
*Two months later*
Akhirnya hari yang dinantikan pun tiba. Semalam, Jericho tidak bisa tidur dengan nyenyak. Jericho merasa sangat cemas, karena malam ini, ia akan dipertemukan dengan wanita sahabatnya. Dan setelah pertemuan itu, ia akan mendapat jawaban dari pergumulannya selama ini. Akankah sang Dewi Fortuna berpihak padanya? Ataukah justru sebaliknya, ia harus menerima kenyataan bahwa konsernya tidak sesuai dengan ekspektasinya?
Di sudut yang lain, Frans juga merasakan kecemasan yang sama dengan Jericho. Memang Frans sudah tidak sabar untuk segera bertemu Elainenya. Namun, ada yang lebih mengganggu pikirannya. Frans takut mendapat penolakan. Satu bulan lagi ia akan melamar gadisnya. Akankah cintanya diterima? Ataukah justru ia akan kehilangan Elainenya?
Sepertinya dua anak manusia yang saling bersahabat itu, memiliki persamaan nasib. Mereka sama-sama menunggu jawaban dari seorang perempuan yang sama. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa keduanya juga sama-sama memiliki masa lalu dengan Perempuan itu.
Hari ini Frans telah bersiap untuk menjemput Andrea di Bandara. Awalnya Jericho memaksakan diri untuk ikut menjemput. Jericho sebenarnya tidak sabar untuk berbicara dengan wanita itu. Namun, Frans bersikeras untuk menjemputnya seorang diri.
Frans takut sikap gegabah Jericho justru akan menghancurkan segalanya. Frans meminta Jericho bersabar. Malam ini, Frans sudah mengatur waktu pertemuan mereka. Akhirnya, Jericho pun harus puas dengan keputusan itu.
Frans memang berjanji akan membantu Jericho untuk membujuk gadisnya. Tetapi, Frans sudah mengatakan kepada Jericho bahwa ia tidak akan memaksa gadis itu.
Bagaimanapun juga satu bulan ke depan, ia akan melamar Elainenya. Jika Frans tidak bisa membangun sebuah chemistry yang positif, Frans takut gadis itu justru punya alasan untuk menolak, sebab hingga detik ini, Frans tidak mampu membaca perasaan gadis itu.
Sejauh ini, Frans belum memberi tahu Jericho perihal lamarannya. Frans lebih suka menyimpan semuanya dalam hati, hingga tiba waktu yang tepat untuk memberi tahu.
-------------
*John F. Kennedy Airport*
“Elaine!” panggil Frans sambil melambaikan tangannya.
“Frans!” balas Andrea kepadanya.
Mereka saling berpelukan sejenak. Kemudian, secara otomatis, Frans langsung mengambil alih seluruh barang bawaan Andrea.
Setelah itu, Frans mengarahkan Andrea ke tempat ia memarkirkan mobilnya. Ia pun segera meletakkan seluruh barang Andrea ke dalam bagasi, dan mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah apartment yang telah disewanya.
Frans telah menyiapkan sebuah apartment ukuran studio bagi Andrea untuk dua minggu ke depan. Ia sesungguhnya mampu menyewakan apartment dengan ukuran yang lebih besar. Hanya saja, ia tidak ingin Andrea curiga, sebab kampus tidak mungkin membiayai mahasiswanya dengan berlebihan.
Sesampainya di apartmen Andrea, mereka berdua masuk ke dalam dan beristirahat dengan mendudukkan diri di sofa sejenak. Setelah cukup beristirahat, Andrea meminta tolong kepada Frans untuk meletakkan barang-barangnya di dekat lemari, supaya ia tidak kesulitan merapikan semuanya.
Setelah selesai berbenah, Andrea kembali ke ruang tamu. Frans telah menunggunya di sana.
“Elaine, apakah kau lelah?” Frans bertanya dengan raut wajah peduli.
“Tidak terlalu Frans. Perjalananku cukup lancar dan menyenangkan,” jawab Andrea.
“Oya, kapan kau mengajakku jalan-jalan?” Andrea melanjutkan percakapan itu dengan pertanyaan.
“Segera, mungkin besok! Istirahatlah dulu Elaine. Nanti malam aku akan kembali untuk menjemputmu. Kita akan makan malam dengan sahabatku,” ucap Frans memberi tahu.
“Kau tidak sedang merencanakan untuk menjodohkan aku dengan sahabatmu kan?” Andrea kembali bertanya.
“Maksudmu?” Frans masih bingung dengan arah pertanyaan Andrea.
“Aku baru saja tiba, kau langsung ingin mengenalkanku dengan sahabatmu. Bukankah itu sedikit aneh?” Andrea berucap lagi untuk memperjelas maksudnya.
“Hahaha… Tentu saja tidak Elaine, kau berpikir terlalu jauh! Sebenarnya ada bisnis yang hendak dibicarakan denganmu nanti malam. Ini sangat mendesak. Sahabatku membutuhkan pertolonganmu,” tutur Frans kepada Andrea.
“Segenting itukah sampai tidak bisa menunggu hari esok?” Andrea lagi-lagi bertanya.
“Iya. Maaf, aku tidak bisa menceritakannya padamu sekarang. Dia ingin meminta bantuanmu secara langsung. Sebenarnya ini sedikit berurusan dengan hidup dan matinya,” imbuh Frans sambil tersenyum simpul.
“Bukan mati dalam arti sebenarnya, Elaine. Sudahlah! Kau istirahat dulu, nanti malam jam tujuh aku akan menjemputmu,” balas Frans mengakhiri percakapan mereka.
Frans pun segera melangkahkan kaki meninggalkan Andrea sendiri di dalam apartment-nya. Andrea masih duduk termenung dan tidak beranjak dari sofanya. Ia merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Mengapa semenjak Frans membicarakan pertemuan dengan sahabatnya itu, ia merasa jantungnya berdebar-debar. Apakah ini sebuah perasaan yang buruk? Seolah-olah, ia akan mengalami hal yang tidak menyenangkan nanti malam.
Andrea pun segera menarik diri dari lamunannya dan berusaha untuk tidak memikirkan hal yang aneh-aneh. Kondisi badannya yang lelah akhirnya menyebabkan ia tertidur dengan pulas.
-----------------
Tepat pukul tujuh malam Frans sudah berdiri di lobby apartment Andrea. Seketika ia mendengar bunyi lift dan nampak seorang perempuan muda yang berparas elok tersenyum lebar, hingga lesung pipinya yang hanya satu itu terlihat.
Frans mematung sejenak dan wajahnya seketika menghangat. Andrea tampak cantik malam ini.
Andrea mengenakan dress biru muda dengan aksen bunga-bunga sakura. Potongan kerah dress itu berbentuk V, sehingga sangat manis ketika dipadankan dengan sebuah kalung perak disertai liontin berbentuk bulan sabit. Ia juga mengenakan flat shoes dengan warna senada.
Rambut Andrea yang lurus dan panjang itu diikat seluruhnya agak tinggi ke atas. Seperti biasa, ia tidak menggunakan banyak make up. Ia hanya mengenakan bedak dan lip tint berwarna pink.
Yang paling berbeda kali ini adalah kaca mata yang dikenakan oleh Andrea, yang nampak cocok sekali dengan wajahnya. Andrea memang tidak memiliki minus yang tinggi. Tanpa kacamata pun, ia masih bisa melihat. Tetapi entah mengapa, sepertinya ia ingin sedikit ‘menyembunyikan dirinya’ malam ini. Seolah-olah Ia tidak ingin cepat dikenali.
Frans menutupi ekspresi kekagumannya dengan sesekali melihat ke arah yang lain. Sungguh hari ini, ia merasa terpesona dengan gadisnya. Mereka akhirnya meninggalkan lobby dan segera berkendara menuju ke sebuah chinese restaurant.
--------
Jericho telah sampai lebih dahulu di restaurant yang telah mereka sepakati bersama. Jericho mengajak Andrew sehingga ia tidak perlu merasa seperti pengganggu bagi dua sejoli itu. Jericho sangat gelisah. Tidak pernah ia segelisah ini dalam hidupnya.
Frans yang telah sampai di parkiran, segera memberi kabar kepada Jericho lewat sebuah pesan singkat di handphone-nya. Saat itu kegugupan Jericho bertambah. Andrew beberapa kali menepuk pundaknya, mencoba menenangkan Jericho.
“Everthing is gonna be ok, Brother! ” Andrew menguatkan Jericho.
Dari jauh Jericho bisa melihat Frans berjalan. Ia tidak bisa melihat gadis itu dengan jelas. Badan Frans yang cukup tinggi menutupi tubuh gadis itu, hingga akhirnya mereka berdua semakin mendekat ke arah Jericho, dan mata mereka pun bertemu.
“Oh, my God, J,” gumam Andrea dalam hati. Ia sesungguhnya ingin langsung berteriak saat itu.
"J, apakah kau masih mengingatku? Apakah kau mengenaliku? Sumpah, aku sangat merindukanmu, J!” Tak henti-hentinya batin Andrea berbicara dan berbanding terbalik dengan mulutnya yang membisu. Ia sungguh-sungguh terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa.
Jericho yang belum menyadari sepenuhnya keberadaan Andrea, memberikan senyum tulus kepada Frans dan wanitanya. Tidak lama, otaknya mengirimkan sinyal kembali ke masa lalu. Seketika ia merasa seperti pernah melihat wanita cantik yang tengah berada di hadapannya ini.
“Frans, kau sudah datang,” kata Andrew seraya tersenyum.
“Nona, maaf, sepertinya kau tidak asing bagiku, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Jericho memperhatikan wajah Andrea dengan intens.
Sungguh ketika Jericho mengajak Andrea bicara, Andrea tidak lagi bisa berpikir dan berkata. Tatapannya tidak fokus. Ia sangat gugup dan sangat bingung. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa dan bertindak bagaimana. Karena tak ada balasan dari Andrea, Frans pun langsung berinsiatif menjawab sahabatnya.
“Ehm, J. Jangan mengganggunya! Aku sudah bilang padamu, dia gadis baik-baik,” kata Frans hendak melindungi Andrea.
“Tunggu Frans!” Jericho menyela ucapan Frans
Jericho menatap kembali gadis itu semakin intens, kemudian ia pun melanjutkan perkataannya.
“Oh, my goodness. Is that you? ” Jericho bertanya kembali kepada perempuan itu dengan nada ragu dan tidak percaya.
-----------
Halo! Jangan lupa dukung saya ya! Mana like, comment, vote, dan rate-nya? Saya tunggu ya kakak-kakak. 🙂