MY DREAM

MY DREAM
55



Setelah perdebatan yang dilakukan, akhirnya aku tidak bisa menolak keputusan dari Ken. Aku sudah minum obat, Ken langsung mengajak aku untuk pulang dan bisa istirahat.


Hari sudah malam, aku baru selesai sholat isya. Aku baru turun dari kamar untuk makan malam. Aku melihat rumah sudah sepi hanya ada beberapa orang pembantu yang sedang mengerjakan pekerjaannya.


“Mau makan malam Ly?” oma melihat aku turun.


“Iya oma, temani aku ya” ajak aku.


“Ayo..” aku dan oma jalan ke meja makan.


“Oma, Ken sudah pergi?” tanya aku sama oma.


“Ken, Ken ada di ruang kerjanya. Emang mau pergi kemana dia?” oma tanya balik.


“Acara Dave kan malam ini oma, kenapa dia tidak pergi?”


“Oh acara lepas lajang Dave, katanya gak jadi pergi. Mau menemani kamu di rumah, dia takut kejadian di kantor tadi terulang lagi”.


“Mana boleh gitu oma, aku kan tidak kenapa-napa. Lagian kan di rumah banyak orang dan ada oma juga yang jagain aku kan” aku berdiri.


“Mau kemana?”


“Aku mau bicara sama Ken oma”.


“Duduk, makan dulu. Setelah makan baru kamu temui Ken” oma menyuruh aku duduk.


“Tapi oma...” aku masih tidak mau duduk.


“Duduk kata oma” oma tetap memaksa aku.


“Baiklah oma” aku duduk kembali dan melanjutkan makan.


***


Ken didalam ruang kerja sedang menerima telvon dari Beni “gue tidak pergi. Kalian lanjut saja acaranya, lagian gue sudah bicara sama Dave”.


“Mana boleh gitu Ken, ini kan rencana kita semua” ucap Beni.


“Gue gak bisa ninggalin Laili sendirian di rumah. Gue gak mau kejadian tadi siang terjadi lagi. Sebab gue tinggalin ketika rapat”.


“Itu bukan salah lo, seharusnya dia memang harus dirawat di rumah sakit. Gue tahu lo lakukan semua itu karena sayang. Tapi acara ini sekali seumur hidup Dave loh. Kita sudah sahabatan lama, lo saja yang gak ada”.


“Maaf gue gak bisa, kalian lanjut saja” Ken langsung menutup panggilannya.


Aku sudah selesai makan dan jalan ke ruang kerja Ken. Sampai disana aku langsung mengetuk pintu. Ken baru selesai telvon jalan menuju pintu dan membuka pintu.


“Ada apa?” tanya Ken.


“Aku mau bicara, boleh masuk?” ucap aku.


“Tunggu di ruang keluarga saja, bentar lagi aku selesai” kata Ken pada ku.


“Baiklah” aku langsung meninggalkan Ken.


Ken masuk dan mengambil ponselnya, kemudian dia langsung menyusul aku ke ruang keluarga.


“Ada apa?” tanya Ken setelah duduk di dekat aku.


“Kok masih di rumah, gak jadi pergi?” aku melihat Ken.


“Pergi kemana?”


“Acara lepas bujang Dave, kemana lagi. Malam ini kan?”


“Iya, kenapa?”


“Pergi saja, aku sudah tidak kenapa-napa. Aku gak mau karena aku, kamu tidak datang. Dave sahabat kamu, hanya karena aku sakit kamu membatalkan semuanya. Lagian di rumah aku tidak sendir kok”.


“Iya benar tidak sendiri. Tadi di kantor kamu juga gak sendiri, ada Dea di luar. Kamu masih pinsan juga kan didalam, gak ada satu orang juga yang tahu”.


“Itu karena aku lupa minum obat. Sekarang aku sudah minum obat, aku juga mau istirahat. Kamu bisa pergi, kalau kamu khawatir sama aku. Nanti biar oma yang temani aku tidur”.


“Baiklah, aku siap-siap dulu” akhirnya Ken pergi juga karena aku terus memaksanya untuk pergi.


***


Aku sedang menonton TV ditemani oma “mau kemana Ken?” tanya oma.


“Oma aku pergi sebentar ya, ke acaranya Dave. Oma harus temani Laili selama aku pergi” pesan Ken.


“Baik bos” jawab oma.


“Aku pergi” Ken langsung pergi.


Oma melihat aku “kenapa oma?” tanyaku.


“Tanya apa oma?”


“Kalian berdua pacaran?”


“Nggak oma, ada apa sih oma?”


“Oma lihat Ken benar-benar sayang sama kamu. Apa kamu yakin Ken belum bicara apa-apa sama kamu?”


“Nggak ada oma. Ken hanya bilang kerjaan sama pengobatan aku saja. Lagian mana mungkin juga Ken suka sama aku oma. Mantannya saja seorang model internasional, sedangkan aku siapa oma”.


“Oma lihat semuanya Ly, Ken sangat berubah setelah ketemu kamu. Kalau orang tuanya masih hidup, oma yakin mereka akan mendukung kamu sama Ken”.


“Oma bisa aja, udahlah oma jangan bahas aku terus” aku bukannya tidak suka. Tapi aku tidak mau ada harapan apa-apa sama Ken.


***


Ken datang ke acara Dave yang diadakan di salah satu hotel Ken. Semua tamu dan teman-temannya melihat Ken datang.


“Akhirnya bos kita datang juga” teriak Beni melihat Ken.


Ken langsung salaman dengan semua orang yang dia kenal “lo memang brengsek. Apa lo menghubungi Laili sehingga dia memaksa gue untuk datang” Ken melihat Beni.


“Eh kampret, sejak kapan gue ada nomor dia ha. Baru kemarin gue kenal dia, langsung saja gue hubungi dia. Lo ada-ada saja” Beni kesal.


“Menurut lo gue bego, kan data-data kesehatan Laili ada sama lo bangsat” lanjut Ken.


“Ya kali Ken, gue tahu lo sangat over padanya. Mana mau gue ganggu dia, lo yang bilang kali sama dia kalau acaranya hari ini”.


“Semenjak kejadian tadi siang gue gak ada sama dia” Ken langsung melihat Mike dan Dave.


“Gue gak ada bicara apa-apa bos. Meskipun gue ada nomor ponselnya, gue gak pernah menghubunginya kalau gak soal kerjaan. Kalau gak atas izin lo dan lo ada di dekat gue” Mike langsung membantah.


“Gue juga gak ada bilang meskipun gue ada nomornya juga. Tapi menurut gue dia tahu pasti tidak dari orang lain lagi, pasti dari Jihan” kata Dave.


“Bisa jadi” ucap Ken.


“Tunggu, kalian bicara siapa sih?” tanya Eka.


Semua melihat Eka “oh iya lo gak tahu ya, kalau bos kita ini sudah ada pawangnya lo” ledek Beni.


“Maksudnya?” Eka masih belum paham.


“Lo pengacara tapi lo kok bego sih” Beni kesal.


Semua orang tertawa “mulut lo memang bangsat ya” Eka ikut bete.


“Sorry bro. Maksud gue, bos kita sudah ada pengganti Thania si ****** itu” lanjut Beni.


“Beneran!” Eka senang.


“Iya, cantik lagi” kata Mike.


“Muslimah juga” sambung Dave.


“Tapi sayang lagi sakit” Beni langsung nyambar.


Mike langsung menyenggol Beni. Ken melihat Beni “sorry...” Beni minta maaf.


“Ada apa?” Eka melihat Dave.


“Kapan-kapan kamu akan tahu juga. Bagaimana kita lanjutkan saja acaranya” Dave langsung mengalihkan pembicaraan.


Tiba-tiba ponsel Ken berdering, dia langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Mike dan Dave langsung melihat Beni dengan sangat kesal.


“Lo mau dipecat atau bagaimana sih. Lihat tuh, raut wajah bos kita ketika lo katakan Lali sakit” kata Dave.


“Iya, lagian si bos sekarang sangat takut jika Laili pergi seperti mommynya. Lo sih, mulut lo itu memang bikin semua orang naik darah tahu” sambung Mike.


“Ada apah sih?” Eka masih penasaran.


Dave dan Mike langsung menceritakan sama Eka apa yang terjadi sama Laili. Tidak lama setelah mereka bicara Ken datang.


Acara berlangsung beberapa jam, Ken selalu melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


“Guys, gue pamit pulang sekarang ya. Kasihan Laili di rumah sendiri” Ken pamit.


“Tapi sudah ditemani sama oma, kenapa lo buru-buru sih” kata Eka.


“Gue gak percaya Laili akan ditemani sama oma. Sebab bukan Laili yang ingn menyusahkan orang lebih tua” kata Ken.


“Ya sudah, lebih baik lo pulang saja. Terimakasih lo sudah datang dan gabung sama kita” Dave memang tahu sedikit mengenai Laili makanya dia mengizinkan Ken pulang.