MY DREAM

MY DREAM
10



Putri terdiam, dia bingung harus jawab apa. Sebab dia memang butuh pekerjaan untuk membantu suaminya. Tapi dia juga memikirkan anaknya yang masih bayi di rumah.


 “Kalau gak sanggup bilang saja. Aku tahu kamu dari awal memang tidak siap sebab kelihatan dari wajah kamu”.


“Tapi mbak...” Putri bingung harus jelaskan.


“Ayo kita duduk disana” aku mengajak Putri duduk dibawa pohon yang ada di perkebunan.


“Jawab saja, kamu gak siap kan?” tanya aku lagi.


“Iya mbak, sebab anak aku masih sedang menyusui dengan saya. Tapi aku memang butuh pekerjaan mbak” jawab Putri.


“Oke. Kamu akan aku pindahkan ke super market, tapi gajinya memang tidak sama dengan menjadi sekretaris aku. Setidaknya disana kamu bisa ketemu anak kamu dan bisa mengurus suami kamu. Apa kamu keberatan?” aku tanya lagi.


“Iya tidak apa-apa mbak” jawab Putri.


Aku langsung menghubungi Luna “assalamualaikum mbak”.


“( ... )”


“Mbak tahu kan Putri yang dipilih mas Angga jadi sekretaris aku”


“( ... )”


“Dia akan aku pindahkan ke super market, tolong mbak urus ya. Satu lagi mbak, beri dia pekerjaan hanya sift siang”.


“( ... )”


“Besok dia akan menemui mbak langsung di super market”


“( ...)”


“Mbak bilang sama mas Angga untuk mencari lagi sekretaris buat aku. Cari yang belum maried dan bisa tinggal di perkebunan dekat dengan aku”.


“( ... )”


“Makasih mbak, waalaikumussalam” aku menutup panggilannya.


“Besok datang ke Nur Market dan temui mbak Luna, kamu tahu kan dia siapa?” ucap aku sama Putri.


“Tahu mbak”


“Temui saja dia, dia akan memberi kamu pekerjaan”.


“Terimakasih ya mbak. Maafin aku ya mbak, ternyata aku sudah salah menilai mbak. Saya doakan yang terbaik buat mbak dan mas William” ucap Putri.


“Sudahlah, aku tahu kamu benci sama aku karena aku dengan William. Sekarang jaga anak dan suami kamu, kamu boleh pulang dan taruh dokumen itu dalam ruangan aku” kata aku.


“Sekali lagi makasih mbak” Putri terus-terusan minta terimakasih.


“Iya sama-sama” jawab aku.


Putri langsung pergi duluan ke kantor dan langsung mengambil barangnya. Dia langsung pergi meninggalkan perkebunan. Sedangkan aku melanjutkan lagi untuk berkeliling perkebunan.


Pagi harinya aku sedang sarapan di temani oleh mbok Ijah, tiba-tiba ponsel aku berdering. Ternyata panggilan dari Angga yang berada di perusahaan.


“Assalamualaikum mas?” jawab aku.


“( ... )”


“Lagi sarapan, ada apa mas?”


“( ... )”


“Aku datang ke perusahaan untuk pilih sendiri sekretaris aku?”


“( ... )”


“Oke deh, jam 10 langsung di ruang pertemuan ya mas”


“( ... )”


“Iya, waalaikummussalam” aku menutup panggilan.


“Kenapa non?” tanya mbok Ijah.


“Mas Angga suruh datang ke perusahaan. Mbok bisa bilang sama mas Tejo untuk mempersiapkan mobil aku” jawab aku.


“Iya non, mau di antar sama Tejo atau bagaimana non?” tanya mbok Ijah lagi.


“Nggak usah mbok, aku sendiri saja” aku langsung masuk kamar lagi untuk mengganti baju.


Mbok Ijah pergi mencari Tejo anaknya, Tejo bekerja sebagai mandor di perkebunan. Dia yang mengurus semua hasil perkebunan dari perkebunan ke perusahaan. Dia juga bertugas untuk mengantar dan menjemput client yang ingin ke perkebunan.


Beberapa menit kemudian aku sudah rapi akan pergi ke perusahaan. Tejo menunggu aku di dekat mobil sambil membersihkan dan memanaskan mobil aku.


“Berangkat sekarang Ly?” tanya Tejo.


“Mau mas antar?”


“Nggak usah mas, kalau mas pergi siapa yang mengurus perkebunan nanti. Oya mas nanti orang dari super market jemput buah dan sayur-sayuran seperti biasa. Mbak Luna baru saja memberi tahu” ucap aku.


“Okelah, hati-hati” ucap Tejo.


Aku langsung masuk mobil dan mengendarai sendiri pergi ke kota. Ketika aku jalan mau masuk kota, aku melihat ibu William jalan. Aku menepikan mobil aku dan turun menghampirinya.


“Assalamualaikum bu” aku langsung salaman.


“Waalaikummussalam Ly” jawab ibu Yeni ibu William.


“Mau kemana bu, kok jalan kaki sendiri?”


“Ibu dari sawah mau pulang”


“Kok sendiri? Ayo aku antar pulang” aku mengajak ibu masuk dalam mobil.


Aku menjalankan mobil menuju rumah William dulu untuk mengantar ibunya “kok ibu sendiri?”


“Tadi pagi ibu diantar sama Denis sambil pergi kerja”


“Emang gak minta jemput sama mbak Riri atau kak Selni?”


“Nggak, ibu juga sudah biasa pulang jalan kaki. Kamu dari mana?”


“Aku dari perkebunan bu”


“Ibu dengar kamu sudah pindah ke perkebunan ya?”


“Iya bu, sebab gak ada yang mengontrol perkebunan bu. Bu, boleh aku tanya sesuatu?”


“Boleh, tanya apa?”


“Ada William menghubungi ibu?”


“Ada kemarin, emang dia gak ada menghubungi kamu?”


“Nggak ada bu, sudah sebulan lebih”


“Dia juga nanya nomor kamu yang lain, emang kamu ganti nomor?”


“Iya bu, tapi nomor William juga gak aktif bu”


“Dia pakai nomor baru, ibu juga gak tahu berapa”


Tidak lama kemudian sampai di rumah William, aku menghentikan mobil tepat di depan rumahnya.


“Bu, ini kartu nama aku kalau William telvon lagi bilang ya bu” aku memberikan kartu nama aku.


“Iya, nanti ibu bilang” ibu mengambilnya.


“Bu maaf sebelumnya, jangan sering-sering ya jalan kaki sejauh itu. Jaga kesehatan ibu, ibu sudah tua loh. Ini untuk ibu” aku memberikan beberapa lembar uang untuk ibu William.


“Nggak usah Ly” ibu menolak.


“Nggak apa-apa bu, aku ikhlas kok, ambil ya” aku paksa ibu untuk mengambilnya.


“Ya sudah makasih ya. Kamu juga jaga kesehatan” pesan ibu.


“Iya bu” aku salaman dengan ibu sebelum ibu keluar dari dalam mobil.


Setelah mengantar ibu William pulang, aku langsung menuju perusahaan. Semua orang sudah menunggu aku, aku sudah terlalu lama dari janji aku sebelumnya. Sampai di perusahaan semua orang menyapa aku dengan sopan.


Luna menghampiri aku setelah melihat aku masuk “Ly...”


“Mbak Luna, kok disini?”


“Mbak kasih laporan, kamu sudah di tunggu mas Angga. Kenapa lama?”


“Tadi aku ketemu sama ibu William mbak, jadi antar dia dulu”


“Oh, ayo” Luna mengajak aku masuk ke ruangan yang sudah dipenuhi oleh calon sekretaris aku.


“Akhirnya kamu datang juga Ly” ucap Angga ketika melihat aku masuk bersama Luna.


“Maaf mas, ada yang harus aku selesain dulu tadi” aku minta maaf.


Angga langsung memperkenalkan aku pada semua orang yang ada disana. Aku langsung melihat semua calon, kemudian aku mengatakan apa saja pekerjaan mereka jika jadi sekretaris aku. Sebelum aku memilihnya, aku meminta sama Angga untuk menanyakan mereka secara satu persatu.


Aku langsung keluar dari ruangan tersebut, aku dan Luna menuju ruangan ayah yang sudah menjadi ruangan aku dari seminggu yang lalu. Luna mengumpulkan CV semua calon dan akan memanggil mereka semua masuk.


Sedangkan Angga melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti karena harus menunggu aku.