MY DREAM

MY DREAM
12



Sampai disana kita turun dan membawa semua makanan yang dibawa Cici. Aku menggendong Qori, Cici membawa makanan, dan Jihan membawa tikar untuk kita duduk. Qori sibuk main bersama Cici, sedangkan aku dan Jihan duduk memperhatikan mereka dari jauh.


 “Ly, bagaimana hubungan lo sama William? Sudah ada dia menghubungi kamu?” tanya Jihan.


Aku menggeleng “tidak ada, aku juga gak terlalu berharap lagi. Biarkanlah Tuhan yang menjawab semuanya nanti”.


“Apa kamu akan kembali seperti dulu?”


“Mungkin lebih baik aku seperti dulu dari pada aku seperti sekarang. Menurut kamu bagaimana?” aku meminta pendapat pada Jihan.


“Kalau aku setuju juga, lebih bahagia kamu jomblo dari pada punya pacar. Maaf sebelumnya, bukan aku bilang kamu gak bahagia sama William. Iya aku lihat kamu bahagia tapi kamu gelisah dan ketakutan.....”


“Berbeda kebahagiaan kamu saat kamu ikhlas melepaskan Raffi waktu itu, kamu seperti tidak ada beban. Meskipun kamu kehilangan orang tua kamu, tapi kamu tidak ketakutan. Meskipun sampai saat ini kamu tidak bisa melupakan Raffi setidak kamu sudah ikhlas” penjelasan Jihan.


“Entahlah, pusing aku memikirkan semuanya” aku sudah tidak tahu apa yang mau aku lakukan lagi.


Hari semakin sore, aku membawa Qori pulang ke rumah. Sampai di rumah orang tuanya belum juga pulang. Kita turun dan membuka kunci rumah lalu masuk.


“Sayang mandi sama bibi ya. Unty mau masak makan malam buat Qori” ucap aku.


“Iya unty, ayo bi” Qori menarik tangan Cici dan masuk ke kamarnya.


Aku meletakan tas dan kunci mobil di sofa ruang keluarga. Kemudian aku langsung ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Sedangkan Jihan langsung masuk kamar aku sebab dia mau sholat. Aku memang lagi tidak sholat.


Setelah sholat Jihan turun dari lantai dua dan mencari aku “apa yang mau kamu buat Ly?”


“Masak untuk makan malam. Kalau tunggu mbak Raisa dia pasti beli makanan luar saja nanti. Kasihan Qori yang sering makan luar” jawab aku sambil menyiapkan apa yang mau aku masak.


“Aku bantu ya”


“Dengan senang hati” aku tersenyum.


Aku dan Jihan masak bersama, setelah masak kita menghampiri Qori yang sedang menonton film kesukaannya. Kemudian Cici turun dari lantai dua, kita langsung masuk kamar aku untuk mandi juga.


Aku sudah selesai mandi dan langsung turun ke lantai satu untuk menyiapkan makan malam untuk Qori. Sedangkan Jihan dia akan sholat Maghrib dulu baru menyusul turun.


Sampai di bawa aku sudah mendengar kalau orang tua Qori sudah pulang. Aku menghampiri Cici dan Qori di depan TV sambil main.


“Ci, sholat sana. Sayang ayo makan dulu” aku mengajak Qori makan.


Aku dan Qori menuju dapur, aku megambilkan makan untuknya. Kemudian aku membiarkannya makan sendiri sebab dia sudah biasa untuk makan sendiri. Sedangkan aku menyiapkan untuk makan malam.


“Num nty” Qori meminta minum.


“Itu di depan sayang” jawab aku.


Ketika aku sedang menyiapkan makan malam, datang mbak Raisa ke dapur.


“Tidur disini malam ini Ly?” tanya mbak Raisa.


“Nggak mbak, besok harus kerja lagi untuk persiapan peternakan yang masih tahap perencanaan waktu itu” aku duduk sambil membantu Qori makan.


Datang mas Rian “sudah dapat investornya Ly?”


“Nggak tahu mas, itu semua mas Angga yang urus. Sebab aku baru sebulan menjalankan perusahaan. Lagian kata mas Angga perencanaannya masih belum maksimal, jadi belum bisa menentukan investor dulu”.


Datang Cici dan Jihan “malam semua”


“Malam..” jawab semua orang.


“Jihan, jadi kamu yang akan membantu Ily nantinya?” tanya mbak Raisa.


“Iya mbak” jawab Jihan.


“Ayo mulai makan malamnya” ajak Rian.


Mereka semua langsung mulai makan. Rian sudah selesai duluan makan, kemudian mas membawa Qori pergi ke ruang keluarga. Sedangkan yang lain membereskan sisa makan malam.


Aku masuk kamar sebab tadi ada panggilan telvon mengenai rapat yang akan diadakan di perkebunan besok. Setelah selesai masuk Jihan kedalam kamar, dia akan melaksanakan sholat sebelum pulang.


Setelah selesai Jihan sholat, kita langsung siap-siap langsung pulang ke perkebunan. Sebab takutnya akan kemalaman sampai di perkebunan.


“Ci.. mau nginap atau diantar pulang?” teriak aku sambil turun ke lantai satu.


“Pulang mbak, sebab mau buat tugas kampus buat besok” jawab Cici dari dapur.


“Mbak, kenapa gak panggil bik Jum kesini lagi yang jagain ayah sama bunda dulu. Kalau bik Jum Qori gak perlu penyesuaian diri lagi, lagian bibik nanti bisa juga bantu-bantu mbak nantinya” ucap aku bicara sama Raisa.


“Ya nanti mbak fikirkan..” jawab Raisa.


“Sudahlah, aku pamit. Qori sayang unty pamit ya, besok ketemu lagi” aku mencium Qori “mas, aku pamit” aku juga salaman sama Rian begitu juga dengan Jihan dan Cici.


Setelah mengantar Cici ke rumah bibi, aku dan Jihan langsung pergi menuju perkebunan. Aku di jalan hanyak banyak diam sambil memikirkan mbak Raisa. Aku masih bingung kenapa dia tidak mau memanggil bik Jum.


Jihan melihat aku yang seperti ada yang difiirkan “Ly apa yang kamu fikirkan?”


“Aku masih bertanya-tanya, kenapa mbak Raisa tidak mau memanggil bik Jum untuk membantunya. Aku tanya mas Doni juga tidak akan dapat jawabannya nanti” ucap aku.


“Nanti aja di fikirkan, sekarang fokus aja nyetirnya dulu. Kalau aku tahu jalannya dari tadi aku yang nyetir dari pada lihat kamu melamun aja terus”.


“Iya maaf, sekarang aku fokus” aku kembali fokus.


Dua jam kemudian kita sampai di perkebunan, kita langsung turun “mas, bantu Jihan mengeluarkan barang-barangnya dan bawa ke ruangan yang aku bilang tadi sore”.


“Iya Ly” jawab Tejo.


Aku masuk dulu ke kamar, sebab aku akan mencari tau kenapa mbak Raisa tidak mau mengajak bik Jum. Sedangkan Tejo memabantu Jihan mengeluarkan barang-barangnya.


Esokan paginya aku mendapatka pesan dari kak Della. Dia mengatakan apa alasan mbak Raisa tidak mau mengajak bik Jum. Ternyata karena mbak Raisa tidak sanggup membayar bik Jum.


Setelah aku sarapan datang Jihan memberitahu kalau rapat akan segera didadakan sekitar satu jam lagi. Semua pekerja sedang ada jalan ke ruang meeting yang sudah disiapka oleh Tejo dan Jihan.


Rapat sudah mulai diadakan dan keputusan sudah didapatkan. Bahwa perencanaan akan membangun peternakan sudah hampir maksimal. Kemudian mereka akan mencari beberapa investor dalam perusahaan mereka.


Semua itu adalah tugas Bagas dan Jihan, sebab mereka yang tahu itu semua. Karena aku masih tabu dalam semua itu.


Rapat telah usai, aku pergi ke ruangan aku dan menunggu kedatangan mas Angga. Sebab akan ada yang akan aku bicarakan sama mas Angga.