
Aku dan Ken sedang berada di mobil. Kita berdua jalan menuju rumah sakit.
“Mike kenapa gak ikut?” tanya aku didalam mobil.
“Mike bukan sopir aku, dia asisten aku yang bekerja di perusahaan” jawab Ken.
“Aku cuma nanya gak usah sewot juga kali” aku heran dengan sikap Ken yang tiba-tiba kesal sama aku.
“Ya kamu sih, kalau gak lihat Mike sehari saja pasti di tanyain” Ken bete.
“Eh bos, kalau orangnya ada untuk apa ditanya. Ya orang yang gak adalah yang ditanyain” jawab aku yang ikutan sewot juga.
“Kok kamu juga marah?” Ken melihat aku.
“Kamu kenapa tiba-tiba marah, lagi PMS?”
“Apa!” Ken melihat aku.
Aku terpaksa diam, sebab jika aku terus menjawab perdebatan tidak akan berhenti. Ken juga bingung kenapa dia tiba-tiba kesal ketika aku menanyakan Mike. Sebab aku memang selalu menanyakan Mike ketika pergi berdua dengan Ken.
Tidak lama kita sampai di rumah sakit, ternyata benar Ken membawa aku ke rumah sakit yang sering aku kunjungi dulu. Kita langsung menuju ruangan Beni yang berada di lorong rumah sakit.
Aku menghentikan Ken “tunggu, kita mau kemana? Bukannya ruangan dokter spesialis darah disana” aku menunjuk ruangannya.
“Kok kamu tahu?” tanya Ken.
Aku langsung ngeles sebab melihat papan yang berisi arah ruangan “aku lihat itu” sambil menunjuk papannya.
“Oh... kita mau ketemu Beni dulu” jawab Ken.
“Bukannya ruangan manager di ruangan atas ya?” tanya aku.
“Iya, dia tidak suka disana. Dia lebih suka di ruangan tempat dia mengobati pasiennya” jawab Ken sambil jalan.
Ketika sampai di depan ruangan Beni, Ken langsung membukanya. Tapi langsung aku cegah “ketuk dulu” ucapku.
“Iya...” Ken terpaksa mengetuk.
“Masuk...” jawab Beni dari dalam.
Aku dan Ken langsung masuk, Beni melihat kita “eh lo Ken..” ucap Beni kaget “silakan duduk”.
Kita langsung duduk di sofa yang ada disana “maaf ya mas, kita ganggu” kataku.
“Mas...” ken melihat aku.
Aku juga melihat Ken “emang kenapa? Ada masalah aku panggil mas sama mas Beni?” ucapku.
“Ya salah lah. Sejak kapan kamu menghargai dia. Sedangkan sama aku, Mike, dan Dave saja kamu sebut nama saja” Ken semakin bete.
“Itu kan beda, kamu rekan kerja aku. Mike anak buah aku juga, Dave kan calon suami sahabat aku, dan mas Beni kan dokter aku”.
“Eh Ly, sejak kapan dokter anak bisa mengobati penyakit darah” Ken semakin bete.
Beni yang melihat mereka hanya geleng-geleng kepala “lo kenapa, biarin saja. Kan gue dokter juga” ucap Beni.
“Lo diam, lo memang dokter. Tapi lo bukan dokternya, sialan lo!” Ken kesal pada Beni.
“Kenapa juga lo marah...” Beni senyum-senyum.
“Sudahlah, lo sudah bilang sama Anggika atau belim?” tanya Ken.
“Sudah, bentar gue hubungi dia dulu” Beni kembali ke tempat duduk dan menghubungi Anggika.
Setelah menghubungi Anggika, Beni menghampiri kita lagi “ayo, Anggika sudah menunggu kita” ajak Beni.
Kita langsung jalan menuju ruangan Anggika yang juga cukup jauh dari ruangan Beni. Sampai di depan ruangan Anggika, kita ketemu dengan sekretarisnya.
“Dr. Anggika ada?” tanya Beni.
“Tidak ada dok, dokter sedang ke ruangan pasien di lantai VIP. Ada apa dok?” tanya balik sekretaris itu.
Beni melihat Ken, Ken langsung memberi kode menuju ruangan direktur. Ken sebenarnya kesal sama Anggika, sebab setahunya dia akan bertemu dengan kita. Dia tidak ada kerja lain untuk hari itu atas perintah Ken.
Beni melihat sekretaris “sampaikan ke Dr. Anggika untuk datang ke ruang direktur setelah dia menemui pasien. Bilang padanya direktur rumah sakit mau ketemu”.
Ken duluan jalan menuju ruangan direktur yang berada di lantai paling atas rumah sakit. Aku hanya mengikuti Ken yang sedikit kesal, begitu juga dengan Beni. Beni juga melihat kekesalan di mata Ken.
Sekretaris itu sedikit ketakutan, sebab sudah membahas mengenai direktur. Lalu datang rekan kerjanya menghampirinya “ada apa?”.
“Nggak tahu, Dr. Beni mencari Dr. Anggika” ucap sekretaris itu.
“Lo tahu siapa orang yang bersama Dr. Beni tadi?” tanya rekan kerja.
Sekretaris itu menggeleng “tidak tahu, emang siapa?”
“Lo pasti dalam masalah, laki-laki itu adalah anak dari amarhum presdir rumah sakit ini. Dia adalah anak satu-satunya yang menjadi direktur rumah sakit ini. Jadi dialah direktur rumah sakit ini. Cepat sana lo beritahu Dr. Anggika” jawab rekan kerja.
“Lo yakin?” sekretaris itu masih belum percaya.
“Iya”
Sekretaris itu langsung pergi ke lift karyawan, dia langsung menuju bangsa VIP. Dia akan mencari Dr. Anggika dan menyampaikan pesan Dr. Beni.
***
Rumah sakit ini terdiri dari 10 lantai, lantai ke-10 adalah ruangan VVIP dan keluarga dari Johnson Group. Lantai itu tidak boleh di tempati oleh sembarang orang kalau bukan atas izin dari yang punya rumah sakit.
Lantai itu terdapat ruangan direktur, kamar rawat pasien beberapa ruangan, ruangan dokter pribadi, ruangan perawat pribadi, dan setiap ruangan memiliki fasilitas lengkap seperti di rumah. Lantai itu juga terdapat ruangan kosong yang sengaja di buat oleh daddy Ken.
Sampai di lantai 10, semua perawat dan petugas yang bekerja di lantai tersebut kaget mendengar suara lift yang tiba-tiba berhenti. Mereka langsung saling lihat dan melihat ke sumber suara. Sebab mereka tidak ada yang memberitahu kalau direktur akan datang.
Mereka melihat Ken keluar dari lift dan diikuti oleh aku dan Beni. Semua perawat dan petugas lainnya langsung berlari menghampiri kita dan saling menunduk memberi hormat.
Ken langsung jalan menuju ruangan direktur dan aku mengikutinya. Sedangkan Beni tinggal, dia langsung berhenti di depan orang yang sudah menjadi penanggung jawab di lantai 10. Beni langsung meminta mereka untuk menyiapkan minuman dan cemilan untuk Ken. Kemudian memberitahu kalau Ken sedang menunggu Dr. Anggika.
“Kamu kenapa?” tanya aku pada Ken setelah duduk di ruangan direktur.
“Nggak kenapa-napa kok” jawab Ken bohong.
***
Sekretaris Anggika datang dengan terburu-buru. Anggika keluar dari kamar pasien “dok... dok...” panggilnya.
Anggika menoleh ke sumber suara “ada apa? Kenapa lo lari-lari?”.
“Dokter, dokter dicariin sama dokter Beni..” jawab sekretaris itu dengan ngos-ngosan.
“Rileks, bicara dengan pelan-pelan. Kenapa?” Anggika menenangkan sekretarisnya.
Sekretaris itu langsung tarik napas dan berusaha tenang “dokter Beni mencari dokter. Mereka menunggu dokter di ruangan direktur, lebih baik dokter kesana sekarang”.
“Oh.. makasih ya” Anggika langsung melihat data-data pasien.
Sekretaris heran “kenapa dokter tenang saja”.
“Emang kenapa?” Anggika melihat sekretarisnya.
“Bukannya yang datang itu direktur rumah sakit ini, dok?”
“Iya kenapa?”
“Mereka sudah menunggu dokter loh”.
“Iya, ini mau kesana” Anggika jalan menuju meja perawat yang berada di lantai tersebut.
Anggika memberikan data pasien. Kemudian dia langsung jalan ke lift menuju ruangan direktur. Sedangkan sekretarisnya hanya bingung melihat tingkah Anggika yang acuh.
“Dokter aneh...” gumam sekretaris.
“Nggak usah cemas gitu, mereka sudah temenan lama. Mereka juga sempat dijodohkan, makanya dokter Anggika bersifat seperti itu” ucap salah satu perawat yang berada di meja tersebut.
“Beneran?”
“Iya, tapi pak direktur menolaknya” lanjut perawat.
Mereka malah bergosip di ruangan tersebut membahas dokter Anggika dengan Ken dulu.