
“Ly, kita ke perusahaan dulu ya” ucap Ken setelah dari rumah sakit.
“Ngapain?” aku menolah.
“Tadi Mike mengirim pesan kalau ada meeting bersama client”.
“Terserah kamu saja” aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas.
Aku sedang sibuk chat dengan Jihan dan menanyakan kabar sama kegiatannya hari ini. Tujuan aku chat dia adalah mengajaknya untuk keluar. Ternyata Jihan tidak bisa sebab dia sudah mulai di pingit.
Sampai di lobi perusahaan kita turun dari mobil. Ken memberikan kunci mobilnya pada penjaga yang ada di perusahaannya. Lalu kita jalan menuju ruangan Ken yang berada di lantai paling atas.
Ketika keluar dari lift bunyi notifikasi pesan ponsel aku, aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Aku melihat siapa yang mengirim pesan pada ku. Ternyata pesan itu dari orang yang paling aku kenal yaitu Dika.
Dika melihat aku berada di rumah sakit ketika aku jalan bersama Beni dan Ken. Jadi Dika menanyakan tujuan aku kesana dan apa aku sakit.
Ketika kita keluar dari lift Dea menghampiri kita “selamat siang bos”.
“Siang, bagaimana?” jawab Ken.
“Tuan Mike sudah menunggu di ruang meeting. Ini berkasnya bos” Dea memberikan beberapa file.
Ken mengambilnya “baiklah. Dea, ajak Laili ke ruangan aku. Ly, aku tinggal bentar ya”.
“Ah iya” jawab aku yang sedang membalas pesan Dika.
Ken menekan tombol lift lagi untuk menuju ruangan meeting yang berada di lantai lain.
“Mari nona” ajak Dea.
“Iya..” aku memasukan ponselnya kedalam tas.
Aku mengikuti Dea menuju ruangan Ken. Dea membuka pintu “silakan nona”.
“Terimakasih ya” jawab aku.
“Nona bisa istirahat di kamar sana. Itu kamar istirahat bos, nona mau minum atau makan apa?”
“Nggak usah, aku sudah selesai makan. Air putih saja” jawab aku sambil tersenyum dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
“Baiklah, saya permisi nona” Dea meninggalkan aku.
***
Angga mendatangi sorum motor Doni dengan tujuan untuk mengantar undangan Jihan. Tidak hanya itu, dia juga akan memberitahu pesan dari Ken.
Angga langsung diantar oleh karyawan Doni ke ruangan Doni “mas, ada mas Angga”.
“Suruh masuk” ucap Doni.
“Silakan masuk mas, kalau begitu saya permisi” karyawan langsung pamit.
Doni langsung berdiri melihat Angga masuk “silakan duduk mas”.
“Terimakasih” Angga duduk.
“Ada apa mas tiba-tiba datang kesini, biasanya hanya lewat telepon kalau bicara mengenai perkebunan atau yang lainnya?” ucap Doni.
Angga mengeluarkan undangan “ini undangan Jihan. Tujuan mas mengantar ini dan ada yang mau bicarakan sama kamu”.
Doni melihat undangan “Jihan. Sebenarnya gak perlu juga mas antar ini. Kita sudah di undang secara langsung oleh Jihan kok”.
“Tidak apa-apa” ucap Angga.
“So, apa yang mau mas bicarakan, mengenai apa?” tanya Doni.
“Mengenai Laili”
“Laili sudah pulang?”
“Jadi Laili belum menghubungi kamu?” Angga kaget.
Doni menggeleng “belum, ada apa mas?”.
“Laili sudah berapa hari di Indonesia, tapi...”
“Tapi apa mas?” Doni khawatir.
“Laili tidak diizinkan oleh Ken untuk kembali kesini”.
“Kenapa?”
“Kenapa Laili tidak beritahu kita mas?” Doni terkejut mendengarnya.
“Mas rasa kamu pasti tahu alasannya, kamu pasti tahu juga bagaimana dengan sifatnya”.
“Iya, tapi sekarang keadaannya tidak apa-apa kan mas?”
Angga menggeleng “Laili membunyikan banyak rahasia dari kalian. Kamu tahu kan golongan darah Laili sangat langkah sama dengan almarhum bunda kamu”.
“Iya mas, terus?”
Angga langsung menceritakan pada Doni semuanya sampai penyakit yang diderita aku sekarang. Tapi Angga terus meyakinkan Doni kalau aku melakukan semua itu karena ada sebabnya. Kemudian Angga juga mengatakan pesan dari Ken untuk Doni.
“Berarti Ken yang bertanggung jawab semuanya mas?” tanya Doni.
“Iya. Kalau bukan karena bujukan dari Ken, Laili tidak akan pernah mau melakukan pengobatan ini. Dia juga yang mencari dokternya” lanjut Angga.
“Terimakasih ya mas sudah memberitahu aku. Aku akan berusaha menjelaskan pada yang lain. Sampaikan juga pada Ken, kalau kita akan datang dan mendukung semuanya” ucap Doni.
***
Ken dan Mike keluar dari lift, mereka baru saja selesai meeting “Laili mana?” tanya Ken pada Dea.
“Ada didalam bos” Dea membukakan pintu untuk Ken.
Ken jalan masuk dan diikuti oleh Mike, mereka melihat aku yang tertidur di sofa “kamu gak suruh dia untuk istirahat di kamar” Ken melihat Dea.
“Sudah kok bos” jawab Dea.
Ken mendekati aku dan berusaha membangunkan aku “Ly.... Ly... bangun.. Ly..”.
Tapi aku tidak juga bangun, Ken terus membangunkan aku sampai aku terbangun. Tidak lama aku bangun dengan memegang kepala aku. Sebab aku tadi bukannya tidur tapi aku pusing sampai pinsan.
Ken melihat aku yang sedikit pucat “kamu kenapa, kok pucat?”.
“Sstt...” aku mendesih kesakitan.
Dea memberikan minum pada Ken “minum dulu bos”.
Ken langsung memberikan minum untuk ku “kenapa kamu tidur disini?” tanya Ken.
“Tidur? Siapa yang tidur, aku tadi sedang lihat ponsel dan tiba-tiba kepala aku pusing sampai pandangan aku kabur. Lalu aku tidak tahu bisa pinsan disini” jawab aku.
“Pinsan?” Ken kaget.
“Bos, mungkin efek sakit nona” ucap Mike.
“Kamu pasti telat minum obat, obat kamu mana?” Ken semakin khawatir.
“Sepertinya ketinggalan di mobil, tadi setelah dari apotik aku taruh di mobil” jawab aku.
“Mike pergi ke mobil dan ambil obat Laili. Dea bikin teh panas untuk Laili” Ken memerintahkan anak buahnya.
“Baik bos” jawab Dea dan Mike.
Dea dan Mike langsung pergi menjalankan perintah dari Ken. Ken sangat khawatir melihat kondisi aku yang tiba-tiba drop.
Aku sudah mulai tenang, Ken mencoba menghubungi dokter Agus. Ken ingin bertanya mengenai keadaan aku yang selalu tiba-tiba pusing dan sekarang pinsan.
Setelah Ken menghubungi dokter Agus datang Mike dan Dea dengan membawa semua apa yang diperintahkan Ken. Dea membantu aku untuk meminum obat aku.
“Siapa yang bos telvon?” tanya Mike.
“Dokter Agus” jawab Ken sambil melihat aku yang sedang minum obat bersama Dea.
“Terus bagaimana?” lanjut Mike.
“Ini semua efek darah yang sudah didonorkan sama Laili. Sepertinya darah itu memang tidak cocok dengan tubuh Laili. Dia harus melakukan cuci darah untuk membersihkan darah tersebut” jawab Ken.
“Aku tidak mau” tolak aku.
“Kenapa?”
“Kalau aku sudah melakukan cuci darah pasti aku tidak bisa hadir di pernikahan Jihan. Aku tidak mau melewatkan pernikahan sahabat aku” jawab aku.
“Tapi Ly, nanti tambah parah lo” ucap Mike.
“Pokoknya aku tidak mau” ucap Laili.
“Oke, setelah pernikahan Jihan mau tidak mau kamu harus mau. Besok Anggika akan datang ke rumah, nanti aku akan bicara dengannya” ucap Ken.