
“Bolehkah aku masuk?” Jericho menunjuk ke dalam ruangan.
“Masuklah, J!” Andrea menjawab singkat sambil menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan Jericho masuk.
“Maaf, orang yang datang tidak sesuai dengan keinginanmu,” kata Jericho dengan nada dingin.
“Apakah tadi Frans ke sini?” Jericho bertanya melanjutkan pembicaraan.
“Iya. Frans datang sejak pagi dan baru saja ia pergi. Kalau kau datang beberapa menit lebih awal, kau pasti akan bertemu dengannya,” jawab Andrea.
“Kenapa ia pergi? Bukankah seharusnya ia menjagamu?” Jericho merasa bahwa Frans tidak seharusnya meninggalkan Andrea dalam kondisi sakit.
“Ia harus menemui seseorang. Ia pergi setelah memastikan aku sedikit membaik,” jawab Andrea.
“Kau nampak pucat An, apakah tadi laki-laki itu tidak sempat membawamu ke dokter?” Jericho melanjutkan pertanyaannya.
“Dia memaksa, tapi aku menolaknya. Bubur dan obat yang dia siapkan, aku pikir cukup untuk membuatku pulih.” Andrea menjawab Jericho tanpa melihat matanya.
“Kenapa kau datang, J?” Andrea melanjutkan perkataannya.
“Apakah kau keberatan jika aku datang?” Jericho menjawab sambil menunggu reaksi Andrea.
Andrea hanya menatap Jericho tanpa ekspresi. Dia tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan Jericho saat ini.
“Sebenarnya maksud kedatanganku adalah untuk meminta maaf atas sikapku kemarin. Aku tidak seharusnya menegurmu dengan kasar di depan umum. Semoga kau tidak menyimpannya dalam hati dan membatalkan bantuanmu,” ucap Jericho menyampaikan maksudnya.
“Lupakan, J. Aku bahkan tidak memikirkan itu lagi. Aku juga tidak menyimpannya dalam hati,” balas Andrea masih dengan ekspresi datarnya.
“An, maafkan aku. Aku tidak tahu kau sedang sakit waktu itu. Aku rasa jika kondisimu belum memungkinkan, kau tidak perlu ikut gladi besok. Lebih baik kau beistirahat supaya lusa kau bisa tampil prima,” kata Jericho sambil memegang tangan Andrea.
“Apa tidak ada yang lain yang ada dipikiranmu selain konser itu, J. Apakah kau tidak bisa melihat aku sebagaimana aku melihatmu?Aku semakin tahu, siapa dan seperti apa aku di matamu,” gumam Andrea dalam hati.
“Tak perlu meminta maaf, Jericho. Sudah ku katakan, aku tidak memikirkan masalah itu. Jika memungkinkan, aku akan tetap mengikuti gladi besok. Satu lagi, percayalah, konsermu akan bejalan sempurna nanti. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan ada di sana, menyelesaikan janjiku,” ucap Andrea kepada Jericho sambil melepaskan tangannya dari genggaman Jericho dan berdiri hendak meninggalkannya untuk menuju ke dapur.
Andrea sungguh terluka dengan sikap laki-laki itu. Dadanya sesak seketika mendengar ucapan Jericho tadi. Sekarang semua sudah jelas. Dia bisa menarik kesimpulan dari semua sikap manis yang ditujukan Jericho padanya. Semua itu adalah demi konser musik itu.
Bodohnya, ia bahkan membiarkan dirinya terbuai dengan kepalsuan yang dikemas dalam bentuk perhatian. Bertambahlah rasa sakit di hatinya dan bertambah pula rasa kecewanya. Andrea semakin menyesali dirinya yang mudah terlena.
Belum terlalu jauh Andrea berjalan, tiba-tiba ia merasa pusing. Ia berhenti sejenak dan memegang kepalanya. Ia bisa merasakan urat-urat di sekitar kepalanya menegang hebat. Kemudian, Ia merasa bahwa ruangannya berputar.
Gadis itu mencoba mencari sesuatu untuk menahan dirinya. Namun, tidak lama setelah itu, matanya menggelap. Andrea tumbang dan hampir jatuh ke lantai, beruntung sebuah lengan menahan tubuhnya.
Jericho bisa merasakan bahwa Andrea akan jatuh. Ia pun langsung berlari menangkap tubuhnya. Laki-laki itu seketika menjadi panik. Ia mengangkat tubuh Andrea dengan kedua lengannya, dan membawa gadis itu ke pembaringan. Diletakkannya tubuh gadis itu dengan hati-hati.
Jericho mencoba menyadarkan Andrea dengan berbagai macam cara. Ia menggerakkan tubuh Andrea, menaruh minyak aromatik di hidungnya, namun gadis itu tidak kunjung membuka mata. Jericho khawatir saat ini. Ia menyentuh dahi Andrea dan merasakan suhunya yang cukup tinggi. Ia mencari alat pengukur suhu untuk memastikan. Ia semakin panik saat melihat angka yang tertera.
Tanpa banyak berpikir, Jericho menelpon dokter langganannya. Sambil menunggu, ia segera mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengompres Andrea. Namun, kondisi Andrea tidak segera membaik. Jericho mendapati Andrea menggigil kedinginan dan raut wajah Andrea menunjukkan bahwa ia sedang kesakitan. Jujur, ia tidak tega melihat gadis itu.
Jericho merasa tidak tenang. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya yang ia pikirkan saat ini adalah ia ingin memeluk Andrea. Ia berharap pelukannya bisa membantu membuat gadis itu tidak menggigil lagi. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, ia memutuskan untuk naik ke ranjang dan memeluk Andrea. Namun, belum sempat ia melakukannya, ia mendengar ketukan pintu.
-----------------
“Terima kasih dokter. Saya akan menebusnya setelah ini,” balas Jericho.
“Saya permisi dulu.” Dokter itu pun berpamitan dan segera meninggalkan apartment Andrea.
Jericho bergegas pergi ke apotek untuk menebus obat itu. Sebenarnya, Ia gelisah meninggalkan Andrea sendiri. Beberapa kali ia meminta pegawai apotek mempercepat pelayanannya dan segera memberikan obatnya. Setelah mendapatkan obat, ia pun langsung menuju ke apartment Andrea.
Sekembalinya dari Apotek, Jericho berusaha lagi untuk membangunkan Andrea. Usahanya pun mendapatkan hasil. Andrea sempat bangun sebentar untuk meminum obatnya. Namun, karena kondisinya sangat lemah, gadis itu pun tertidur kembali.
Hari itu, Jericho menghabiskan malamnya hanya untuk merawat dan menemani Andrea. Tak henti-hentinya, ia menatap wajah Andrea yang tertidur pulas. Ia melihat kantung mata gadis itu sedikit bengkak dan menghitam, seperti seseorang yang habis menangis atau seseorang yang kurang tidur. Ia melihat pipi dan bibirnya yang pucat pasi. Satu demi satu, diperhatikannya wajah gadis itu. Entah mengapa, ia menemukan kedamaian saat melihat gadis itu tengah tertidur.
------------------
Fajar pun menyingsing. Gadis bermata coklat itu kini telah bangun dari tidurnya. Perlahan-lahan ia membuka mata, mencoba mengumpulkan sedikit demi sedikit kesadaran yang dimilikinya. Ia juga berusaha merasakan masing-masing anggota tubuhnya, hingga tersadar ada yang sedang menggenggam tangannya.
Andrea terkejut ketika melihat bahwa itu adalah tangan Jericho. Laki-laki itu masih tertidur dengan menyandarkan kepala pada sisi ranjang. Tangan kanan laki-laki itu memegang tangan Andrea, sementara tangan kirinya menjadi alas kepalanya. Semalaman laki-laki itu duduk di samping ranjang. Andrea merasa tidak tega saat ini.
Dengan hati-hati, Andrea mencoba melepaskan tangannya dari tangan Jericho. Ia mencoba sehalus mungkin agar tidak membangunkan pujaan hatinya itu. Jericho tersadar saat merasakan sesuatu bergerak. Ia pun langsung bangun dari tidurnya.
“Kau sudah sadar? Semalam kau pingsan.” Jericho memulai pembicaraannya.
“Terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu,” balas Andrea.
“Aku akan memaksakkan bubur yang baru untukmu. Kau tunggulah di sini!” Jericho segera berdiri dan meninggalkan Andrea.
“Tidak perlu, J. Pulanglah! Kau pasti lelah. Bukankah hari ini ada gladi bersih? Istirahat dan persiapkan dirimu!” Andrea menolak maksud baik Jericho.
“Aku tahu aku tidak bisa merawatmu, sebaik Frans. Tapi sekarang hanya aku yang ada di sini. Menurutlah! Jangan membantah!” Jericho segera pergi menuju dapur dan memasak bubur untuk Andrea.
Pagi ini, kondisi Andrea sudah lebih baik dari pada sebelumnya. Ia segera beranjak dari ranjang, menuju ke wastafel, dan mencuci wajahnya. Setelah merasa benar-benar kuat, ia meninggalkan kamar dan menuju ke dapur. Andrea mendapati Jericho sedang memasak di sana. Jericho menyadari keberadaan Andrea.
“Setelah makan, istirahatlah! Aku tidak mengijinkanmu untuk mengikuti gladi bersih hari ini,” ucap Jericho.
“Kau bukan orang yang bisa melarangku untuk pergi atau tidak, J. Lagi pula bukankah kau ingin konsermu sempurna? Aku harus ikut gladi bersihnya kalau kau mau semuanya sempurna,” balas Andrea.
“Aku tidak sedang dalam mood untuk berdebat sekarang, nona! Jangan membantahku!” Jericho menaikkan sedikit nadanya.
Andrea hanya terdiam. Ia tidak ingin mengatakan apapun. Ia hanya memandang Jericho dengan raut kesal.
“Maafkan aku. Aku benar-benar khawatir saat kau pingsan kemarin. Menurutlah padaku, aku hanya ingin kau baik-baik saja, An! Kau boleh datang, tapi hanya sebagai penonton.” Jericho menyambung ucapannya dengan nada yang lembut kali ini.
Setelah percakapan itu, Andrea merenungkan kembali semua sikap Jericho padanya. Kadang ia mendapati Jericho bersikap biasa layaknya seorang teman. Tapi, ada kalanya perhatian yang mendalam juga ditunjukkan oleh laki-laki itu, sehingga seringkali ia menyalah-artikannya.
Andrea sangat mencintai Jericho, entah sampai kapan, ia tidak tahu. Sementara itu, bagaimana dengan Jericho? Apakah Jericho akan membalas cintanya? Sejak kapan balasan Jericho menjadi keharusan bagi Andrea untuk tetap mencintainya? Bukankah itu tidak perlu? Bukankah ia terbiasa dengan cinta yang tak berbalas itu? Tapi sampai kapan? Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya. Satu hal yang Andrea putuskan saat ini. Jika dengan menjadi seorang teman, Jericho merasa bahagia bersamanya, maka dengan cara itulah ia akan mencintai laki-laki itu.
-------------
Happy reading! Jangan lupa beri feedback!