MY DREAM

MY DREAM
43



Kita mengetuk pintu rumah, tidak lama kemudian keluar Nisa yang membukakan pintu. “Tuan, nona, silakan masuk” ucap Nisa.


Kita berdua tersenyum “terimakasih”.


Nisa mengajak kita masuk dan meminta kita duduk di ruang tamu. Nisa meminta salah satu pelayan untuk menyiapkan minum. Sedangkan dia pergi memanggil Qasya dan William.


Qasya yang keluar bersama anaknya, sedangkan William masih didalam kamar. Sebab dia sedang telvonan dengan anak buahnya di Malaysia.


“Malam..” ucap Qasya.


“Malam..” jawab kita bersama.


Qasya salaman dengan Ken “Sya, kenalin ini Laili. Ly, kenalin ini Uqaisya atau biasa di panggil Qasya istri William” Ken memperkenalkan kita.


“Hai, Laili” aku duluan yang mengulurkan tangan.


“Hai juga, salam kenal ya” jawab Qasya dengan senyum.


“Pantasan dia tidak bisa melupakannya, lihat penampilannya dan sifatnya juga lembut” gumam Qasya dalam hatinya.


“Hai, siapa namanya” ucap aku pada anaknya.


“Hai juga unty, kenalin aku Kasih..” ucap Qasya berusaha tersenyum.


“Hai Kasih, ini untuk kamu ya” aku memberikan hadiah yang sudah aku beli sebelumnya.


“Makasih unty” ucap Qasya.


Kemudian kita duduk, sebelum itu aku menggendong Kasih. Sebab Ken yang mengambil Kasih dari Qasya. Lalu Ken memberikan Qasya pada aku sebab aku selalu menghiburnya.


“Kamu suka anak-ana juga, Ly?” tanya Qasya.


“Iya miss, saya punya tiga orang keponakan di rumah jadi sudah biasa kok” ucap aku sambil bermain dengan Kasih.


Ketika aku main dengan Kasih datang William “bos, maaf lama ya” ucap William.


Kita melihat William, William langsung kaget melihat aku ada bersama mereka. Ponsel yang dia pegang tiba-tiba jatuh dari tangannya. Qasya langsung mengambilnya, kemudian William baru sadar kalau ada aku.


“Ily..” ucap William.


Aku tersenyum “iya, sampai ketemu lagi”.


“Ini..” Qasya memberikan ponsel pada William.


William mengambilnya “kita bisa bicara berdua” William melihat Qasya.


“Disini saja, lagian aku datang bukan karena miss Qasya. Aku datang karena diajak sama tuan Ken. Sebab kita telah melakukan perjalanan bisnis selama hampir satu bulan. Sampai kapan juga kamu menyembunyikan ini semua” kataku sambil bermain dengan Kasih.


“Bukan itu maksudnya Ly” kata William.


Ken mengambil Kasih dari gendongan aku “lebih baik kalian selesaikan dulu masalah kalian” Ken meninggalkan kita semua.


Setelah kepergian Ken, kita terdiam semuanya “siapa yang akan bicara” kataku.


“Ly, aku memang minta maaf. Bukan maksud aku untuk meninggalkan kamu dan...” William tidak bisa melanjutkan perkataannya sebab dia takut serba salah.


Aku tersenyum “sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Aku sudah memaafkan kamu, aku sudah tahu masalah kamu. Aku hanya berharap kamu bisa melanjutkan kehidupan kamu sama keluarga kamu. Ingat anak kamu itu perempuan” kataku.


“Ly, saya juga minta maaf. Ini semua karena saya, karena kebodohan saya. Kalau saya tidak ada masalah dengan sahabat saya, ini semua tidak akan terjadi” kata Qasya.


“Miss tidak usah merasa bersalah. Kalau aku berada di posisi miss akan melakukan sepenuh hati aku untuk bisa mempertahankan pernikahan ini. Apalagi miss seorang ibu, kasih sayang seorang ibu lebih diperlukan seorang anak” kataku juga.


William dan Qasya terdiam mendengar perkataan aku “aku datang kesini sebenarnya memang ada tujuan. Kalau bukan karena Ken yang memohon pada ku untuk datang aku tidak akan datang. Untuk apa aku datang, orang yang bikin aku kecewa sendiri tidak berani meminta maaf secara langsung” kataku lagi.


“Ly...” ucap William.


“Sudahlah, semua sudah berakhir. Jangan pernah berniat untuk bercerai, itu adalah perbuatan setan” pesanku.


“Sekali lagi maafin saya ya, Ly” ucap Qasya.


“Saya juga minta maaf pada kamu” Qasya melihat William.


“Kamu sudah aku maafin” William langsung memeluk Qasya.


Pelukan itu adalah pelukan pertama yang diberikan oleh Qasya. Sebab semenjak kejadian itu mereka tidak seperti pasangan suami istri. Mereka memang tidur bersama tapi mereka melakukan apa yang mereka inginkan saja tanpa saling mengganggu.


Kemudian datang Ken menghentikan mereka “aghm...”


Mereka langsung menghentikan pelukannya. Ken kembali duduk di dekat aku sambil melihat aku. Ken memberikan semangat padaku lewat senyumannya.


Dia tahu kalau aku saat ini merasakan sakit hati tapi aku berusaha untuk kuat. Setelah itu kita langsung makan malam bersama. Ketika kita makan aku hanya diam tanpa mengambil makanan.


“Kamu kenapa?” bisik Ken pada ku.


“Ah..” aku baru sadar sebab aku tadi melamun.


“Kamu gak makan?” lanjut Ken.


“Iya..” aku tersenyum.


Lalu aku mengambil makan. Aku mengambil hanya sedikit sebab memang aku lagi tidak nafsu. Ken juga mengambil sedikit makan sebab dia berencana akan mengajak aku makan diluar.


Setelah makan kita kembali duduk di ruang tamu. William masih melihat aku tapi aku hanya sibuk dengan Kasih anaknya.


Kemudian Ken pamit pada William dan Qasya. Aku langsung memberikan Kasih pada Qasya. Setelah itu aku juga ikut pamitan.


“Miss, sampai ketemu lagi ya. Aku harap miss bisa datang ke Indonesia nanti” kata ku.


“Insya allah, aku akan kesana” jawab Qasya.


Qasya memeluk aku “aku minta maaf ya sekali lagi”.


“Tidak apa-apa miss, ini semua sudah takdir” jawab aku.


“Ayo Ly” ajak Ken.


Aku langsung mengikuti Ken. Aku tidak ada pamit pada William, aku ingin menjaga perasaan Qasya. Semenjak aku datang aku merasa Qasya memang canggung dengan aku.


Aku dan Ken sudah berada didalam mobil. Kita akan berjalan menuju pulang.


“Kita pergi makan dulu ya” kata Ken didalam mobil.


“Tapi sudah makan tadi” jawab aku.


“Aku lihat kamu makan sedikit tidak seperti biasanya. Aku juga makan sedikit sebab aku akan ngajak kamu makan di suatu tempat”.


“Kapan-kapan aja ya, aku capek hari ini”.


“Baiklah kalau gitu kita langsung pulang” ucap Ken.


Akhirnya kita langsung pulang menuju hotel. Sampai di hotel aku langsung masuk kamar dan menjalankan sholat. Setelah sholat aku berdoa sampai menangis. Aku tidak tahu aku kenapa, aku hanya ingin menangis.


Hampir satu jam aku tidak keluar dari kamar. Tengah malam aku tidak bisa tidur, jadi aku keluar menuju dapur. Aku akan membuat minuman yang biasa aku minum kalau malam-malam.


Ken juga belum tidur, dia sedang mengerjakan pekerjaan di ruangan dekat jendela. Aku tidak melihat Ken yang sedang kerja tapi Ken melihat aku keluar kamar. Untungnya aku terus memakai hijab kalau keluar kamar.


Aku sedang membuat minum datang Ken “ngapain Ly?”.


“Buat minum” jawab aku dengan suara yang serak.


Ken kaget mendengar suara aku “kamu nangis?”


“Nggak..” jawab aku.


Di dapur sangat gelap sebab Ken sudah mematikan lampu jadi dia tidak melihat terlalu jelas wajah aku. Setelah buat minum aku kembali ke kamar tapi Ken menarik aku untuk duduk di ruangan dekat dapur.