MY DREAM

MY DREAM
9



Sedangkan yang terjadi sebenarnya dengan William di Malaysia dia sedang dirawat di rumah sakit. Sebab dia mengalami kecelakaan saat menyaelamatkan bosnya dari musuh disana. Dia mengalami koma hampir satu bulan, makanya semua orang tidak bisa menghubunginya.


Setelah sadar dia sudah kembali ke rumah bosnya. Dia menemui bos untuk meminta membelikan ponsel baru. Dia ingin menghubungi aku, tidak ada orang lain selain aku yang ingin dia hubungi saat itu.


Semua keperluan dia sudah disiapkan oleh anak buah bosnya. Tapi ada lagi masalahnya, dia juga tidak bisa menghubungi aku karena nomor lama aku sudah tidak aku aktifkan lagi. Karena waktu itu ponsel aku sempat terjatuh ketika bermain dengan Qori dan Kayla. Sekarang aku memakai ponsel dan nomor baru.


Aku sudah tinggal di perkebunan, seperti biasa aku bangun pagi dan lanjut sholat subuh. Setelah sholat aku melakukan lari pagi di sekeliling perkebunan. Semua pekerja juga sudah mulai berdatangan untuk menjalankan tugas masing-masing. Semua orang menyapa aku dengan ramah.


Sampai di penginapan Angga sudah menunggu aku bersama seorang wanita yang seperti aku kenal.


“Pagi Ly” ucap Angga sambil tersenym pada ku.


“Pagi mas, kenapa?”


“Mas mau perkenalkan sekretaris yang kamu inginkan kemarin. Namanya Putri, Putri ini Laili” Angga memperkenalkan wanita itu pada ku.


Wanita itu mengulurkan tangannya “Putri mbak”


Aku menjabatnya “Laili..” aku melihat Angga “oya mas, bisa tunggu di kantor saja. Aku mau mandi dulu, nanti aku kesana. Mas jelaskan saja sama dia apa tugasnya” ucap aku.


“Baiklah, ayo ikut saya” kata Angga pada Putri.


Angga dan Putri berjalan ke kantor, aku masih memikirkan siapa wanita tersebut. Sebab aku sebelumnya pernah melihat wanita itu tapi aku lupa dimana dan kapan. Aku langsung masuk ke kamar untuk bersih-bersih.


Setelah mandi aku sudah rapi mau pergi kerja, tapi tiba-tiba aku ingat dengan William. Kemudian aku ingat dengan Putri, dia adalah mantannya William yang tidak direstui oleh keluarganya dan keluarga William. Tidak lama kemudian aku keluar dari kamar mau ke kantor.


Mbok Ijah melihat aku keluar dari kamar “non, gak sarapan?”


Aku melihat mbok Ijah “aku ada perlu ke kantor mbok. Mbok suruh mang Ujang antar ke kantor ya, makasih mbok” aku langsung pergi.


“Iya non” jawab mbok Ijah.


Sampai di kantor Angga dan Putri sudah menunggu di luar ruangan aku “kenapa gak tunggu didalam saja mas?” tanya aku.


“Kata mas tadi di kunci dan mas juga gak lihat mang Ujang, makanya tunggu di luar saja” jawab Angga.


“Ayo masuk” aku mengajak mereka masuk.


Aku bekerja hanya dengan pakaian santai, sebab hanya di perkebunan. Kalau ke perusahaan di kota atau bertemu client aku baru berpakaian rapi.


“Bagaimana Put sudah tahu dengan tugas kamu?” tanya aku sambil duduk.


“Sudah di jelaskan oleh pak Angga kok mbak” jawab Putri.


“Oke, kamu akan aku terima bekerja sebagai sekretaris aku. Kamu akan aku training, jika tidak ada masalah kamu akan tetap jadi sekretaris aku. Tapi jika ada yang tidak aku suka, kamu akan aku pindahkan kapanpun itu waktunya. Kamu gak usah takut, kamu tetap bekerja di perusahaan ini tapi tidak disamping saya melainkan di perusahaan. Bagaimana?” tanya ku.


“Iya mbak, aku sudah paham dengan semua itu” jawab Putri.


“Oke mas, terimakasih. Mas boleh kembali ke perusahaan” ucap aku pada Angga.


Tiba-tiba mang Ujang datang sambil mengetuk pintu “non boleh masuk” ucap mang Ujang.


“Masuk mang” jawab aku.


Mang Ujang masuk membawa sarapan untuk aku “eh ada pak Angga. Mau minum apa pak?” ucap mang Ujang sambil meletakkan makanan di atas meja.


“Nggak usah mang, saya juga mau kembali ke kantor” jawab Angga.


“Mang satu lagi ya buat Putri ya” ucap aku pada mang Ujang.


“Nggak usah mang, aku sudah makan kok” tolak Putri.


“Kalau gitu minum saja buat ya mang” kata aku pada mang Ujang.


“Ly, mas pamit juga ya. Put, selamat bergabung ya” kata Angga pada aku dan Putri.


“Iya mas” jawab aku.


“Iya pak, terimakasih” jawab Putri dengan lugunya.


Setelah Angga pergi, aku langsung mulai makan “yakin kamu gak mau sarapan?” tanya aku lagi sama Putri.


“Iya mbak, saya sudah sarapan tadi di rumah” jawab Putri.


“Aku bicara sambil makan, gak apa-apa kan?”


“Gak apa-apa mbak”


“Boleh aku tanya sesuatu?”


“Boleh, tanya apa?”


“Kamu tahu aku?”


“Iya, aku tahu. Mbak anak dari almarhum om Bambang dan tante Nur, orang yang paling berjasa di kota ini apalagi di kampung ini”.


“Selain itu?”


“Mbak baru lulus sebulan yang lalu, mbak telat lulus karena down sebab kehilangan om dan tante”


“Lagi?” aku masih bertanya pada Putri.


“Lagi...” Putri jadi bingung dengan aku yang terus bertanya.


“Kamu yakin gak tahu sesuatu mengenai aku, atau dengar gosip tentang aku gitu. Nggak mungkin gak tahu, sebab memang heboh mengenai aku beberapa bulan yang lalu” aku masih tidak percaya dengan Putri yang tidak tahu tentang aku bersama William.


“Apa ya mbak?” Putri masih belum tahu maksud pertanyaan aku.


“William...” kata aku sambil minum.


Putri langsung kaget dan berubah wajahnya “William...”.


“Iya, gosip aku dengan William” aku perjelas lagi.


Putri menunduk “iya saya tahu mbak, emang ada apa mbak?”.


“William pernah cerita sama aku kalau kamu mantannya kan?”


“Ii.. ya... mbak” Putri gugup.


“Sudahlah, jangan fikirkan itu. Ayo ikut aku” aku berdiri.


Aku langsung pergi mengitari perkebunan, ketika aku keluar dari kantor mang Ujang langsung memberikan perlengkapan aku. Kita mengitari perkebunan sambil melihat apa ada masalah terhadap hasilnya. Aku melihat Putri yang kesusahan berjalan dengan pakaian kerjanya.


“Put, nanti kamu gak usah pakai pakaian formal gitu kalau di perkebunan. Pakai saja baju yang menurut kamu nyaman dan sopan. Tapi ketika pergi ke perusahaan dan ketemu client baru pakai baju formal” kata aku pada Putri.


“Iya mbak, kelihatan ya mbak” jawab Putri.


“Iya, kamu susah sepertinya. Satu lagi aku mau tanya, yakin kamu ingin menjadi sekretaris aku. Apa kamu siap untuk meninggalkan anak dan suami kamu untuk bekerja dengan aku?”


Putri terdiam, dia bingung harus jawab apa. Sebab dia memang butuh pekerjaan untuk membantu suaminya. Tapi dia juga memikirkan anaknya yang masih bayi di rumah.


Terpaksalah Putri menceritakan pada aku apa yang sedang dialami. Dia menceritakan sambil menangis dan minta maaf padaku. Jadi aku memutuskan untuk memberikan pekerjaan yang sesuai dengan keadaannya sekarang.