
Ken dan dokter sudah berada di ruangannya “bagaimana dok?” tanya Ken.
“Kalau untuk sekarang kondisi nona Laili tidak ada masalah tuan. Tapi lebih bagusnya tuan meminta dokter Agus untuk menanganinya. Supaya bisa tahu kondisi nona Laili, sebab dia sudah biasa menangani penyakit darah seperti ini” saran dari dokter.
“Bukannya dokter Agus sudah lama pensiun?”
“Iya, tapi ada anaknya yang juga bekerja di bidang yang sama dengan dokter Agus”.
“Anggika?”
“Iya tuan”.
“Nanti akan saya hubungi, terimakasih sudah membantu” Ken berjabat tangan.
Dokter langsung pergi meninggalkan ruangan Ken dan mansion tersebut. Semua tenaga medis pun meninggalkan mansion atas perintah dari Ken.
Anggika adalah wanita yang pernah dijodohkan orang tuanya dulu bersama Ken. Ken langsung menolak Anggika karena Thania. Sekarang disaat dia sudah menaruh hati pada ku, Anggika akan datang lagi. Setahunya sampai sekarangpun Anggika belum menikah.
Mike masuk ke ruangan Ken “bos...”
“Mike..”
Mike langsung duduk “lo gak usah cerita sama gue. Dave sudah menceritakan apa yang sudah terjadi. Sekarang gue hanya ingin bertanya, kenapa dengan wajah lo itu?”.
“Lo tahu Anggika kan?” Ken melihat Mike.
“Iya, kenapa dengan dia?”
“Apa benar dia mengambil pekerjaan yang sama dengan papinya?”
“Setahu gue iya, ada apaan sih?” Mike penasaran.
“Lo bilang sama dokter Agus untuk ketemu sama gue. Tapi sebelum itu temani gue menemui keluarga Laili. Ada yang mau gue bicarakan sama mereka, lo atur pertemuan gue secepatnya” ucap Ken.
“Iya. Tapi hubungan sama Anggika apa?”
“Nanti lo akan tahu juga, gue mau lihat kondisi Laili dulu. Cepat lo jalankan perintah gue” Ken keluar dari ruangannya.
***
Ketika Ken mau masuk ke kamar aku, oma keluar dari kamar membawa sisa makan aku “Ken..”.
“Ily sudah makan oma?” tanya Ken.
“Sudah, sekarang sedang istirahat setelah minum obat” jawab oma.
“Kalau gitu Ken ke kamar saja bersih-bersih” Ken pamit pada oma dan langsung masuk kamar.
Mike sudah meminta Bagas untuk memberitahu keluaraga aku untuk datang ke Jakarta. Mike menjelaskan semua apa yang sudah terjadi pada aku. Sebab sesuai dengan perintah Ken yang meminta untuk menceritakan pada mereka semua.
Malam harinya setelah makan malam Ken menemui aku di kamar “bagaimana keadaan kamu?” tanya Ken.
“Sudah lebih baik, aku boleh pulang kan?” aku melihat Ken.
Ken menggeleng “kamu tidak boleh pulang sebab keluarga kamu akan datang kesini”.
“Kenapa? Kamu ceritakan sama mereka?” aku kaget mendengar Ken yang mengatakan keluarga aku akan datang.
Ken masih bingung untuk menceritakan sama aku mengenai penyakit aku sebenarnya. Tapi dia tidak mau nanti aku marah padanya karena sudah membohonginya.
“Kok diam, jawab dong. Pasti ada sesuatu terjadi sama aku kan?” tebak aku sendiri ketika melihat raut wajah Ken yang hanya diam.
Ken menarik napas panjang “sebenarnya...” Ken masih ragu untuk menceritakannya.
“Baiklah. Sebelumnya aku minta maaf jika berbohong sama kamu beberapa hari ini. Sebenarnya penyakit kamu saat ini sangat parah. Kamu harus melakukan pengobatan lebih lanjut lagi di rumah sakit” jawab Ken.
“Sudah ku duga. Bukannya aku kemarin sudah melakukan operasi?” aku melihat Ken.
“Iya benar. Operasi kemarin itu memang berhasil tapi ada efek sampingnya. Sebab kemarin kamu kekurangan darah dan harus tranfusi darah. Aku mau kamu jawab jujur sama aku?”
“Apa?”
“Apa kamu pernah melakukan donor darah dalam waktu sebulan sekali dengan banyak darah?”.
Aku kaget dan terdiam dengan pertanyaan Ken “hubungannya apa?”
“Sebab karena itu penyakit kamu semakin parah dan ketika kecelakaan kemarin kamu hampir koma dan kehilangan banyak darah. Kata dokter kamu memiliki golongan darah yang sangat langkah. Makanya kamu harus diobati di rumah sakit dengan dokter spesialis”.
Aku melihat Ken “aku menceritakan semua ini untuk minta keputusan kamu. Sebab aku tidak ingin apa yang terjadi sama kamu ini akan sama dengan almarhum mommy aku nantinya” lanjut Ken.
“Apa yang kamu tanyakan benar kalau aku pernah mendonorkan darah dalam jumlah yang besar. Untuk melakukan pengobatan aku belum bisa memutuskan saat ini” jawab aku.
“Sebenarnya aku mau minta pendapat kamu sebelumnya. Aku gak mau nanti kamu marah sama aku lagi”.
“Emang apa lagi yang mau kamu sembunyikan sama aku” aku melihat Ken.
“Sebenarnya aku sudah minta Mike untuk mengatur pertemuan dengan keluarga kamu. Aku gak mau kamu tidak melanjutkan pengobatan. Sebab aku juga trauma kehilangan orang tua aku karena sakit yang sama lagi. Makanya aku akan menceritakan sama keluarga kamu mengenai semua ini”.
“Mereka tidak akan peduli, percuma saja kamu menceritakan sama mereka” aku masih belum siap untuk keluarga aku tahu.
“Itu hanya pemikiran kamu. Aku tahu kamu tidak suka tapi mulai besok kamu akan melakuan pengobatan bersama dokter yang pernah merawat orang tua aku dulu” keputusan Ken.
“Kenapa kamu terus memaksa aku melakukan semua ini” aku kesal.
“Kamu jangan berlagak bodoh deh Ly. Kamu tahu alasan aku melakukan semua ini” Ken juga ikut sebal.
“Bisa kasih aku waktu sampai besok pagi, besok aku akan bilang sama kamu keputusan aku. Pliss jangan paksa aku sekarang” aku bermohon.
Ken melihat aku yang bermohon padanya “baiklah, aku akan tunggu besok. Sekarang kamu istirahat saja, kalau ada apa-apa kamu bisa memanggil pembantu” Ken langsung meninggalkan kamar aku.
Ken pergi ke kamar Mike untuk memberitahu dia kalau jangan ceritakan dulu sama keluarga aku. Ken sebenarnya juga tidak mau membuat aku kecewa. Tapi dia juga tidak mau kalau aku tidak melakukan pengobatan.
Aku sudah memikirkan semua apa yang sudah dikatakan oleh Ken. Sebenarnya semuanya memang benar tapi aku masih trauma dengan rumah sakit. Aku juga takut akan gagal kembali, sebab mimp-mimpi aku masih banyak belum terpenuhi.
Pagi harinya ketika aku selesai sarapan dengan oma aku meminta oma untuk memanggil Ken untuk menemui aku.
“Oma, boleh aku minta tolong?” ucapku.
“Boleh, ada apa?” tanya oma yang sedang duduk.
“Bilang sama Ken untuk menemui aku sebentar ya oma” kataku.
“Baiklah, oma akan panggil Ken untuk datang” oma pamit dan meninggalkan kamar aku.
Oma jalan keluar kamar aku bersama satu orang pembantu. Ome menyuruh pembantu untuk pergi ke dapur melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan oma menemui Ken dan Mike yang sedang sarapan di meja makan.
Ken melihat oma “Laili sudah selesai sarapan oma?”
“Sudah den, aden di panggil nona Laili untu menemuinya” ucap oma.
“Iya oma, nanti Ken kesana” jawab Ken.
Oma pergi melanjutkan pekerjaannya sedangkan Ken dan Mike lanjut sarapan juga. Ken akan membicarakan sesuatu pada Mike baru dia akan menemui aku.