
Sampai di perkebunan semua orang pada berkerumunan melihat aku datang. Aku langsung menemui mereka dan salaman dengan mereka. Kemudian aku menghampiri yang menjaga kantor disana.
“Mang, tolong bersihkan kamar utama di penginapan ya. Nanti aku mau tinggal disini, setelah itu lengkapi semua dapur dalam penginapan dengan peralatan masak, bahan makanan, dan minumn” kata aku pada mang Ujang yang bertugas membersihkan penginapan dan kantor.
“Baik non” jawab mang Ujang.
Kemudian aku langsung mengganti baju, aku akan pergi keliling perkebunan sambil mau ke kuburan ayah dan bunda. Aku keliling sambil memantau, semua pekerja menyapa aku dengan ramah.
Mereka memang sangat senang dengan kedatangan aku. Sebab aku sudah hampir satu tahun tidak datang ke perkebunan sebab aku sibuk dengan kuliah aku.
Sampai di kuburan aku mengutarakan semua perasaan aku. Aku sebenarnya ingin melanjutkan S2 tapi aku belum siap untuk itu. Aku memang pernah bermimpi ingin kuliah setinggi-tingginya tapi semua itu musnah semenjak aku kehilangan orang tua aku.
Begitu banyak mimpi aku yang tidak terwujud. Belum ada satupun keinginan aku terwujud sebab begitu banyak halangannya. Aku juga mengungkapkan kalau aku sangat rindu pada ayah dan bunda.
Ketika aku berkeluh kesah disana sendirian datang bibi-bibi aku yang bekerja di perkebunan. Mereka melihat aku menangis dan langsung memeluk aku. Aku juga tidak tahu harus curhat pada siapa, tapi aku juga tidak mau curhat pada sembarang orang.
Setelah selesai aku dan bibi langsung pergi ke tempat makan yang ada di perkebunan. Disana semua orang sedang beristirahat untuk makan siang dan sholat. Perkebunan memang menyediakan kebutuhan karyawan dan pekerja termasuk soal makan.
Kehidupan kalau tidak ada cinta memang tidak akan bagus. Aku memang memiliki permasalahan cinta yang sangat rumit. Semenjak aku sekolah menengah semua cowok hanya ingin memanfaatkan aku saja.
Mereka pada tahu kalau aku memang orang yang lumayan berkecukupan. Mereka ingin pacaran dengan aku bukan karena cinta tapi karena butuh dengan aku. Butuh disini sangat banyak, tidak hanya materi yang mereka butuhkan tapi kebaikan dan kesetiaan aku juga mereka manfaatkan.
Hampir 7 tahun aku pacaran tapi aku terus mengalami semua itu. Jadi semenjak aku terakhir pacaran tidak direstui oleh mbak Raisa dan cowok itu juga hanya memanfaatkan kesetiaanku. Aku memutuskan untuk tidak pacaran lagi, semua cowok yang dekat sama aku hanya aku anggap teman tidak lebih.
Hampir 3 tahun lebih aku tidak ada pacaran. Cowok yang dekat sama aku, aku hanya cuek saja. Ada cowok yang aku butuhkan saat aku kehilangan orang tua aku. Tapi dia tidak ada disamping aku disaat aku butuh.
Disaat aku benar-benar berada di titik yang paling terendah. Ada seorang cowok datang kepada aku, aku benar-benar tidak mengharapkan lebih dengan cowok ini. Tapi dia bisa mematahkan niat yang ada dalam diri aku. Niat aku untuk tidak akan pernah pacaran karena sakit hati pada semua mantan-mantan aku.
Cowok ini bernama William, aku saja tidak menyangka dia akan menyukai aku. Aku sama sekali tidak kenal dan tidak mau kenal dengan dia. Tapi aku tahu berita dan gosip tentang dia, apalagi dia termasuk orang paling buruk di kota tempat aku tinggal.
Aku tidak tahu kenapa aku bisa menerimanya jadi pacar aku, sebab aku hanya mengikuti apa kata hati ku. Aku juga pernah berdoa untuk didatangkan seorang cowok yang benar-benar tulus mencintai aku. Tapi aku tidak tahu apa itu adalah hasil dari doa aku selama ini.
Disaat aku benar-benar sudah menemukan seseorang tapi hubungan kami tidak direstui oleh keluarga aku. Semua orang, teman dekat, dan masyarakat sangat menyetujui hubungan kita. Tapi hanya keluarga aku saja yang tidak setuju dengan hubungan tersebut.
Kita pun sama-sama tahu bahwa keluarga aku tidak setuju. Tapi kita sama-sama ingin mempertahankan hubungan tersebut. Tidak tahu sampai kapan hubungan tersebut akan bertahan. Dia memang sangat berharap terhadap hubungan ini, tapi aku tidak ingin membuat harapannya musnah.
Aku tidak ingin membuat dia kecewa dengan aku, sebab aku tahu rasanya bagaimana dikecewain. Aku juga tahu rasanya keinginan kita tidak sesuai dengan kenyataan. Apalagi mimpi-mimpi dia terhadap hubungan ini.
Sampai aku wisudah dia selalu ada mendampingi aku. Dia datang disaat aku wisudah, dia rela datang jauh-jauh demi aku. Dia juga rela cari uang untuk bisa datang sesuai dengan permintaan aku. Tapi dia tidak bisa ketemu aku disaat aku keluar dari gedung wisudah. Dia hanya melihat aku dari jauh sambil memvideokan aku.
Disaat itu aku merasa kecewa pada diri aku sendiri. Aku happy bersama keluarga aku dan teman-teman aku tapi dia hanya melihat aku dari jauh.
Beberapa hari setelah keluarga aku pulang, dia datang menemui aku. Kita ketemu dan aku memutuskan untuk tidak membuat dia kecewa untuk kesekian kalinya. Kita pergi jalan-jalan dengan mobil aku keliling pusat kota.
“Sayang, sudah cukup” kata aku sambil duduk di dalam mobil aku disebelahnya.
“Maksudnya!” William melihat aku.
“Aku tidak mau membuat kamu kecewa untuk kesekian kalinya. Sudah cukup aku mengecewain kamu terus, lebih baik sampai disini saja” kata aku sambil menangis.
William menarik aku untuk melihatnya, kemudian dia menghapus air mata aku “jangan pernah kamu menangis di hadapan aku. Hanya karena masalah kemarin kamu seperti ini, aku tidak mau” dia menenangkan aku.
“Sampai kapan kita akan seperti ini, kita bertahan terus, emang kamu gak capek seperti ini terus”.
“Sayang, dengar. Kalau kamu sanggup aku akan sanggup juga. Aku akan memperjuangkan semuanya”.
“Bagaimana caranya, setiap hari aku terus mendengar penolakan mereka semua. Mereka terus-terusan mengungkit masa lalu kamu, mereka terus-terusan mencari kesalahan kamu. Aku gak kuat” aku masih saja menangis.
William langsung menarik aku dan dia memeluk aku. Aku dibiarkan menangis sepuasnya di dalam pelukannya. Setelah aku mulai tenang dia baru bicara dengan aku. Dia membawa aku keluar dari dalam mobil dan kita duduk di taman depan hotel tempat dia menginap.
“Ini minum dulu” William memberikan aku minum.
Aku langsung minum dan aku melihat dia yang sedang membalas chat seseorang.
“Sayang, dengarkan aku. Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan kamu. Setiap hari kita hanya berdebat mengenai ini terus, aku tahu kamu capek. Aku juga capek, tapi bukan ini yang kita mau”.