More Than Words

More Than Words
Too Late



Andrea segera meninggalkan asrama. Sebuah Taxi telah mengantarnya menuju sebuah tempat di mana ia bisa melihat ribuan bintang tidak melekat lagi pada cakrawala. Hari benar-benar larut saat itu, namun tidak ada yang bisa menghentikannya untuk mendapatkan jawaban atas rasa ingin tahunya, selama ini.


Sepanjang perjalanan dari asrama menuju tempat itu, Andrea terus memikirkan, apakah dugaannya itu benar atau tidak. Apakah tempat yang dimaksud adalah bukit cahaya? Apakah si pengirim bunga itu adalah Jericho? Kenapa pengirim itu mengirimkan bunga Anyelir putih? Mengapa banyak pesan cinta terselip di sana untuknya? Semua itu adalah sebuah teka-teki yang harus dijawab, bukan oleh Andrea sendiri, tetapi oleh pengirim misterius itu.


“Bisa tolong berhenti, Sir! ” Andrea meminta supir Taxi itu untuk berhenti.


“Baik, Miss! ” Supir Taxi itu pun menuruti permintaannya.


“Ini ongkosnya, Sir. Oh ya, saya masih harus memastikan sesuatu. Bisakah anda menunggu di sini sebentar?” Andrea meminta supir itu untuk menunggunya.


“Baiklah,” ucap supir Taxi itu.


Gadis itu berjalan menuju sebuah tempat di mana ia pernah menghabiskan waktu bersama Jericho berdua. Baru beberapa langkah ia berjalan, gadis itu sudah melihat sosok seorang laki-laki yang ia kenal sedang duduk di atas sebuah batu besar. Kakinya bergelantungan seolah tak takut dengan jurang yang ada di bawahnya, sementara itu matanya terus memandang cahaya lampu kota yang indah, yang ada di depannya.


Setelah mengetahui bahwa ia datang ke tempat yang benar, Andrea segera membalikkan badan untuk menghampiri supir Taxi yang masih setia menunggunya.


“Sir, bisakah aku meminta nomor anda? Aku takut tidak ada kendaraan yang lewat sini nanti,” ucap Andrea seraya menyodorkan ponselnya.


Supir Taxi itu mengambil ponsel gadis itu dan mencatatkan nomornya. Setelah selesai, ia mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.


“Sekarang, anda bisa meninggalkanku. Terima kasih,” kata Andrea kepada supir Taxi itu, yang langsung memutar balik kendaraannya dan pergi.


----------------


“Ini sudah jam 1 dini hari. Apa kau gila?” Andrea berbicara dengan sosok laki-laki yang ada di depannya.


“Kau datang? Kemarilah! Duduk di sebelahku,” ucap Jericho sambil menolehkan wajahnya untuk melihat Andrea.


Andrea berjalan mendekat. Saat ia sudah berada di samping Jericho, pelan-pelan Andrea mengatur posisi duduknya. Jericho terlihat membantu memegang tangan gadis itu agar tidak sampai terjatuh.


Setelah Andrea berhasil duduk dengan sempurna. Mereka tidak langsung saling berbicara. Andrea memberanikan diri untuk menatap laki-laki itu beberapa kali. Gadis itu sedikit terkejut dengan wajah Jericho yang kusut dan nampak sangat kelelahan. Dia bisa membaca bahwa Jericho saat ini sedang tidak dalam kondisi yang baik.


“Jadi kamu adalah pengirim bunga itu?” Andrea mengawali pembicaraan di antara mereka.


Jericho hanya tersenyum. Ia masih belum mau menjawab pertanyaan gadis yang duduk di sampingnya.


“Aku tidak mengerti, kenapa harus membuat hal semacam ini, J. Ini sudah hampir pagi dan kau masih menungguku. How stupid you are. Bagaimana jika aku tidak datang?” Andrea melanjutkan ucapannya.


“Aku tahu kamu pasti akan datang,” ucap Jericho seraya melihat ke arah Andrea.


“Sekarang aku sudah di sini. Apa sebenarnya maksud semua ini?” Andrea meminta penjelasan.


“Aku harus memulai dari mana? Tanyakan apa yang ingin kau ketahui!” Jericho mengambil sebatang rokok dari saku dan menyalakan rokoknya.


“Kau merokok?” Andrea sedikit heran dengan apa yang baru saja dilihatnya.


“Iya, akhir-akhir ini dan hanya jika aku sangat menginginkannya. Apakah kau datang untuk menanyakan hal itu? Aku membayangkan bahwa aku akan dibombardir dengan banyak pertanyaan,” ucap Jericho seraya menyesap rokoknya dalam-dalam.


“Apa arti inisial ‘L’?” Andrea bertanya sembari memperhatikan Jericho yang nampak menikmati rokoknya.


“Lewanna, sebuah kata dalam bahasa Ibrani yang artinya bulan. Sama seperti arti nama Jericho,” jawab laki-laki itu kepada Andrea.


“Kenapa kau memberiku bunga Anyelir putih, bukankah bunga itu melambangkan cin….” Andrea menghentikan ucapannya.


“Cinta yang besar dan menggebu-gebu. Aku memberikannya karena aku menyimpan cinta semacam itu untukmu.” Andrea mulai meneteskan air matanya.


Baik Jericho dan Andrea sama-sama memilih untuk diam. Mereka seperti enggan melanjutkan percakapan ini. Mereka berdua mencoba menikmati cahaya lampu kota yang indah. Ribuan cahaya yang indah, namun tidak bisa menerangi hati mereka yang sedang kalut.


Tidak lama kemudian, Jericho mematikan rokok yang baru separuh dihisapnya.


“Kau tahu itu tidak mungkin, J. Aku sudah menerima lamaran Frans,” ucap Andrea sambil menyeka air matanya.


“Aku tahu. Aku sudah sangat terlambat untuk memintamu menerimaku, tapi…..” Jericho menghentikan ucapannya sejenak, kemudian segera memiringkan tubuh dan menghadapkan wajahnya, memandang gadis yang duduk di sebelahnya.


“Apakah kau tidak pernah menaruh hatimu padaku, Andrea? Apakah tidak ada tempat bagiku di hatimu, meski itu hanya sedikit?” Mata Jericho berkaca-kaca.


Gadis itu memalingkan wajahnya. Air matanya jatuh, menetes, membasahi pipinya. Andrea mengingat masa-masa penantiannya terhadap laki-laki itu. Betapa ia mencintai Jericho dengan seluruh hidupnya. Betapa ia tersakiti saat melihat Jericho bersama dengan Fergie dulu dan juga Stephanie beberapa waktu lalu, hingga ia memutuskan untuk mengakhiri semuanya dan belajar mencintai Frans.


Andrea belum bisa menghapus semua perasaannya untuk Jericho, tetapi ia tahu bahwa Frans dan ketulusannya tidak boleh diabaikan. Gadis itu juga sudah mulai mencintai Frans, meski perasaan itu belum terlalu besar.


Andrea terus menyapu air matanya yang mengalir tanpa henti. Ia mencoba menenangkan dirinya dan mulai bicara perlahan-lahan.


“Aku hanya menganggapmu sebagai temanku. Aku tidak memiliki perasaan lebih untukmu.” Andrea menatap Jericho sepintas sebelum memalingkan wajahnya lagi.


“Lalu mengapa sekarang kamu menangis, saat aku mengungkapkan perasaanku? Aku yakin kau menutupi sesuatu,” kata Jericho penuh curiga.


“Karena aku tahu bahwa aku pasti menyakitimu. Aku tidak bisa membalas perasaanmu, sebab aku….. aku tidak pernah memiliki perasaan yang sama,” balas Andrea sambil menatap Jericho dengan tajam dan merasakan bulir-bulir air mata terus membasahi pipinya. Gadis itu sadar, ia telah berbohong.


Andrea membayangkan andai saja Jericho mengungkapkan perasaanya sebelum Frans menyatakan cintanya. Andai saja gadis itu punya sedikit saja keberanian untuk menyatakan cintanya. Andai saja waktu bisa diputar kembali. Andai saja semua belum terlambat.


“Kau berbohong An. Aku tahu kau punya perasaan yang sama. Kau bahkan pernah menceritakan padaku bahwa kau, kau menyukai laki-laki lain sebelum Frans.” Jericho berusaha untuk menepis ucapan Andrea.


“Kau pikir kau laki-laki dalam ceritaku, hanya karena dia dan kau sama-sama pernah memilih wanita lain? Jericho, apa kau berpikir bahwa aku akan mencintai laki-laki yang tidak pernah serius dengan wanita sepertimu? Menghabiskan waktuku bertahun-tahun untuk menanti seseorang yang tidak bisa memastikan perasaannya sendiri? Kau terlalu naif,” bantah Andrea menyela ucapan Jericho.


“Perasaanku padamu berbeda dengan perasaanku pada wanita-wanita yang lain, An. Tidakkah kau bisa merasakannya?” Jericho nampak kecewa dengan perkataan Andrea.


“Kau akan melupakanku setelah kita tidak bertemu lagi. Perasaanmu ini hanya sesaat, J. Percayalah padaku!” Andrea menatap lembut Jericho.


“Bagaimana jika kamu salah? Bagaimana jika aku benar-benar mencintaimu, An?” Jericho masih berusaha meyakinkan Andrea tentang perasaannya.


“Maka kita akan melihat, sejauh mana perasaan itu mengatur jalannya kisah kita nanti.” Andrea berdiri dari tempatnya.


“Kau, mencintai Frans?” Jericho memegang tangan Andrea, menghentikan gadis itu sebelum ia beranjak dari tempatnya.


“Dengan seluruh jiwaku,” jawab Andrea sambil membalikkan tubuhnya dan berusaha melepas tangan Jericho, lalu berjalan meninggalkan laki-laki itu. Air matanya kembali menetes.


“Tunggu, An!” Jericho berdiri dan kemudian berjalan. Ia berusaha menggapai Andrea yang semakin jauh melangkah, meninggalkannya.


Gadis itu menghentikan langkahnya saat Jericho berhasil mendapatkan tangannya kembali. Jericho mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ia berusaha memakaikan sebuah gelang berhiaskan beberapa bandul bulan sabit kecil di tangannya.


“Apa ini? Aku rasa aku sudah memperjelas semuanya tadi.” Andrea merasa bingung, saat melihat Jericho memasang sebuah gelang di tangannya.


“Anggap saja ini adalah sebuah pengingat. Kau tadi mengatakan kepadaku bahwa kita akan melihat sejauh mana perasaan cintaku padamu mengatur jalannya kisah kita. Saat hari itu tiba, kau akan melihat aku menukar gelang ini dengan sebuah cincin di jari manismu.” Jericho telah selesai memasangkan gelang itu.


“Kenapa kau melakukan ini, J?” Andrea masih belum memahami sikap Jericho yang keras kepala.


“Karena aku bisa merasakannya. Kita hanya tersesat di dalam permainan hati kita. Suatu saat nanti cinta akan menemukan jalannya dan semuanya akan kembali ke tempat semestinya,” ucap Jericho dengan penuh keyakinan.


Cahaya lampu kota, satu per satu mulai dipadamkan. Beberapa menit lagi matahari akan terbit. Jericho telah mengakhiri percakapan mereka. Ia menggenggam tangan Andrea dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


Mereka berdua sekarang sudah berada di dalam mobil, hendak kembali ke tempat masing-masing. Sepanjang perjalanan, Jericho hanya menatap lurus ke depan. Ia memilih untuk fokus menyetir. Sementara Andrea memilih untuk melihat jalan dari kaca yang ada di sampingnya. Mereka tidak berbicara sepatah katapun, hingga tiba di asrama, tempat Andrea tinggal. Andrea dan Jericho akhirnya berpisah tanpa pernah mengucapkan selamat tinggal.


-------


Halo Readers! I just want to say, Happy Eid Mubarak! Mohon maaf lahir dan batin.😊