orang tuanya untuk mengabdi pada keluarga aku. Seperti almarhum ayahnya yang mengabdi bekerja dengan ayah aku.


Keluarga Jihan sempat bangkrut dulu, jadi papanya ketemu dengan ayah aku. Ayah aku rela menjual lahan perkebunannya untuk membantu papa Jihan. Tapi lahan tersebut akhirnya bisa juga dibeli kembali oleh ayah aku.


Karena uang hasil jualan perkebunan diberikan pada papa Jihan, membuat usaha papa Jihan bangkit lagi. Sebelum papa Jihan meninggal, dia menceritakan sama Jihan mengenai aku dan bagaimana kakak-kakak aku pada aku. Sehingga kita bertemu di kampus dan menjadi sahabat sampai sekarang.


“Terus bagaimana dengan usaha papa kamu?” tanya aku.


“Kakak aku yang mengurusnya, makanya aku  kesini dan sudah saatnya aku memenuhi permintaan papa dulu”.


“Kenapa kamu gak pernah cerita?”


“Aku benar-benar minta maaf, sebab aku tulus sahabatan dengan kamu bukan karena papa aku. Aku jujur dari awal aku tidak tahu kalau kamu adalah anak dari paman Bambang. Ketika kamu datang ke rumah pertama kali, disana papa mulai menceritakan mengenai kamu”.


“Sebenarnya aku pernah diceritain sama kakak ayah, kalau suatu saat akan ada orang baik yang akan membantu aku mengurus usaha ayah dan bunda. Tapi aku tidak tahu kalau itu adalah kamu, makanya sampai sekarang aku tidak bisa menemukan sekretaris yang pas dengan aku”.


“So, sekarang?”


Aku menarik napas “Baiklah, kamu jadi sekretaris aku. Apa kamu siap tinggal di perkebunan?”


“Sudah donk, terus bagaimana dengan para calon yang lain?” tanya Jihan.


“Mereka akan diberikan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Sebab dari dulu ayah tidak pernah menolak siapapun yang ingin bekerja disini meskipun sudah banyak dan tidak ada tempat”.


“Aku paham, aku sudah tahu sedikit cerita mengenai paman dari papa”.


“By the way aku minta maaf gak datang di hari pemakaman om, sebab aku sedang penelitian saat itu”.


“Iya gak apa-apa, kamu sudah jelasin juga dulu”.


“Baiklah, selamat Jihan” ucap Luna.


“Iya mbak terimakasih banyak” jawab Jihan.


“Satu lagi mbak, urus pekerjaan buat para calon yang lain. Kalau disini gak ada tempat hubungi saja mas Doni, mungkin di sorumnya ada tambahan karyawan” lanjut aku lagi.


“Baik Ly, kalau gitu mbak keluar” Luna langsung keluar dari ruangan aku.


Setelah itu kita pergi makan siang sebab waktu makan siang sudah hampir berlalu. Kita sibuk cerita jadi lupa waktu dan makan siang.


Aku dan jihan di jalan mau ke perkebunan, tiba-tiba di jalan Cici menghubungi aku. Aku menepikan dulu mobil sebab aku lupa membawa headsheat.


“Waalaikumsalam Ci” jawab aku.


“Dimana mbak?”


“Di jalan, kenapa?”


“Aku sekarang bersama Qori, dia di tinggal mbak Raisa tadi di rumah. Katanya ibu dari tadi mau ketemu sama mbak”.


“Ya sudah sebentar lagi mbak jemput, kamu di rumah kan?”


“Iya mbak”


Aku langsung menutup panggilan dan langsung melanjutkan mobil lagi “Han kita ke rumah bibi aku sebentar ya. Aku mau jemput Qori, kata Cici dari tadi dia nangis mau ketemu sama aku”.


“Iya, tidak masalah. Aku juga kangen ketemu Qori” jawab Jihan.


Tidak lama kemudian aku sampai di rumah Cici, mereka sudah menunggu di depan rumah. Ketika Cici melihat mobil aku dia langsung teriak pada ibunya dan langsung masuk mobil aku.


“Unty...” teriak Qori ketika masuk mobil.


“Iya sayang. Salam sama tante Jihan” ucap aku.


Qori salaman dengan Jihan begitu juga dengan Cici “mau kemana sayang?” tanya aku sebelum pergi.


“Mau beli ice cream” jawab Qori dengan suara cadel anak kecil.


“Ya sudah kita beli ice cream” aku langsung menjalankan mobil menuju super market bunda.


Tidak sampai lima menit kita sampai di minimarket bunda “Ci, pergi masuk dan temui mbak Luna. Bilang padanya seperti biasa makanan kesukaan Qori” aku menyuruh Cici untuk membeli makanan.


“Baik mbak. Sayang, disini sama unty dan tante Jihan dulu ya” Cici meninggalkan Qori di belakang sedang menonton ponsel.


“Qori sayang, mama kemana?” aku menanyakan mbak Raisa.


“Kelja sama papa, Ori gak mau bunda, Ori mau unty” Qori kesal.


“Ncus kemana?” aku tanya lagi.


“Gak suka ncus juga”


Jihan melihat aku “ada apa?”


“Seperti biasa, Qori tidak cocok dengan babysiternya” jawab aku.


Beberapa menit kemudian Cici masuk lagi membawa beberapa kantong plastik berisi makanan kesukaan Qori.


“Ini untuk Qori” kata Cici membukakan beberapa makanan kesukaannya.


“Sayang mau pergi ke taman bermain gak?” aku bertanya pada Qori sebelum pergi.


“Mau...”


“Oke, kita kesana” aku menjalankan mobil menuju taman bermain.


Sampai disana kita turun dan membawa semua makanan yang dibawa Cici. Aku menggendong Qori, Cici membawa makanan, dan Jihan membawa tikar untuk kita duduk. Qori sibuk main bersama Cici, sedangkan aku dan Jihan duduk memperhatikan mereka dari jauh.