
Seorang Laki-laki bermata hijau tengah berada di dalam sebuah toko musik dan nampak memainkan biolanya dengan penuh perasaan. Nada-nada sedih mengalun tiada henti-hentinya. Nada-nada itu seolah mewakili perasaannya.
Jericho memilih menghabiskan malamnya di sebuah toko musik miliknya dari pada kembali ke apartemen, setelah mengetahui berita kematian Frans, seorang laki-laki yang adalah sahabat sekaligus rivalnya itu. Saat ini, ia bahkan tidak berani menilik hatinya lebih jauh setelah mendengar kabar itu. Ia tidak menyangka bahwa laki-laki itu telah tiada.
Bagaimana pun juga, Frans adalah sahabatnya. Ada perasaan kehilangan yang sangat menyakitkan, saat mengetahui kepergiaan karibnya itu. Namun, di sisi lain, ada juga sebuah perasaan kecewa yang lebih dalam, ketika ia mendapati dirinya tidak ada di sana, saat hari nahas itu terjadi. Ia membayangkan gadis yang begitu ia cintai harus melalui hari-hari buruk, sementara dirinya tidak ada di samping gadis itu untuk menguatkan dan menghiburnya.
Malam ini pikiran laki-laki itu begitu kalut. Cukup lama ia merenung. Pada saat itu juga, memori-memori tentang percakapan di masa lalu seolah muncul kembali. Latar, para pemain, dan suasana saat percakapan itu terjadi terproyeksikan dengan jelas, seolah benar-benar terlihat nyata di hadapannya.
“Entahlah Mr. Moreno. Kadang kala aku merasa bahwa ada sesuatu yang membuatku selalu terhubung dengan Andrea. Bahkan kehadiranmu tidak cukup kuat untuk memutuskan hubungan itu.” Jericho seperti sedang melihat dirinya dan Frans bercakap-cakap.
“Jika sesuatu itu adalah cinta, maka kau atau siapa pun tidak akan bisa menghentikannya. Kami mungkin bisa terpisah karena kebodohan kami. Kami juga bisa tersesat dalam pikiran-pikiran naïf kami. Tetapi, cinta akan selalu menemukan jalannya. Cinta akan membawa kami pulang.” Jericho seolah melihat bagaimana marahnya Frans ketika ia mengatakan hal itu di dalam proyeksinya.
Peristiwa-peristiwa itu terjadi bertahun-tahun yang lalu, tetapi laki-laki itu masih mengingat dengan pasti, apa saja yang pernah ia katakan. Ia bahkan masih mengingat dengan jelas bahwa ia mengatakan semua hal itu dengan penuh keyakinan.
“Anggap saja ini adalah sebuah pengingat. Kau tadi mengatakan kepadaku bahwa kita akan melihat sejauh mana perasaan cintaku padamu mengatur jalannya kisah kita. Saat hari itu tiba, kau akan melihat aku menukar gelang ini dengan sebuah cincin di jari manismu.” Percakapan terakhir antara dia dan gadisnya di bukit cahaya juga ikut terproyeksikan.
“Karena aku bisa merasakannya. Kita hanya tersesat di dalam permainan hati kita. Suatu saat nanti cinta akan menemukan jalannya untuk kembali ke tempat semestinya.” Kepingan-kepingan masa lalu itu tidak henti-hentinya muncul dalam benak Jericho.
“I can wait her forever. Cintaku yang menyuruhku untuk menunggu. Mungkin ini terdengar gila, tetapi entah mengapa aku begitu yakin bahwa kami ditakdirkan bersama.” Laki-laki itu menekan kedua keningnya saat ini. Ia juga mengingat percakapannya dengan Pieter tentang perasaannya pada Andrea.
Jericho sungguh tidak merasa mengantuk sedikitpun, meski kini malam sudah sangat larut. Terlalu banyak hal yang ia pikirkan telah menyebabkan ia menjadi sulit meninggalkan kesadarannya dan pergi sejenak ke alam mimpi. Rasanya, ia ingin memberontak kepada matahari. Kenapa matahari itu begitu lambat bergerak dan membiarkan malam menguasai bumi terlalu lama di hari itu.
Jericho ingin bertemu dengan Andrea. Tidak ada lagi yang ia inginkan kecuali hal itu. Namun, ia tidak tahu dimana gadis itu tinggal. Informasi yang diberikan Fergie terlalu sedikit baginya.
“Sial! Dimana aku harus mencarinya?” Jericho melempar sebuah benda yang ada di atas mejanya.
“Tunggu! Karyawan baru itu. Aku harus bertanya padanya. Dia pergi dengan Andrea kemarin malam. Mereka pasti berteman.” Jericho mendapatkan jalan keluar atas masalahnya.
------------------
Beberapa orang terlihat berkeliling dan memadati sebuah toko musik. Seperti biasanya, toko itu selalu ramai pengunjung. Tinggal beberapa saat lagi, siang berubah menjadi senja, namun pengunjung di toko itu justru semakin bertambah.
“Ray, kemarilah!” Jericho meminta Ray masuk ke dalam ruangannya.
“Apakah karyawan baru itu sudah datang?” Jericho bertanya kepada Ray.
“Maksud anda Norah?” Ray memastikan.
“Iya. Dia teman Andrea kan? Gadis yang bermain cello kemarin,” ucap Jericho berusaha mendapatkan informasi.
“Gadis yang bermain cello? Oh, aku ingat. Iya bos, dia temannya,” balas Ray sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Bisa panggilkan karyawan baru itu? Ada yang ingin kubicarakan dengannya.” Jericho meminta tolong kepada Ray.
“Baik bos, tunggulah sebentar!” Ray meninggalkan ruangan Jericho.
---------------
“Maaf, ada apa anda memanggil saya?” Norah baru saja masuk ke ruangan Jericho. Gadis itu terlihat sedikit kebingungan.
“Kau Norah kan? Maaf, karena terburu-buru, aku belum sempat menyebutkan namaku kemarin. Perkenalkan, aku Jericho Marthen Laurent. Kau bisa memanggilku dengan Jericho atau J.” Jericho memperkenalkan dirinya kepada Norah.
“Tidak apa-apa, sir! Ehm, sebenarnya kemarin bukan pertemuan pertama kita. Saya pernah melihat anda beberapa kali.” Norah mencoba mengakrabkan diri.
“Benarkah? Maafkan aku karena tidak mengingatnya,” balas Jericho dengan senyum ramah.
“Apa ada yang bisa saya bantu?” Norah tahu bahwa dia tidak mungkin dipanggil hanya untuk sekadar berkenalan.
“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. Aku mohon bantulah aku mendapatkan beberapa informasi tentang seseorang,” ucap Jericho dengan penuh harap.
“Tanyakan saja! Saya akan membantu sebisa saya,” jawab Norah.
“Andrea sahabat saya. Anda mengenalnya?” Norah ingin mengetahui hubungan di antara mereka berdua.
“Saya adalah teman Andrea sewaktu kami duduk di bangku Senior High. Saya juga mengenal Frans Moreno, kekasihnya. Aku dan Frans adalah sahabat karib. Kami satu almamater. Sama-sama belajar musik di kampus yang sama.” Jericho mencoba memberikan penjelasan tentang hubungannya dengan Andrea dan Frans.
“Jadi, kalian bertiga mengalami sebuah hubungan percintaan yang rumit?” Norah tiba-tiba bicara tanpa berpikir. Ia secara spontan menyatakan dugaannya.
“K-kenapa kamu bisa tiba-tiba menyimpulkan seperti itu?” Jericho sedikit kelabakan menanggapi ucapan Norah.
“Tuan, aku memperhatikan anda kemarin. Anda menatap Andrea dengan tatapan yang berbeda.” Norah semakin membuat Jericho salah tingkah dengan ucapannya.
“B-benarkah begitu?” Jericho mengingat-ingat reaksinya kemarin saat bertemu dengan Andrea.
Norah menganggukkan kepalanya dan berkata, “Jadi, apa yang ingin anda ketahui?”
“Apakah benar Frans sudah……..” Jericho tidak melanjutkan ucapannya.
“Anda benar tuan dan sahabatku itu sangat terpukul waktu itu. Dia membutuhkan banyak waktu untuk bisa menerima semuanya, bahkan ia merasa belum pulih sepenuhnya hingga saat ini. Andrea bahkan sempat tidak mau lagi menyentuh cellonya. Kemarin adalah yang pertama kali sejak kepergian Frans. Itu juga karena aku dan Ray yang memaksa dia memainkannya.” Norah menceritakan kondisi Andrea dengan intonasi rendah dan penuh kesedihan.
“Aku ingin menemuinya. Bisakah kamu membantuku dengan memberi tahu dimana alamat tinggalnya?” Jericho bertanya kembali kepada Norah.
“Dia tinggal di asrama kampus bersama denganku. Kami berdua adalah mahasiswi post-graduate di Columbia University,” jawab Norah.
“Sekarang dimana dia berada? Aku mau menemuinya sekarang,” desak Jericho.
“Sekarang dia masih bekerja di sebuah seafood restaurant. Dia baru bekerja beberapa hari. Jika anda ingin menemuinya, tunggu sampai jam kerjanya berakhir.” Norah melarang Jericho menemui Andrea saat ini.
“Kapan berakhirnya?” Jericho bertanya kembali.
“Jam sembilan malam,” balas Norah singkat.
“Baiklah! Tolong catatkan alamat restaurant tempat ia bekerja!” Jericho memberikan kepada Norah secarik kertas.
Gadis itu segera mencatatkan nama dan alamat restaurant di mana Andrea bekerja untuk Jericho. Laki-laki itu pun berterima kasih karena gadis itu mau membantunya.
------------
“Andrea, pesanan nomor 5 sudah bisa diantarkan!” Jack meminta Andrea segera mengantar pesanan.
"Baik, Jack!" Andrea segera melangkah mengambil pesanan itu.
"Jangan lupa meja-mejanya dibersihkan! Lily dan Nana meja nomor 3, 7, dan 9 masih kotor. Tolong segera dibersihkan!" Jack melanjutkan instruksinya kepda yang pegawai yang lain.
"Baiklah, Jack!" Lily dan Nana melakukan instruksi Jack.
"Selamat datang di restaurant kami tuan. Anda ingin memesan untuk berapa orang?" Jack menyambut seorang pelanggan laki-laki yang baru saja masuk.
"Saya datang sendiri," balas laki-laki itu singkat.
"Silakan anda duduk di meja nomor 1, ini menunya. Saya tinggal dulu. Jika sudah selesai menentukan pilihan, mohon jangan sungkan memanggil kami," ucap Jack seraya memberi hormat dan meninggalkan laki-laki itu.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara dari meja nomor 1. Laki-laki itu sepertinya telah selesai menentukan pilihannya.
"Pelayan!" Laki-laki itu mengangkat tangannya.
"Baik, tuan! Ada yang bisa saya bantu? Apa yang ingin anda pe....san...." Andrea terpaku saat melihat laki-laki yang duduk di hadapannya.
------------
Selamat membaca! Jangan lupa dukung terus cerita ini...