
Jihan menghampiri aku “kamu darimana saja, orang pada cemas tahu” bisiknya.
“Aku gak sendiri kok, itu sama mereka” aku menunjuk anak-anak dari para pegawai yang bekerja sama aku. “Lagian ini kampung aku, tidak akan terjadi apa-apa sama aku” lanjut ku.
“Kalau begitu kamu bersih-bersih sana, kasihan tuan Ken sudah menunggu” kata Jihan.
“Oke..” aku pergi meninggalkan semua orang.
Ken hanya tersenyum melihat tingkah aku, Mike juga heran melihat bosnya yang tersenyum. Biasanya dia akan marah pada orang yang membuatnya menunggu lama. Apalagi yang mengejeknya secara langsung seperti aku.
Setengah jam kemudian aku masih belum keluar, aku memang sengaja keluar lama-lama untuk membuat Ken semakin kesal. Datang mang Ujang membawa minuman untuk semua orang yang akan ikut meeting.
“Mang, apa Ily masih belum keluar juga?” tanya Jihan.
“Belum non. Barusan mbok juga datang kesana membawa sarapan non, tapi non Ily tidak membuka pintu” jawab mang Ujang.
“Kalau gitu biar aku yang bawa kesana, mana sarapannnya” ucap Jihan.
Mbok Ijah datang membawa sarapannnya “ini non”.
Jihan sudah berdiri mau pergi tapi Ken menghentikannya “Han, biar saya saja” Ken berdiri dari tempat duduknya.
“Tapi tuan...” Jihan tidak enak pada Ken.
“Tidak apa-apa. Dia sengaja lambat-lamabt seperti itu, sebab dia kesal sama saya karena keputusan saya yang buat. Sini makanannya” Ken meminta sarapan untuk aku.
Jihan langsung memberikannya “kalian lanjut saja meetingnya. Soalnya aku ada masalah yang akan aku selesaikan dengan Laili berdua” pesan Ken pada semua orang sebelum pergi.
***
Ken sudah sampai di kamar aku, dia langsung mengetuk pintu. Aku yang sedang main ponsel langsung membuka pintu.
“Mbok, masuk saja dan letakan di atas meja mbok” kata ku yang mengira kalau yang datang itu mbok Ijah.
Aku langsung duduk dan masih tetap main ponsel. Sedangkan Ken jalan masuk dan meletakan makanan sesuai perkataan aku. Kemudian dia tetap berdiri memandang aku sambil memperhatikan aku yang sibuk dengan ponsel.
“Mbok kalau sudah siap mbok boleh kembali lagi. Bilang sama Jihan untuk mulai saja meetingnya, aku akan hadir satu jam lagi” kata ku sambil tetap sibuk dengan ponsel.
Ken tidak juga pergi, dia tetap berdiri di depan ku. Aku yang sedang sibuk dengan posel jadi heran. Kenapa mbok Ijah belum juga keluar sebab aku tidak mendengar orang menutup pintu.
Aku melihat “mbok, kok belum pergi juga. Ada apa lagi?” aku langsung kaget “ah... kok bisa lo” aku langsung menggapai hijab aku yang ada di sebelah ku duduk untuk menutup rambutku.
Aku sebenarnya sudah pakai hijab semenjak aku kuliah. Jadi aku hanya membuka hijab di dalam penginapan dan bersama keluarga ku. Makanya yang terus membantu kebutuhan aku adalah mbok Ijah dan Jihan.
Ken sebenarnya memang terpanah melihat aku tanpa hijab semenjak masuk tadi. Makanya dia hanya bisa memandang aku tanpa bicara. Dia juga tidak sadar kalau aku tidak pakai hijab.
“Maaf...” Ken langsung membelakangi aku ketika dia sadar dari terpanahnya melihat aku.
“Kok bisa kamu sih yang kesini” kesal aku sambil menggunakan hijab.
Aku mengganti hijab aku yang lebih mudah aku pakai. Sebab kalau hijab yang aku siapkan pasti lama aku memakainya dan merapikannya.
“Sebelumnya aku minta maaf, aku tahu kamu kesal sama aku. Makanya kamu sengaja membuat aku menunggu selama ini” kata Ken yang masih membelakangi aku.
Aku duduk kembali “aku sudah selesai, kamu bisa lihat aku” ucap aku dengan kesal.
Ken melihat aku “maaf ya” Ken merasa bersalah.
“Iya benar aku kesal sama kamu, tapi sebaiknya jangan lakukan lagi. Kenapa kamu kesini?” aku masih sebal.
Dia sudah duduk di kursi yang ada di depan kamar aku. Diluar kamar aku memang ada beberapa kursi dan sebuah meja yang sudah aku sediakan.
Karena aku sudah bete jadi aku tidak mood lagi untuk bersiap-siap. Aku langsung menyusul Ken yang sudah duduk menunggu aku.
Ken melihat aku “kok cepat?”
“Aku lapar, kalau kamu mau bicara katakan saja” aku duduk di depan Ken sambil makan.
“Kamu makan saja dulu” kata Ken.
“Nggak usah sok baik gitu, kalau mau bicara katakan saja” kataku sambil makan.
“Sebelumnya aku minta maaf karena sudah lancang melihat kamu tanpa hijab. Kemudian aku juga minta maaf karena sudah memutuskan apa yang belum kamu putuskan. Sebab tanpa kamu putuskan juga, kita memang harus kesana menemui investor tersebut” ucap Ken.
“Oke, aku terima. Setidaknya beritahu aku dulu” kataku sambil makan.
“Oke, aku minta maaf” jawab Ken.
Setelah aku selesai makan, aku dan Ken kembali ke ruang meeting. Kita langsung bergabung dengan semua orang yang sudah memulai meeting.
“Silakan Mike jelaskan hasil pembicaraan kalian” kata Ken pada Mike.
Mike langsung membicarakan hasil pembicaraan mereka. Setelah dapat kesepakatan bersama, meeting yang diadakan hampir dua jam akhirnya selesai.
Setelah meeting aku dan Jihan langsung pergi buru-buru ke kamar. Sebab kita akan berangkat ke luar kota untuk pembukaan mini market.
Ken menghampiri Tejo “Tejo, kenapa mereka buru-buru pergi?”
“Mereka akan keluar kota beberapa hari untuk pembukaan mini market. Makanya Ily kesal sama Tuan karena terlalu mendadak mengadakan meeting hari ini” jelas Tejo.
“Oh gitu, aku minta maaf. Sebab minggu besok aku memang tidak bisa datang makanya aku majukan” ucap Ken.
“Tidak masalah tuan. Ily tidak suka saja jika melakukan sesuatu itu dengan terburu-buru meskipun ada yang membantunya. Permisi tuan, saya harus menyiapkan mobil untuk mengantar mereka”.
“Tejo, biar aku saja yang mengantar mereka” cegah Ken.
“Tuan yakin, jauh loh. Bukannya tuan harus kembali ke Jakarta?”
“Tidak masalah, setelah itu aku langsung ke Jakarta darisana. Lagian aku hanya mengantar saja, kamu bisa lanjutkan pekerjaan kamu kan?”
“Baiklah tuan” ucap Tejo.
Ken meminta Mike untuk menyiapkan mobilnya. Sebab dia akan mengantar aku keluar kota. Setelah semua sudah siap, Ken sudah menunggu aku dan Jihan di depan penginapan.
“Ly, tuan Ken yang akan mengantar sebab mas masih ada kerjaan yang dikerjakan” ucap Tejo.
“Sama mereka” aku melihat Ken dan beberapa bodygurth di belakangnya.
Tejo mengangguk “aku gak mau, nanti jadi pusat perhatian orang” tolak aku.
“Nggak usah khawatir, mereka tidak akan langsung mengikuti kita dari dekat. Mereka hanya memantau kita dari belakang” kata Ken.
“Terserah, pokoknya aku gak sua kalau diikutin” jawab ku.
Ken langsung meminta bodygurth untuk memasukan barang bawaan aku dan Jihan kedalam mobil. Kemudian kita terpaksa pergi diantar sama Ken.