
Tidak lama kemudian pembukaan peternakan itu langsung dimulai. Ken memang takjub melihat pemandangan disana, sehingga dia mendapatkan ide yang bagus untuk usahanya selanjutnya disana.
Setelah acara pembukaan Ken ingin bicara berdua dengan aku. Mike menghampiri mas Bagas untuk mengatakannya. Sebab aku lagi sibuk dengan Qori dan Kayla melihat ikan yang baru dimasukkan kedalam kolam ikan.
Sedangkan Ken melihat aku dari jauh, dia merasa kagum melihat aku. Dia merasa kalau aku tidak pernah membedakan keponakan aku.
Mas Bagas menghampiri aku “Ly, tuan Johnson ingin bicara sama kamu”.
“Baik mas, mas bawa saja mereka ke kantor di ruangan aku ya. Aku mau mengantar bocah berdua ini ke penginapan menemui mbak Raisa dan mas Doni”.
“Baiklah” mas Bagas langsung pergi.
Aku membujuk Qori dan Kayla, tidak lama mereka berhasil di bujuk. Aku langsung mengantar mereka menemui orang tua mereka yang sedang istirahat di penginapan.
Aku langsung ke kantor menemui Ken “mas, dimana?” tanya aku ketika melihat mas Bagas sedang bicara dengan tuan Mike di depan kantor.
“Di ruangan kamu” jawab Bagas.
“Makasih mas. Permisi tuan Mike” aku tersenyum sama mereka dan langsung masuk ke ruangan aku.
Aku membuka pintu dan mengucapkan salam, kemudian aku langsung menghampiri Ken yang sedang duduk melihat sekitaran ruangan aku.
“Maaf tuan sudah menunggu saya” aku duduk di sofa depan Ken.
“Oh, tidak masalah” jawab Ken dengan tersenyum.
Kemudian kami sama-sama diam dan saling lihat, tidak lama aku sadar “maaf, ada apa ya tuan, ingin ketemu sama saya?”.
“Panggil Ken saja..” ucap Ken.
“Nggak mungkin tuan, nggak sopan. Lagian tuan juga lebih tua dari saya” aku tidak berani mengikuti keinginannya.
“Terserah kamu mau panggil saya apa tapi kalau hanya kita berdua nggak usah panggil saya tuan. Aku belum setua gitu kalik” Ken bersikap dingin.
Aku hanya tersenyum menanggapinya, aku gak mau banyak bicara dengan orang cuek seperti dia.
Tidak lama kemudian datang Qori dengan Jihan mengetuk pintu “masuk..” kata ku.
“Unty...” Qori berlari mengejar aku.
“Eh sayang, kenapa kesini. Unty kan lagi kerja” aku melihat Qori.
“Maaf tuan, Ly, aku mengganggu” ucap Jihan.
Sedangkan Ken hanya tersenyum.
Aku melihat Jihan “ada apa?”
“Qori mau ketemu sama kamu, dia mau pulang” ucap Jihan.
“Sayang, udah mau pulang ya?” aku melihat Qori.
“Iya unty. Kita pulang yuk unty, main, dan jalan-jalan lagi. Ori mau sama unty gak mau sama mama” rengek Qori.
“Eh gak boleh gitu. Pulang sama mama dulu, minggu depan unty pulang dan main sama dek Kayla juga. Dek Kayla mana?”
“Udah bobok” Qori masih murung.
Aku jalan mendekati kulkas kecil yang ada di ruangan aku. Aku mengambil ice cream kesukaan Qori dan memberikannya.
“Ini untuk Qori, tapi pulang ya sama mama” kata ku.
Qori senang melihat ditangan aku ada ice cream. Dia langsung mengangguk, aku langsung memberikannya.
“Sini peluk dulu” aku langsung memeluk Qori.
Qori mencium aku “Ori sayang unty. Dah,,, unty, dah,,, om” ucap Qori pada aku dan Ken.
Ken tersenyum melihat Qori yang sudah pergi meninggalkan ruangan aku bersama Jihan. Jihan juga pamit sama aku dan Ken.
“Maaf ya tuan” ucap aku sambil melihat Ken.
“Begitulah”
“Kalau boleh tahu kamu tinggal dimana sekarang, kenapa dia ingin kamu pulang?” Ken mulai kepo.
Aku gugup “aku sudah lama pergi dari rumah, makanya dia kangen. Ayo tuan kita lanjutkan apa yang mau tuan bicarakan” aku langsung mengalihkan.
Ken semakin penasaran sama aku setelah mendengar jawaban dari aku. Dia melihat perubahan raut wajah aku ketika dia menanyakan tentang rumah.
“Maaf. Baiklah, kita mulai saja...” Ken langsung saja memulai pembicaraannya.
Dia mengucapkan selamat mengenai pembukaan peternakan aku. Dia sangat kaget melihat antusias masyarakat di kampung aku. Karena melihat pemandangan di kampung aku tersebut, dia ingin membuat bisnis lagi sama aku.
Aku kaget mendengarnya “apa! Usaha lagi?”
“Iya. Saya mau membangun tempat wisata disini dan tempat pacuan kuda. Apakah kamu bisa membantu saya?”
“Kenapa harus aku?”
“Karena ini kampung kamu, kita bisa nantinya menjadikan perkebunan dan peternakan itu sebagai tempat wisata. Saya mau kolaborasi sama kamu, mungkin kamu bisa membantu saya”.
“Tapi untuk membangun itu semua harus butuh tanah yang lebih luas lagi. Aku sudah tidak ada tanah lagi, yang ada hanya tanah pemakaman orang tua aku. Aku gak mau tanah itu dijadikan, tanah itu khusus untuk pemakaman keluarga” ucap aku sambil berlinang air mata.
Ken jadi serba salah “maaf, bukan itu maksud saya. Saya gak akan mengganggu tanah itu, makanya saya ingin mnta bantuan kamu”.
“Maksudnya?”
“Kamu orang sini pasti akan lebih mudah mendapatkan tanah tersebut”.
“Oke, aku paham. Tapi akan lebih mudah mendapatkannya kalau menjadikan msyarakat disini sebagai pekerja disana nantinya. Sebab itu adalah kunci ayah aku dulu untuk mulai membangun semua ini dulu”.
“Maksudnya?” sekarang Ken yang tidak paham.
“Ayah membangun usaha ini dulu dengan memperkerjakan masyarakat kampung. Semua yang ingin bekerja tidak pernah di tolak sama ayah. Pokoknya mereka bisa bekerja dimana skill masing-masing. Jika disini penuh, masih ada supermarket, minimarket, dan sorum punya mas Doni yang akan menampung masyarakat yang ingin bekerja”.
Ken semakin kagum dengan pemikiran aku “terus?”.
“Karena masyarakat semakin banyak butuh pekerjaan, makanya ayah ingin memperluas usahanya. Makanya ayah sangat mudah mendapatkan tanah yang di inginkannya” lanjut aku.
“Oke, saya paham. Saya juga setuju, tapi kamu mau kan bantu saya dan menjadi patner bisnis saya?”
“Oke, tidak masalah. Tapi....” aku masih merasa ada yang mengganjal.
“Apa?”
“Masalah kuda, aku tidak tahu dimana mendapatkannya” kataku.
Ken tersenyum “itu tidak ada masalahnya, semua itu akan mudah. Karena kamu sudah setuju, kita akan lanjutkan lagi perbincangan kita minggu besok”.
Aku ingat ada janji sama Qori “kenapa harus minggu besok?”
“Sebab besok saya harus ke luar negeri ada yang mau saya urus. Makanya minggu besok kita akan lanjut membicarakannya” jawab Ken.
“Aku gak bisa minggu besok, apalagi hari libur. Aku tidak pernah bekerja di hari weekend” aku menunduk.
“Tenang saja, saya tidak bermaksud mengganggu liburan kamu. Hari seninnya kita akan adakan rapat, nanti asisten saya yang akan menghubungi Bagas”.
“Hormatilah orang lebih tua daripada tuan, meskipun jabatan tuan lebih tinggi darinya” kataku dengan pelan tapi terdengar juga oleh Ken.
Ken tersenyum “oke, mas Bagas”.
Ken memandang aku, aku jadi salah tingkah “kenapa melihat aku seperti itu?”
“Kamu lucu. Kadang mudah senyum, kadang ceria, kadang fokus, kadang melow, dan bisa jutek juga” ucap Ken.
“Itulah aku, semakin lama tuan mengenal aku, bisa-bisa tuan jatuh cinta sama aku” aku pergi meninggalkan ruangan tersebut.
“Hahaha....” keluar gelak tawa Ken.