MY DREAM

MY DREAM
51



“Ken, siapa wanita itu?” tanya Beni ketika sudah berada di ruangan kerja Ken. Dia masih penasaran sebab dia merasa pernah melihat aku.


“Menurut lo?” Ken tanya balik.


“Orang yang paling lo suka, iya kan?”


“Itu lo tahu, ngapain juga lo nanya” ucap Ken.


“Eh kampret, gue hanya tanya saja. Sebab gue merasa pernah ketemu dengan wanita itu. Rasanya aku sering melihat dia di rumah sakit lo dulu” kesal Beni.


“Mana mungkin, dia dari luar kota. Lo salah lihat kali” Ken tidak percaya.


“Sumpah Ken, gue gak bohong. Gue sering melihat dia datang menemui orang tua lo” ucap Beni.


Semua orang kaget mendengar perkataan Beni. Mereka langsung teringat dengan wanita yang sedang dicari oleh Ken. Apakah Ken akan tahu wanita yang dicarinya itu adalah aku?


“Mungkin gue memang salah lihat, lebih baik lo tanya sama dokter Agus. By the way kenapa lo panggil gue kesini?” Beni tidak terlalu memikirkan tentang aku lagi.


“Oh ya gue jadi lupa. Apa benar Anggika sudah bekerja di rumah sakit?” ucap Ken.


“Iya, emang kenapa. Lo mau balikan sama dia?”


“Mulut lo itu ya mau gue pites” kesal Ken “apa benar dia mengambil spesialis yang sama dengan papanya?”


“Iya, dia yang menggantikan dokter Agus semenjak pensiun. Ada apa sih?” Beni tidak sabaran.


“Besok lo atur pertemuan gue sama dia, sebab gue mau membawa Laili periksa padanya. Itu semua sampai dokter Agus kembali” ucap Ken.


“Apa! Wanita itu sakit darah juga?”


“Lo gak usah banyak tanya, lo atur saja” kata Dave.


“Oh, jadi karena itu tadi lo tanya jadwal Anggika sama gue” Beni melihat Mike.


“Menurut lo?” Mike melihat Dave.


“Mana tahu ada udang dibalik batu” gumam Beni.


“Benar kata Ken, mulut lo tidak hanya dipites tapi harus dijait biar gak lemes lagi” Mike ikut kesal.


“Calm down guys, becanda doang. Nanti gue atur, lo datang saja” ucap Beni.


Semua langsung tersenyum “Dave, lo gak mau buat malam lajang gitu?” tanya Beni.


“Sebenarnya gue malas tapi terserah kalian saja” ucap Dave.


“Menurut lo Ken?” Beni.


“Gue ngikut saja” jawab Ken.


“Kalau gitu nanti gue kabarin” kata Dave.


***


Aku dan Jihan sedang berada di kolam berenang yang ada di mansion. Kita setelah mengelilingi mansion dan duduk disana sambil melihat pemandangan disana. Pembantu juga sudah menyediakan beberapa cemilan untuk kita makan.


“Ly, kenapa lo gak cerita sama gue kalau lo sakit?” tanya Jihan.


“Aku juga baru tahu kalau aku ada sakit darah Han. Ken sebelumnya tidak memberitahu aku, aku tahu ketika sudah sampai disini” ucap aku.


“Kok bisa sih?”


“Kata Ken efek aku dulu pernah donor darah tapi sekarang sudah tidak. Aku juga kekurangan darah ketika kecelakaan kemarin. Mungkin darah yang masuk sama aku juga tidak cocok di tubuh aku”.


“Tidak terlalu parah kan?” Jihan cemas.


“Kata Ken sih gak, sebab masih awal. Kalau aku dapat perawatan mulai dari sekarang aku bisa sembuh kok”.


“Lo mau kan melakukan pengobatan?”


Aku melihat Jihan “menurut lo?”


“Pasti lo gak mau. Tapi gue berharap lo mau ya” Jihan memegang tangan aku.


“Iya benar aku gak mau tapi Ken begitu bisa membujuk aku. Dia tidak akan membawa aku ke rumah sakit. Dia akan merawat aku di mansion ini, mau tidak mau aku harus mau”.


“Syukur deh. Bos Ken tahu semuanya” Jihan senang.


“Tapi besok aku tetap ke rumah sakit bertemu dengan dokter. Setelah itu aku akan dirawat disini”.


“Apa keluarga kamu sudah tahu, Ly?”


Aku menggeleng “aku tidak tahu. Tapi kata Ken Mike sudah mengaturnya. Mungkin mereka akan tahu nanti ketika mereka datang waktu perikahan kamu”.


“Sepertinya kamu tidak mau mereka tahu ya, seperti biasanya?”


Aku mengangguk “Ly, semarah apapun lo sama mereka. Mereka tetap keluarga lo, apapun yang terjadi lo tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Lo harus diskusikan sama mereka dulu” lanjut Jihan.


“Iya Han..” jawab aku.


“Kita sedang menikmati pemandangan, udah selesai?” tanya ku.


“Sudah, ayo masuk. Disini dingin, nanti kamu masuk angin” ajak Ken.


Kita langsung masuk kedalam rumah menemui semua orang yang sudah berkumpul di ruang tamu.


“Kalau gitu gue pamit ya Ken, sampai ketemu besok” Beni langsung pamit ketika melihat kita sudah masuk.


“Kenapa buru-buru, mau kemana?” kepo Ken.


“Gue harus balik ke rumah sakit ada kerjaan” jawab


Beni.


“Gaya lo seperti orang sibuk” ucap Dave.


“Terserah kalian, gue pamit assalamualaikum” Beni langsung pergi.


“Waalaikumsalam” jawab semua orang.


Kemudian kita kembali duduk lagi “bagaimana, kita juga pamit?” Dave melihat Jihan.


“Iya, tidak apa-apa. Ly, gue pamit ya. Kalau ada masalah nantinya jangan lupa kasih tahu gue” pesan Jihan.


“Iya bawel” jawab aku.


Dave dan Jihan juga ikut pamit pulang ke rumah. Mereka besok pagi akan melanjutkan persiapan pernikahan mereka.


Setelah semua orang sudah pulang. Mike permisi untuk masuk ke kamarnya sebab akan melanjutkan pekerjaannya dan juga bersih-bersih. Tinggal aku dan Ken yang masih ada di ruangan tersebut.


Kemudian Ken meminta aku untuk masuk kamar dan istirahat, ken mengantar aku sampai ke kamar. Lalu Ken keluar lagi dan menuju ruang kerja untuk melanjutkan pekerjaan.


***


Beni sedang berada di ruangannya, lalu Anggika masuk “lo manggil gue?” Anggika berdiri di depan pintu.


“Iya, masuk...” Beni melihat Anggika.


Anggika jalan masuk dan duduk di depan Beni “what happen?” ucap Anggika.


“Ken mau ketemu sama lo..”


“Why?” Anggika kaget.


“Dia akan membawa temannya yang sedang sakit, ini rekam medisnya” Beni memberikan rekam medis aku dari rumah sakit Paris.


Anggika langsung membaca rekam medis aku “perempuan?”


“Iya, katanya rekan bisnisnya” jawab Beni.


“Lo yakin? Bukannya cewek ini yang digosipkan ketika dinner waktu itu?” Anggika tidak percaya.


“Kok lo tahu, bukannya lo gak datang?” Beni penasaran.


Anggika tersenyum “sudahlah, lo bawa saja mereka menemui gue nanti. Gue harus profesional kan!”.


“Oke..” balas Beni.


“Gue keluar, gue mau lihat pasien dulu” Anggika pamit.


“Masih belum move on” gumam Beni setelah Anggika pergi.


Anggika langsung menuju ruangannya, dia melempar berkas rekam medis aku diatas meja. Dia langsung duduk di kursinya sambil melamun.


#Flashback **ketika dinner**


Anggika sedang jalan pulang dari rumah sakit, tiba-tiba ponselnya berdering. Papanya yang menghubunginya, Anggika langsung mengangkatnya.


“Iya pa..”


“Kamu datang ke acara dinner ulang tahun Johnson Grup di hotelnya sekarang ya”.


“Sekarang?” Anggika kaget.


“Iya, datang ya gantiin papa”.


“Kenapa baru papa bilang, Anggi baru selesai kerja. Mana sempat Anggi datang pa!”.


“Pokoknya kamu harus datang, segan sama Ken” papa langsung menutup panggilannya.


Anggika bete sama papanya yang memaksanya datang. Dia langsung menuju butik terdekat untuk membeli gaun. Kemudian dia langsung menuju salon yang biasa dia pakai.


Anggika sebenarnya sudah telat datang, semua tamu sudah duduk di tempat masing-masing. Anggika mau menemui Ken dan yang lainnya, tapi dia melihat aku dan Jihan jalan menuju mereka.


Anggika tidak jadi jalan, dia kembali duduk. Kemudian dia mendengar beberapa orang sedang menggosipkan aku. Anggika langsung pergi meninggalkan hotel sebelum acara di tutup.


#Flashback berakhir