More Than Words

More Than Words
Unknowing



“Jericho…… Apa yang sedang dilakukannya di sini?” Andrea berbicara di dalam hatinya.


Laki-laki yang sedang memainkan biolanya itu, masih belum menyadari, jika ada seorang gadis yang sejak tadi berdiri di belakangnya dan memandanginya. Laki-laki itu begitu menghayati permainannya. Permainan dari seorang musisi yang sepertinya sedang patah hati.


Musik yang merdu keluar dari biola yang digeseknya. Sebuah lagu berjudul ‘Broken Vow ’ mengalun malam itu. Nada-nada menyayat hati yang disuarakan, ditemani dinginnya malam, kesunyian, dan cahaya kota dari seberang bukit itu menorehkan kesan duka yang begitu dalam.


Gadis yang saat ini sedang berdiri melihat pemandangan di depannya itu tidak bisa menahan dirinya untuk mengabadikan momen ini. Ia membidik kamera Polaroid miliknya dan segera mengambil gambar laki-laki itu.


Suara kamera yang khas dan cahaya yang cukup menyilaukan dari lampu blitz yang ada di kamera seketika menyadarkan musisi itu bahwa dirinya tidak sendiri. Ia pun menghentikan permainan biolanya dan menoleh ke belakang.


“Andrea!” Jericho menyebut nama gadis itu dengan ekspresi terkejut, yang tidak bisa ia tutupi dari wajahnya.


“Tuhan, skenario apa lagi yang kau siapkan untukku?” Andrea bergumam di dalam hatinya.


“Maaf mengganggumu, J. Aku tidak menyangka bahwa kau juga ada di tempat ini,” balas Andrea kepada Jericho sambil mengibas-ibaskan kertas foto yang dipegangnya.


“Dengan siapa kau datang?” Jericho melanjutkan percakapannya.


“Aku sendiri dengan Taxi ke sini. Maaf, jika aku mengganggumu, jika kau keberatan aku di sini, aku akan segera pergi begitu ada Taxi yang lewat,” balas Andrea.


“Kau ceroboh! Menunggu semalaman juga belum tentu akan memberi jaminan bahwa kau akan mendapatkan tumpangan, apalagi mendapatkan Taxi di tempat seperti ini, sungguh mustahil,” ucap laki-laki itu sambil membayangkan, jika mereka tidak bertemu di tempat ini, pasti gadis itu akan berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya seorang diri.


“Kau sendiri, untuk apa kau di sini?” Andrea balik bertanya kepada Jericho, sembari tetap mengibas-ibaskan kertas foto yang ada di tangannya.


“Sekarang kau bertanya seolah-olah kau pemilik tempat ini,” ucap Jericho seraya memberikan senyum sindiran ke arah Andrea.


“Aku melakukan ritual rutinku di tempat ini. Memainkan biolaku untuk menenangkan diriku. Kau sendiri, apa yang membuatmu ke tempat ini?” Jericho bertanya kembali kepada gadis itu sambil menatapnya.


“A-aku….. hanya ingin mengambil udara segar di tempat ini. Aku ingin rehat sejenak. Aku sedikit lelah dengan persiapan konser Frans dan sebentar lagi aku akan mengikuti lomba selama dua minggu,” balas Andrea kepada laki-laki itu.


Jericho tidak melanjutkan lagi pertanyaannya. Ia mengarahkan pandangannya ke cahaya lampu yang ada di bawah bukit.


“Oh, ya. Aku hampir lupa. Selamat atas hubunganmu dengan Frans,” ucap Jericho sambil tersenyum, namun dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


“K-kau, dari mana kau tahu?” Andrea tidak menyangka bahwa kabar tentang dirinya dan Frans begitu cepat menyebar.


“Tidak penting dari mana aku tahu. Aku senang kau memberikan kesempatan pada Frans. Kau mencintai laki-laki itu, benar kan?” Pertanyaan yang sulit dijawab oleh Andrea baru saja terucap dari bibir Jericho.


Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia benar-benar bingung harus menjawab apa, sebab ia memang belum mencintai Frans.


Ia pergi ke tempat ini sesungguhnya hanya untuk menyimpan sedikit kenangan yang pernah ia lalui dengan Jericho. kenangan itu hanya sekadar menjadi pengingat bahwa ia pernah mencintai laki-laki itu, sebab ia ingin melangkah sekarang dan belajar mencintai Frans.


“A-aku tentu saja mencintainya,” ucap Andrea berbohong.


“Baguslah! Semoga kalian berbahagia,” balas Jericho dengan singkat.


Keheningan kembali tercipta di antara keduanya. Baik Jericho maupun Andrea sama-sama menunjukkan sikap dingin seolah-olah mereka adalah orang yang tidak pernah dekat sebelumnya. Mereka hampir-hampir terlihat seperti orang asing.


“Bagaimana kabar kekasihmu? Andrea mencoba memecah kebekuan di antara mereka.


“Kekasihku?” Jericho tidak mengerti arah pembicaraan Andrea.


“Ms. Stephanie, J. Memangnya kau punya kekasih yang lain?” Andrea berbicara sambil melepaskan sebuah tawa kecil. Andrea merasa aneh dengan jawaban Jericho.


“Stephanie bukan kekasihku. Aku dan dia hanya teman,” balas Jericho lagi.


“Kalau begitu siapa kekasihmu? Kenapa kau tidak pernah mengenalkan kepadaku?” Andrea melanjutkan rasa ingin tahunya.


Andrea kembali melanjutkan kegiatan mengambil gambarnya. Kali ini gambar yang diambil hanya pemandangan.


“Apakah kau tadi mengambil fotoku?” Jericho bertanya.


“Jangan berprasangka. Aku tidak mengambil gambarmu tuan,” ucap Andrea sembari menyembunyikan foto yang pertama kali diambilnya.


“J, bolehkah aku bertanya? Aku merasa aneh saat ini. Aku seperti tidak mengenalimu. Aku tahu dulu kau begitu mencintai Fergie. Kenapa sekarang kau tidak percaya dengan cinta?” Andrea melanjutkan percakapannya dan kini menatap ke arah laki-laki itu.


“Fergie membuatku sadar bahwa kita tidak boleh percaya kepada wanita. Wanita hanya membawa luka dalam hidup. Wanita hanya memikirkan dirinya dan menuntut orang lain untuk berkorban baginya. Semua wanita yang aku temui di sini sama, termasuk kau Andrea!” Jericho sedikit menajamkan nadanya saat menyebut nama Andrea.


“Apa maksudmu?” Andrea merasa tersakiti dengan ucapan Jericho.


“Kau membiarkan Frans menunggu begitu lama untuk mendapatkanmu. Kau memintanya untuk berkorban demi mimpimu, tapi pernahkah kau berpikir bagaimana laki-laki itu terus menanti dengan setia, hingga tidak membiarkan seorang wanita pun mengisi hatinya?” Jericho memberikan sebuah tamparan tak kasat mata bagi Andrea.


“Kau juga melakukannya padaku Andrea. Setelah kau sempat membuatku percaya kembali dengan cinta dan semuanya, menunjukkan sikap-sikapmu yang seakan peduli padaku, hingga membuatku menginginkanmu untuk menjadi kekasihku, ternyata kau justru memilih orang lain dan meninggalkanku,” ucap Jericho di dalam hatinya.


“Kau tidak mengenalku, Mr. Jericho. Kau tidak tahu apa yang aku rasakan, apa yang selama ini aku jalani, apa yang aku pertahankan, dan apa yang aku lepaskan. Semua sikapku pada Frans dulu, dan mengapa aku menerimanya sekarang, aku rasa aku tidak perlu memberitahumu. Saat ini, aku hanya ingin menyelamatkan Frans agar tidak menjadi sama dengan diriku,” ucap Andrea dengan nada marah dan langsung pergi meninggalkan laki-laki itu.


Saat ini yang Andrea inginkan hanya berjalan dan terus berjalan. Ia tidak lagi memedulikan apakah ia akan berjalan jauh nantinya. Seperti kata Jericho, sejak tadi tidak ada kendaraan yang lewat di jalan itu, namun ia tidak peduli.


Suasana di sepanjang perjalanan itu sangat sepi. Namun, kesunyian itu tidak mengusik hatinya dan tidak membuatnya menjadi takut. Andrea justru menyukai suasana sepi seperti ini, sehingga ia bisa terus berjalan dan menangis tanpa diketahui orang lain.


Hati gadis itu begitu terluka. Bagaimana bisa laki-laki yang dicintai dan dinantinya dengan segenap hati selama ini, menyamakan dirinya dengan wanita lain yang selama ini bisa dipermainkan dengan mudahnya.


Mata gadis itu terus menatap ke depan. Dia bahkan tidak ingin menoleh lagi ke belakang. Sementara si pria hanya terdiam dan memandang punggung gadis itu sampai benar benar menghilang dari pandangan matanya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan perkataan yang baru saja di dengarkannya. Satu hal saja yang laki-laki itu mengerti saat ini, ia telah menyakiti hati gadisnya.


--------------------


Andrea terus berjalan, semakin menjauh dari tempat Jericho berada dan beruntung sebuah mobil dari arah berlawanan melewatinya. Pengemudi mobil itu memberhentikan kendaraannya dan membuka kaca untuk menyapa gadis itu.


“Nona, apa yang kau lakukan malam-malam di jalanan sepi seperti ini?” Salah seorang laki-laki yang duduk di bangku kemudi bertanya dengan senyum misterius yang menghias bibirnya.


“Aku sedang ingin kembali, tetapi rupanya sulit sekali menemukan Taxi dari sini,” balas Andrea.


“Aku bersedia memberi tumpangan padamu. Aku tidak mungkin membiarkan seorang gadis kesusahan seorang diri,” ucap laki-laki itu seraya tersenyum kembali.


“Tapi sepertinya kita tidak searah tuan. Saya tidak ingin merepotkan anda. Silakan melanjutkan perjalanan anda!” Andrea merasa sesuatu yang tidak baik akan terjadi, jika menumpang pada mobil pria itu. Ia merasa lebih baik menolak tumpangan yang ditawarkan kepadanya.


“Tidak perlu merasa sungkan. Mari masuklah!” Orang yang duduk disamping pengemudi itu langsung keluar dari mobil dan hendak memegang tangan Andrea lalu membawanya ke mobil.


“Tuan, aku sungguh-sungguh tidak mau merepotkan, pergilah!” Andrea seketika mencium bau alkhohol dari nafas laki-laki itu. Tubuhnya segera mengaktifkan alarm bahaya, saat laki-laki itu memegang tangannya.


“Lepaskan tanganmu! Lepaskan! Aku tidak membutuhkan bantuanmu!” Andrea mencoba melepaskan tangannya dari laki-laki itu.


“Sepertinya kau membuat kucing itu ketakutan, Fred.” Pengemudi yang berada di dalam mobil berbicara sambil menertawakan temannya.


“Ayolah, kau akan membuat kami tidak kesepian malam ini. Jangan sok suci, nona! Tidak ada gadis baik-baik berjalan sendiri malam-malam begini, apalagi di tempat seperti ini.” Laki-laki yang bernama Fred itu, semakin menarik tangan Andrea dan berhasil menyeretnya semakin dekat dengan mobil.


“Lepaskan! Tolong! Tolong!” Andrea tidak henti-hentinya berteriak, namun tidak ada seorangpun yang ada di sana untuk menolongnya.


“Ayolah nona! Jangan munafik! Aku akan membayarmu kalau kau tidak iklas,” ucap laki-laki itu lagi.


Andrea sudah semakin dekat dengan mobil mereka. Laki-laki yang menyeretnya sudah membuka pintu bagian belakang mobilnya. Gadis itu terus meminta tolong dan berusaha melepaskan diri. Separuh tubuhnya sudah berada di dalam mobil.


Bugh...... Bugh….....